04 November 2013

Dipertemukan

"Bukankah semua orang dalam hidup kita pada mulanya adalah orang asing yang tidak kita kenali?"


: Lyra

Hari itu aku benar-benar tak tentu arah. Maka kemana pun kaki ingin melangkah, badan ini akan terus mengikutinya. Seperti daun kering yang tertiup angin, tak jelas akan menuju ke mana, dan entah akan menjatuhkan diri di tanah atau permukaan air yang mana. Beberapa pakaian dan perlengkapan rias ala kadarnya sudah memenuhi tas ranselku. Sebuah pelarian tak terencana. Usaha untuk melarikan diri sejenak dari segala kepenatan yang ada.

Sore itu, aku lebih dulu pergi mengangkat kaki dari kantor. Sakit. Ya, sakitnya ada di dalam sini, di hati. Lalu entah ada magnet dari mana yang menarikku dengan sangat kuat, tiba-tiba aku sudah berada di Stasiun Gambir, membeli sebuah tiket menuju Yogyakarta. Padahal aku tak tahu akan ke mana di sana, yang jelas aku butuh pergi dari kota ini. Aku butuh menghilang sejenak dari rutinitas yang menjemukkan.

Aku duduk di nomor kursi yang telah diberikan, 2A. Gerbong yang kutumpangi mulai penuh sesak, orang-orang hilir mudik, mencari tempat duduknya. Ada yang mengantar, lalu pulang. Dengan atau tanpa pelukan perpisahan yang berarti.
"Permisi, ini bener gerbong 2 kan?"
Seorang lelaki dengan sepasang headset datang membuyarkan lamunanku.
Aku lalu hanya mengangguk lantas tersenyum tipis. Dia lalu menyimpan tas ransel besarnya di kabin kemudian duduk dengan tenang disampingku.
Kaos putih dan jaket jeans, perpaduan yang cocok untuk dirinya. Celana jeans belel dengan sedikit robekan di lututnya dan sepatu vans menggambarkan kebebasan dalam dirinya. Pandanganku dari tadi tak beralih darinya. Lelaki itu lalu sadar jika dia diperhatikan, seketika melihat ke arahku, dan menyodorkan tangannya kepadaku.
“Hai.. Dika.”
Bola matanya yang cokelat memandangku dengan tatapan teduh, terlihat ada banyak ketenangan di sana. Lalu bibirnya tersungging tipis, manis. Kecolongan begini, aku sedikit salah tingkah, lalu mencoba kembali tenang.
“Lyra.” jawabku singkat. Sedikit kaget dan malu karena kecolongan sedang memperhatikannya.
Lalu kami berjabatan tangan. Tangannya menggenggam dengan cukup lembut. Benar-benar sosok lelaki yang ideal. Penuh kharisma. Badannya tegap. Aku yakin, banyak wanita yang tergila-gila kepadanya. Kuperhatikan jemari tangannya, memastikan belum ada benda paling memuakkan yang melingkar di jari manisnya. Dan ya, memang tidak ada. Belum ada. Atau mungkin harusnya ada, tapi tidak dia kenakan. Dan aku hanya mampu berspekulasi.

“Mau ke mana?” dia mulai membuka percakapan.
“Hmm, Jogja kayaknya.” aku menjawab dengan sedikit keraguan.
“Lho kok kayaknya?” dia lalu tersenyum sambil kebingungan.
“Ya, emang masih belum tau pasti mau ke mana sih. Kamu sendiri mau ke mana?”
“Jogja. Ngga pake kayaknya!” jawabnya pasti.
Aku lalu tertawa, “Haha.. dalam rangka apa?”
“Kangen aja sama Jogja, trus kebetulan dapet gawean buat nulis artikel tentang tempat travelling di sana.”
“Penulis?”
“Freelancer majalah, kadang jadi fotografer, kadang jadi penulis, kadang jadi kuli juga.”
“Oh.” Jawabku singkat sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Eh, trus pergi ga tau mau kemana ini dalam rangka apa?” dia penasaran.
“Ngga tau, lagi jenuh sama Jakarta, tiba-tiba kepikiran pergi keluar kota sejenak, dan yaa di sinilah aku sekarang. Taraa!”
“Seriusan?” nadanya masih tak percaya.
“Ya!”

Lalu kita berbincang panjang. Namanya Dika Rahardja Saputra, seorang Virgo usia dua puluh lima. Pribadi yang menyenangkan, supel, dan kharismatik. Katanya sih punya hobi tidur, paling ngga bisa makan durian. Anak pertama dari empat bersaudara, dua adiknya laki-laki, dan satu perempuan yang katanya selintas mirip denganku.



: Dika

Pertemuan ini, tak ada yang pernah mengatur sebelumnya. Masing-masing dari kita tak ada yang pernah membayangkan ini. Semua terjadi begitu saja. Seorang perempuan di samping tempatku duduk saat ini, sedikit banyak menyita perhatian. Wajahnya mengingatkanku pada adikku yang kedua yang sudah sangat lama tak kutemui. Tapi bukan karena itu. Rasanya lebih dari itu. Gayanya dan pembawaannya membuat mata ini tak mau beralih dari sosoknya. Faktor X yang masih belum bisa didefinisikan dengan pasti.
Baru tiga jam kita berkenalan, aku sudah merasa mengenalnya ratusan hari. Pembawaannya yang tenang, hangat, membuat perjalanan saya ke Jogja kali ini tidak terasa membosankan. Lucu ketika kutanya kepada wanita itu mau kemana, dia malah kebingungan. Entah ide gila darimana, akhirnya aku tawarkan untuk ikut bersamaku.

“Yaa sebenernya kita kan sama-sama ngga punya partner nih di Jogja, jalan bareng mau ngga?”
“Hmm..”
“Eh ini bukan paksaan kok, sekedar tawaran ke orang yang lagi ngga tau arah.”
“Iiiih, Dikaaaa!!”
Pada akhirnya lalu dia mengangguk, tanda menyetujuinya. Baiklah, kesempatan untuk mengenalnya terbuka lebar. Tak ada pikiran apa-apa, saya hanya tertarik untuk bersama dia lebih lama, itu saja.


: Lyra

Agak gila memang, ikut bersama seorang lelaki yang baru dikenal, di kota orang. Segala hal bisa saja terjadi. Siapa yang tahu kalo Dika penjahat kelamin, buronan polisi yang kabur, atau malah psikopat. Tapi jauh dalam diri ini bicara kalau dia orang baik-baik. Semoga saja.

Enam belas jam berlalu, dengan separuhnya dipakai untuk mengobrol bersama Dika. Dari mulai obrolan basa-basi, iklan salah satu provider seluler, perang yang terjadi di Irak, kerusuhan di Mesir, kemacetan yang selalu terjadi di Jakarta, tentang mimpinya menjadi fotografer international, tentang mimpinya memiliki bisnis travel ternama, tentang ide gila pelarianku, tentang pekerjaanku yang membosankan, tentang mantannya yang masih cari perhatian di media sosial. Ya, begitu banyak yang sudah diceritakan dalam waktu singkat.

Pagi-pagi akhirnya kami tiba di Stasiun Yogyakarta, berjalan mencari sarapan di sekitaran Malioboro. Semenjak di stasiun dia mulai mengeluarkan kameranya, lalu menjepret sudut-sudut Yogyakarta.

“Aku udah punya list yang harus dikunjungi selama di sini, ga apa-apa nih ngikutin run-down yang udah dibuat?”
“Ngga apa-apa, anggap aja simulasi aku ikutan tour di Dika Travel.”
“Haha. Baik, selamat datang di kota Yogyakarta. Saat ini anda sedang berada di Jalan Malioboro, sebelah kanan adalah benteng ..”
“Ih cocok deh, Dik!”.
Dia lalu tertawa renyah.

Sarapan bubur Yogya. Mencari penginapan di sekitaran Malioboro. Dia lalu menyewa mobil untuk dipakainya berkeliling kota. Pantai-pantai indah di Gunung kidul. Candi Ratu Boko dan matahari terbenam yang menakjubkan.



“Untung juga ketemu orang yang ngga punya tujuan ya, Lyr. Perjalanan jadi ngga garing sendirian.”
“Heh, maksudnya apaan? Eh tapi emang kalo liputan gini, biasanya kamu jalan sendiri, Dik?”
“Hahaa. Engga, harusnya sih berdua sama temen, Ardi. Cuma tiba-tiba dia sakit, dan ngga ada yang bisa gantiin. So, here i’m alone.”
“Yaa, berarti kita emang ditakdirkan buat dipertemukan, Dik.”
Dika terlihat berpikir, matanya menerawang dalam.
“Iya ya Lyr..” dia akhirnya berucap setelah jeda berpuluh-puluh detik.
“Semua yang terjadi dalam hidup kita, berentet juga ke kehidupan orang lain. Coba kalo Ardi ngga sakit atau bukan aku yang diassign buat liputan ini, atau bukan kota Jogja yang terlintas di pikiran kamu waktu beli tiket di Stasiun sore itu. Mungkin kita sama-sama ngga akan ada di sini, ngga pernah ketemu, dan ngga pernah ada momen ini, ngga pernah ada yang namanya Lyra yang aku temui.”
Saya terdiam, dan hanya memandang Dika lama.
Dia pun melakukan hal yang sama.


: Dika

Lyra,
Aku ngga tau satu atau beberapa tahun kemudian kamu menjadi apa dalam hidupku. Mungkin jadi pacar, seorang istri, rekan kerja, sahabat, pacarnya sahabat, atau malah kembali menjadi orang asing.
Aku bahkan tak tahu besok kita masih akan bertemu atau tidak.
Tapi aku mencintai pertemuan ini, mencintai momen yang terjadi saat ini.
Seperti katamu Lyra, setidaknya kita pernah ditakdirkan untuk dipertemukan.

13 comments:

  1. Ahha, so sweet sekali jalan^y untuk bertemu...

    Aku jg ingin suatu saat ceritaku seperti ini, manis

    :)

    ReplyDelete
  2. ahh ceritanya bagus.. heu.. aku juga pernah bbrapa kali ke jogja naik kereta sendrian, tapi belum pernah kenalan ma cwe di kereta :D

    ReplyDelete
  3. oia sebetulnya menurut aku ada 1 hal kecil yang kelewat, kamu lupa nyebut nama stasiun Yogyakarta itu.. klo ga stasiun tugu mungkin stasiun lempuyangan, rasanya itu akan nambah rasa jogja di cerita ini, selain malioboro

    ReplyDelete
  4. ah satu lagi, kalo kamu maksud benteng itu adalah benten vredenburg kurang tepat klo disebutkan berdampingan dengan maliboro, karena jalan maliboro hanya sampai pasar bringharjo kalo gsalah.. dan letak benteng vredenburg lumyan jauh dari mailoboro... maaf yah kalo banyak komen, katanya kalo mau nulis cerita harus selogis mungkin, biar ceritanya lebih bagus


    Ahh cerita kamu bkin aku kangen jogja, aku bukan orang jogja, hanya orang yang sangat menyukai kota Yogyakarta.. err,, jatuh cinta mungkin lebih tepatnya.. hhaha #lebay.. terus nulis yah.. bagus tulisannya..

    ReplyDelete
  5. Artikelnya sangat menarik dan bisa menjadi inspirasi banyak orang. Terimakasih yah sudah berbagi informasi seperti ini. Salam kenal.

    ReplyDelete
  6. mantap mantap gan artikelnya, terus berkarya. :)

    ReplyDelete
  7. Ceritanya bagus... keep blogging brader

    ReplyDelete
  8. manis bgt tulisannya emnk smuanya awalnya asing sampe adanya pertemuan ya

    ReplyDelete
  9. pertemuan yang tak terduga, menimbulkan kenangan indah yg tak terlupakan, nice article, salam kenal

    ReplyDelete
  10. thanks y gan untuk postingannya..maju terus dan salam kenal...

    ReplyDelete
  11. halo, salam kenal.
    artikeklnya menginspirasi dehh, jadi flashback ke masa2 dulu hihiii
    btw, lagi ada blog kompetisi nih.. ikut yuk di http://kompetisimenulis.com/

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)