08 September 2012

4 cerita : Berbagi duduk bersama asing

Angkutan umum adalah tempat yang paling banyak menyimpan cerita. Berbagai macam orang. Asing. Berbagi tempat dan duduk saling bersisian dan atau berhadapan.

1
: Jarak

"Halo."
"Ya, kenapa?"
"Iya, nomornya ngga aktif."
"Tadi ke kantor polisi, nemenin sodara ada masalah."
"Kan kamu tau tempat saya di mana biasanya, kenapa ngga inisiatif ke sana aja sih!"
"Trus kamu sekarang di mana?"
"Ya kalo udah di Jakarta, kenapa nelpon saya?"
"Kamu kan tau, saya di Bandung. Sekarang kamu di Jakarta. Udah ngga ada artinya lagi, ngapain masih nanyain trus nelpon?"

Telepon genggam ditutup. Pembicaraan usai. Antara sopir angkot dan (mungkin) seorang wanita.

Memang, bertemu muka masih menjadi obat paling mujarab untuk segala hal yang ditimbulkan akibat jarak.

2
: Bersyukurlah!

Sepi penumpang.
Tiga anak kecil usia 9-12 tahunan dengan membawa keranjang menaiki angkot yang sama dengan saya, lagi.
Pertama saya duduk di sebelah sopir. Kali ini kami duduk berhadapan.

Dek, jualan apa?
"Cireng, Teh. Mau beli, Teh?"
Berapa?
"Sebungkusnya 4000."
Masih pada sekolah ngga ini?
"Iya, masih. Yang berdua ini SD, saya SMP." yang paling besar menunjuk dua yang lain.
Pada pulang kemana emang, kok malem gini? --jam masih menunjuk angka 20.49
"Ke Ciparay, Teh. Iya jualannya sampai jam 2 malem."
Lho, jadi ini masih mau lanjut jualan?
"Iya di buah batu, kalo sore sampai jam segini di BIP biasanya."
Orang tua dimana emangnya, jualan juga?
"Di rumah aja, ngurusin adik yang paling kecil."

Deg. Rasanya perih. Sesak.
Kurang ajarnya saya jika masih lupa bersyukur.

3
: Orang Asing

Seorang wanita menaiki angkot. Di belakangnya seorang lelaki mengekori. Mereka duduk berhadapan.

"Mbak, jam berapa ya?" seorang lelaki yang duduk tak jauh di samping saya bertanya kepada seorang wanita yang duduk di depannya.
"Jam 9." wanita menjawab datar.
Diam beberapa menit.
"Mbak, namanya siapa?"
Wanita hanya diam, menatap risih, dan pura-pura mengacuhkannya.
"Mbak, mbak.." lelaki masih pantang menyerah.
Wanita semakin memalingkan muka. Lelaki memandangi si wanita dengan tatapan berharap. Ada kekecewaan di sana.

Ah, bukankah semua orang dalam hidup kita pada mulanya adalah orang asing yang tidak kita kenali?

4
: Pemula

Angkot penuh sesak.
Di samping saya seorang lelaki. Duduk dengan tas ransel di pahanya. Di depannya seorang wanita, dengan tas yang disimpan dipangkuannya.
Lelaki itu menyimpan tangan kanannya di bawah tas. Duduknya terus maju, mendekati wanita didepannya.
Tangan lelaki mulai beraksi. Dia mencoba membuka resleting tas si wanita. Saya terus mengamati. Sambil memberi kode kepada si wanita.
Resleting tas mulai bergeser beberapa cm. Wanita sadar. Lalu memeluk erat tasnya merapat ke dadanya. Si lelaki melihat saya. Saya pandangi balik.
"Kiri!"
Si lelaki turun dari angkot.

Jika skill merasa belum cukup, banyak-banyaklah mencoba!

.. dan masih banyak cerita lainnya. Kapan-kapan iseng keliling naik angkot ah ;D

1 comment:

  1. Keluar dari kenyamanan emang banyak cerita yg didapatkan ya mel :D

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)