04 November 2013

Dipertemukan

"Bukankah semua orang dalam hidup kita pada mulanya adalah orang asing yang tidak kita kenali?"


: Lyra

Hari itu aku benar-benar tak tentu arah. Maka kemana pun kaki ingin melangkah, badan ini akan terus mengikutinya. Seperti daun kering yang tertiup angin, tak jelas akan menuju ke mana, dan entah akan menjatuhkan diri di tanah atau permukaan air yang mana. Beberapa pakaian dan perlengkapan rias ala kadarnya sudah memenuhi tas ranselku. Sebuah pelarian tak terencana. Usaha untuk melarikan diri sejenak dari segala kepenatan yang ada.

Sore itu, aku lebih dulu pergi mengangkat kaki dari kantor. Sakit. Ya, sakitnya ada di dalam sini, di hati. Lalu entah ada magnet dari mana yang menarikku dengan sangat kuat, tiba-tiba aku sudah berada di Stasiun Gambir, membeli sebuah tiket menuju Yogyakarta. Padahal aku tak tahu akan ke mana di sana, yang jelas aku butuh pergi dari kota ini. Aku butuh menghilang sejenak dari rutinitas yang menjemukkan.

Aku duduk di nomor kursi yang telah diberikan, 2A. Gerbong yang kutumpangi mulai penuh sesak, orang-orang hilir mudik, mencari tempat duduknya. Ada yang mengantar, lalu pulang. Dengan atau tanpa pelukan perpisahan yang berarti.
"Permisi, ini bener gerbong 2 kan?"
Seorang lelaki dengan sepasang headset datang membuyarkan lamunanku.
Aku lalu hanya mengangguk lantas tersenyum tipis. Dia lalu menyimpan tas ransel besarnya di kabin kemudian duduk dengan tenang disampingku.
Kaos putih dan jaket jeans, perpaduan yang cocok untuk dirinya. Celana jeans belel dengan sedikit robekan di lututnya dan sepatu vans menggambarkan kebebasan dalam dirinya. Pandanganku dari tadi tak beralih darinya. Lelaki itu lalu sadar jika dia diperhatikan, seketika melihat ke arahku, dan menyodorkan tangannya kepadaku.
“Hai.. Dika.”
Bola matanya yang cokelat memandangku dengan tatapan teduh, terlihat ada banyak ketenangan di sana. Lalu bibirnya tersungging tipis, manis. Kecolongan begini, aku sedikit salah tingkah, lalu mencoba kembali tenang.
“Lyra.” jawabku singkat. Sedikit kaget dan malu karena kecolongan sedang memperhatikannya.
Lalu kami berjabatan tangan. Tangannya menggenggam dengan cukup lembut. Benar-benar sosok lelaki yang ideal. Penuh kharisma. Badannya tegap. Aku yakin, banyak wanita yang tergila-gila kepadanya. Kuperhatikan jemari tangannya, memastikan belum ada benda paling memuakkan yang melingkar di jari manisnya. Dan ya, memang tidak ada. Belum ada. Atau mungkin harusnya ada, tapi tidak dia kenakan. Dan aku hanya mampu berspekulasi.

“Mau ke mana?” dia mulai membuka percakapan.
“Hmm, Jogja kayaknya.” aku menjawab dengan sedikit keraguan.
“Lho kok kayaknya?” dia lalu tersenyum sambil kebingungan.
“Ya, emang masih belum tau pasti mau ke mana sih. Kamu sendiri mau ke mana?”
“Jogja. Ngga pake kayaknya!” jawabnya pasti.
Aku lalu tertawa, “Haha.. dalam rangka apa?”
“Kangen aja sama Jogja, trus kebetulan dapet gawean buat nulis artikel tentang tempat travelling di sana.”
“Penulis?”
“Freelancer majalah, kadang jadi fotografer, kadang jadi penulis, kadang jadi kuli juga.”
“Oh.” Jawabku singkat sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Eh, trus pergi ga tau mau kemana ini dalam rangka apa?” dia penasaran.
“Ngga tau, lagi jenuh sama Jakarta, tiba-tiba kepikiran pergi keluar kota sejenak, dan yaa di sinilah aku sekarang. Taraa!”
“Seriusan?” nadanya masih tak percaya.
“Ya!”

Lalu kita berbincang panjang. Namanya Dika Rahardja Saputra, seorang Virgo usia dua puluh lima. Pribadi yang menyenangkan, supel, dan kharismatik. Katanya sih punya hobi tidur, paling ngga bisa makan durian. Anak pertama dari empat bersaudara, dua adiknya laki-laki, dan satu perempuan yang katanya selintas mirip denganku.



: Dika

Pertemuan ini, tak ada yang pernah mengatur sebelumnya. Masing-masing dari kita tak ada yang pernah membayangkan ini. Semua terjadi begitu saja. Seorang perempuan di samping tempatku duduk saat ini, sedikit banyak menyita perhatian. Wajahnya mengingatkanku pada adikku yang kedua yang sudah sangat lama tak kutemui. Tapi bukan karena itu. Rasanya lebih dari itu. Gayanya dan pembawaannya membuat mata ini tak mau beralih dari sosoknya. Faktor X yang masih belum bisa didefinisikan dengan pasti.
Baru tiga jam kita berkenalan, aku sudah merasa mengenalnya ratusan hari. Pembawaannya yang tenang, hangat, membuat perjalanan saya ke Jogja kali ini tidak terasa membosankan. Lucu ketika kutanya kepada wanita itu mau kemana, dia malah kebingungan. Entah ide gila darimana, akhirnya aku tawarkan untuk ikut bersamaku.

“Yaa sebenernya kita kan sama-sama ngga punya partner nih di Jogja, jalan bareng mau ngga?”
“Hmm..”
“Eh ini bukan paksaan kok, sekedar tawaran ke orang yang lagi ngga tau arah.”
“Iiiih, Dikaaaa!!”
Pada akhirnya lalu dia mengangguk, tanda menyetujuinya. Baiklah, kesempatan untuk mengenalnya terbuka lebar. Tak ada pikiran apa-apa, saya hanya tertarik untuk bersama dia lebih lama, itu saja.


: Lyra

Agak gila memang, ikut bersama seorang lelaki yang baru dikenal, di kota orang. Segala hal bisa saja terjadi. Siapa yang tahu kalo Dika penjahat kelamin, buronan polisi yang kabur, atau malah psikopat. Tapi jauh dalam diri ini bicara kalau dia orang baik-baik. Semoga saja.

Enam belas jam berlalu, dengan separuhnya dipakai untuk mengobrol bersama Dika. Dari mulai obrolan basa-basi, iklan salah satu provider seluler, perang yang terjadi di Irak, kerusuhan di Mesir, kemacetan yang selalu terjadi di Jakarta, tentang mimpinya menjadi fotografer international, tentang mimpinya memiliki bisnis travel ternama, tentang ide gila pelarianku, tentang pekerjaanku yang membosankan, tentang mantannya yang masih cari perhatian di media sosial. Ya, begitu banyak yang sudah diceritakan dalam waktu singkat.

Pagi-pagi akhirnya kami tiba di Stasiun Yogyakarta, berjalan mencari sarapan di sekitaran Malioboro. Semenjak di stasiun dia mulai mengeluarkan kameranya, lalu menjepret sudut-sudut Yogyakarta.

“Aku udah punya list yang harus dikunjungi selama di sini, ga apa-apa nih ngikutin run-down yang udah dibuat?”
“Ngga apa-apa, anggap aja simulasi aku ikutan tour di Dika Travel.”
“Haha. Baik, selamat datang di kota Yogyakarta. Saat ini anda sedang berada di Jalan Malioboro, sebelah kanan adalah benteng ..”
“Ih cocok deh, Dik!”.
Dia lalu tertawa renyah.

Sarapan bubur Yogya. Mencari penginapan di sekitaran Malioboro. Dia lalu menyewa mobil untuk dipakainya berkeliling kota. Pantai-pantai indah di Gunung kidul. Candi Ratu Boko dan matahari terbenam yang menakjubkan.



“Untung juga ketemu orang yang ngga punya tujuan ya, Lyr. Perjalanan jadi ngga garing sendirian.”
“Heh, maksudnya apaan? Eh tapi emang kalo liputan gini, biasanya kamu jalan sendiri, Dik?”
“Hahaa. Engga, harusnya sih berdua sama temen, Ardi. Cuma tiba-tiba dia sakit, dan ngga ada yang bisa gantiin. So, here i’m alone.”
“Yaa, berarti kita emang ditakdirkan buat dipertemukan, Dik.”
Dika terlihat berpikir, matanya menerawang dalam.
“Iya ya Lyr..” dia akhirnya berucap setelah jeda berpuluh-puluh detik.
“Semua yang terjadi dalam hidup kita, berentet juga ke kehidupan orang lain. Coba kalo Ardi ngga sakit atau bukan aku yang diassign buat liputan ini, atau bukan kota Jogja yang terlintas di pikiran kamu waktu beli tiket di Stasiun sore itu. Mungkin kita sama-sama ngga akan ada di sini, ngga pernah ketemu, dan ngga pernah ada momen ini, ngga pernah ada yang namanya Lyra yang aku temui.”
Saya terdiam, dan hanya memandang Dika lama.
Dia pun melakukan hal yang sama.


: Dika

Lyra,
Aku ngga tau satu atau beberapa tahun kemudian kamu menjadi apa dalam hidupku. Mungkin jadi pacar, seorang istri, rekan kerja, sahabat, pacarnya sahabat, atau malah kembali menjadi orang asing.
Aku bahkan tak tahu besok kita masih akan bertemu atau tidak.
Tapi aku mencintai pertemuan ini, mencintai momen yang terjadi saat ini.
Seperti katamu Lyra, setidaknya kita pernah ditakdirkan untuk dipertemukan.

25 September 2013

Hai, senang bertemu kamu lagi!

Samalona, Sulawesi Selatan

Bertemu lagi dengan deru ombak dan biru lautan!

Tanjung Layar, Desa Sawarna, Jawa Barat

25 July 2013

Sedikit Catatan Pengingat Diri

Rasulullah bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Al-Imam Al-Bukhari)

“Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam."

Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu." (QS. Ali Imran: 200)

Iman terbagi dua separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur. (HR.Al-Baikaqi)

“Ya Nabi, berilah aku wasiat” Rasullalah bersabda,”Jangan marah!” ditanya berulang kali dan tetap dijawab, “Jangan marah!” (HR.Bukhari)

Sesungguhnya yang berkecukupan adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup, dan orang fakir adalah orang yang hatinya selalu rakus. (HR. Ibnu Hibban)

Permudahlah, jangan mempersulit, dan jadikan suasana yang tenteram. Jangan menakut nakuti. (HR.Muslim)

Berhati-hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan paling bodoh”. (HR. Al-Bukhari)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. "

01 July 2013

#3 : Perjalanan, Ngobrol, dan Orang Asing

Pernah suatu waktu, saya dan seorang asing duduk bersebelahan di dalam sebuah perjalanan. Pada mulanya hanya berbasa-basi, mengomentari kemacetan, lalu akhirnya terus berlanjut mengobrol panjang ke sana sini.


Seorang lelaki muda dengan garis wajah tegas, dengan pembawaan yang santai, tiba-tiba menceritakan banyak pengalamannya. Aneh? Ya, mengobrol begitu saja bersama orang asing, tanpa tau apa-apa tentang dirinya. Bahkan namanya pun tidak.

Tapi ah, bukannya semua orang pada mulanya adalah asing yang dipertemukan Tuhan?

"Kira-kira kita bakal ketemu lagi ga ya?"
"Feeling saya sih engga, haha!"
"Ya, kita liat aja nanti. Tapi saya percaya banget, kita sekarang ngobrol asik, nyambung gini, tapi besok belum tentu kamu masih inget saya!
..abis dari sini kamu balik, tidur, besok pagi bangun, kembali ke rutinitas, lupa deh sama saya, sama obrolan kita. Iya kan?"
"Haha, tapi seengganya obrolan ini pernah berlangsung, jadi momen nyata. Cuma masalah ingatan aja, mau disimpen atau engga."
"Yah, kalo bisa sih ini nyampe Aceh deh beneran. Biar bisa ngobrol terus.."
He. Saya melongo dan cuma ketawa garing.

Bisa nyaman ngobrol panjang dan nyambung itu kadang gampang gampang susah. Ga bisa diukur dari banyaknya percakapan yang keluar, bukan diukur dari nyambung-engganya topik obrolan, atau masalah siapa yang dominan berbicara.

Ngobrol nyambung itu buat saya sih intinya satu: dua-duanya mau ngobrol; harus saling mau ngerti dan dengerin (bahkan ketika lawan bicaranya pengen diem sejenak sekali pun).

23 June 2013

.. kita hanya bisa mengenang momen yang telah lalu

"Semua sahabat yang pernah menghangatkan hidup
Satu persatu, menghilang…
Seiring waktu yang makin lama
Kian menua."
SORE - Etalase

Photostage : Java Rockin'land 2013

Suasana @ Rockin'land Stage
Collective Soul
Efek Rumah Kaca
Hellogoodbye
Sixpence None the Ritcher
SORE


Java Rockinland
22-23 Juni 2013
@Pantai Carnaval Ancol, Jakarta Utara

20 June 2013

.. selalu kalah oleh tatapan lelaki bermata teduh,
walau pun di hatinya ramai riuh bergemuruh.
uh!

11 June 2013

#24

Dear usia,

Selamat, angkamu sudah bertambah!

Perjalanan..

Mengemas barang bawaan, menyusun jadwal dan tempat tujuan, bertemu dan mengobrol dengan orang-orang asing, mendengar dialog dengan bahasa setempat dan kita sama sekali tak mengerti maksudnya apa, tersesat di sebuah tempat, hanya diam dan memandangi sekitar dari kaca jendela alat transportasi, menawar harga, mencoba makanan yang sama sekali belum pernah dicicipi lidah --rasanya hal-hal itu yang selalu dirindukan.

Bukan masalah bersama siapa kamu pergi, bukan masalah ke mana tempat tujuannya, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kamu menikmati perjalanan. Begitu juga hidup.

.. sementara ini


2013, Separuh petang, Pantai Rancabuaya.

“Apa yang paling kamu inginkan sekarang ini?” aku bertanya, saat kami sedang sama-sama menikmati Pantai Rancabuaya yang berombak. Langit mulai kemerahan. Air laut menari-nari dengan sangat lincah.
“Menikah!” jawabnya singkat. Satu kata itu, tetapi terasa begitu berat mengucapkannya. Sehingga dia harus menarik napas panjang setelah menjawab pertanyaanku.

“Lalu, apa yang paling kamu inginkan dalam waktu dekat ini?” sahabatku mengembalikan pertanyaan kepadaku.
Mataku menerawang jauh ke ujung cakrawala. Tanganku menggengam pasir lembut, lalu membiarkan mereka jatuh lagi.
“Ya, tentu saja menikah! Bukankah semua wanita menginginkan itu?”

Aku tak pernah sekalipun bermimpi untuk hidup sendiri di sisa usiaku, aku ingin merasakan bagaimana rasanya dipanggil 'Ibu' oleh anak-anak yang keluar dari mulut rahimku sendiri. Aku ingin pada saat tua nanti, ada seseorang yang terus menggenggam tanganku meski salah satu dari kita sudah mulai keriput, atau bahkan ketika kita berdua sudah sama-sama pikun. Hanya itu


.. sementara ini. Setelah itu masih banyak keinginan lain yang masih harus dijabarkan panjang.

12 May 2013

# 3

"Orang baik itu pasti dapetnya sama orang baik lagi. Kamu itu terlalu baik!"

"Jadi kamu pengennya sama orang yang ngga baik? Atau emang kamunya yang ngga baik? Tuhan ngasih yang baik buat kamu, kenapa malah ditolak?"

"Aku mau membenahi diri dulu, supaya pantas buat kamu!"

09 April 2013

Jarak

Kemarin kita bertemu. Di sebuah kamis yang manis, dengan sedikit kesibukan yang mengganggu. Kamu menyapa dengan pandanganmu yang entah bagaimana, aku langsung menyukainya. Tatapan teduh yang pernah kulihat sebelumnya, dari pemilik mata yang berbeda.

Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?

Hari ini kita duduk bersebrangan, dipisah jarak sejauh tiga meter. Namun kamu masih mau membagi tatapan matamu yang selalu ingin aku pandangi. Seandainya bisa, aku ingin merekamnya terus tanpa jeda.

Apakah aku masih boleh melihatmu?

Besok aku tahu kita tak akan bertemu. Dua hari tak lagi bisa mencuri-curi matamu. Karena pandanganmu sedang cuti untuk dipamerkan. Sedang aku tak sabar menunggu senin yang akan datang beterbangan.

Berhari-hari setelahnya, aku mencari kedua bola matamu. Tak kutemukan di tempat biasanya –tiga meter tepat di depanku. Ternyata mata itu sudah berada di tempat yang lain, sedang memandangi dua bola mata yang ternyata dia juga gilai.

Dua puluh centimeter. Di depan mataku.

21 March 2013

Antara Wanita, Sepatu, dan Pasangan

Dua orang wanita muda usia menjelang dua-puluh-lima-an berjalan-jalan di sebuah pertokoan, memasuki satu per satu toko sepatu yang ada di pusat perbelanjaan. Menghampiri rak sepatu yang satu, lalu tak lama kemudian hinggap di rak sepatu lainnya. Sekedar melihat, menyentuh, atau sesekali mencoba langsung di kakinya. Kemudian mengamit diri di depan cermin. Memastikan bahwa sepatu yang mereka pilih akan terlihat indah di kakinya. Konon, sebuah sepatu dapat menambah kepercayaan diri seorang perempuan. Itulah mengapa wanita sangat mencintai sepatu.

Sepatu-sepatu itu masih terpajang rapi seperti biasanya. Berjejer menunggu kaki-kaki wanita yang mencoba dan akhirnya membawa dia pulang –terbebas dari jerat pertokoan dan berbagai obral. Bukan wanita yang memilih sepatu, tetapi pada akhirnya sepatulah yang memilih kaki-kaki yang tepat pada ukurannya. Pas, tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil. Karena ukuran yang kurang pas tidak akan bisa membuat nyaman kaki-kaki pemiliknya.

“Mbak, yang warna merah ini ada nomor 38-nya ngga?”, setelah hampir tiga puluh menit mengelilingi deretan rak sepatu dari berbagai merk, akhirnya Rhea berhasil menentukan satu pilihannya.

Seorang pelayan lalu meraih sebelah stilleto yang baru saja dicoba wanita yang berpakaian rapi ala wanita kantoran full make up itu dengan cekatan.

“Sebentar ya Mbak, saya cek dulu.” Lalu si pelayan pergi berjalan menuju tumpukan kardus-kardus sepatu di balik gudang.

Rhea masih saja memperhatikan satu per satu sepatu yang dipajang di rak. Namun, dia hanya melihat sekilas, seolah tak ada sepatu lain yang lebih menarik yang bisa menyita perhatiannya. Sepertinya Rhea sudah terlanjur jatuh cinta dengan sepatu stilleto merah bertumit sepuluh senti itu.

Tidak lebih dari tiga menit, si pelayan kembali, mendekati Rhea, tanpa dus sepatu di tangannya.
“Maaf Mbak, nomor 38 nya kosong, adanya tinggal nomor 37 sama 40.”
“Yaah, ngga ada yang 38 ya, Mbak?” Rhea nampak bersikeras.
Pelayan hanya tersenyum sambil menggeleng, “Sudah habis, Mbak.”
Rhea akhirnya hanya tersenyum kecut. Sambil menarik napas panjang, kedua bahunya lalu turun beberapa senti. “Oke deh, thanks Mbak!”

Wanita harus terbiasa kecewa ketika memilih sepatu yang dia inginkan tidak ada ukuran. Begitulah hidup. Tidak semua yang diinginkan bisa didaptakan dengan mudah. Klise. Di saat seorang wanita merasa sudah menemukan sepatu yang cocok, dan ternyata tidak ada ukuran sepatu yang pas di kaki, mau diapakan? Meskipun sudah sebegitu jatuh cintanya kepada model, warna, dan segala hal tentang sepatu itu –ya, kecuali ukuran.

Pada akhirnya, memang sepatulah yang memilih pemakainya. Untuk kali ini stiletto merah itu tidak memilih Rhea. Pandangan wanita itu lalu menyapu sekitarnya, mencari sahabatnya, Lyra. Sadari tadi Lyra hanya duduk di antara rak sepatu, mengamati sepatu-sepatu di dekat tempat dia duduk, tepat di depan sebuah kaca besar. Rhea berjalan gontai menghampiri Lyra.

“Lo ngga nyari-nyari sepatu?” Rhea bertanya lemas.
Lyra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu balik bertanya, “Dapet sepatunya?”
“Sepatu yang gue mau ngga ada ukuran! Cabut yuk!”
Lyra mengangguk pasti lalu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar bersama Rhea. Kedua wanita ini akhirnya keluar toko dengan tangan kosong. Ada sebuah kekecewaan entah apa bergumul di hati Rhea. Sejak tadi muka Rhea terus ditekuk, ada rasa tak rela berkecamuk di hatinya ketika meninggalkan sebuah toko, sudah merasa menemukan satu yang cocok, tapi akhirnya keluar dengan tidak membawa apa-apa.

“Heh Rhe, keabisan ukuran sepatu aja lo kecewanya sampe segitunya. Persis kayak orang yang nyari jodoh trus ngga dapet-dapet tau ngga!” Lyra, menggoda Rhea yang terus-terusan manyun.
“Sial lo!”
“Milih pasangan hidup juga sama kayak beli sepatu kali ya!”
Rhea menyerutkan keningnya sesaat.
“Ya kayak lo gini nih, milih satu sepatu aja lo butuh waktu yang cukup lama, kadang harus keluar masuk beberapa toko, sama kan kayak milih pasangan hidup, butuh waktu panjang dan bisa aja tersembunyi di tempat mana yang kita sendiri ngga tau. Terus meskipun di toko ini banyak banget sepatu yang menarik perhatian, ngga semuanya mau lo beli. Lo harus sesuain modelnya sama yang lo butuhin, lo harus mastiin bahannya bagus, warnanya cocok, dan yang paling pasti ukurannya pas ngga sama kaki lo. Ngga asal pilih karena merk, atau karena tergiur diskonan yang gila-gilaan. Iya, kan?” Lyra berbicara panjang lebar. Rhea hanya tersenyum sambil mengangguk-ngangguk.
“Sama lah kayak milih pasangan hidup, ketika kita udah ngerasa cocok banget sama dia, sama kepribadiannya, sama sifatnya, sama segalanya, tapi ternyata ada satu hal dasar yang ngga ‘PAS’ dan ngga bisa dipaksain, ya mau gimana lagi?” Lyra memberi penegasan di kata pas.
“Heh Lyra, lo kesambet apa sih?”
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Sambil terus berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan yang sedang ramai-ramainya di hari weekend.

“Eh udahan yuk, kaki gue sakit.” Lyra meringis.
“Kaki lo sakit kenapa?”
“Lecet lagi nih.”
“Lah, udah tau bikin sakit kenapa masih aja dipake?” Rhea berbicara tegas.
Rhea ingat betul, ini bukan kali pertama Lyra mengeluh lecet akibat sepatu yang sama.

“Lo ngga inget Rhe, gue beli sepatu ini sampe rebutan sama ibu-ibu rese? Lo kan tau harganya dari berapa jadi berapa karena diskon, gue juga suka banget sama model sepatu ini!” jawab Lyra dengan suara parau, disisakan tarikan napas panjang di akhir.
“Trus gara-gara itu semua lo mau terus-terusan kesiksa pake sepatu itu, Ra? Perasaan masih anget tahi ayam banget deh lo ceramah tentang milih sepatu yang PAS!” kali ini bagian Rhea membesarkan suara di kata pas.
“Yaa, mau gimana lagi, ini salah satu sepatu favorit gue dan udah terlanjur dibeli, masa ngga dipake, Rhe!” Lyra hanya tersenyum menyeringai. Nada suaranya melemah.
“Ya ngga masalah sih kalo emang lo rela kaki terus-terusan lecet!”, Rhea hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya.
Lyra hanya terdiam.
“Cuma ya gue ngga habis pikir aja. Kenapa ya, banyak orang masih aja mau bertahan sama sesuatu yang udah jelas-jelas bikin mereka sakit.”
Rhea lalu terdiam beberapa saat, memberi sedikit jeda dalam kalimatnya.
“...gue bukan cuma ngomongin sepatu ya, tapi juga pasangan!” lanjut Rhea lagi meluruskan dan memberi penekanan di kata ‘pasangan’, lalu tersenyum cukup lebar.
“Kutu, nyindir gue ya!”

Wanita harus terbiasa memakai high heels, wanita harus terbiasa menahan rasa sakit diam-diam; menyembunyikan luka yang dia rasa. Wanita harus kuat terus berdiri di bawah tumpuan sakit yang dia tahan, demi sebuah kepuasan diri..

yang entah apa.


#

14 February 2013

Before Sunrise & Before Sunset

Jika ditanya, film drama romantis apa yang paling disukai? Saya pasti jawab: Before Sunrise dan Before Sunset. Kenapa tiba-tiba ngereview dua film romantis ini? Bukan, bukan karena hari ini katanya hari kasih sayang. Bukan! Tapi karena ternyata sudah ada lanjutan dari sequel film ini, berjudul Before Midnight.

Mungkin bagi sebagian orang, atau bahkan banyak orang, film dengan dua tokoh utama Jesse (Ethan hawke) dan Celine (Julie Delpy) yang penuh dengan dialog panjang tak henti-hentinya, sudah jelas akan sangat membosankan. Tapi berbeda dengan dua film ini. Ditangan sutradara Richard Linklater, film ini disulap menjadi film yang manis, romantis, menyentuh, realistis, dan sangat berbekas, meninggalkan kesan tersendiri.


Before Sunrise (1995)
Bermula dengan pertemuan mereka di kereta, Celine seorang wanita Prancis sedang dalam perjalanan pulang ke Prancis, sedangkan Jesse seorang lelaki Amerika akan menuju ke Vienna untuk melanjutkan penerbangannya pulang. Mereka lalu mengobrol dan menemukan kecocokan satu sama lain sejak awal.

Saat kereta itu berhenti di Vienna, Jesse mengajaknya turun untuk menghabiskan waktunya bersama hingga pagi, sebelum Jesse terbang ke Amerika. Celine lalu menyanggupinya. Mereka berjalan-jalan menyusuri kota Vienna sepanjang hari, sepanjang malam, hingga menjelang pagi. Satu hari yang akan diingat untuk selamanya.

Satu malam yang manis dengan seorang asing yang baru saja dikenal, entah sebuah bencana atau sebuah keberuntungan. Apakah memang bencana karena setelah pagi mereka harus mau berpisah, saling mengucapkan selamat tinggal, dan entah kapan akan bertemu lagi (atau mungkin tidak sama sekali)? Atau memang beruntung karena bisa saling bertemu, saling mengenal, merasa cocok, dan mendapatkan momen-momen indah yang begitu berkesan?

Hingga akhirnya pagi itu tiba, mereka berpisah tanpa meninggalkan alamat, no telp, atau kontak lainnya. Namun mereka membuat kesepakatan untuk bertemu lagi di Vienna 6 bulan kemudian.


Before Sunset (2004)
Setelah perpisahan Jesse dan Celine di Vienna, mereka akhirnya bertemu lagi. Bukan 6 bulan semenjak perpisahan mereka, dan juga bukan di Vienna seperti yang mereka janjikan. Melainkan di Paris, 9 tahun kemudian. Ya, s e m b i l a n tahun kemudian. Jesse sedang melakukan promosi novelnya di sebuah toko buku, dan Paris adalah kota ke-10 sekaligus kota terakhir dari rangkaian tournya. Jesse sudah menjadi seorang penulis novel, dan yaa tentu saja kisah tentang pertemuan dia dengan Celine yang menjadi cerita di novel larisnya itu.

Jesse dan Celine menghabiskan sedikit waktunya sebelum penerbangan Jesse untuk pulang ke kotanya, dengan berjalan-jalan, mengobrol panjang, serta mampir ke cafe di kota Paris. Dari obrolan itu, mereka akhirnya tahu bahwa Celine tidak datang ke Vienna setelah 6 bulan mereka bertemu dulu karena neneknya meninggal, sedangkan Jesse menunggunya dengan penuh harap. Padahal mereka sama-sama menunggu waktu tersebut. Mereka sama-sama saling jatuh cinta, dan terlihat ada penyesalan akan masa lalu. Tetapi sayang, semua keadaan mereka sudah jauh berbeda dengan 9 tahun yang lalu. Jesse sudah menjadi seorang suami, dan bahkan sudah memiliki anak. Yeah, memory is a wonderful thing if we don't have to deal with the past.


Kedua film ini sungguh terasa real, jauh dari kesan drama atau kisah negeri dongeng. Saya sangat suka acting dari Ethan Hawke dan Julie Delpy. Di film ini mereka sangat natural, chemistry mereka berdua pun sangat kuat. Sederhana, manis, kaya makna, dan romantis. Ahh, saya mau kasih nilai 9/10 untuk kedua film di atas! Ngga sabar jadinya nungguin 'Before Midnight' keluar.

13 February 2013

Love Me if You Dare

Film yang berjudul asli Jeux d'enfants ini sudah cukup lama, diproduksi tahun 2003. Film berbahasa asli Perancis ini meninggalkan kesan tersendiri, dengan taste yang berbeda. Ini bukan film cinta yang mengharu biru, bukan kisah cinta yang inspiratif, bukan cerita cinta yang penuh drama dan kemelankolisan. Ini hanyalah cerita cinta yang tak biasa.


Semua berawal ketika Sophie (Marion Cotilard) terus diejek oleh teman-temannya saat dijemput bus sekolah. Julien (Guillaume Canet) kemudian memberikan miniatur carousel milik ibunya agar Sophie terhibur. Sophie lalu menerima mainan tersebut dan mulai memaikan permainan 'tantangan gila'nya. Julien pun menjawab tantangannya dengan melepaskan rem sehingga bus melaju dengan bebas tanpa pengendara. Sejak saat itu Julien dan Sophie berteman baik dan semakin sering memainkan permainan gila mereka.

Permainan mereka dengan miniatur carousel untuk saling menantang melakukan hal-hal yang konyol, tidak wajar, kurang ajar, memalukan, dan benar-benar membahayakan terus dilakukan hingga mereka dewasa. Ayah Julien pun dibuatnya jengkel dan marah. Seperti cerita kebanyakan lainnya, berteman lama, lalu kemudiaan saling jatuh cinta. Ya, apa lagi? Namun, cinta yang mereka rasakan, malah mereka buat menjadi sebuah permainan, bahkan pernikahan pun mereka anggap sebagai sebuah permainan.

Cerita di film ini sungguh kaya warna. Penuh dengan romansa cinta yang manis, penuh dengan fantasi, namun terkadang terkesan gelap, absurd, dan gila. Film ini cocok ditotonton untuk mereka yang bosan sama drama percintaan yang mellow, 8/10 lah :)

12 February 2013

Into the Wild

Film yang diproduksi tahun 2007 ini diangkat dari sebuah buku dengan judul yang sama, yang ditulis berdasarkan kisah nyata kehidupan Chris McCandless.

Chris, yang diperankan oleh Emile Hirsch, adalah seorang pemuda idealis, mahasiswa cerdas di Emory University. Setelah menyelesaikan empat tahun kuliahnya, dia lalu mencoba pergi mencari kebebasan yang sebenarnya, menjelajah alam liar. 


Ia meninggalkan semua identitas pribadinya, mengganti nama dengan 'Alexander Supertramp'. Hampir semua uang yang dia punya disumbangkan ke badan amal. Dia lalu melakukan perjalanannya menuju Alaska, keluar dari kehidupan abstraknya, keluar dari perlindungan palsu orang tua yang hipokrit dan munafik, serta keluar dari kelebihan materi yang memisahkan Chris dari kehidupan sejatinya.

Sepanjang perjalanannya, dia banyak bertemu dengan orang-orang yang mengajarinya arti hidup, dari mulai pasangan hippie sesama pengembara, Wayne si pemilik gandum tempat dimana Chris sempat bekerja selama beberapa saat, dan juga Ronald, seorang pensiunan yang kesepian yang ingin mengadopsi Chris sebagai cucunya.


Setelah dua tahun pergi dari keluarganya, dia tiba di sebuah sungai di daerah terpencil pinggiran Alaska dan menemukan "Magic Bus" yang menjadi kamp-nya. Awalnya Chris begitu bahagia dengan keterisolasiannya, keindahan alam Alaska, dan gairah hidup yang bebas. Tetapi alam tak selamanya indah, terkadang mereka bisa berubah menjadi liar, kasar, serta tak peduli. Persediaan makanannya semakin menipis, dan Chris hanya mengandalkan tanaman yang tumbuh di sekitarnya. Hingga secara tak sengaja dia memakan tumbuhan yang morfologinya sejenis kentang, namun ternyata tanaman itu justru beracun dan dapat menyebabkan kematian.

Banyak pemikiran-pemikiran Chris yang luar biasa, semangatnya menjelajah alam liar, mencari kebebasan yang hakiki; diluar keidealisan dirinya yang terkadang malah menyesatkan. Begitu banyak dialog dan kata-kata yang memberikan kesan tersendiri untuk saya, tapi yang masih begitu melekat di telinga saya diantarnya:

"You're wrong if you think that the joy of life comes principally from human relationship. God's placed it all around us. It's in everything. It's in anything we can experience. People just need to change the way they look at those things."


"I think careers are a 20th century invention and I don't want one."
"The freedom and simple beauty is too good to pass up.."
".. and that an unshared happiness is not happiness."
Akhir kata, untuk yang masih mencari arti kebebasan, selamat menonton. Saya kasih 8,5/10 untuk film ini!

11 February 2013

hari pertama : Bukittinggi

"Mel, ke padang yuk?",
sekitar bulan November tahun lalu tiba-tiba Mariana ngajak saya jalan.
"Kapan?"
"1-3 februari 2013."
Tanpa pikir panjang saya langsung mengiya-kan, yaa bisa atau engganya gimana nanti.

Lalu tiba di tanggal tersebut, tanpa banyak kendala akhirnya perjalanan singkat yang penuh cerita ini terlaksana, 3 hari, 3 perempuan, berjuta cerita.
Personel : saya, Mariana, Rachmi (temen kantor Mariana)

Hari pertama :
Jakarta - Padang - Bukittinggi

Dimulai dengan kebingungan karena dapet penerbangan super pagi, check in jam 03.35, boarding jam 05.05, lalu akhirnya saya dan Mariana memutuskan untuk menginap di bandara. Sekitar pukul 21.00 kami bertemu di bandara, langsung menyerbu Mushalla untuk istirahat dan tidur. Jujur saja, ini pengalaman pertama saya menginap di bandara, agak takut karena pernah denger ada yang bilang ngga boleh nginep dan diusir sama petugas, tetapi ternyata banyak orang melakukan hal yang sama.

Baru mau pergi kami udah nyaris ketinggalan pesawat saking santainya, itu pun terselamatkan oleh keluarga rempong. Haha, ngga lucu aja udah tidur di bandara malah ketinggalan pesawat. Pelajaran pertama: liatlah dengan teliti detail boarding pass anda, terlebih mengenai waktu!

Tiba di Padang, kami memutuskan untuk menggunakan Tranex (Transport Express) semacam ELF / L300 ke Bukittinggi. Awalnya kami pikir rutenya langsung ke Bukittinggi, tetapi ternyata kami di bawa dulu ke Padang kota (biayanya Rp 18.000) dan harus lanjut lagi menggunakan Tranex ke Bukittinggi (Rp 16.000), jadi kalau ada Travel yang nawarin harga Rp 40.000 mending naik travel aja, mereka nganterin sampai tempat tujuan. Sebenernya ada cerita seru gara-gara naik mobil ini, tapi skip aja, terlalu konyol :)

Sempet nyasar ketika nyari penginapan Hello Guesthouse, di sana kami menanyakan nama jalan dan ngga ada yang tahu. Pelajaran kesekian: di Padang jangan sesekali nanyain tempat dengan nama jalannya, tapi kasih tau patokannya apa. Setelah bertanya ke lebih dari lima orang penduduk lokal, akhirnya kami mendapat pencerahan dari Bapak Polisi.

Buat penginapan, Hello Guesthouse ini ada di deket masjid kampung Cina, deket jembatan fort de kock, lumayan deket juga ke Jam Gadang. Recommended buat yang cari penginapan bersih, nyaman dengan budget sekitar Rp 150.000.

Tujuan pertama kami adalah Ngarai Sianok dan the Great Wall Koto Gadang (Janjang 1000) :
Ngarai Sianok
The Great Wall Koto Gadang (Janjang 1000)
Setalah naik ke puncak Janjang 1000 itu, kami tiba-tiba berada di Koto Gadang. Berdasarkan referensi dari penduduk setempat, kami bisa jalan lagi memasuki perkampungan warga, ke arah masjid, jalan-jalan menyusuri jalan sambil menikmati keindahan alam di sana. Lalu kami tergoda makan sate padang, nontonin ABG yang lagi asik foto-foto, dan nontonin anak-anak TPA yang lagi asik main karet, berlarian dengan bebas, ada yang gotong royong gulungin karpet masjid, dan berbagai aktifitas lain yang sungguh menyenangkan --dan Alhamdulillah pernah saya alami juga waktu kecil dulu, mungkin kalo anak seumuran mereka di kota-kota besar maenannya sama Gadget doang, sama layar kotak yang menghubungakan dia dengan duni-dunia maya.

Sore menjelang malamnya ketemu duo backpacker Malaysia (Sharizan dan adiknya, Ihsan) di penginapan dan memutuskan untuk jalan bareng ke Jam Gadang, mencari toko buku, cari makan, lalu ketemu Uda Ainur (Backpacker Padang Community). Hari pertama sudah puas, hari-hari berikutnya dilanjut dipost lain yaa!
Jam Gadang

10 February 2013

The Perks of Being a Wallflower

Film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama karya Stephen Chbosky ini bercerita tentang bagaimana seorang anak dalam menghadapi lingkungan SMA barunya.

Charlie (Logan Lerman) adalah seorang pemalu, tertutup, dan sering merasa canggung. Dia bertemu Partrick (Ezra Miller) dan adiknya, Sam (Emma Watson), senior yang akhirnya menjadi teman barunya. Mereka mengenalkan Charlie merasakan dunia remaja yang menyenangkan namun sedikit liar.


Cerita tentang seorang tak populer kemudian bergaul dengan anak populer dan menjadi liar sudah terdengar biasa, lalu have a crush dengan teman bermainnya, terjadi salah paham kemudian saling menjauh, so Old Story, right? Tetapi ada hal yang berbeda dengan The Perks of Being Wallflower ini. Cerita ini begitu menyentuh dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Bagaimana Charlie merasakan romansa cinta pertama, bagaimana Charlie berjuangan untuk menghilangkan bayangan suram dan traumatis di masa kecilnya --mengalami sexual abuse dari Bibinya sendiri, bayangan suram kematian Bibinya, dan pengalaman ditinggalkan temannya karena bunuh diri, bagaimana akhirnya dia memiliki teman yang sangat sayang kepadanya. Semua dikemas dengan apik.


Banyak adegan seru dan awkward moment di film ini, ketika Sam berdiri merentangkan tangannya di luar mobil saat berada di terowongan dengan lagu Heroes yang diputar keras-keras; ketika mereka sedang bermain truth or dare, dan Charlie ditantang untuk mencium gadis paling cantik di ruangan itu, dan dia malah mencium Sam, bukan pacarnya; saat Charlie memergoki Patrick sedang berduaan dengan Brad; Saat Sam memberikan typewriter kepada Charlie, lalu Sam mengetik:
"Write about us sometime."
"I will."

Alur cerita yang seru, pemilihan soundtrack yang asik, para pemain yang bisa dibilang berhasil memerankan tokoh-tokohnya, sesuai lah kalo saya kasih nilai 8/10.

07 February 2013

( d i ) b a c a

Berawal dari pertemuan di Lembah Harau, Sumatera Barat.
Seorang lelaki yang ternyata adalah guide lokal setempat tak lepas memandang mata saya dengan tajam.
Saat itu ternyata saya sedang 'dibaca', hanya butuh memandangi saya lekat-lekat, lalu TARAAA!!! Saya dan dua teman saya dieja satu per satu dengan mudahnya oleh orang yang baru ditemui kurang dari setengah jam.

"Mel ini orangnya simple, kalo ada masalah juga, ya udah.."
"Dia ini orangnya ngalahan, terlalu banyak ngalah."
"Trus dia kalo ada apa-apa pasti dipendem sendiri."
"Hatinya ini halus banget!"

Lalala~ Sudahlah Uda, jangan terlalu banyak membaca saya, nanti jadi tak seru lagi :)

01 January 2013

dua ribu dua belas

Apa hal yang paling diingat di tahun 2012 ini?
Tentu dengan lantang saya menjawab: jalan-jalan keliling (ke sebagian kecil) Indonesia. Meskipun kebanyakan memang karena tuntutan pekerjaan.

Mengembara Indonesia
Diawali pada bulan Maret awal, saya ditugaskan ke Semarang selama dua minggu, lalu di tengah minggunya sempat menyinggahi Yogyakarta dan Klaten untuk menghabiskan weekend. Kemudian di bulan April, waktunya berputar-putar di daerah Jawa Timur, mulai dari Surabaya, Madura, serta Malang. Keinginan untuk pergi ke Bromo pun akhirnya tercapai. Lalu di akhir bulan yang sama membuat sebuah pelarian bersama keluarga ke Pulau Bangka, menikmati keindahan pantai yang masih sangat indah, jarang terjamah. Di awal Mei untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Sumbawa Besar (sebentar transit di Lombok) dan di pertangahan bulan kembali ke Lombok lagi, menginap di Senggigi selama beberapa malam. Di bulan ini juga untuk pertama kalinya menaiki transportasi laut, ferry, dari Pelabuhan Kayangan di Lombok Timur menuju Pototanu di Sumbawa. Rasanya sungguh luar biasa. Bisa melihat gunung rinjani yang menjulang tinggi dari kejauhan, melihat pulau Moyo yang sudah hampir dekat di depan mata. Kemudian di pertengahan tahun, untuk pertama kalinya menginjakkan kaki ke tanah Sulawesi, tepatnya ke kota Palu. September kabur kilat ke Bogor. Oktober pulang ke kota kelahiran untuk waktu yang cukup lama. Rasanya tak ada sedikit pun lelah, saya ingin terus hidup seperti ini. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Ya, setidaknya untuk saat ini dan beberapa waktu yang akan datang (tidak untuk seterusnya). Banyak pengalaman dan cerita yang sangat bernilai!

Sebuah Tantangan Baru
Di pertengahan Desember yang muram, dapet sebuah kesempatan buat pindah project, dengan posisi dan kerjaan yang bener-bener jauh beda dari sebelumnya. Sekarang jadi BPA beneran, kembali bermain-main dengan visio, word, dan yang paling utama adalah akhirnya menulis lagi. Meskipun menulis dokumen Functional Spesification Design. Haha. Sitenya kebetulan di Sunter, jadi terpaksa pindah kosan ke daerah cempaka putih. Oke awal tahun akan dimulai dengan suasana baru, tempat baru, dan tantangan baru. Semoga banyak hal yang baru di tahun 2013 ini :)

Tentang Mimpi dan Resolusi
Beberapa mimpi banyak yang terealisasi, beberapa yang lain masih tetap menjadi mimpi. Setidaknya saya percaya untuk tak perlu takut bermimpi tinggi-tinggi, karena selalu ada jalan tak terduga. Selalu ada kemudahan jalan untuk menjadikan impian itu menjadi nyata. Pasti.


Mari ucapkan salam perpisahan yang manis untuk dua ribu dua belas,
dan ucapkan selamat datang kepada dua ribu tiga belas!