27 December 2012

Berhenti dan berubahlah karena keinginan,
bukan karena keadaan.

25 December 2012

sekedar tanya [1]

Sama-sama cocok karena punya banyak kesamaan,
atau punya banyak perbedaan biar bisa saling melengkapi?

19 December 2012

Sebuah doa (menjelang) akhir Desember

Dalam kesusahan seberat apa pun,
saya hanya meminta untuk disanggupkan.
Cukup.

11 December 2012

Tentang sebuah nama

: Ugoran Prasad

Pertama kali dipertemukan oleh sebuah lagu berjudul Mars Penyembah Berhala milik band bernama Melancholic Bitch. Nama band yang unik, musik yang cukup mudah diingat, serta judul dan lirik yang seketika menarik perhatian.

"Siapa yang membutuhkan imajinasi,
jika kita sudah punya televisi.

Semesta telah pepat dalam 14 inci."

Tak lama kemudian, saya membeli buku Cinta Diatas Perahu Cadik, yang merupakan sebuah kumpulan cerpen Kompas pilihan tahun 2007. Di dalam buku itu terdapat namanya: Ugoran Prasad - Sepatu Tuhan. Saat itu saya mengabaikan namanya, hanya sekilas membaca lalu melupakannya.

Lalu entah bagaimana, saya mulai mencari dan mendengarkan semua lagunya Melancholic Bitch. Tiga Album lengkap, yaitu Live at Ndalem Joyokusuman (2003), Anamnesis (2005), serta Balada Joni dan Susi (2009).


Seketika itu juga saya langsung jatuh cinta.
Jatuh cinta pada semua pilihan dan permainan kata di semua lirik lagunya, jatuh cinta pada konsep album terakhirnya (Balada Joni dan Susi) yang ketika mendengarkan tiap lagunya seolah sedang didongengkan sebuah kisah yang terus bersambung dari Prolog hingga Epilog.

Hingga akhirnya saya dibuat penasaran akan sosok pencipta karya yang mengagumkan itu. Dan yang muncul kemudian adalah sebuah nama ini --Ugoran Prasad. Seorang penulis naskah drama, penulis cerpen, penulis novel, penulis lirik lagu, yang juga adalah seorang vokalis. Ahh, saya jatuh cinta kepada semua karyamu, Tuan! Sekarang hampir setiap hari (selama beberapa bulan ini) dengerin lagunya Melancholic Bitch terus. Sepertinya saya sudah benar-benar teracuni.

Tingga bukunya yang belum nemu dan agak susah dicari, Di Etalase (novel, 2004) dan Di Bordes (dimana kamu, Lula?) (novel, 2006). Andaikan dua buku itu bisa turun dari langit. Ha. Teruslah bermimpi, Nona!

Pameran (masa kini)

Sedih, pamer.
Bahagia, pamer.
Ternyata sekarang bukan cuma seni ya yang ada pamerannya,
pameran kebahagiaan dan kesedihan juga sekarang sudah mulai mewabah.
Berhati-hatilah!

Alkisah di suatu negeri antah berantah, ada seorang manusia yang merasa dirinya adalah orang yang paling bahagia dan beruntung dalam hidup ini. Si manusia ini mengumumkan kepada seluruh dunia, bahwa dia sudah berhasil meraih piala kebahagiaan tertinggi. Lalu dia hanya tertawa-tawa dan menyombongkan diri. Memandang sebelah mata orang-orang yang hanya mendapat piala perunggu-bahagia, apalagi yang hanya mendapat gelar pemenang-hiburan kebahagiaan.

Hingga suatu ketika, piala kebahagiaan tersebut digilir dan jatuh kepada seseorang yang lain. Manusia tersebut lalu merasa jatuh, seolah menjadi makhluk yang memiliki masalah dan cobaan yang sangat besar. Dia kemudian mengumumkan kembali kepada dunia, segala kepedihan yang dia derita adalah kesedihan yang paling sedih, kesedihan yang paling muram diantara yang termuram. Tanpa pernah mempedulikan orang lain yang juga memiliki kebahagiaan dan kesedihan --yang bahkan melampaui apa yang pernah dia rasakan.

Apakah perlu semua itu didramatisasi?

Oh ya, namanya juga pameran. Hanya sebuah pertunjukan.
Mana ada yang senang dengan cerita-cerita datar yang monoton.
Mana ada yang mau bersusah-susah menjadi sederhana, ketika kelimpahan ada di depan mata.

Ah, saya mau jadi penonton saja, terlalu lelah jika harus menjajakan pertunjukan. Ada kah yang sedang mengadakan pameran? :D



Halo Desember,
maaf terlambat menyapa hadirmu!