21 March 2013

Antara Wanita, Sepatu, dan Pasangan

Dua orang wanita muda usia menjelang dua-puluh-lima-an berjalan-jalan di sebuah pertokoan, memasuki satu per satu toko sepatu yang ada di pusat perbelanjaan. Menghampiri rak sepatu yang satu, lalu tak lama kemudian hinggap di rak sepatu lainnya. Sekedar melihat, menyentuh, atau sesekali mencoba langsung di kakinya. Kemudian mengamit diri di depan cermin. Memastikan bahwa sepatu yang mereka pilih akan terlihat indah di kakinya. Konon, sebuah sepatu dapat menambah kepercayaan diri seorang perempuan. Itulah mengapa wanita sangat mencintai sepatu.

Sepatu-sepatu itu masih terpajang rapi seperti biasanya. Berjejer menunggu kaki-kaki wanita yang mencoba dan akhirnya membawa dia pulang –terbebas dari jerat pertokoan dan berbagai obral. Bukan wanita yang memilih sepatu, tetapi pada akhirnya sepatulah yang memilih kaki-kaki yang tepat pada ukurannya. Pas, tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil. Karena ukuran yang kurang pas tidak akan bisa membuat nyaman kaki-kaki pemiliknya.

“Mbak, yang warna merah ini ada nomor 38-nya ngga?”, setelah hampir tiga puluh menit mengelilingi deretan rak sepatu dari berbagai merk, akhirnya Rhea berhasil menentukan satu pilihannya.

Seorang pelayan lalu meraih sebelah stilleto yang baru saja dicoba wanita yang berpakaian rapi ala wanita kantoran full make up itu dengan cekatan.

“Sebentar ya Mbak, saya cek dulu.” Lalu si pelayan pergi berjalan menuju tumpukan kardus-kardus sepatu di balik gudang.

Rhea masih saja memperhatikan satu per satu sepatu yang dipajang di rak. Namun, dia hanya melihat sekilas, seolah tak ada sepatu lain yang lebih menarik yang bisa menyita perhatiannya. Sepertinya Rhea sudah terlanjur jatuh cinta dengan sepatu stilleto merah bertumit sepuluh senti itu.

Tidak lebih dari tiga menit, si pelayan kembali, mendekati Rhea, tanpa dus sepatu di tangannya.
“Maaf Mbak, nomor 38 nya kosong, adanya tinggal nomor 37 sama 40.”
“Yaah, ngga ada yang 38 ya, Mbak?” Rhea nampak bersikeras.
Pelayan hanya tersenyum sambil menggeleng, “Sudah habis, Mbak.”
Rhea akhirnya hanya tersenyum kecut. Sambil menarik napas panjang, kedua bahunya lalu turun beberapa senti. “Oke deh, thanks Mbak!”

Wanita harus terbiasa kecewa ketika memilih sepatu yang dia inginkan tidak ada ukuran. Begitulah hidup. Tidak semua yang diinginkan bisa didaptakan dengan mudah. Klise. Di saat seorang wanita merasa sudah menemukan sepatu yang cocok, dan ternyata tidak ada ukuran sepatu yang pas di kaki, mau diapakan? Meskipun sudah sebegitu jatuh cintanya kepada model, warna, dan segala hal tentang sepatu itu –ya, kecuali ukuran.

Pada akhirnya, memang sepatulah yang memilih pemakainya. Untuk kali ini stiletto merah itu tidak memilih Rhea. Pandangan wanita itu lalu menyapu sekitarnya, mencari sahabatnya, Lyra. Sadari tadi Lyra hanya duduk di antara rak sepatu, mengamati sepatu-sepatu di dekat tempat dia duduk, tepat di depan sebuah kaca besar. Rhea berjalan gontai menghampiri Lyra.

“Lo ngga nyari-nyari sepatu?” Rhea bertanya lemas.
Lyra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu balik bertanya, “Dapet sepatunya?”
“Sepatu yang gue mau ngga ada ukuran! Cabut yuk!”
Lyra mengangguk pasti lalu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar bersama Rhea. Kedua wanita ini akhirnya keluar toko dengan tangan kosong. Ada sebuah kekecewaan entah apa bergumul di hati Rhea. Sejak tadi muka Rhea terus ditekuk, ada rasa tak rela berkecamuk di hatinya ketika meninggalkan sebuah toko, sudah merasa menemukan satu yang cocok, tapi akhirnya keluar dengan tidak membawa apa-apa.

“Heh Rhe, keabisan ukuran sepatu aja lo kecewanya sampe segitunya. Persis kayak orang yang nyari jodoh trus ngga dapet-dapet tau ngga!” Lyra, menggoda Rhea yang terus-terusan manyun.
“Sial lo!”
“Milih pasangan hidup juga sama kayak beli sepatu kali ya!”
Rhea menyerutkan keningnya sesaat.
“Ya kayak lo gini nih, milih satu sepatu aja lo butuh waktu yang cukup lama, kadang harus keluar masuk beberapa toko, sama kan kayak milih pasangan hidup, butuh waktu panjang dan bisa aja tersembunyi di tempat mana yang kita sendiri ngga tau. Terus meskipun di toko ini banyak banget sepatu yang menarik perhatian, ngga semuanya mau lo beli. Lo harus sesuain modelnya sama yang lo butuhin, lo harus mastiin bahannya bagus, warnanya cocok, dan yang paling pasti ukurannya pas ngga sama kaki lo. Ngga asal pilih karena merk, atau karena tergiur diskonan yang gila-gilaan. Iya, kan?” Lyra berbicara panjang lebar. Rhea hanya tersenyum sambil mengangguk-ngangguk.
“Sama lah kayak milih pasangan hidup, ketika kita udah ngerasa cocok banget sama dia, sama kepribadiannya, sama sifatnya, sama segalanya, tapi ternyata ada satu hal dasar yang ngga ‘PAS’ dan ngga bisa dipaksain, ya mau gimana lagi?” Lyra memberi penegasan di kata pas.
“Heh Lyra, lo kesambet apa sih?”
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Sambil terus berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan yang sedang ramai-ramainya di hari weekend.

“Eh udahan yuk, kaki gue sakit.” Lyra meringis.
“Kaki lo sakit kenapa?”
“Lecet lagi nih.”
“Lah, udah tau bikin sakit kenapa masih aja dipake?” Rhea berbicara tegas.
Rhea ingat betul, ini bukan kali pertama Lyra mengeluh lecet akibat sepatu yang sama.

“Lo ngga inget Rhe, gue beli sepatu ini sampe rebutan sama ibu-ibu rese? Lo kan tau harganya dari berapa jadi berapa karena diskon, gue juga suka banget sama model sepatu ini!” jawab Lyra dengan suara parau, disisakan tarikan napas panjang di akhir.
“Trus gara-gara itu semua lo mau terus-terusan kesiksa pake sepatu itu, Ra? Perasaan masih anget tahi ayam banget deh lo ceramah tentang milih sepatu yang PAS!” kali ini bagian Rhea membesarkan suara di kata pas.
“Yaa, mau gimana lagi, ini salah satu sepatu favorit gue dan udah terlanjur dibeli, masa ngga dipake, Rhe!” Lyra hanya tersenyum menyeringai. Nada suaranya melemah.
“Ya ngga masalah sih kalo emang lo rela kaki terus-terusan lecet!”, Rhea hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya.
Lyra hanya terdiam.
“Cuma ya gue ngga habis pikir aja. Kenapa ya, banyak orang masih aja mau bertahan sama sesuatu yang udah jelas-jelas bikin mereka sakit.”
Rhea lalu terdiam beberapa saat, memberi sedikit jeda dalam kalimatnya.
“...gue bukan cuma ngomongin sepatu ya, tapi juga pasangan!” lanjut Rhea lagi meluruskan dan memberi penekanan di kata ‘pasangan’, lalu tersenyum cukup lebar.
“Kutu, nyindir gue ya!”

Wanita harus terbiasa memakai high heels, wanita harus terbiasa menahan rasa sakit diam-diam; menyembunyikan luka yang dia rasa. Wanita harus kuat terus berdiri di bawah tumpuan sakit yang dia tahan, demi sebuah kepuasan diri..

yang entah apa.


#

2 comments:

  1. wih mantep.. sisi setianya seorang wanita. walaupun sakit dia tetap bertahan. tidak hanya pada sepatu high heels, tapi juga pada pasangan. :)

    ReplyDelete
  2. Itulah sifat luar biasa yang dimiliki oleh wanita ..

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)