25 June 2012

Sepatu dan rasa kecewa.

Sepatu-sepatu itu terpajang rapi, berjejer menunggu kaki-kaki yang akan mencoba dan akhirnya membawa dia pulang; membebaskannya dari jerat pertokoan dan obral besar-besaran.
Bukan kita yang memilih sepatu, tetapi pada akhirnya sepatu lah yang memilih kaki-kaki yang tepat pada ukurannya. Pas. Nyaman.
Wanita harus terbiasa kecewa ketika memilih sepatu yang dia inginkan ternyata terlalu besar, atau kesempitan.
Di saat kita merasa sudah menemukan sepatu yang cocok, dan ternyata tidak ada ukuran yang pas di kaki, mau diapakan?
Meskipun kita sudah begitu jatuh cintanya kepada model, warna, dan segala hal tentang sepatu itu --kecuali ukuran, apa boleh buat?
Ada rasa tak rela ketika meninggalkan sebuah toko, sudah merasa menemukan satu yang cocok, tapi keluar dengan tidak membawa apa-apa.
Ada kalanya apa yang kita inginkan tak bisa kita dapatkan, klise. Namun, yaa begitulah hidup. Saya pun meninggalkan toko tanpa sepatu yang saya inginkan.

#

Konon, sepatu bisa meningkatkan kepercayaan diri seseorang --terutama wanita.
Itulah sebabnya, setidak-enak dan setidak-nyaman nya sepatu itu dipakai, wanita tetap akan menginjakkan kakinya demi keindahan, rasa percaya diri, kecantikan --alih alih mereka menyebutnya trend.
Wanita harus terbiasa memakai heels, wanita harus terbiasa kecewa diam-diam; Menyembunyikan luka yang dia rasa.
Wanita harus kuat terus berdiri di bawah tumpuan sakit yang dia tahan.
Wanita harus ..


Ah, saya bingung harus melanjutkan apa~

3 comments:

  1. wanita harus tegar :)

    http://www.bangkabelitungisland.com

    ReplyDelete
  2. mel, ini seperti saya di tanggal km menuliskan ini. :)

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)