13 July 2012

Fiksi - Juli

: Dira Adrian

Hei, ingatkah kamu? Ini sudah bulan ketujuh, akhir Juli yang selalu kita –atau mungkin hanya aku— nantikan. Juga bulan di mana kamu mengulang hari kelahiranmu. Kamu bilang Sabtu siang pada minggu kedua di stasiun Bandung. Dan sekarang aku di sini untuk memenuhinya, penuhi janji yang kita buat setahun lalu.

Hujan masih saja merintik di bulan Juli, dan malah kian menjadi, bukannya bergegas meretas kemarau. Selepas tiba di stasiun, aku berlari menuju sebuah bangku kosong di tempat tunggu. Yang kucari hanya sosokmu. Sebuah wajah yang sudah sangat tidak asing, yang terekam kuat di dalam memori otakku. Kamu. Ya, hanya kamu. Entah mengapa, jantungku rasanya berdebar beberapa kali lebih kencang menanti kamu.

Lima belas menit berlalu, kamu tak datang. Tiga puluh menit menjalar, kamu masih tak juga menunjukkan rambut ikalmu. Satu jam. Dua jam. Tiga jam.. Berjam-jam berlalu tanpa ada sosokmu. Pesan singkat, semua panggilan tak ada yang kamu gubris. Aku sudah tak tahan lagi. Rasanya semua rasa berhamburan sudah. Awalnya aku sangat senang, kamu harusnya tahu bagaimana aku begitu menantikan hari ini datang dan akhirnya bertemu kamu lagi. Tapi kekecewaan mulai menyeruak dari dalam diri. Kesal. Sedih. Marah. Namun, tetap masih berharap. Berharap kamu menampakkan diri di hadapanku..

*

: Arisha Aryani

Saya masih mengingat dengan jelas, hari ini harusnya saya pergi. Pergi ke kotamu, bertemu kamu di sana. Sejak terakhir kali kita bertemu, saya begitu menantikan hari ini datang dengan terburu-buru. Rasanya dulu saya ingin mempercepat hari, dan langsung lari ke tanggal ini.

Saat terakhir kali kita bertatapan muka dan membuat janji untuk saling menemui di tanggal ini, saya tahu bagaimana rindu itu terbuat; saya hanya butuh campuran antara selangkah jarak dan sedetik mengalihkan pandangan dari kamu --di saat itulah saya merasakan arti merindu.

Tiket kereta menuju Bandung sudah saya siapkan dari jauh-jauh hari. Namun, sekarang tiket itu sudah tak berguna lagi. Kereta api yang seharusnya saya tumpangi sejak delapan jam yang lalu, kini sudah melaju tanpa bayangan. Dan kini saya hanya melamun di atas atap genteng rumah. Membakar beberapa puntung rokok, sambil tak henti-hentinya memikirkan kamu di sana. Beberapa pesan singkat berdatangan dari kamu. Dua kali panggilan tidak saya angkat. Saya hanya tak mau semua ini menjadi semakin sulit.

"Dira, Juli udah nungguin daritadi tuh di bawah. Buruan, katanya mau cari souvenir buat nikahan!", sebuah suara samar-samar terdengar ditelinga saya. Ah, maafkan saya Arisha..

1 comment:

  1. hauhauah :) hebat masi bisa nulis kaya gini, pasti masi ada jiwa ABG nih :p,
    bagus mel, selalu suka, hihi

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)