18 November 2012

Flash Fiction : Ketersekejapan

Alina

Sejak pertemuan pertama denganmu,
saya tahu pasti ada sebuah resiko yang harus saya tanggung
: perpisahan.


“Eh, kenalin ini temen gue!”

“Alina”
“Zardy”
Dia menggenggam tangan saya. Erat. Lalu tersenyum begitu hangat.
Tatapan matanya menyelusup begitu intim seolah menelanjangi saya.
Kamu tahu, tepat di hitungan ke tiga saya jatuh cinta kepadamu.
Wajah dan namamu seketika itu juga terekam kuat di memori kepala saya.


Zardy

“Alina”
"Zardy"
Matanya bagus. Tangannya halus. Senyumnya manis. Yaah, bodynya juga lumayan lah.
Tapi, ah gue terlalu malas berbasa basi sama orang baru!

"Eh sorry gue buru-buru nih, duluan ya!"

Satu tambahan hal lagi yang akan saya ingat. Punggungmu.

Alina

"Ok!"

"Bye"
"Bye"
Tepat di detik ke lima belas, saya tahu bagaimana rindu dan patah hati terbuat
: dari sebuah punggung dan langkah kaki yang berjalan semakin menjauh.

2 comments:

tinggalkan jejak kata anda :)