19 July 2012

Kata dia : tentang saya.

Seorang yang aku tau begitu tenang. Yang lebih memilih diam dan menjadi penikmat. Selalu setia mendengar hingga sang lawan bicara pada akhirnya lega. Selalu menyaring lontaran dari bibirmu, mungkin sejak di kerongkongan. Aku selalu ingat senyummu, yang menenangkan, dan wajahmu teduh. Sangat teduh ketika aku memandangmu.

Boleh tidak aku bilang kalau kamu itu selalu cari aman? Entah ini hal positif atau negatif, namun terkadang sikap cari aman-mu ini membantu kamu untuk tidak “bermasalah”. Dan aku tau, kamu punya duniamu sendiri tanpa pintu atau jendela bahkan celah bagi orang lain untuk sekedar mengintip. Hanya kamu sendiri disana, seorang diri.

Satu-satunya orang yang mengerti makna berhenti, koma, jeda, spasi, atau apalah itu , ketika sudah jenuh, lelah. Bagiku ketika kita memaknai hal itu bersama, aku menaruh harap padamu, kita bisa melakukan pelarian bersama, menyendiri berdua. Kutunggu kamu di puncak guha.

Ia-Mel.

Melia "




Ah, kamu berhasil membaca saya, Mariana!
Semoga bisa ke Puncak Guha secepatnya :)

17 July 2012

Sebuah Pelarian : Caringin Tilu dan beberapa tempat lain

"Mau kemana nih jadinya? Cartil?"

"Ayo, terserah!"

Saya dan teman sejak SMA saya, Dinar, akhirnya memutuskan untuk pergi ke Caringin Tilu --yang lebih dikenal dengan Cartil, di daerah padasuka atas. Tak ada yang pernah ke sana. Tak tahu di mana letak persisnya. Tak tahu bagaimana medan untuk menuju kesana. Yang saya tahu hanya: dari Saung Angklung Mang Udjo terus ke atas lagi, sudah. Setelah beberapa lama perjalanan, kami menemukan sebuah pencerahan: plang tanda panah bertuliskan "Caringin Tilu" di jalan Padasuka. Oke, itu artinya kami berada di jalan yang benar.

Lalu saya dengan pedenya terus memacu gas motor kesayangan ke arah atas padasuka. Beberapa menit setelah Saung Mang Udjo, jalanan semakin menanjak, terus naik dan mulai menyempit, hanya cukup untuk satu mobil. Belasan menit setelah itu, kami sudah memasuki Desa Cimenyan. Dan ya, seperti yang saya duga, Cartil ini memang masih sedaerah sama Moko, warung Daweung. Medannya hampir sama, yang berbeda adalah jalan menuju cartil ini adalah jalan aspal yang cukup bagus, jadi saya tak khawatir dengan medan yang ada, sedangkan jalan menuju Moko jeleknya luar biasa, banyak lubang dimana-mana, dan sebagiannya lagi adalah jalan tanpa aspal, hanya batu-batu dan kerikil. Lalu di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah tanjakan curam, si motor tak sanggup untuk mendaki walaupun sudah saya gas sampai maksimal. Dengan terpaksa teman saya pun harus mau berjalan kaki beberapa meter. Namun, tak lama kemudian, kami menemukan deretan saung-saung sederhana di sepanjang jalan, dengan view menghadap dataran kota Bandung. Ya, kami akhirnya tiba di Cartil. Yay! Saungnya hampir sama seperti saung-saung Jagung Bakar di daerah Cikole Lembang atau di daerah Punclut, namun jenis makanan yang dijual lebih sedikit. Namun, lupakanlah tentang saung, lihat semua pemandangan ini:

view Bandung dari Caringin Tilu
perjalanan dari dan menuju Cartil dari arah dago Resort
'p e l a r i a n'

Sebagaimana sebuah reuni, saya dan Dinar bercerita panjang lebar, tentang pekerjaan, tentang kehidupan kami, tentang ini, tentang itu, tentang rencana setelah ini, dan tentang betapa baiknya Tuhan.
Kegilaan saya dan Dinar x)
Bagi saya, semua ini adalah sebuah pelarian, sebuah spasi, sebuah jeda. Tadinya pelarian semacam ini saya jadikan sebagai kegiatan 'hunting foto', 'hunting tempat baru', atau sekedar refreshing; tapi setelahnya saya baru menyadari bahwa semuanya lebih daripada sekedar itu semua. Semua ini merupakan sebuah pelarian, sebuah perhentian sejenak, sebuah ruang tunggu, sebuah kebebasan, sebuah pencarian, sebuah penemuan, apa pun lah. Hmm, seolah-olah saya bisa menikmati waktu tanpa batas, tanpa beban, dan tak perlu lagi memikirkan apa yang telah atau akan terjadi pada saya setelah ini. Tak memikirkan apa-apa, hanya menikmati dan mensyukuri apa yang ada sekarang dan apa yang ada di depan mata. Abstrak, tapi seperti itulah yang saya sebut jeda. Saya bisa menjadi dan merasakan diri saya sepenuhnya, benar-benar tak mau ambil peduli akan pikiran-pikiran orang lain.

Dari Caringin tilu, lalu kami makan ke Pizza Hut, lalu ke Masjid Istiqomah, mampir ke Toko Buku, dan lalu berakhir dengan hunting foto di jembatan Jl. Merdeka (BIP); mengabadikan Bandung di waktu malam.
Bandung di waktu malam.
Ya begitulah, semuanya tanpa perencanaan, itulah saya. Memang cocok jika akhirnya teman saya, Dinar, berkata hari minggu kemarin adalah 'jalan-jalan setelan random' ala saya. Sampai saat ini saya selalu berpedoman, "Jika ingin pergi, pergilah! Ikuti saja kemana kaki melangkah" :D

13 July 2012

Fiksi - Juli

: Dira Adrian

Hei, ingatkah kamu? Ini sudah bulan ketujuh, akhir Juli yang selalu kita –atau mungkin hanya aku— nantikan. Juga bulan di mana kamu mengulang hari kelahiranmu. Kamu bilang Sabtu siang pada minggu kedua di stasiun Bandung. Dan sekarang aku di sini untuk memenuhinya, penuhi janji yang kita buat setahun lalu.

Hujan masih saja merintik di bulan Juli, dan malah kian menjadi, bukannya bergegas meretas kemarau. Selepas tiba di stasiun, aku berlari menuju sebuah bangku kosong di tempat tunggu. Yang kucari hanya sosokmu. Sebuah wajah yang sudah sangat tidak asing, yang terekam kuat di dalam memori otakku. Kamu. Ya, hanya kamu. Entah mengapa, jantungku rasanya berdebar beberapa kali lebih kencang menanti kamu.

Lima belas menit berlalu, kamu tak datang. Tiga puluh menit menjalar, kamu masih tak juga menunjukkan rambut ikalmu. Satu jam. Dua jam. Tiga jam.. Berjam-jam berlalu tanpa ada sosokmu. Pesan singkat, semua panggilan tak ada yang kamu gubris. Aku sudah tak tahan lagi. Rasanya semua rasa berhamburan sudah. Awalnya aku sangat senang, kamu harusnya tahu bagaimana aku begitu menantikan hari ini datang dan akhirnya bertemu kamu lagi. Tapi kekecewaan mulai menyeruak dari dalam diri. Kesal. Sedih. Marah. Namun, tetap masih berharap. Berharap kamu menampakkan diri di hadapanku..

*

: Arisha Aryani

Saya masih mengingat dengan jelas, hari ini harusnya saya pergi. Pergi ke kotamu, bertemu kamu di sana. Sejak terakhir kali kita bertemu, saya begitu menantikan hari ini datang dengan terburu-buru. Rasanya dulu saya ingin mempercepat hari, dan langsung lari ke tanggal ini.

Saat terakhir kali kita bertatapan muka dan membuat janji untuk saling menemui di tanggal ini, saya tahu bagaimana rindu itu terbuat; saya hanya butuh campuran antara selangkah jarak dan sedetik mengalihkan pandangan dari kamu --di saat itulah saya merasakan arti merindu.

Tiket kereta menuju Bandung sudah saya siapkan dari jauh-jauh hari. Namun, sekarang tiket itu sudah tak berguna lagi. Kereta api yang seharusnya saya tumpangi sejak delapan jam yang lalu, kini sudah melaju tanpa bayangan. Dan kini saya hanya melamun di atas atap genteng rumah. Membakar beberapa puntung rokok, sambil tak henti-hentinya memikirkan kamu di sana. Beberapa pesan singkat berdatangan dari kamu. Dua kali panggilan tidak saya angkat. Saya hanya tak mau semua ini menjadi semakin sulit.

"Dira, Juli udah nungguin daritadi tuh di bawah. Buruan, katanya mau cari souvenir buat nikahan!", sebuah suara samar-samar terdengar ditelinga saya. Ah, maafkan saya Arisha..

09 July 2012

Indonesia, saya semakin jatuh cinta padamu!

Saya semakin tergila-gila pada Indonesia; pada pantainya, pada alamnya, pada gunungnya, pada penduduknya, pada kulinernya, semuanya.
Sudah seminggu saya di Palu, Sulawesi Tengah. Walaupun tidak ada bioskop, saya puas dengan tontonan yang disuguhkan oleh kota ini. Palu dikelilingi oleh gunung-gunung yang luar biasa indah, membentang mengelilingi kota. Pantai yang tenang, air laut yang jernih, terumbu karang dan ikan-ikan yang cantik. 
Ada beberapa yang unik di sini: Pisang goreng (manis) disuguhkan dengan sambal; Tempat makan kaki lima ---penyetan, ayam goreng, dan sebagainya, hampir semuanya bernama 'Mas Joko'; Angkutan kota di sini mereka bilang taxi, sedangkan taxi mereka bilang argo. Makanya, orang sini kaya kaya, tiap hari pake taxi untuk nganter kemana-mana :)
Untuk masalah kuliner, di Sulawesi Tengah terkenal sekali dengan kaledo (Kaki Lembu Donggala), dan ternyata sangat nikmat disajikan dengan singkong. Masih banyak cerita lainnya, tapi nanti saja saya lanjutkan.. berikut sedikit jejak yang terekam oleh kamera:

Pantai Taman Ria, Palu
Pengantar Setia, Daihatsu MRM Community
Indahnya Pantai Tanjung Karang, Donggala - Palu


PS: saya melakukan kesalahan terbesar yang sangat fatal:
meninggalkan charger kamera di BSD. dan akhirnya kamera
itu tidak terpakai karena mati. errrgh!