25 July 2013

Sedikit Catatan Pengingat Diri

Rasulullah bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Al-Imam Al-Bukhari)

“Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam."

Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu." (QS. Ali Imran: 200)

Iman terbagi dua separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur. (HR.Al-Baikaqi)

“Ya Nabi, berilah aku wasiat” Rasullalah bersabda,”Jangan marah!” ditanya berulang kali dan tetap dijawab, “Jangan marah!” (HR.Bukhari)

Sesungguhnya yang berkecukupan adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup, dan orang fakir adalah orang yang hatinya selalu rakus. (HR. Ibnu Hibban)

Permudahlah, jangan mempersulit, dan jadikan suasana yang tenteram. Jangan menakut nakuti. (HR.Muslim)

Berhati-hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan paling bodoh”. (HR. Al-Bukhari)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. "

01 July 2013

#3 : Perjalanan, Ngobrol, dan Orang Asing

Pernah suatu waktu, saya dan seorang asing duduk bersebelahan di dalam sebuah perjalanan. Pada mulanya hanya berbasa-basi, mengomentari kemacetan, lalu akhirnya terus berlanjut mengobrol panjang ke sana sini.


Seorang lelaki muda dengan garis wajah tegas, dengan pembawaan yang santai, tiba-tiba menceritakan banyak pengalamannya. Aneh? Ya, mengobrol begitu saja bersama orang asing, tanpa tau apa-apa tentang dirinya. Bahkan namanya pun tidak.

Tapi ah, bukannya semua orang pada mulanya adalah asing yang dipertemukan Tuhan?

"Kira-kira kita bakal ketemu lagi ga ya?"
"Feeling saya sih engga, haha!"
"Ya, kita liat aja nanti. Tapi saya percaya banget, kita sekarang ngobrol asik, nyambung gini, tapi besok belum tentu kamu masih inget saya!
..abis dari sini kamu balik, tidur, besok pagi bangun, kembali ke rutinitas, lupa deh sama saya, sama obrolan kita. Iya kan?"
"Haha, tapi seengganya obrolan ini pernah berlangsung, jadi momen nyata. Cuma masalah ingatan aja, mau disimpen atau engga."
"Yah, kalo bisa sih ini nyampe Aceh deh beneran. Biar bisa ngobrol terus.."
He. Saya melongo dan cuma ketawa garing.

Bisa nyaman ngobrol panjang dan nyambung itu kadang gampang gampang susah. Ga bisa diukur dari banyaknya percakapan yang keluar, bukan diukur dari nyambung-engganya topik obrolan, atau masalah siapa yang dominan berbicara.

Ngobrol nyambung itu buat saya sih intinya satu: dua-duanya mau ngobrol; harus saling mau ngerti dan dengerin (bahkan ketika lawan bicaranya pengen diem sejenak sekali pun).