Posts

Showing posts from September, 2012

Car Free Day : Sudirman - Bunderan HI

Image

Random!

Berkali-kali, kalau diajak main atau ketemuan sama temen:"Ayo maen, ketemuan."
"Yuk!"
"Kemana?"
"Terserah, asal bukan mall, please!"Sudah jenuh pergi ke mall. Udah males pergi ke pusat keramaian. Menghabiskan rupiah. Saya mencintai ketenangan, saya lebih memilih sepi.Saya lebih suka pergi ke taman, berlama-lama di toko buku, ke menara masjid agung, berdiam dan mengobrol di cafe yang tidak terlalu ramai, ke warung-warung di ketinggian, berkeliling kota dengan kendaraan umum, momotoran keliling Bandung, hunting foto, menghirup udara segar saat car free day, berjalan kaki menyusuri jalanan, pergi ke gunung, atau kabur ke pantai sesekali. Sudah.Jangan tanyain saya film yang paling update di bioskop. Jangan tanya saya tempat wisata kuliner dari A-Z. Jangan tanya saya mall A isinya ada apa aja. Jangan tanya branded suatu produk dan dimana aja store nya. Jangan tanya lagu baru yang lagi in. Kenapa? Hmm, Google lebih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu…

Convo : Socmed

...

M: Meh! canggih bener buat ngepoin orang. apa untungnya sih, tapi?
Y: Lah, orang-orang update di socmed itu buat dikepoin kan, "dunia harus tahu"-thing buat sesuatu yang gak penting-penting amat. berarti orang-orang tuh pengen dikepoin, maka bersyukurlah ada kepoers
M: hahaaa, dan banyak orang juga yg kepancing "pengen tau". dunia itu lebih damai sebelum socmed menyerang
Y: iyah pisan
M: sebelum smartphone merajai
Y: iyah lagi
M: ahhhh.. dulu kalo bosen, nyamper tetangga. maen, ngobrol, anyang-anyangan..
Y: ^ kampung pisan. wkakaka, urang ge kitu dulu. haha
M: hahaaa, kampung jugatapi menyenangkan cuy
Y: yang paling dibenci dari itu semua. smartphone feat socmed adalah pas ngumpul-ngumpul ada 8 orang dalam 1 meja, 6 diantaranya nunduk ke smartphone sambil ngakak-ngakak. udah we gak usah ngumpul
M: hahaaa, eta pisan!
Y: conference we di YM. sarua keneh
M: semua emosi diganti sama emoticon
Y: yoi, urang ngetik :)), padahal gak ngakak. ketipu maneh! haha
M: urang …

[100 kata] : Sekerat Roti dan Kopi Panas

Sehebat-hebatnya kamu menipu diri, hati tetap tak bisa dibohongi.

Jam sembilan pagi. Jadwalmu datang ke cafe sekaligus taman baca ini. Memilah-milah buku yang ingin kamu cicipi. Lalu kamu duduk di bangku dekat jendela kaca, membuka laptop lalu memasang headset di kedua telingamu yang terkadang tertutup rambut ikalmu yang mulai berantakan.

Aku mengamatimu dari seberang bangku yang langsung menghadapmu, dengan beberapa buku. Seperti biasa. Beberapa lama setelah itu, seorang wanita datang memasuki cafe dan langsung duduk di sebelahmu. Mengelayut manja di lengan tanganmu.
Sekerat roti dan kopi panas yang kupesan –dan juga selalu kamu pesan kini dingin dihadapanku. Menyaksikan kemesraan kalian.

Photograph : "Pulang ke Sebuah Tempat yang Kusebut Rumah"

Image
Lokasi :
Bandung Car Free Day - Buah Batu
Menara Masjid Agung Bandung
Alun-alun Kota Bandung

4 cerita : Berbagi duduk bersama asing

Angkutan umum adalah tempat yang paling banyak menyimpan cerita. Berbagai macam orang. Asing. Berbagi tempat dan duduk saling bersisian dan atau berhadapan.1
: Jarak"Halo."
"Ya, kenapa?"
"Iya, nomornya ngga aktif."
"Tadi ke kantor polisi, nemenin sodara ada masalah."
"Kan kamu tau tempat saya di mana biasanya, kenapa ngga inisiatif ke sana aja sih!"
"Trus kamu sekarang di mana?"
"Ya kalo udah di Jakarta, kenapa nelpon saya?"
"Kamu kan tau, saya di Bandung. Sekarang kamu di Jakarta. Udah ngga ada artinya lagi, ngapain masih nanyain trus nelpon?"Telepon genggam ditutup. Pembicaraan usai. Antara sopir angkot dan (mungkin) seorang wanita.Memang, bertemu muka masih menjadi obat paling mujarab untuk segala hal yang ditimbulkan akibat jarak.2
: Bersyukurlah!Sepi penumpang.
Tiga anak kecil usia 9-12 tahunan dengan membawa keranjang menaiki angkot yang sama dengan saya, lagi.
Pertama saya duduk di sebelah sopir. Kal…

Suara yang Hilang

Langkahku terhenti di sebuah tempat yang begitu sunyi, di sebuah kota metropolitan yang statis. Seperti mati, tanpa aktivitas yang berarti. Desiran angin terdengar begitu nyaring di sini. Beberapa orang berlalu-lalang tanpa suara. Jejak langkah mereka tak sedikit pun meninggalkan bunyi.
Mereka, orang-orang di kota ini tak ada yang bisa bicara. Mereka semua telah kehilangan kata. Bibir mereka benar-benar tertutup rapat. Semua mulut dijahit dengan kawat tipis yang sudah berkarat dan mulai menghitam.
Di sepanjang jalan yang kulewati berderet puluhan bangunan aneh. Bangunan itu seperti sebuah rumah. Hanya saja tidak memiliki pintu dan jendela, melainkan sebuah jeruji besi –yang lebih mirip seperti penjara. Banyak orang yang menghuni tempat itu. Rata-rata merupakan satu keluarga utuh; seorang ayah, ibu, dan beberapa anak. Mereka terpenjara ruang dan kata.
Keadaan sekarang sangatlah kontradiktif dengan saat terakhir aku ke kota ini. Dua tahun yang lalu, kota ini begitu dinamis. Orang-orang san…