Konsep Pernikahan dan Budaya

     Beberapa minggu yang lalu tiba-tiba dapet tawaran motret prosesi pernikahan sahabatnya temen di Bandung. Tanpa basa basi dan mikir panjang saya langsung mengiyakan. Alasan pertama, karena udah lama ngga motret, yah itung-itung sekalian hunting foto. Alasan kedua adalah karena katanya konsep pernikahannya ini tergolong unik, yaah agak langka aja dilakuin di Indonesia, lumayan kan buat referensi konsep nikah ntar. Haha :)

     Konsep pernikahan mereka itu round table. Tamu undangan dibatasi hanya sekitar lima puluh undangan, yang terdiri dari keluarga terdekat mempelai wanita dan pria. Dekorasi gedungnya juga minimalis, lebih nonjolin di dekorasi bucket bunga-nya. Di areal pelaminan cuma ada empat kursi sofa. Lalu di tengah gedung berjejer beberapa round-table yang masing-masing terdiri dari (kurang lebih) delapan kursi per meja.

     Pukul sebelas akad nikah dimulai. Sebelumnya sudah dibuka dengan beberapa sambutan dan doa bersama. Setelah selesai akad nikah, prosesi sungkem kepada kedua orang tua. Selesai itu pengantin dan masing-masing kedua orang tuanya berdiri di pelaminan untuk bersalaman dengan tamu undangan. Tamu undangan lalu makan dan kembali menduduki kursinya masing-masing. Rasanya tertib banget, ngga rusuh ngantri di tempat stand makanan. Selesai salaman, pengantin keliling-keliling ngobrol sama tamu undangan. Rasanya asik banget ngeliatnya, ngga perlu capek gonta-ganti konstum pernikahan, dan mereka ngga berasa jadi pajangan doang yang harus terus berdiri, nunjukin muka bahagia dengan terus senyum lebar, dan salaman sampe kaki pegel. Kalo yang ini pengantinnya malah jalan-jalan, ngobrol-ngobrol sama tamu undangannya, makan di tengah keluarganya bareng-bareng. Intinya, mereka ngga dipajang lama di pelaminan. Sekitar jam setengah dua acara beres. Semua tamu undangan dan pengantin bubar bareng-bareng.

     Coba bandingin sama tradisi nikah pada umumnya: akad nikah, ganti baju, prosesi adat yang terkadang begitu panjang, dipajang di pelaminan, ganti baju lagi, dipajang lagi di pelaminan, tamu undangan bubar baru bisa makan. Tapi yang namanya tradisi susah sih buat diubah. Ngasih undangan cuma lima puluh, dijamin banyak yang protes karena ngga diundang, trus akhirnya malah jadi gunjingan sana sini.

     Yaah, namanya juga Indonesia, persatuan dan rasa persaudaraannya terlalu kuat. Tetangga yang ngga pernah ketemu muka dan rekan-nya orang tua yang bahkan ngga tau namanya aja harus ada dalam list tamu undangan. Menikah yang sebenarnya mudah, dibuat menjadi super-duper kompleks karena perayaannya, gimana resepsinya. Esensi dari pernikahan itu sendiri malah hilang. Ah, budaya!

Comments

Popular posts from this blog

Apa yang kamu cari dalam hidup ini?

Curug Sawer, Cililin

biaya ke Ujung Genteng 3 hari 2 malam