01 July 2013

#3 : Perjalanan, Ngobrol, dan Orang Asing

Pernah suatu waktu, saya dan seorang asing duduk bersebelahan di dalam sebuah perjalanan. Pada mulanya hanya berbasa-basi, mengomentari kemacetan, lalu akhirnya terus berlanjut mengobrol panjang ke sana sini.


Seorang lelaki muda dengan garis wajah tegas, dengan pembawaan yang santai, tiba-tiba menceritakan banyak pengalamannya. Aneh? Ya, mengobrol begitu saja bersama orang asing, tanpa tau apa-apa tentang dirinya. Bahkan namanya pun tidak.

Tapi ah, bukannya semua orang pada mulanya adalah asing yang dipertemukan Tuhan?

"Kira-kira kita bakal ketemu lagi ga ya?"
"Feeling saya sih engga, haha!"
"Ya, kita liat aja nanti. Tapi saya percaya banget, kita sekarang ngobrol asik, nyambung gini, tapi besok belum tentu kamu masih inget saya!
..abis dari sini kamu balik, tidur, besok pagi bangun, kembali ke rutinitas, lupa deh sama saya, sama obrolan kita. Iya kan?"
"Haha, tapi seengganya obrolan ini pernah berlangsung, jadi momen nyata. Cuma masalah ingatan aja, mau disimpen atau engga."
"Yah, kalo bisa sih ini nyampe Aceh deh beneran. Biar bisa ngobrol terus.."
He. Saya melongo dan cuma ketawa garing.

Bisa nyaman ngobrol panjang dan nyambung itu kadang gampang gampang susah. Ga bisa diukur dari banyaknya percakapan yang keluar, bukan diukur dari nyambung-engganya topik obrolan, atau masalah siapa yang dominan berbicara.

Ngobrol nyambung itu buat saya sih intinya satu: dua-duanya mau ngobrol; harus saling mau ngerti dan dengerin (bahkan ketika lawan bicaranya pengen diem sejenak sekali pun).

4 comments:

  1. Setuju,...akan mengalir obrolan ketika keduanya sama-sama ingin mengobrol :)

    ReplyDelete
  2. klo sudah klop mana bisa ditahan untuk mengobrol..ya kn ?

    ReplyDelete
  3. Biasanya kalau cewek yang duduk sebelah cantik, baru diajak ngobrol hehe..

    ReplyDelete
  4. setuju dengan mas budi, tapi kalau cantik lalu sombong, ya rugi diajak bicara.

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)