Tentang Hidayah

A: "Kamu muslimah kan? Tapi kok ngga pake jilbab?"
B: Masih nunggu hidayah, lagian saya mau hijabin hati dulu, daripada lepas pasang jadi kerudung dusta!
A: "Lho, gimana hidayah bisa masuk, kalo hatinya dihijabin."

X: "Mas, udah adzan tuh, kok ngga shalat berjamaah ke masjid?"
Y: Nanti aja, nanggung masih ada kerjaan. Lagian waktu shalatnya juga masih panjang."
(ujung-ujungnya shalat di akhir waktu.)

S: "Papa, uangnya kok banyak banget? Uang haram ya, pa?"
T: Ngga apa-apa sayang, yang penting kamu bisa jajan bakpau tujuh turunan.

E: "Ramalan zodiak hari ini gimana?"
F: Suram. Bakalan sial sepanjang hari katanya. Gue harus pake baju merah nih biar ga terus-terusan sial.


Sebelumnya, maafkan saya yang sudah tiga tahun alfa dalam dunia perblog-an. Sampai agak tersendat dan bingung gimana caranya untuk memulai nulis lagi! Ternyata sudah selama itu ngga dapet hidayah buat ngeblog, untuk berbagi isi di kepala (terutama dalam perihal kebaikan).

Ngomong-ngomong soal hidayah, empat prolog percakapan di atas merupakan gambaran kalau hidayah itu banyak banget macemnya dan cakupannya sangat luas. Misalnya, hidayah untuk mengerjakan kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya, dan menjauhi larangan-larangan-Nya; hidayah dari kekufuran dan kesyirikan menuju tauhid; hidayah dari kemaksiatan menuju ketaatan, dan dari dosa menuju ibadah; hidayah berupa taufik & ilham, yang terasa dalam hati manusia agar dapat mengikuti jalan yang benar, dan kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya; dan masih banyak yang lainnya.

Itulah sebabnya, setiap hari seorang muslim sedikitnya meminta hidayah sebanyak 17x dalam setiap rakaat kita shalat. Belum lagi bagi yang terbiasa melaksanakan shalat sunnah, baik rawatib, dhuha, tahajud, dll, tidak terhitung lagi begitu banyaknya kita meminta hidayah tersebut.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ
“Berikanlah kepada kami (hidayah) ke jalan yang lurus”.
Emang sebegitu pentingnya hidayah? Gimana engga, hidayah itu salah satu sebab utama keselamatan dan kebaikan hidup manusia di dunia dan akhirat.

“Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk
(dalam semua kebaikan dunia dan akhirat); dan barangsiapa yang disesatkan-Nya,
maka kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun
yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”
(QS al-Kahf:17)

Sayangnya, mendapatkan hidayah itu sulit, ngga semua orang bisa dan mau mendapatkannya, Allah pun tidak segan-segan untuk mencabut kembali hidayah yang telah disia-siakan oleh orang yang telah diberikan hidayah. Memelihara hidayah jauh lebih sulit lagi. Belum lagi faktor besarnya fitnah di akhir zaman seperti ini, ada orang yang di pagi hari masih beriman kemudian di waktu sore ia menjadi kafir. Dan juga ada yang di waktu sore beriman namun keesokan hari di waktu pagi ia telah menjadi kafir.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
"Bersegeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti sepenggalan malam
yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir,
dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir,
ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.”
(HR. Ahmad No. 8493)

Sejarah mencatat, bahkan seorang nabi pun tidak mampu untuk memaksakan hidayah kepada sanak keluarganya. Nabi Muhammad SAW tidak kuasa mengubah pamannya (Abu Lahab); Nabi Nuh AS tak memiliki kekuasaan mengubah jalan putra (Kan'an) dan istrinya; Nabi Luth AS tidak bisa menyelamatkan istrinya; dan Nabi Ibrahim tidak bisa menyelamatkan bapaknya, Azar. Sedangkan kita? Nabi bukan, ulama bukan, ustadzah bukan, tak ada sedikitpun daya dan kemampuan untuk bisa memberikan hidayah kepada orang lain --yang bahkan untuk diri sendiri aja, masih seringkali lepas dan kendor.

Hidayah itu murni hak perogratif Allah, dan hanya Allah yang tahu siapa saja yang pantas menerima hidayah. Akhirnya yang bisa kita lakukan hanyalah terus berdoa agar Allah tak henti-hentinya memberikan kita hidayah hingga ujung usia kita.

Daripada terus menunggu hidayah datang, lantas kenapa kita tidak bergegas mencari dan menjemputnya?
Tempat termudah mencari hidayah adalah dengan mendatangi majelis-majelis ilmu, dimana malaikat merendahkan sayap-sayap mereka dan mendoakan kepada orang-orang yang mencari ilmu agama. Berkumpullah di sana dengan orang-orang yang sedang sama-sama berlari menuju Allah, agar bisa saling mengingatkan dan menguatkan. Semangat menuntut ilmu (syar'i) harus terus dijaga, karena merupakan kewajiban seumur hidup seorang muslim. Mari kita saling mengingatkan, menyeru kepada kebaikan, dan terus mendoakan agar Allah lembutkan hati kita dan orang-orang terdekat yang kita sayangi, karena kita semakin kuat ketika bersama-sama!

Barakallahu fiikum :)

Comments

Popular posts from this blog

Apa yang kamu cari dalam hidup ini?

Curug Sawer, Cililin

(plat) L - M - N