04 November 2013

Dipertemukan

"Bukankah semua orang dalam hidup kita pada mulanya adalah orang asing yang tidak kita kenali?"


: Lyra

Hari itu aku benar-benar tak tentu arah. Maka kemana pun kaki ingin melangkah, badan ini akan terus mengikutinya. Seperti daun kering yang tertiup angin, tak jelas akan menuju ke mana, dan entah akan menjatuhkan diri di tanah atau permukaan air yang mana. Beberapa pakaian dan perlengkapan rias ala kadarnya sudah memenuhi tas ranselku. Sebuah pelarian tak terencana. Usaha untuk melarikan diri sejenak dari segala kepenatan yang ada.

Sore itu, aku lebih dulu pergi mengangkat kaki dari kantor. Sakit. Ya, sakitnya ada di dalam sini, di hati. Lalu entah ada magnet dari mana yang menarikku dengan sangat kuat, tiba-tiba aku sudah berada di Stasiun Gambir, membeli sebuah tiket menuju Yogyakarta. Padahal aku tak tahu akan ke mana di sana, yang jelas aku butuh pergi dari kota ini. Aku butuh menghilang sejenak dari rutinitas yang menjemukkan.

Aku duduk di nomor kursi yang telah diberikan, 2A. Gerbong yang kutumpangi mulai penuh sesak, orang-orang hilir mudik, mencari tempat duduknya. Ada yang mengantar, lalu pulang. Dengan atau tanpa pelukan perpisahan yang berarti.
"Permisi, ini bener gerbong 2 kan?"
Seorang lelaki dengan sepasang headset datang membuyarkan lamunanku.
Aku lalu hanya mengangguk lantas tersenyum tipis. Dia lalu menyimpan tas ransel besarnya di kabin kemudian duduk dengan tenang disampingku.
Kaos putih dan jaket jeans, perpaduan yang cocok untuk dirinya. Celana jeans belel dengan sedikit robekan di lututnya dan sepatu vans menggambarkan kebebasan dalam dirinya. Pandanganku dari tadi tak beralih darinya. Lelaki itu lalu sadar jika dia diperhatikan, seketika melihat ke arahku, dan menyodorkan tangannya kepadaku.
“Hai.. Dika.”
Bola matanya yang cokelat memandangku dengan tatapan teduh, terlihat ada banyak ketenangan di sana. Lalu bibirnya tersungging tipis, manis. Kecolongan begini, aku sedikit salah tingkah, lalu mencoba kembali tenang.
“Lyra.” jawabku singkat. Sedikit kaget dan malu karena kecolongan sedang memperhatikannya.
Lalu kami berjabatan tangan. Tangannya menggenggam dengan cukup lembut. Benar-benar sosok lelaki yang ideal. Penuh kharisma. Badannya tegap. Aku yakin, banyak wanita yang tergila-gila kepadanya. Kuperhatikan jemari tangannya, memastikan belum ada benda paling memuakkan yang melingkar di jari manisnya. Dan ya, memang tidak ada. Belum ada. Atau mungkin harusnya ada, tapi tidak dia kenakan. Dan aku hanya mampu berspekulasi.

“Mau ke mana?” dia mulai membuka percakapan.
“Hmm, Jogja kayaknya.” aku menjawab dengan sedikit keraguan.
“Lho kok kayaknya?” dia lalu tersenyum sambil kebingungan.
“Ya, emang masih belum tau pasti mau ke mana sih. Kamu sendiri mau ke mana?”
“Jogja. Ngga pake kayaknya!” jawabnya pasti.
Aku lalu tertawa, “Haha.. dalam rangka apa?”
“Kangen aja sama Jogja, trus kebetulan dapet gawean buat nulis artikel tentang tempat travelling di sana.”
“Penulis?”
“Freelancer majalah, kadang jadi fotografer, kadang jadi penulis, kadang jadi kuli juga.”
“Oh.” Jawabku singkat sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Eh, trus pergi ga tau mau kemana ini dalam rangka apa?” dia penasaran.
“Ngga tau, lagi jenuh sama Jakarta, tiba-tiba kepikiran pergi keluar kota sejenak, dan yaa di sinilah aku sekarang. Taraa!”
“Seriusan?” nadanya masih tak percaya.
“Ya!”

Lalu kita berbincang panjang. Namanya Dika Rahardja Saputra, seorang Virgo usia dua puluh lima. Pribadi yang menyenangkan, supel, dan kharismatik. Katanya sih punya hobi tidur, paling ngga bisa makan durian. Anak pertama dari empat bersaudara, dua adiknya laki-laki, dan satu perempuan yang katanya selintas mirip denganku.



: Dika

Pertemuan ini, tak ada yang pernah mengatur sebelumnya. Masing-masing dari kita tak ada yang pernah membayangkan ini. Semua terjadi begitu saja. Seorang perempuan di samping tempatku duduk saat ini, sedikit banyak menyita perhatian. Wajahnya mengingatkanku pada adikku yang kedua yang sudah sangat lama tak kutemui. Tapi bukan karena itu. Rasanya lebih dari itu. Gayanya dan pembawaannya membuat mata ini tak mau beralih dari sosoknya. Faktor X yang masih belum bisa didefinisikan dengan pasti.
Baru tiga jam kita berkenalan, aku sudah merasa mengenalnya ratusan hari. Pembawaannya yang tenang, hangat, membuat perjalanan saya ke Jogja kali ini tidak terasa membosankan. Lucu ketika kutanya kepada wanita itu mau kemana, dia malah kebingungan. Entah ide gila darimana, akhirnya aku tawarkan untuk ikut bersamaku.

“Yaa sebenernya kita kan sama-sama ngga punya partner nih di Jogja, jalan bareng mau ngga?”
“Hmm..”
“Eh ini bukan paksaan kok, sekedar tawaran ke orang yang lagi ngga tau arah.”
“Iiiih, Dikaaaa!!”
Pada akhirnya lalu dia mengangguk, tanda menyetujuinya. Baiklah, kesempatan untuk mengenalnya terbuka lebar. Tak ada pikiran apa-apa, saya hanya tertarik untuk bersama dia lebih lama, itu saja.


: Lyra

Agak gila memang, ikut bersama seorang lelaki yang baru dikenal, di kota orang. Segala hal bisa saja terjadi. Siapa yang tahu kalo Dika penjahat kelamin, buronan polisi yang kabur, atau malah psikopat. Tapi jauh dalam diri ini bicara kalau dia orang baik-baik. Semoga saja.

Enam belas jam berlalu, dengan separuhnya dipakai untuk mengobrol bersama Dika. Dari mulai obrolan basa-basi, iklan salah satu provider seluler, perang yang terjadi di Irak, kerusuhan di Mesir, kemacetan yang selalu terjadi di Jakarta, tentang mimpinya menjadi fotografer international, tentang mimpinya memiliki bisnis travel ternama, tentang ide gila pelarianku, tentang pekerjaanku yang membosankan, tentang mantannya yang masih cari perhatian di media sosial. Ya, begitu banyak yang sudah diceritakan dalam waktu singkat.

Pagi-pagi akhirnya kami tiba di Stasiun Yogyakarta, berjalan mencari sarapan di sekitaran Malioboro. Semenjak di stasiun dia mulai mengeluarkan kameranya, lalu menjepret sudut-sudut Yogyakarta.

“Aku udah punya list yang harus dikunjungi selama di sini, ga apa-apa nih ngikutin run-down yang udah dibuat?”
“Ngga apa-apa, anggap aja simulasi aku ikutan tour di Dika Travel.”
“Haha. Baik, selamat datang di kota Yogyakarta. Saat ini anda sedang berada di Jalan Malioboro, sebelah kanan adalah benteng ..”
“Ih cocok deh, Dik!”.
Dia lalu tertawa renyah.

Sarapan bubur Yogya. Mencari penginapan di sekitaran Malioboro. Dia lalu menyewa mobil untuk dipakainya berkeliling kota. Pantai-pantai indah di Gunung kidul. Candi Ratu Boko dan matahari terbenam yang menakjubkan.



“Untung juga ketemu orang yang ngga punya tujuan ya, Lyr. Perjalanan jadi ngga garing sendirian.”
“Heh, maksudnya apaan? Eh tapi emang kalo liputan gini, biasanya kamu jalan sendiri, Dik?”
“Hahaa. Engga, harusnya sih berdua sama temen, Ardi. Cuma tiba-tiba dia sakit, dan ngga ada yang bisa gantiin. So, here i’m alone.”
“Yaa, berarti kita emang ditakdirkan buat dipertemukan, Dik.”
Dika terlihat berpikir, matanya menerawang dalam.
“Iya ya Lyr..” dia akhirnya berucap setelah jeda berpuluh-puluh detik.
“Semua yang terjadi dalam hidup kita, berentet juga ke kehidupan orang lain. Coba kalo Ardi ngga sakit atau bukan aku yang diassign buat liputan ini, atau bukan kota Jogja yang terlintas di pikiran kamu waktu beli tiket di Stasiun sore itu. Mungkin kita sama-sama ngga akan ada di sini, ngga pernah ketemu, dan ngga pernah ada momen ini, ngga pernah ada yang namanya Lyra yang aku temui.”
Saya terdiam, dan hanya memandang Dika lama.
Dia pun melakukan hal yang sama.


: Dika

Lyra,
Aku ngga tau satu atau beberapa tahun kemudian kamu menjadi apa dalam hidupku. Mungkin jadi pacar, seorang istri, rekan kerja, sahabat, pacarnya sahabat, atau malah kembali menjadi orang asing.
Aku bahkan tak tahu besok kita masih akan bertemu atau tidak.
Tapi aku mencintai pertemuan ini, mencintai momen yang terjadi saat ini.
Seperti katamu Lyra, setidaknya kita pernah ditakdirkan untuk dipertemukan.

25 September 2013

25 July 2013

Sedikit Catatan Pengingat Diri

Rasulullah bersabda: "Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam." (HR. Al-Imam Al-Bukhari)

“Orang yang berakal selayaknya lebih banyak diam daripada bicara. Hal itu karena betapa banyak orang yang menyesal karena bicara, dan sedikit yang menyesal karena diam."

Bersabarlah dan kuatkan kesabaranmu." (QS. Ali Imran: 200)

Iman terbagi dua separuh dalam sabar dan separuh dalam syukur. (HR.Al-Baikaqi)

“Ya Nabi, berilah aku wasiat” Rasullalah bersabda,”Jangan marah!” ditanya berulang kali dan tetap dijawab, “Jangan marah!” (HR.Bukhari)

Sesungguhnya yang berkecukupan adalah orang yang hatinya selalu merasa cukup, dan orang fakir adalah orang yang hatinya selalu rakus. (HR. Ibnu Hibban)

Permudahlah, jangan mempersulit, dan jadikan suasana yang tenteram. Jangan menakut nakuti. (HR.Muslim)

Berhati-hatilah terhadap buruk sangka. Sesungguhnya buruk sangka adalah ucapan paling bodoh”. (HR. Al-Bukhari)

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. "

11 June 2013

Perjalanan..

Mengemas barang bawaan, menyusun jadwal dan tempat tujuan, bertemu dan mengobrol dengan orang-orang asing, mendengar dialog dengan bahasa setempat dan kita sama sekali tak mengerti maksudnya apa, tersesat di sebuah tempat, hanya diam dan memandangi sekitar dari kaca jendela alat transportasi, menawar harga, mencoba makanan yang sama sekali belum pernah dicicipi lidah --rasanya hal-hal itu yang selalu dirindukan.

Bukan masalah bersama siapa kamu pergi, bukan masalah ke mana tempat tujuannya, tetapi yang terpenting adalah bagaimana kamu menikmati perjalanan. Begitu juga hidup.

21 March 2013

Antara Wanita, Sepatu, dan Pasangan

Dua orang wanita muda usia menjelang dua-puluh-lima-an berjalan-jalan di sebuah pertokoan, memasuki satu per satu toko sepatu yang ada di pusat perbelanjaan. Menghampiri rak sepatu yang satu, lalu tak lama kemudian hinggap di rak sepatu lainnya. Sekedar melihat, menyentuh, atau sesekali mencoba langsung di kakinya. Kemudian mengamit diri di depan cermin. Memastikan bahwa sepatu yang mereka pilih akan terlihat indah di kakinya. Konon, sebuah sepatu dapat menambah kepercayaan diri seorang perempuan. Itulah mengapa wanita sangat mencintai sepatu.

Sepatu-sepatu itu masih terpajang rapi seperti biasanya. Berjejer menunggu kaki-kaki wanita yang mencoba dan akhirnya membawa dia pulang –terbebas dari jerat pertokoan dan berbagai obral. Bukan wanita yang memilih sepatu, tetapi pada akhirnya sepatulah yang memilih kaki-kaki yang tepat pada ukurannya. Pas, tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil. Karena ukuran yang kurang pas tidak akan bisa membuat nyaman kaki-kaki pemiliknya.

“Mbak, yang warna merah ini ada nomor 38-nya ngga?”, setelah hampir tiga puluh menit mengelilingi deretan rak sepatu dari berbagai merk, akhirnya Rhea berhasil menentukan satu pilihannya.

Seorang pelayan lalu meraih sebelah stilleto yang baru saja dicoba wanita yang berpakaian rapi ala wanita kantoran full make up itu dengan cekatan.

“Sebentar ya Mbak, saya cek dulu.” Lalu si pelayan pergi berjalan menuju tumpukan kardus-kardus sepatu di balik gudang.

Rhea masih saja memperhatikan satu per satu sepatu yang dipajang di rak. Namun, dia hanya melihat sekilas, seolah tak ada sepatu lain yang lebih menarik yang bisa menyita perhatiannya. Sepertinya Rhea sudah terlanjur jatuh cinta dengan sepatu stilleto merah bertumit sepuluh senti itu.

Tidak lebih dari tiga menit, si pelayan kembali, mendekati Rhea, tanpa dus sepatu di tangannya.
“Maaf Mbak, nomor 38 nya kosong, adanya tinggal nomor 37 sama 40.”
“Yaah, ngga ada yang 38 ya, Mbak?” Rhea nampak bersikeras.
Pelayan hanya tersenyum sambil menggeleng, “Sudah habis, Mbak.”
Rhea akhirnya hanya tersenyum kecut. Sambil menarik napas panjang, kedua bahunya lalu turun beberapa senti. “Oke deh, thanks Mbak!”

Wanita harus terbiasa kecewa ketika memilih sepatu yang dia inginkan tidak ada ukuran. Begitulah hidup. Tidak semua yang diinginkan bisa didaptakan dengan mudah. Klise. Di saat seorang wanita merasa sudah menemukan sepatu yang cocok, dan ternyata tidak ada ukuran sepatu yang pas di kaki, mau diapakan? Meskipun sudah sebegitu jatuh cintanya kepada model, warna, dan segala hal tentang sepatu itu –ya, kecuali ukuran.

Pada akhirnya, memang sepatulah yang memilih pemakainya. Untuk kali ini stiletto merah itu tidak memilih Rhea. Pandangan wanita itu lalu menyapu sekitarnya, mencari sahabatnya, Lyra. Sadari tadi Lyra hanya duduk di antara rak sepatu, mengamati sepatu-sepatu di dekat tempat dia duduk, tepat di depan sebuah kaca besar. Rhea berjalan gontai menghampiri Lyra.

“Lo ngga nyari-nyari sepatu?” Rhea bertanya lemas.
Lyra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu balik bertanya, “Dapet sepatunya?”
“Sepatu yang gue mau ngga ada ukuran! Cabut yuk!”
Lyra mengangguk pasti lalu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar bersama Rhea. Kedua wanita ini akhirnya keluar toko dengan tangan kosong. Ada sebuah kekecewaan entah apa bergumul di hati Rhea. Sejak tadi muka Rhea terus ditekuk, ada rasa tak rela berkecamuk di hatinya ketika meninggalkan sebuah toko, sudah merasa menemukan satu yang cocok, tapi akhirnya keluar dengan tidak membawa apa-apa.

“Heh Rhe, keabisan ukuran sepatu aja lo kecewanya sampe segitunya. Persis kayak orang yang nyari jodoh trus ngga dapet-dapet tau ngga!” Lyra, menggoda Rhea yang terus-terusan manyun.
“Sial lo!”
“Milih pasangan hidup juga sama kayak beli sepatu kali ya!”
Rhea menyerutkan keningnya sesaat.
“Ya kayak lo gini nih, milih satu sepatu aja lo butuh waktu yang cukup lama, kadang harus keluar masuk beberapa toko, sama kan kayak milih pasangan hidup, butuh waktu panjang dan bisa aja tersembunyi di tempat mana yang kita sendiri ngga tau. Terus meskipun di toko ini banyak banget sepatu yang menarik perhatian, ngga semuanya mau lo beli. Lo harus sesuain modelnya sama yang lo butuhin, lo harus mastiin bahannya bagus, warnanya cocok, dan yang paling pasti ukurannya pas ngga sama kaki lo. Ngga asal pilih karena merk, atau karena tergiur diskonan yang gila-gilaan. Iya, kan?” Lyra berbicara panjang lebar. Rhea hanya tersenyum sambil mengangguk-ngangguk.
“Sama lah kayak milih pasangan hidup, ketika kita udah ngerasa cocok banget sama dia, sama kepribadiannya, sama sifatnya, sama segalanya, tapi ternyata ada satu hal dasar yang ngga ‘PAS’ dan ngga bisa dipaksain, ya mau gimana lagi?” Lyra memberi penegasan di kata pas.
“Heh Lyra, lo kesambet apa sih?”
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Sambil terus berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan yang sedang ramai-ramainya di hari weekend.

“Eh udahan yuk, kaki gue sakit.” Lyra meringis.
“Kaki lo sakit kenapa?”
“Lecet lagi nih.”
“Lah, udah tau bikin sakit kenapa masih aja dipake?” Rhea berbicara tegas.
Rhea ingat betul, ini bukan kali pertama Lyra mengeluh lecet akibat sepatu yang sama.

“Lo ngga inget Rhe, gue beli sepatu ini sampe rebutan sama ibu-ibu rese? Lo kan tau harganya dari berapa jadi berapa karena diskon, gue juga suka banget sama model sepatu ini!” jawab Lyra dengan suara parau, disisakan tarikan napas panjang di akhir.
“Trus gara-gara itu semua lo mau terus-terusan kesiksa pake sepatu itu, Ra? Perasaan masih anget tahi ayam banget deh lo ceramah tentang milih sepatu yang PAS!” kali ini bagian Rhea membesarkan suara di kata pas.
“Yaa, mau gimana lagi, ini salah satu sepatu favorit gue dan udah terlanjur dibeli, masa ngga dipake, Rhe!” Lyra hanya tersenyum menyeringai. Nada suaranya melemah.
“Ya ngga masalah sih kalo emang lo rela kaki terus-terusan lecet!”, Rhea hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya.
Lyra hanya terdiam.
“Cuma ya gue ngga habis pikir aja. Kenapa ya, banyak orang masih aja mau bertahan sama sesuatu yang udah jelas-jelas bikin mereka sakit.”
Rhea lalu terdiam beberapa saat, memberi sedikit jeda dalam kalimatnya.
“...gue bukan cuma ngomongin sepatu ya, tapi juga pasangan!” lanjut Rhea lagi meluruskan dan memberi penekanan di kata ‘pasangan’, lalu tersenyum cukup lebar.
“Kutu, nyindir gue ya!”

Wanita harus terbiasa memakai high heels, wanita harus terbiasa menahan rasa sakit diam-diam; menyembunyikan luka yang dia rasa. Wanita harus kuat terus berdiri di bawah tumpuan sakit yang dia tahan, demi sebuah kepuasan diri..

yang entah apa.


#

11 February 2013

hari pertama : Bukittinggi

"Mel, ke padang yuk?",
sekitar bulan November tahun lalu tiba-tiba Mariana ngajak saya jalan.
"Kapan?"
"1-3 februari 2013."
Tanpa pikir panjang saya langsung mengiya-kan, yaa bisa atau engganya gimana nanti.

Lalu tiba di tanggal tersebut, tanpa banyak kendala akhirnya perjalanan singkat yang penuh cerita ini terlaksana, 3 hari, 3 perempuan, berjuta cerita.
Personel : saya, Mariana, Rachmi (temen kantor Mariana)

Hari pertama :
Jakarta - Padang - Bukittinggi

Dimulai dengan kebingungan karena dapet penerbangan super pagi, check in jam 03.35, boarding jam 05.05, lalu akhirnya saya dan Mariana memutuskan untuk menginap di bandara. Sekitar pukul 21.00 kami bertemu di bandara, langsung menyerbu Mushalla untuk istirahat dan tidur. Jujur saja, ini pengalaman pertama saya menginap di bandara, agak takut karena pernah denger ada yang bilang ngga boleh nginep dan diusir sama petugas, tetapi ternyata banyak orang melakukan hal yang sama.

Baru mau pergi kami udah nyaris ketinggalan pesawat saking santainya, itu pun terselamatkan oleh keluarga rempong. Haha, ngga lucu aja udah tidur di bandara malah ketinggalan pesawat. Pelajaran pertama: liatlah dengan teliti detail boarding pass anda, terlebih mengenai waktu!

Tiba di Padang, kami memutuskan untuk menggunakan Tranex (Transport Express) semacam ELF / L300 ke Bukittinggi. Awalnya kami pikir rutenya langsung ke Bukittinggi, tetapi ternyata kami di bawa dulu ke Padang kota (biayanya Rp 18.000) dan harus lanjut lagi menggunakan Tranex ke Bukittinggi (Rp 16.000), jadi kalau ada Travel yang nawarin harga Rp 40.000 mending naik travel aja, mereka nganterin sampai tempat tujuan. Sebenernya ada cerita seru gara-gara naik mobil ini, tapi skip aja, terlalu konyol :)

Sempet nyasar ketika nyari penginapan Hello Guesthouse, di sana kami menanyakan nama jalan dan ngga ada yang tahu. Pelajaran kesekian: di Padang jangan sesekali nanyain tempat dengan nama jalannya, tapi kasih tau patokannya apa. Setelah bertanya ke lebih dari lima orang penduduk lokal, akhirnya kami mendapat pencerahan dari Bapak Polisi.

Buat penginapan, Hello Guesthouse ini ada di deket masjid kampung Cina, deket jembatan fort de kock, lumayan deket juga ke Jam Gadang. Recommended buat yang cari penginapan bersih, nyaman dengan budget sekitar Rp 150.000.

Tujuan pertama kami adalah Ngarai Sianok dan the Great Wall Koto Gadang (Janjang 1000) :
Ngarai Sianok
The Great Wall Koto Gadang (Janjang 1000)
Setalah naik ke puncak Janjang 1000 itu, kami tiba-tiba berada di Koto Gadang. Berdasarkan referensi dari penduduk setempat, kami bisa jalan lagi memasuki perkampungan warga, ke arah masjid, jalan-jalan menyusuri jalan sambil menikmati keindahan alam di sana. Lalu kami tergoda makan sate padang, nontonin ABG yang lagi asik foto-foto, dan nontonin anak-anak TPA yang lagi asik main karet, berlarian dengan bebas, ada yang gotong royong gulungin karpet masjid, dan berbagai aktifitas lain yang sungguh menyenangkan --dan Alhamdulillah pernah saya alami juga waktu kecil dulu, mungkin kalo anak seumuran mereka di kota-kota besar maenannya sama Gadget doang, sama layar kotak yang menghubungakan dia dengan duni-dunia maya.

Sore menjelang malamnya ketemu duo backpacker Malaysia (Sharizan dan adiknya, Ihsan) di penginapan dan memutuskan untuk jalan bareng ke Jam Gadang, mencari toko buku, cari makan, lalu ketemu Uda Ainur (Backpacker Padang Community). Hari pertama sudah puas, hari-hari berikutnya dilanjut dipost lain yaa!
Jam Gadang

07 February 2013

( d i ) b a c a

Berawal dari pertemuan di Lembah Harau, Sumatera Barat.
Seorang lelaki yang ternyata adalah guide lokal setempat tak lepas memandang mata saya dengan tajam.
Saat itu ternyata saya sedang 'dibaca', hanya butuh memandangi saya lekat-lekat, lalu TARAAA!!! Saya dan dua teman saya dieja satu per satu dengan mudahnya oleh orang yang baru ditemui kurang dari setengah jam.

"Mel ini orangnya simple, kalo ada masalah juga, ya udah.."
"Dia ini orangnya ngalahan, terlalu banyak ngalah."
"Trus dia kalo ada apa-apa pasti dipendem sendiri."
"Hatinya ini halus banget!"

Lalala~ Sudahlah Uda, jangan terlalu banyak membaca saya, nanti jadi tak seru lagi :)