Suara yang Hilang

Langkahku terhenti di sebuah tempat yang begitu sunyi, di sebuah kota metropolitan yang statis. Seperti mati, tanpa aktivitas yang berarti. Desiran angin terdengar begitu nyaring di sini. Beberapa orang berlalu-lalang tanpa suara. Jejak langkah mereka tak sedikit pun meninggalkan bunyi.

Mereka, orang-orang di kota ini tak ada yang bisa bicara. Mereka semua telah kehilangan kata. Bibir mereka benar-benar tertutup rapat. Semua mulut dijahit dengan kawat tipis yang sudah berkarat dan mulai menghitam.

Di sepanjang jalan yang kulewati berderet puluhan bangunan aneh. Bangunan itu seperti sebuah rumah. Hanya saja tidak memiliki pintu dan jendela, melainkan sebuah jeruji besi –yang lebih mirip seperti penjara. Banyak orang yang menghuni tempat itu. Rata-rata merupakan satu keluarga utuh; seorang ayah, ibu, dan beberapa anak. Mereka terpenjara ruang dan kata.

Keadaan sekarang sangatlah kontradiktif dengan saat terakhir aku ke kota ini. Dua tahun yang lalu, kota ini begitu dinamis. Orang-orang sangat berapi-api dan gencar untuk melakukan perubahan.
Saat itu juga, disinyalir diantara mereka ada serigala yang berwujud manusia. Serigala-serigala itu memangsa harta, kekayaan, jabatan, kehormatan, serta kekuasaan mereka. Aku masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang aku lihat saat itu. Semua dari mereka sama-sama memerangi serigala-serigala itu: berperang, melakukan perlawanan, menuntut kembali hak milik mereka. Namun, serigala-serigala itu semakin buas dan ganas. Tak hanya harta atau kekuasaan, mereka juga tak segan untuk melahap nyawa.

***
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” sebuah bisikan suara yang begitu pelan tiba-tiba saja menyadarkan lamunanku.
Seorang lelaki ringkuh paruh baya berdiri di hadapanku. Mulutnya robek dan mengerikan. Aku yakin dia membuka jahitan kawat di mulutnya secara paksa.
“Aku hanya singgah di kota ini.”
“Stttt.. jangan bersuara keras!” lelaki itu lagi-lagi berbisik, nyaris tanpa suara.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” kali ini aku ikut berbisik.
Tanpa kata, dia lantas menarik lenganku dan membawa aku ke dekat pohon besar yang ada di seberang jalan.
“Di kota ini tidak diperbolehkan ada seorang pun yang berbicara. Kebanyakan dari orang-orang di sini telah lupa bagaimana caranya berbicara. Semua orang diancam untuk tidak membuka jahitan mulutnya. Namun, aku sudah tak tahan. Aku ingin membunuh serigala-serigala itu. Mungkin kamu bisa membantuku.”
“Apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”
“Tolong carikan bantuan di kotamu.”
“Aku tidak mungkin bisa mengandalkan orang-orang di kotaku. Sudah sejak lama mereka semua menutup mata, telinga, dan hatinya dari berbagai hal. Mereka dapat melihat dengan normal, tetapi pura-pura buta. Mereka mendengar dengan normal, tetapi pura-pura tuli. Mereka seolah tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Tak ada yang peduli satu sama lain. Semuanya menjadi makhluk individualis. Menjadi parasit dalam koloninya sendiri.”
Lelaki tua itu lantas terdiam.
“Secara tidak sadar, kita mungkin sudah tiba di neraka dunia!” dia lantas bersuara lantang.

DORRR!
Sebuah tembakan bersarang tepat di kepala lelaki tua itu. Darah segar mengalir dari kepalanya. Tak lama kemudian, sesosok serigala berseragam rapi datang menampakan wujudnya. Aku benar-benar melihat serigala itu. Mereka memang nyata adanya. Tidak hanya satu, dua, atau tiga. Ada sekitar sepuluh serigala mengelilingiku.
Kedua tangan dan kakiku dicengkram dengan kuat oleh beberapa dari mereka. Aku berontak. Namun, tak cukup untuk melepaskan diri dari mereka. Salah satu dari mereka lantas menjahit mulutku dengan kawat panas yang masih terbakar api.
“Jangan pernah lagi berani bicara jika kamu tak ingin terbunuh dengan kilat.”

***

Comments

Popular posts from this blog

Apa yang kamu cari dalam hidup ini?

Curug Sawer, Cililin

biaya ke Ujung Genteng 3 hari 2 malam