29 June 2012

Rasa rindu, kesepian, dan sebuah pelarian.

Hari ini rasanya random sekali.

1.
Tiba-tiba kangen sesuatu, tapi ngga tau apa yang dikangenin. Rasanya ada yang hilang. Ya, hilang, yang artinya dulu di suatu waktu yang pernah lalu ada yang pernah dimiliki atau terisi, dan sekarang lenyap sudah. Perasaan atau hal apa itu, masih belum saya ketahui dengan pasti. Yang jelas kangen aja! Ga tau sama apa, sama siapa, atau sama hal apa. Absurd.

2.
Mendadak ingin lari, mencari sebuah tempat pelarian. Dan dua tempat yang tiba-tiba terpikir:
Puncak Guha. Ingin sekali menikmati deburan ombak dari puncak bukit hijau yang dikelilingi barisan gunung dan perbukitan. Ya Allah, beri saya kesempatan lagi untuk ke sana. Rasanya pengen diem di sana seorang diri, hanya diam. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajah. Merasakan nyanyian debur ombak yang menghantam karang. Menikmati kedamaian. Jauh dari kebisingan dan gangguan kepentingan dan pekerjaan. Tidur di atas rerumputan hijau sambil memandangi birunya awan. Ah, saya benar-benar ingin ke tempat itu lagi.

Puncak menara masjid agung. Beberapa kali saya ke sana, selalu ada rasa tentram dari atas sana, entah apa. Melihat barisan kendaraan bermotor yang terlihat kecil di garis abu aspal jalanan. Melihat bangunan-bangunan yang saling tumpang-tindih. Melihat bandung dari atas, ada sebuah perspektif yang berbeda. Begitu segala yang besar terlihat kecil dari atas puncak menara. Orang-orang di taman hilir mudik, seperti barisan semut. Syahdu.

3.
Saya jadi ingat, ketika diberikan pertanyaan: "Jika kamu berada dalam suatu gedung, dan tiba-tiba terjadi kebakaran, sedangkan di sekitarmu ada 3 hal ini, mana yang akan kamu pilih? 1. Ruangan Kotak Besi; 2. Kuda; 3. Pintu."
Dan saya memilih Kuda. Saya membayangkan akan menungganginya dan menerobos gulungan api, hingga menemukan jalan keluar dari gedung ini. Saya membayangkan sebuah adegan, dimana saya dan kuda saya menabrakkan diri ke sebuah jendela kaca besar untuk melarikan diri dari kobaran sang Api. Klasik.
Dan itu adalah cerminan ketika kita dihadapkan pada sebuah masalah, 3 hal itu merepresentasikan cara apa yang kita pilih untuk menghadapinya. Ruangan kotak besi, yang berarti dia akan bersembunyi dari masalah. Pintu yang artinya akan menghadapi masalah tersebut, meskipun belum tentu dapat diselesaikan. Dan kuda yang merepresentasikan lebih memilih untuk lari dari masalah.
Saya memang tidak betah berada dalam sebuah masalah. Saya pasti akan mencari pintu tercepat untuk keluar dari masalah itu, termasuk lari; tetapi bukan melarikan diri. Orang-orang plegmatis macam saya jelas berusaha sebisa mungkin tak bertemu dengan masalah, tak mau berhadapan dengan konflik. Ha! Benar-benar memilih aman, mencari ketenangan dan kedamaian hidup.

4.
Sebuah kerandoman yang lain: saya membuka music player di HP saya, kemudian memutar acak lagu yang ada di playlist. Secara mengejutkan, terputar lagu milik Bunga Citra Lestari, judulnya Kecewa:

"Sekali ini kumohon padamu. Ada yang ingin kusampaikan, sempatkanlah.
Hampa, kesal, dan amarah. Seluruhnya ada di benakku.
Andai seketika, hati yang tak terbalas oleh cintamu.
Kuingin marah, melampiaskan. Tapi ku hanyalah sendiri di sini.
Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada.
Bahwa hatiku kecewa~"

Saya sendiri tak pernah sadar ada lagu itu di hp saya; dan saya baru ingat saat membeli hp dulu, abang-abang penjualnya ngopiin lagu-lagu di memory hp saya. Kesensitifan saya muncul lagi, saya kadang seringkali terbawa suasana sebuah lagu. Mengulangi bait-bait dari lagu, dan membayangkan sedang berada dalam situasi seperti itu.
Tak terbalas cinta. Sendiri. Kecewa. Dan, buru-buru ku stop lagu ini, sebelum syair-syairnya terus mendengung ditelinga, hingga akhirnya merasuki hati saya.

Di saat yang bersamaan, tab saya tiba-tiba hang dan terus memunculkan foto yang saya ambil dari puncak menara masjid agung.


Entahlah, perasaan saya tak menentu. Rasanya saya memang butuh pelarian. Saya kesepian. Saya kesepian. Saya kesepian. Saya rindu pulang.

26 June 2012

:)

Senyum dan syukuri: dua kunci bahagia.
Sederhana yaa? Tapi kita terlalu sering memungkirinya.

25 June 2012

Sepatu dan rasa kecewa.

Sepatu-sepatu itu terpajang rapi, berjejer menunggu kaki-kaki yang akan mencoba dan akhirnya membawa dia pulang; membebaskannya dari jerat pertokoan dan obral besar-besaran.
Bukan kita yang memilih sepatu, tetapi pada akhirnya sepatu lah yang memilih kaki-kaki yang tepat pada ukurannya. Pas. Nyaman.
Wanita harus terbiasa kecewa ketika memilih sepatu yang dia inginkan ternyata terlalu besar, atau kesempitan.
Di saat kita merasa sudah menemukan sepatu yang cocok, dan ternyata tidak ada ukuran yang pas di kaki, mau diapakan?
Meskipun kita sudah begitu jatuh cintanya kepada model, warna, dan segala hal tentang sepatu itu --kecuali ukuran, apa boleh buat?
Ada rasa tak rela ketika meninggalkan sebuah toko, sudah merasa menemukan satu yang cocok, tapi keluar dengan tidak membawa apa-apa.
Ada kalanya apa yang kita inginkan tak bisa kita dapatkan, klise. Namun, yaa begitulah hidup. Saya pun meninggalkan toko tanpa sepatu yang saya inginkan.

#

Konon, sepatu bisa meningkatkan kepercayaan diri seseorang --terutama wanita.
Itulah sebabnya, setidak-enak dan setidak-nyaman nya sepatu itu dipakai, wanita tetap akan menginjakkan kakinya demi keindahan, rasa percaya diri, kecantikan --alih alih mereka menyebutnya trend.
Wanita harus terbiasa memakai heels, wanita harus terbiasa kecewa diam-diam; Menyembunyikan luka yang dia rasa.
Wanita harus kuat terus berdiri di bawah tumpuan sakit yang dia tahan.
Wanita harus ..


Ah, saya bingung harus melanjutkan apa~

Ya, memang ini yang terbaik!

Seorang teman bertanya, "Menurut kamu, apa definisi dari 'yang terbaik'?"
Saya berpikir lama, mencari-cari jawaban yang tepat. Tapi tak menemukannya, "Emmm, ngga tau.."
"Yang terbaik itu, yang telah berlalu.", jawabnya.
Deg. Saya hanya diam. Jawaban singkat itu menghujam langsung, tepat di hati.

24 June 2012

Love ..

"Why should we make things called love to be complicated by so many criterias?
Can we make it easier that both of us simply need each other?" -- @revolutia

21 June 2012

mereka jelas-jelas tersesat..



Konyol ngeliat beberapa query pencarian orang-orang --yang nyaris sama dan tiba-tiba nyasar ke blog ini. Hahaa :))

20 June 2012

sebuah mimpi sebelum Subuh

Entah ada apa dibalik cerita sendok dan garpu. Rasanya terlalu absurd. Ada segurat wajah, abstrak.
"Lihat, dia ternyata sendok, dan kamu garpu.."
"Lalu kenapa?"

Sudah pasti ini akibat sebuah cerita pada malamnya, yang kemudian terbawa ke alam bawah sadar. Tapi mengapa harus Sendok dan Garpu? Masih tak habis pikir :))

Hello!

19 June 2012

"Jangan cuma mau tau dan peduli sama perasaan orang lain, kamu juga harus tau dan mikirin perasaan sendiri." -- seorang lelaki di transBSD.

18 June 2012

Percakapan panjang bersama Zusni Adisya


Pelaku : Saya dan Zusni Adisya
Tempat : AMDI Lt. 4 Sunter, Jakarta Utara
Waktu : Sepanjang training SOP, 11 Juni 2012

--

Jodoh itu disimpan Tuhan di tangan kita
Bagaimana bisa? 
Karena kita yang menentukan
Bisa kita menentukan ingin siapa?
Tuhan memberikan pilihan, kita menentukan jawaban
*yayaa, aku ga bisa nerusiin, ini tema tersulit. bikin aku susah nulis! errrgh*
#ahahahahaha#


Got you!

Ok, you first


Pertemuan kita ini bukan sebuah kebetulan, bukan ketidaksengajaan yang direncanakan.
Ini adalah awal dari sebuah rencana yang belum matang, perkenalan.
Aku tak tahu apakah kita benar-benar pernah berkenalan, karena menanyakan siapa namaku pun kamu tak pernah.
Aku tak perlu bertanya siapa namamu, karena kamu adalah aku.
Tidak mungkin, kamu adalah kamu, aku adalah aku. Kamu harus tahu, sejak awal kita bercerita, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Nyaman.
Aku bahkan lupa kapan itu sejak awal, aku tak pernah peduli akan waktu ketika bersamamu.
Ada sesuatu dalam dirimu, yang entah apa. Rasanya aku mengenal kamu sejak lama, sebelum habis semenit bersamamu.
Mungkin kita pernah bertemu ketika Tuhan mulai merencanakan siapa jodohmu, dan sejak itu aku mulai banyak bercerita tentang jodohku. (#timesonglaguanangashanti)
Aku tak mengerti. Benar-benar abstrak untukku. Siapa kamu sebenarnya?
Cobalah tanya dirimu siapa aku, disitulah definisiku.
Kamu tak pernah bisa aku definisikan, hanya terasa di sini, dan begitu nyata. *nunjuk hati*
#lama-lama jadi komik#
Coba rasakan lebih dalam, mungkin ada orang selain aku disitu.
Terlalu sesak di sini, hingga aku tak menyadari masih ada siapa di sini, atau memang tak pernah ada siapapun.
Aku menemukan jejak, tak mungkin tak pernah ada, jejak ini nyata terinjak.
Jejak-jejak itu memang terus melangkah, berjalan, berlarian, hingga tak bisa terkejar. Dan akhirnya di sini, aku sendiri lagi.
#aseeek melia is back#
Tak sadar kah kamu, kemanapun dia berlari, dia tetap disitu, dihatimu.
Ha, berlari di tempat maksudmu? Di sini menginjak-injak, menghentak hati. Tidak kah dia lelah?
Akuilah, dia tidak pernah lelah bersamamu.
Terimalah, dia senang berada disitu.
Ketika saatnya nanti, aku yang akan pergi meninggalkannya sendirian bersamamu.

-the end-


new sesion

Apa yang kamu cari selama ini?
Aku tak mencari apapun, aku ingin ditemukan.
Dan kamu sudah ditemukan? Apa lagi yang ingin kamu lakukan?
Tak ada, tidakkah kamu merasa lelah diikuti pertanyaan?
Lelah. Aku tak menemukan tanda titik, oleh sebab itu pertanyaan itu terus mengikutiku.
Berbaliklah dan beri ia jawaban, dia akan berhenti perlahan.
Dia tak butuh jawaban, hanya butuh kepastian. Sementara kepastian itu hidup berdampingan dengan ketidakpastian.
Begitulah hidup dituliskan, begitupun kamu, yang digariskan berdampingan dengannya.
*GOT YOU MELIAAA! haha*
Baiklah, aku tak akan bertanya lagi. Semoga pencarian ini segera menemukan titik temunya, dan dia yang sudah digariskan dapat menemukanku dengan mudah.
#aseeeeeekkkkk#


Happy Ending,
sang putri menemukan kekasih terhebatnya, selamat Melia, (#hahaha)
#skakmat

Ganti topik.



Mana yang lebih menyenangkan, didengar atau mendengar?
Didengar ketika berbicara, dan mendengar ketika kamu berkata.
Jika di suatu waktu kamu hanya punya kesempatan 1x apakah di dengar ataukah mendengar?
Aku lebih senang mendengarkan. Bagaimana denganmu?
Ya aku tau, terbukti dari 2 kata yang mengikutinya.
Aku suka mendengar, tapi sangat menghargai ketika bisa didengar, sangat menyenangkan.


--


Mana yang lebih menyenangkan, dicinta atau mencinta?
Jika memang harus memilih salah satu, aku memilih untuk mencinta.
Mengapa?
Entahlah, mencintai itu sederhana.
Apakah itu artinya dicinta itu sulit?
Jelas tidak, tapi bukankah itu menyangkut perasaan orang yang mencintaimu?
Lantas mengapa?
Sederhana saja, aku memilih untuk belajar mencintai, hingga akhirnya bisa layak untuk dicintai. Bagaimana?
Iya itu kata mario teguh.
Tapi belajar dicintai juga bukan hal yang mudah, kita harus membuat orang lain layak untuk kita cintai, pertaruhan besar.
Ah, lupakan apa kata lelaki super itu.
Memangnya apa yang dipertaruhkan, rasa, hati?
Bukan. EGO.
Kamu hanya perlu meleburkannya. Mengawinkan egonya dengan egomu, bukan malah kamu perkelahikan..
Aku takut, ketika perkawinan ego akan melahirkan ego lain pada akhirnya.
Ya, ego yang bisa meredamkan ego masing-masing dari kalian berdua. Bukankah seharusnya begitu?
Entahlah, toh dalam hidup, kata seharusnya itu tidaklah nyata pada tempatnya, semua serba benar ketika sudah dilakukan.



------------ GANTI!


Kamu lebih senang berada di keramaian atau dalam kesendirian --atau setidaknya berduaan?
Aku suka berduaan di keramaian.
*kasian nasib orang yg single di keramaian itu, hahaa*
Tenang aku pastikan tidak ada kamu dengan kesendirianmu disitu
#keplaaaakk#


Lebih suka mana, meninggalkan atau ditinggalkan?
Aku tak mau memilih keduanya.
Ini bukan pilihan...
Ini masalah persentase perasaan.
51% ditinggalkan, 49% meninggalkan. Aku sadar, pada akhirnya nanti keduanya akan mendatangi kita. Mau tidak mau.
Baik.
Lebih suka mana, menemui atau ditemui?
Ditemukan :D
Beda coooy.
Objeknya apa dulu nih?
Berasa OOP kudu ada objek.
Ah sudahlah ganti.



Lebih suka mana, marah atau diam tapi marah? #eaaa
Pengennya bisa marah, tapi akhirnya cuma bisa diam. Marah itu melebur bersama hembusan nafas panjang. Bagaimana caranya bisa marah dengan spontan?
Entahlah, itu bukan suatu keahlian buatku.


Setuju tidak, ketika hidup berkata "cinta tak harus memiliki"? #klise
Terlalu klise. Tak ada yang benar-benar kita miliki seutuhnya, cinta itu hanya dititipkan untuk dijaga dan dimiliki sementara.
Cepat atau lambat pemiliknya pasti akan mengambilnya. Ah, entahlah.


Sejak kapan suka menulis?
Sejak aku dikenalkan kepada sajak-sajak. Aku langsung jatuh cinta. Bagaimana denganmu?
Sejak aku suka bicara tapi tak ada telinga yang mendengar.
Ya, menulis itu adalah mulut kedua sekaligus telinga ketiga :)


Kenapa melartholic?
Itu hanya topeng untuk menyembunyikan ke-melantholic-an saya. Cukup ganti n dengan r. dan taraaa, seolah saya penggila seni :P

wek.

Bicara bikin laper ya.
Udah ah.

Ngetik ya, ngetik!!!

Ngetik itu, dua kali bicara. Nguras tenaga.

Iya, mikirnya dua kali lebih banyak dari bicara, tapi lebih abadi. Post yaah ya, buat kenang-kenangan kita kalo udah pada tua nanti :')

Hahahaha.
Iya dasar ibu2 lagi ultah. pikirannya kemana-mana.


17 June 2012

tentang perjalanan..

Menurut saya, kita belum bisa menilai dan mengenal sebuah kota, ketika kita belum mencoba merasakan naik transportasi umumnya.
Jakarta utara - BSD. Jarak sekitar 54 km.
Saya mencoba empat transportasi umum, dari mulai busway, angkutan kota, commuter line, sampai ojeg.

Angkutan pertama: Busway
di sini semua orang terlihat sama, tak peduli si kaya atau si miskin, berbadan wangi ataupun bau, pegawai swasta atau pengangguran, koruptor atau pencopet, semua tercampur jadi satu, diperlakukan sama.
Saat mengantri menunggu bus ada yang tak sabar hingga terus mendesak orang di depannya, ada yang terlihat gelisah, terburu-buru dikejar waktu, ada yang hanya diam mengantri dengan tenang, ada yang asik dengan handphonenya, ada yang terus bergandengan tangan, tak mau kehilangan pasangannya, dan selalu ada yang terus mengamati atau sekedar melamun entah memikirkan apa.
Saya begitu menikmati perjalanan ini, menikmati bagaimana mengantri dan berebut tempat duduk, atau hanya bedesakan berebut ruang untuk berdiri. Saya begitu menikmati aroma kota Jakarta, dimana keringat, peluh, dan harapan ada di dalam tiap-tiap orang di sana. Saya begitu menikmati semuanya, bulatan penuh matahari yang siap-siap tenggelam dimakan gelap, langit senja yang berwarna seperti es krim, serta malam pekat yang diterangi gemerlap lampu kota yang membahana. Semuanya terekam dalam perjalanan saya kali ini.

Angkutan kedua : Angkutan Kota
Saya hanya mengingat beberapa kejadian. Seorang ayah yang menggendong anaknya dengan penuh kasih sayang; dan senyuman serta tawa balita itu begitu menenangkan jiwa, ada kedamaian yang tercipta ketika melihatnya. Selalu ada tatapan was-was dan curiga dari tiap penumpang ketika ada segerombolan lelaki menaiki angkutan kota terutama penumpang wanita. Ya, begitulah.

Angkutan ketiga : Commuter Line
Wajah-wajah lelah menghiasi perjalanan kali ini. Entah lelah karena apa. Lelah hati, pikiran, badan, ataupun jiwa. Semuanya terasa banyak tanda tanya.
Dua orang anak perempuan berlarian sambil tertawa membunuh waktu, bebas, lepas. Seorang lelaki yang terlihat banyak pikiran, terasa banyak sekali beban dalam hidupnya. Ah, entahlah. Dua wanita yang bergosip dan terlihat asik saling bercerita pengalaman hidupnya. Sepasang kekasih yang tersenyum sambil mengobrol berbisik-bisik. Dan saya, hanya menjadi subjek yang memperhatikan objek-objek menarik di sekitar gerbong.

Angkutan keempat : Ojeg
Saya tak pernah tau mengapa dinamai ojeg, benar-benar singkatan dari ongkos jegang kah? haha. Tak ada yang begitu kuingat selain bagaimana kepercayaan bisa dengan mudah muncul kepada orang asing yang sebenarnya bisa saja dengan mudah membawamu ke tempat yang sebenarnya bukan tujuanmu. Membawamu lari.

Di sini saya semakin percaya kuasa Tuhan. Jangan pernah takut, percayakan pada pikiranmu bahwa selalu ada yang melindungimu. Pemilikmu seutuhnya.

Begitulah cerita perjalanan kali ini, Kelapa Gading - BSD ditempuh dengan waktu hampir 3 jam. Sekian.

13 June 2012

cerpen : di suatu pagi

Pagi ini tak seperti pagi biasanya. Entah ada angin apa, aku memilih berangkat lebih pagi dari rumah menuju kantor. Pukul enam tepat aku sudah berdiri manis di halteu bus feeder, menanti kedatangan satu-satunya transportasi publik yang bisa mengantarkanku bekerja. Padahal di hari-hari biasanya, pada jam yang sama aku masih berias diri di depan cermin, mengulas make up, dan menata rambut. Lima menit kemudian bus tersebut datang, aku yang sudah membeli tiket langsung naik dan masuk ke dalam bus. Beginilah enaknya pergi lebih awal. Bus yang kutumpangi cukup kosong, sehingga aku bisa memilih kursi di manapun. Hingga akhirnya aku memilih duduk di baris ketiga sisi kanan, persis sebelah jendela, agar aku bisa bersandar dan menerawang jalanan dari balik kaca jendela bus.

Tak lama berselang, seorang lelaki masuk dari pintu depan bus, berjalan pelan sambil menyapu kursi-kursi kosong dengan mata indahnya. Lalu secara tiba-tiba dan tak terduga dia duduk di sampingku. Lelaki itu tersenyum. Tampan. Aku yang masih tak sadar harus berbuat apa hanya tersenyum kaku membalasnya. Mungkin inilah hikmah berangkat lebih pagi: calon jodohku tak akan bisa lagi dipatuk ayam, karena aku bangun lebih cepat darinya. Ha!

Beberapa menit setelahnya, bus feeder ini jalan mengikuti rutenya seperti biasanya. Yang berbeda adalah, aku duduk di samping lelaki yang menurutku menarik. Yang menbuatku terpesona tepat pertama kali aku melihatnya. Dan apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku ingin sekali berkenalan dengannya, sekedar tau namanya pun aku akan sudah teramat puas. Tapi bagaimana bisa?

Ah bodohnya aku, haruskah aku yang pertama membuka percakapan dengan orang yang tidak aku kenal di tempat umum seperti ini. Plak. Sadarlah, dia hanya seorang penumpang yang kebetulan satu bus denganmu, dan kebetulan dia memilih posisi duduk disebelahmu. Tidak, jelas semua itu bukan kebetulan. Dari sekian banyak bus yang ada, dia memilih pergi jam enam dan menaiki bus ini. Dari sekian banyak kursi kosong yang tersedia, dia memilih untuk duduk disampingku. Bukankah itu adalah pilihannya? Bukankah itu adalah takdirnya untuk duduk dan menaiki bus ini disampingku? Dan mungkinkah ini artinya sebuah kesempatan untuk aku dan dia bisa saling bertemu, saling mengenal, atau bahkan lebih. Bukankah semua kejadian tak ada yang tanpa sebab dan tak bermakna?

"Hei, berangkat kerja ya? Ngantor dimana?" Oh, jelas tidak mungkin aku menanyakan hal itu.
"Tumben ya Jakarta belum terlalu macet!" Pernyataan bodoh. Ini masih pukul enam pagi.
"Mas, punya obeng ngga?", "Ayah kamu polisi ya?" Oh tidak, taktik ini hanya akan menjatuhkan harga diriku.
"Hei, kamu kok ganteng sih?" Plak. Ah, aku kehabisan kata.

Pagi ini benar-benar tak seperti pagi biasanya. Aku benar-benar gelisah duduk di kursi bus ini. Semuanya terasa serba salah. Ini semua karena seorang lelaki yang duduk tepat di samping kiriku. Ya, seorang lelaki asing. Seorang asing yang baru beberapa menit duduk di sampingnya saja sudah membuat hatiku bergemuruh keras. Entah rasa apa yang bergejolak di dalam sini. Kekaguman. Ketertarikan. Ah, entahlah!

Lalu aku menyadari, empat puluh menit berlalu. Lelaki itu kini asik mendengarkan headset di telinganya, sambil asik mengetik dengan smartphonenya. Sampai aku hampir tiba di depan gedung kantor pun, aku tak berani bersuara sepatah kata pun kepadanya. Briliant!

Bus feeder yang kutumpangi pun akhirnya menepi di sebuah halteu yang berada tepat di depan kantorku.
"Permisi.." hanya satu kata itu yang akhirnya aku bisa katakan kepadannya. Tidak kurang, tidak lebih. Bodoh.
Aku melihatnya sekilas, dia balas memandangiku. Sekejap. Lalu aku pun turun dari bus dengan langkah gontai. Ya, mungkin Tuhan memang tidak merencanakan apapun tentang ini. Atau Tuhan memang telah merencanakan ini, membuat kesempatan ini, tapi baik aku maupun dia tidak ada yang memilih untuk mengambilnya.

Bus itu semakin lama semakin menjauh dari pandanganku, berlari tangguh menggilas aspal jalanan kota Jakarta.

Pagi ini memang tak seperti pagi biasanya.
Pagi ini aku merasakan jatuh cinta dan patah hati dalam satu waktu yang sama.

11 June 2012

mereka mendengung di telingaku

1. Oh, it is love? - Hellogoodbye
2. Hard to Say -The Used
3. Marry Me - Train
4. Suspension - Mae
5. To be happy now - Copeland
6. This time - Vanessa Carlton

Enam lagu itu terus menari di kepalaku, lantunkan bait-bait yang.. ah sudahlah.

Sebelas Juni

Dua puluh tiga tahun yang lalu ibu saya berjuang keras mempertaruhkan nyawanya untuk kelahiran saya agar bisa mencium kehidupan dunia. Terima kasih Ma, tanpamu aku tak akan pernah ada di sini :')
Bertambah satu angka lagi di umur saya. Bukan bilangan yang kecil. Melainkan angka yang sangat besar.
23 x 365 x 24 x 60 x 60. Itulah jumlah detik yang telah Allah berikan untuk saya. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Semoga saya bisa semakin dekat denganmu, Ya Rabb :)

06 June 2012

Convo : minta siapa?

bla bla bla

R : Banyak ya yang udah nikah?
M : Gatau juga sih, tapi umur segini mah emng udah mulai waktunya sih ya..
R : Iya, trus kamu kapan? Udah pas lah umur segini.
M : Haaaaa! sama siapa, do?
R : Ya kamu maunya sama siapa? Tinggal minta sama Allah.
M : ... #deg

Sepertinya saya harus mendefinisikan ulang dan memperdetail permintaan..