19 September 2012

Random!

Berkali-kali, kalau diajak main atau ketemuan sama temen:

"Ayo maen, ketemuan."
"Yuk!"
"Kemana?"
"Terserah, asal bukan mall, please!"

Sudah jenuh pergi ke mall. Udah males pergi ke pusat keramaian. Menghabiskan rupiah. Saya mencintai ketenangan, saya lebih memilih sepi.

Saya lebih suka pergi ke taman, berlama-lama di toko buku, ke menara masjid agung, berdiam dan mengobrol di cafe yang tidak terlalu ramai, ke warung-warung di ketinggian, berkeliling kota dengan kendaraan umum, momotoran keliling Bandung, hunting foto, menghirup udara segar saat car free day, berjalan kaki menyusuri jalanan, pergi ke gunung, atau kabur ke pantai sesekali. Sudah.

Jangan tanyain saya film yang paling update di bioskop. Jangan tanya saya tempat wisata kuliner dari A-Z. Jangan tanya saya mall A isinya ada apa aja. Jangan tanya branded suatu produk dan dimana aja store nya. Jangan tanya lagu baru yang lagi in. Kenapa? Hmm, Google lebih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Hahaaaa

13 September 2012

Convo : Socmed

...

M: Meh! canggih bener buat ngepoin orang. apa untungnya sih, tapi?
Y: Lah, orang-orang update di socmed itu buat dikepoin kan, "dunia harus tahu"-thing buat sesuatu yang gak penting-penting amat. berarti orang-orang tuh pengen dikepoin, maka bersyukurlah ada kepoers
M: hahaaa, dan banyak orang juga yg kepancing "pengen tau". dunia itu lebih damai sebelum socmed menyerang
Y: iyah pisan
M: sebelum smartphone merajai
Y: iyah lagi
M: ahhhh.. dulu kalo bosen, nyamper tetangga. maen, ngobrol, anyang-anyangan..
Y: ^ kampung pisan. wkakaka, urang ge kitu dulu. haha
M: hahaaa, kampung jugatapi menyenangkan cuy
Y: yang paling dibenci dari itu semua. smartphone feat socmed adalah pas ngumpul-ngumpul ada 8 orang dalam 1 meja, 6 diantaranya nunduk ke smartphone sambil ngakak-ngakak. udah we gak usah ngumpul
M: hahaaa, eta pisan!
Y: conference we di YM. sarua keneh
M: semua emosi diganti sama emoticon
Y: yoi, urang ngetik :)), padahal gak ngakak. ketipu maneh! haha
M: urang hahahahahahaha, padahal wajah datar. ketipu maneh!
Y: (tapi sekarang mah lagi ketawa) soalna ieu lucu pisan. haha! jujur.

10 September 2012

[100 kata] : Sekerat Roti dan Kopi Panas

Sehebat-hebatnya kamu menipu diri, hati tetap tak bisa dibohongi.


Jam sembilan pagi. Jadwalmu datang ke cafe sekaligus taman baca ini. Memilah-milah buku yang ingin kamu cicipi. Lalu kamu duduk di bangku dekat jendela kaca, membuka laptop lalu memasang headset di kedua telingamu yang terkadang tertutup rambut ikalmu yang mulai berantakan.

Aku mengamatimu dari seberang bangku yang langsung menghadapmu, dengan beberapa buku. Seperti biasa. Beberapa lama setelah itu, seorang wanita datang memasuki cafe dan langsung duduk di sebelahmu. Mengelayut manja di lengan tanganmu.

Sekerat roti dan kopi panas yang kupesan –dan juga selalu kamu pesan kini dingin dihadapanku. Menyaksikan kemesraan kalian.

Photograph : "Pulang ke Sebuah Tempat yang Kusebut Rumah"








Lokasi :
Bandung Car Free Day - Buah Batu
Menara Masjid Agung Bandung
Alun-alun Kota Bandung

08 September 2012

4 cerita : Berbagi duduk bersama asing

Angkutan umum adalah tempat yang paling banyak menyimpan cerita. Berbagai macam orang. Asing. Berbagi tempat dan duduk saling bersisian dan atau berhadapan.

1
: Jarak

"Halo."
"Ya, kenapa?"
"Iya, nomornya ngga aktif."
"Tadi ke kantor polisi, nemenin sodara ada masalah."
"Kan kamu tau tempat saya di mana biasanya, kenapa ngga inisiatif ke sana aja sih!"
"Trus kamu sekarang di mana?"
"Ya kalo udah di Jakarta, kenapa nelpon saya?"
"Kamu kan tau, saya di Bandung. Sekarang kamu di Jakarta. Udah ngga ada artinya lagi, ngapain masih nanyain trus nelpon?"

Telepon genggam ditutup. Pembicaraan usai. Antara sopir angkot dan (mungkin) seorang wanita.

Memang, bertemu muka masih menjadi obat paling mujarab untuk segala hal yang ditimbulkan akibat jarak.

2
: Bersyukurlah!

Sepi penumpang.
Tiga anak kecil usia 9-12 tahunan dengan membawa keranjang menaiki angkot yang sama dengan saya, lagi.
Pertama saya duduk di sebelah sopir. Kali ini kami duduk berhadapan.

Dek, jualan apa?
"Cireng, Teh. Mau beli, Teh?"
Berapa?
"Sebungkusnya 4000."
Masih pada sekolah ngga ini?
"Iya, masih. Yang berdua ini SD, saya SMP." yang paling besar menunjuk dua yang lain.
Pada pulang kemana emang, kok malem gini? --jam masih menunjuk angka 20.49
"Ke Ciparay, Teh. Iya jualannya sampai jam 2 malem."
Lho, jadi ini masih mau lanjut jualan?
"Iya di buah batu, kalo sore sampai jam segini di BIP biasanya."
Orang tua dimana emangnya, jualan juga?
"Di rumah aja, ngurusin adik yang paling kecil."

Deg. Rasanya perih. Sesak.
Kurang ajarnya saya jika masih lupa bersyukur.

3
: Orang Asing

Seorang wanita menaiki angkot. Di belakangnya seorang lelaki mengekori. Mereka duduk berhadapan.

"Mbak, jam berapa ya?" seorang lelaki yang duduk tak jauh di samping saya bertanya kepada seorang wanita yang duduk di depannya.
"Jam 9." wanita menjawab datar.
Diam beberapa menit.
"Mbak, namanya siapa?"
Wanita hanya diam, menatap risih, dan pura-pura mengacuhkannya.
"Mbak, mbak.." lelaki masih pantang menyerah.
Wanita semakin memalingkan muka. Lelaki memandangi si wanita dengan tatapan berharap. Ada kekecewaan di sana.

Ah, bukankah semua orang dalam hidup kita pada mulanya adalah orang asing yang tidak kita kenali?

4
: Pemula

Angkot penuh sesak.
Di samping saya seorang lelaki. Duduk dengan tas ransel di pahanya. Di depannya seorang wanita, dengan tas yang disimpan dipangkuannya.
Lelaki itu menyimpan tangan kanannya di bawah tas. Duduknya terus maju, mendekati wanita didepannya.
Tangan lelaki mulai beraksi. Dia mencoba membuka resleting tas si wanita. Saya terus mengamati. Sambil memberi kode kepada si wanita.
Resleting tas mulai bergeser beberapa cm. Wanita sadar. Lalu memeluk erat tasnya merapat ke dadanya. Si lelaki melihat saya. Saya pandangi balik.
"Kiri!"
Si lelaki turun dari angkot.

Jika skill merasa belum cukup, banyak-banyaklah mencoba!

.. dan masih banyak cerita lainnya. Kapan-kapan iseng keliling naik angkot ah ;D

06 September 2012

Suara yang Hilang

Langkahku terhenti di sebuah tempat yang begitu sunyi, di sebuah kota metropolitan yang statis. Seperti mati, tanpa aktivitas yang berarti. Desiran angin terdengar begitu nyaring di sini. Beberapa orang berlalu-lalang tanpa suara. Jejak langkah mereka tak sedikit pun meninggalkan bunyi.

Mereka, orang-orang di kota ini tak ada yang bisa bicara. Mereka semua telah kehilangan kata. Bibir mereka benar-benar tertutup rapat. Semua mulut dijahit dengan kawat tipis yang sudah berkarat dan mulai menghitam.

Di sepanjang jalan yang kulewati berderet puluhan bangunan aneh. Bangunan itu seperti sebuah rumah. Hanya saja tidak memiliki pintu dan jendela, melainkan sebuah jeruji besi –yang lebih mirip seperti penjara. Banyak orang yang menghuni tempat itu. Rata-rata merupakan satu keluarga utuh; seorang ayah, ibu, dan beberapa anak. Mereka terpenjara ruang dan kata.

Keadaan sekarang sangatlah kontradiktif dengan saat terakhir aku ke kota ini. Dua tahun yang lalu, kota ini begitu dinamis. Orang-orang sangat berapi-api dan gencar untuk melakukan perubahan.
Saat itu juga, disinyalir diantara mereka ada serigala yang berwujud manusia. Serigala-serigala itu memangsa harta, kekayaan, jabatan, kehormatan, serta kekuasaan mereka. Aku masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang aku lihat saat itu. Semua dari mereka sama-sama memerangi serigala-serigala itu: berperang, melakukan perlawanan, menuntut kembali hak milik mereka. Namun, serigala-serigala itu semakin buas dan ganas. Tak hanya harta atau kekuasaan, mereka juga tak segan untuk melahap nyawa.

***
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” sebuah bisikan suara yang begitu pelan tiba-tiba saja menyadarkan lamunanku.
Seorang lelaki ringkuh paruh baya berdiri di hadapanku. Mulutnya robek dan mengerikan. Aku yakin dia membuka jahitan kawat di mulutnya secara paksa.
“Aku hanya singgah di kota ini.”
“Stttt.. jangan bersuara keras!” lelaki itu lagi-lagi berbisik, nyaris tanpa suara.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” kali ini aku ikut berbisik.
Tanpa kata, dia lantas menarik lenganku dan membawa aku ke dekat pohon besar yang ada di seberang jalan.
“Di kota ini tidak diperbolehkan ada seorang pun yang berbicara. Kebanyakan dari orang-orang di sini telah lupa bagaimana caranya berbicara. Semua orang diancam untuk tidak membuka jahitan mulutnya. Namun, aku sudah tak tahan. Aku ingin membunuh serigala-serigala itu. Mungkin kamu bisa membantuku.”
“Apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”
“Tolong carikan bantuan di kotamu.”
“Aku tidak mungkin bisa mengandalkan orang-orang di kotaku. Sudah sejak lama mereka semua menutup mata, telinga, dan hatinya dari berbagai hal. Mereka dapat melihat dengan normal, tetapi pura-pura buta. Mereka mendengar dengan normal, tetapi pura-pura tuli. Mereka seolah tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Tak ada yang peduli satu sama lain. Semuanya menjadi makhluk individualis. Menjadi parasit dalam koloninya sendiri.”
Lelaki tua itu lantas terdiam.
“Secara tidak sadar, kita mungkin sudah tiba di neraka dunia!” dia lantas bersuara lantang.

DORRR!
Sebuah tembakan bersarang tepat di kepala lelaki tua itu. Darah segar mengalir dari kepalanya. Tak lama kemudian, sesosok serigala berseragam rapi datang menampakan wujudnya. Aku benar-benar melihat serigala itu. Mereka memang nyata adanya. Tidak hanya satu, dua, atau tiga. Ada sekitar sepuluh serigala mengelilingiku.
Kedua tangan dan kakiku dicengkram dengan kuat oleh beberapa dari mereka. Aku berontak. Namun, tak cukup untuk melepaskan diri dari mereka. Salah satu dari mereka lantas menjahit mulutku dengan kawat panas yang masih terbakar api.
“Jangan pernah lagi berani bicara jika kamu tak ingin terbunuh dengan kilat.”

***