14 February 2013

Before Sunrise & Before Sunset

Jika ditanya, film drama romantis apa yang paling disukai? Saya pasti jawab: Before Sunrise dan Before Sunset. Kenapa tiba-tiba ngereview dua film romantis ini? Bukan, bukan karena hari ini katanya hari kasih sayang. Bukan! Tapi karena ternyata sudah ada lanjutan dari sequel film ini, berjudul Before Midnight.

Mungkin bagi sebagian orang, atau bahkan banyak orang, film dengan dua tokoh utama Jesse (Ethan hawke) dan Celine (Julie Delpy) yang penuh dengan dialog panjang tak henti-hentinya, sudah jelas akan sangat membosankan. Tapi berbeda dengan dua film ini. Ditangan sutradara Richard Linklater, film ini disulap menjadi film yang manis, romantis, menyentuh, realistis, dan sangat berbekas, meninggalkan kesan tersendiri.


Before Sunrise (1995)
Bermula dengan pertemuan mereka di kereta, Celine seorang wanita Prancis sedang dalam perjalanan pulang ke Prancis, sedangkan Jesse seorang lelaki Amerika akan menuju ke Vienna untuk melanjutkan penerbangannya pulang. Mereka lalu mengobrol dan menemukan kecocokan satu sama lain sejak awal.

Saat kereta itu berhenti di Vienna, Jesse mengajaknya turun untuk menghabiskan waktunya bersama hingga pagi, sebelum Jesse terbang ke Amerika. Celine lalu menyanggupinya. Mereka berjalan-jalan menyusuri kota Vienna sepanjang hari, sepanjang malam, hingga menjelang pagi. Satu hari yang akan diingat untuk selamanya.

Satu malam yang manis dengan seorang asing yang baru saja dikenal, entah sebuah bencana atau sebuah keberuntungan. Apakah memang bencana karena setelah pagi mereka harus mau berpisah, saling mengucapkan selamat tinggal, dan entah kapan akan bertemu lagi (atau mungkin tidak sama sekali)? Atau memang beruntung karena bisa saling bertemu, saling mengenal, merasa cocok, dan mendapatkan momen-momen indah yang begitu berkesan?

Hingga akhirnya pagi itu tiba, mereka berpisah tanpa meninggalkan alamat, no telp, atau kontak lainnya. Namun mereka membuat kesepakatan untuk bertemu lagi di Vienna 6 bulan kemudian.


Before Sunset (2004)
Setelah perpisahan Jesse dan Celine di Vienna, mereka akhirnya bertemu lagi. Bukan 6 bulan semenjak perpisahan mereka, dan juga bukan di Vienna seperti yang mereka janjikan. Melainkan di Paris, 9 tahun kemudian. Ya, s e m b i l a n tahun kemudian. Jesse sedang melakukan promosi novelnya di sebuah toko buku, dan Paris adalah kota ke-10 sekaligus kota terakhir dari rangkaian tournya. Jesse sudah menjadi seorang penulis novel, dan yaa tentu saja kisah tentang pertemuan dia dengan Celine yang menjadi cerita di novel larisnya itu.

Jesse dan Celine menghabiskan sedikit waktunya sebelum penerbangan Jesse untuk pulang ke kotanya, dengan berjalan-jalan, mengobrol panjang, serta mampir ke cafe di kota Paris. Dari obrolan itu, mereka akhirnya tahu bahwa Celine tidak datang ke Vienna setelah 6 bulan mereka bertemu dulu karena neneknya meninggal, sedangkan Jesse menunggunya dengan penuh harap. Padahal mereka sama-sama menunggu waktu tersebut. Mereka sama-sama saling jatuh cinta, dan terlihat ada penyesalan akan masa lalu. Tetapi sayang, semua keadaan mereka sudah jauh berbeda dengan 9 tahun yang lalu. Jesse sudah menjadi seorang suami, dan bahkan sudah memiliki anak. Yeah, memory is a wonderful thing if we don't have to deal with the past.


Kedua film ini sungguh terasa real, jauh dari kesan drama atau kisah negeri dongeng. Saya sangat suka acting dari Ethan Hawke dan Julie Delpy. Di film ini mereka sangat natural, chemistry mereka berdua pun sangat kuat. Sederhana, manis, kaya makna, dan romantis. Ahh, saya mau kasih nilai 9/10 untuk kedua film di atas! Ngga sabar jadinya nungguin 'Before Midnight' keluar.

13 February 2013

Love Me if You Dare

Film yang berjudul asli Jeux d'enfants ini sudah cukup lama, diproduksi tahun 2003. Film berbahasa asli Perancis ini meninggalkan kesan tersendiri, dengan taste yang berbeda. Ini bukan film cinta yang mengharu biru, bukan kisah cinta yang inspiratif, bukan cerita cinta yang penuh drama dan kemelankolisan. Ini hanyalah cerita cinta yang tak biasa.


Semua berawal ketika Sophie (Marion Cotilard) terus diejek oleh teman-temannya saat dijemput bus sekolah. Julien (Guillaume Canet) kemudian memberikan miniatur carousel milik ibunya agar Sophie terhibur. Sophie lalu menerima mainan tersebut dan mulai memaikan permainan 'tantangan gila'nya. Julien pun menjawab tantangannya dengan melepaskan rem sehingga bus melaju dengan bebas tanpa pengendara. Sejak saat itu Julien dan Sophie berteman baik dan semakin sering memainkan permainan gila mereka.

Permainan mereka dengan miniatur carousel untuk saling menantang melakukan hal-hal yang konyol, tidak wajar, kurang ajar, memalukan, dan benar-benar membahayakan terus dilakukan hingga mereka dewasa. Ayah Julien pun dibuatnya jengkel dan marah. Seperti cerita kebanyakan lainnya, berteman lama, lalu kemudiaan saling jatuh cinta. Ya, apa lagi? Namun, cinta yang mereka rasakan, malah mereka buat menjadi sebuah permainan, bahkan pernikahan pun mereka anggap sebagai sebuah permainan.

Cerita di film ini sungguh kaya warna. Penuh dengan romansa cinta yang manis, penuh dengan fantasi, namun terkadang terkesan gelap, absurd, dan gila. Film ini cocok ditotonton untuk mereka yang bosan sama drama percintaan yang mellow, 8/10 lah :)

12 February 2013

Into the Wild

Film yang diproduksi tahun 2007 ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, yang ditulis berdasarkan kisah nyata kehidupan Chris McCandless.

Chris, yang diperankan oleh Emile Hirsch, adalah seorang pemuda idealis, mahasiswa cerdas di Emory University. Setelah menyelesaikan empat tahun kuliahnya, dia lalu mencoba pergi mencari kebebasan yang sebenarnya, menjelajah alam liar. 


Ia meninggalkan semua identitas pribadinya, mengganti nama dengan 'Alexander Supertramp'. Hampir semua uang yang dia punya disumbangkan ke badan amal. Dia lalu melakukan perjalanannya menuju Alaska, keluar dari kehidupan abstraknya, keluar dari perlindungan palsu orang tua yang hipokrit dan munafik, serta keluar dari kelebihan materi yang memisahkan Chris dari kehidupan sejatinya.

Sepanjang perjalanannya, dia banyak bertemu dengan orang-orang yang mengajarinya arti hidup, dari mulai pasangan hippie sesama pengembara, Wayne si pemilik gandum tempat dimana Chris sempat bekerja selama beberapa saat, dan juga Ronald, seorang pensiunan yang kesepian yang ingin mengadopsi Chris sebagai cucunya.


Setelah dua tahun pergi dari keluarganya, dia tiba di sebuah sungai di daerah terpencil pinggiran Alaska dan menemukan "Magic Bus" yang menjadi kamp-nya. Awalnya Chris begitu bahagia dengan keterisolasiannya, keindahan alam Alaska, dan gairah hidup yang bebas. Tetapi alam tak selamanya indah, terkadang mereka bisa berubah menjadi liar, kasar, serta tak peduli. Persediaan makanannya semakin menipis, dan Chris hanya mengandalkan tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Hingga secara tak sengaja dia memakan tumbuhan yang morfologinya sejenis kentang, namun ternyata tanaman itu justru beracun dan dapat menyebabkan kematian.

Banyak pemikiran-pemikiran Chris yang luar biasa, semangatnya menjelajah alam liar, mencari kebebasan yang hakiki; diluar keidealisan dirinya yang terkadang malah menyesatkan. Begitu banyak dialog dan kata-kata yang memberikan kesan tersendiri untuk saya, tapi yang masih begitu melekat di telinga saya diantarnya:

"You're wrong if you think that the joy of life comes principally from human relationship. God's placed it all around us. It's in everything. It's in anything we can experience. People just need to change the way they look at those things."


"I think careers are a 20th century invention and I don't want one."
"The freedom and simple beauty is too good to pass up.."
".. and that an unshared happiness is not happiness."
Akhir kata, untuk yang masih mencari arti kebebasan, selamat menonton. Saya kasih 8,5/10 untuk film ini!

11 February 2013

hari pertama : Bukittinggi

"Mel, ke padang yuk?",
sekitar bulan November tahun lalu tiba-tiba Mariana ngajak saya jalan.
"Kapan?"
"1-3 februari 2013."
Tanpa pikir panjang saya langsung mengiya-kan, yaa bisa atau engganya gimana nanti.

Lalu tiba di tanggal tersebut, tanpa banyak kendala akhirnya perjalanan singkat yang penuh cerita ini terlaksana, 3 hari, 3 perempuan, berjuta cerita.
Personel : saya, Mariana, Rachmi (temen kantor Mariana)

Hari pertama :
Jakarta - Padang - Bukittinggi

Dimulai dengan kebingungan karena dapet penerbangan super pagi, check in jam 03.35, boarding jam 05.05, lalu akhirnya saya dan Mariana memutuskan untuk menginap di bandara. Sekitar pukul 21.00 kami bertemu di bandara, langsung menyerbu Mushalla untuk istirahat dan tidur. Jujur saja, ini pengalaman pertama saya menginap di bandara, agak takut karena pernah denger ada yang bilang ngga boleh nginep dan diusir sama petugas, tetapi ternyata banyak orang melakukan hal yang sama.

Baru mau pergi kami udah nyaris ketinggalan pesawat saking santainya, itu pun terselamatkan oleh keluarga rempong. Haha, ngga lucu aja udah tidur di bandara malah ketinggalan pesawat. Pelajaran pertama: liatlah dengan teliti detail boarding pass anda, terlebih mengenai waktu!

Tiba di Padang, kami memutuskan untuk menggunakan Tranex (Transport Express) semacam ELF / L300 ke Bukittinggi. Awalnya kami pikir rutenya langsung ke Bukittinggi, tetapi ternyata kami di bawa dulu ke Padang kota (biayanya Rp 18.000) dan harus lanjut lagi menggunakan Tranex ke Bukittinggi (Rp 16.000), jadi kalau ada Travel yang nawarin harga Rp 40.000 mending naik travel aja, mereka nganterin sampai tempat tujuan. Sebenernya ada cerita seru gara-gara naik mobil ini, tapi skip aja, terlalu konyol :)

Sempet nyasar ketika nyari penginapan Hello Guesthouse, di sana kami menanyakan nama jalan dan ngga ada yang tahu. Pelajaran kesekian: di Padang jangan sesekali nanyain tempat dengan nama jalannya, tapi kasih tau patokannya apa. Setelah bertanya ke lebih dari lima orang penduduk lokal, akhirnya kami mendapat pencerahan dari Bapak Polisi.

Buat penginapan, Hello Guesthouse ini ada di deket masjid kampung Cina, deket jembatan fort de kock, lumayan deket juga ke Jam Gadang. Recommended buat yang cari penginapan bersih, nyaman dengan budget sekitar Rp 150.000.

Tujuan pertama kami adalah Ngarai Sianok dan the Great Wall Koto Gadang (Janjang 1000) :
Ngarai Sianok
The Great Wall Koto Gadang (Janjang 1000)
Setalah naik ke puncak Janjang 1000 itu, kami tiba-tiba berada di Koto Gadang. Berdasarkan referensi dari penduduk setempat, kami bisa jalan lagi memasuki perkampungan warga, ke arah masjid, jalan-jalan menyusuri jalan sambil menikmati keindahan alam di sana. Lalu kami tergoda makan sate padang, nontonin ABG yang lagi asik foto-foto, dan nontonin anak-anak TPA yang lagi asik main karet, berlarian dengan bebas, ada yang gotong royong gulungin karpet masjid, dan berbagai aktifitas lain yang sungguh menyenangkan --dan Alhamdulillah pernah saya alami juga waktu kecil dulu, mungkin kalo anak seumuran mereka di kota-kota besar maenannya sama Gadget doang, sama layar kotak yang menghubungakan dia dengan duni-dunia maya.

Sore menjelang malamnya ketemu duo backpacker Malaysia (Sharizan dan adiknya, Ihsan) di penginapan dan memutuskan untuk jalan bareng ke Jam Gadang, mencari toko buku, cari makan, lalu ketemu Uda Ainur (Backpacker Padang Community). Hari pertama sudah puas, hari-hari berikutnya dilanjut dipost lain yaa!
Jam Gadang

10 February 2013

The Perks of Being a Wallflower

Film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Stephen Chbosky ini bercerita tentang bagaimana seorang anak dalam menghadapi lingkungan SMA barunya.

Charlie (Logan Lerman) adalah seorang pemalu, tertutup, dan sering merasa canggung. Dia bertemu Partrick (Ezra Miller) dan adiknya, Sam (Emma Watson), senior yang akhirnya menjadi teman barunya. Mereka mengenalkan Charlie merasakan dunia remaja yang menyenangkan namun sedikit liar.


Cerita tentang seorang tak populer kemudian bergaul dengan anak populer dan menjadi liar sudah terdengar biasa, lalu have a crush dengan teman bermainnya, terjadi salah paham kemudian saling menjauh, so Old Story, right? Tetapi ada hal yang berbeda dengan The Perks of Being Wallflower ini. Cerita ini begitu menyentuh dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana Charlie merasakan romansa cinta pertama, bagaimana Charlie berjuangan untuk menghilangkan bayangan suram dan traumatis di masa kecilnya --mengalami sexual abuse dari Bibinya sendiri, bayangan suram kematian Bibinya, dan pengalaman ditinggalkan temannya karena bunuh diri, bagaimana akhirnya dia memiliki teman yang sangat sayang kepadanya. Semua dikemas dengan apik.


Banyak adegan seru dan awkward moment di film ini, ketika Sam berdiri merentangkan tangannya di luar mobil saat berada di terowongan dengan lagu Heroes yang diputar keras-keras; ketika mereka sedang bermain truth or dare, dan Charlie ditantang untuk mencium gadis paling cantik di ruangan itu, dan dia malah mencium Sam, bukan pacarnya; saat Charlie memergoki Patrick sedang berduaan dengan Brad; Saat Sam memberikan typewriter kepada Charlie, lalu Sam mengetik:
"Write about us sometime."
"I will."

Alur cerita yang seru, pemilihan soundtrack yang asik, para pemain yang bisa dibilang berhasil memerankan tokoh-tokohnya, sesuai lah kalo saya kasih nilai 8/10.

07 February 2013

( d i ) b a c a

Berawal dari pertemuan di Lembah Harau, Sumatera Barat.
Seorang lelaki yang ternyata adalah guide lokal setempat tak lepas memandang mata saya dengan tajam.
Saat itu ternyata saya sedang 'dibaca', hanya butuh memandangi saya lekat-lekat, lalu TARAAA!!! Saya dan dua teman saya dieja satu per satu dengan mudahnya oleh orang yang baru ditemui kurang dari setengah jam.

"Mel ini orangnya simple, kalo ada masalah juga, ya udah.."
"Dia ini orangnya ngalahan, terlalu banyak ngalah."
"Trus dia kalo ada apa-apa pasti dipendem sendiri."
"Hatinya ini halus banget!"

Lalala~ Sudahlah Uda, jangan terlalu banyak membaca saya, nanti jadi tak seru lagi :)