11 December 2012

Tentang sebuah nama

: Ugoran Prasad

Pertama kali dipertemukan oleh sebuah lagu berjudul Mars Penyembah Berhala milik band bernama Melancholic Bitch. Nama band yang unik, musik yang cukup mudah diingat, serta judul dan lirik yang seketika menarik perhatian.

"Siapa yang membutuhkan imajinasi,
jika kita sudah punya televisi.

Semesta telah pepat dalam 14 inci."

Tak lama kemudian, saya membeli buku Cinta Diatas Perahu Cadik, yang merupakan sebuah kumpulan cerpen Kompas pilihan tahun 2007. Di dalam buku itu terdapat namanya: Ugoran Prasad - Sepatu Tuhan. Saat itu saya mengabaikan namanya, hanya sekilas membaca lalu melupakannya.

Lalu entah bagaimana, saya mulai mencari dan mendengarkan semua lagunya Melancholic Bitch. Tiga Album lengkap, yaitu Live at Ndalem Joyokusuman (2003), Anamnesis (2005), serta Balada Joni dan Susi (2009).


Seketika itu juga saya langsung jatuh cinta.
Jatuh cinta pada semua pilihan dan permainan kata di semua lirik lagunya, jatuh cinta pada konsep album terakhirnya (Balada Joni dan Susi) yang ketika mendengarkan tiap lagunya seolah sedang didongengkan sebuah kisah yang terus bersambung dari Prolog hingga Epilog.

Hingga akhirnya saya dibuat penasaran akan sosok pencipta karya yang mengagumkan itu. Dan yang muncul kemudian adalah sebuah nama ini --Ugoran Prasad. Seorang penulis naskah drama, penulis cerpen, penulis novel, penulis lirik lagu, yang juga adalah seorang vokalis. Ahh, saya jatuh cinta kepada semua karyamu, Tuan! Sekarang hampir setiap hari (selama beberapa bulan ini) dengerin lagunya Melancholic Bitch terus. Sepertinya saya sudah benar-benar teracuni.

Tingga bukunya yang belum nemu dan agak susah dicari, Di Etalase (novel, 2004) dan Di Bordes (dimana kamu, Lula?) (novel, 2006). Andaikan dua buku itu bisa turun dari langit. Ha. Teruslah bermimpi, Nona!

2 comments:

  1. koq nama band nya kaya mirip nama blog mu mel :D
    klo dibaca sekilas nyaru..

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)