18 June 2012

Percakapan panjang bersama Zusni Adisya


Pelaku : Saya dan Zusni Adisya
Tempat : AMDI Lt. 4 Sunter, Jakarta Utara
Waktu : Sepanjang training SOP, 11 Juni 2012

--

Jodoh itu disimpan Tuhan di tangan kita
Bagaimana bisa? 
Karena kita yang menentukan
Bisa kita menentukan ingin siapa?
Tuhan memberikan pilihan, kita menentukan jawaban
*yayaa, aku ga bisa nerusiin, ini tema tersulit. bikin aku susah nulis! errrgh*
#ahahahahaha#


Got you!

Ok, you first


Pertemuan kita ini bukan sebuah kebetulan, bukan ketidaksengajaan yang direncanakan.
Ini adalah awal dari sebuah rencana yang belum matang, perkenalan.
Aku tak tahu apakah kita benar-benar pernah berkenalan, karena menanyakan siapa namaku pun kamu tak pernah.
Aku tak perlu bertanya siapa namamu, karena kamu adalah aku.
Tidak mungkin, kamu adalah kamu, aku adalah aku. Kamu harus tahu, sejak awal kita bercerita, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Nyaman.
Aku bahkan lupa kapan itu sejak awal, aku tak pernah peduli akan waktu ketika bersamamu.
Ada sesuatu dalam dirimu, yang entah apa. Rasanya aku mengenal kamu sejak lama, sebelum habis semenit bersamamu.
Mungkin kita pernah bertemu ketika Tuhan mulai merencanakan siapa jodohmu, dan sejak itu aku mulai banyak bercerita tentang jodohku. (#timesonglaguanangashanti)
Aku tak mengerti. Benar-benar abstrak untukku. Siapa kamu sebenarnya?
Cobalah tanya dirimu siapa aku, disitulah definisiku.
Kamu tak pernah bisa aku definisikan, hanya terasa di sini, dan begitu nyata. *nunjuk hati*
#lama-lama jadi komik#
Coba rasakan lebih dalam, mungkin ada orang selain aku disitu.
Terlalu sesak di sini, hingga aku tak menyadari masih ada siapa di sini, atau memang tak pernah ada siapapun.
Aku menemukan jejak, tak mungkin tak pernah ada, jejak ini nyata terinjak.
Jejak-jejak itu memang terus melangkah, berjalan, berlarian, hingga tak bisa terkejar. Dan akhirnya di sini, aku sendiri lagi.
#aseeek melia is back#
Tak sadar kah kamu, kemanapun dia berlari, dia tetap disitu, dihatimu.
Ha, berlari di tempat maksudmu? Di sini menginjak-injak, menghentak hati. Tidak kah dia lelah?
Akuilah, dia tidak pernah lelah bersamamu.
Terimalah, dia senang berada disitu.
Ketika saatnya nanti, aku yang akan pergi meninggalkannya sendirian bersamamu.

-the end-


new sesion

Apa yang kamu cari selama ini?
Aku tak mencari apapun, aku ingin ditemukan.
Dan kamu sudah ditemukan? Apa lagi yang ingin kamu lakukan?
Tak ada, tidakkah kamu merasa lelah diikuti pertanyaan?
Lelah. Aku tak menemukan tanda titik, oleh sebab itu pertanyaan itu terus mengikutiku.
Berbaliklah dan beri ia jawaban, dia akan berhenti perlahan.
Dia tak butuh jawaban, hanya butuh kepastian. Sementara kepastian itu hidup berdampingan dengan ketidakpastian.
Begitulah hidup dituliskan, begitupun kamu, yang digariskan berdampingan dengannya.
*GOT YOU MELIAAA! haha*
Baiklah, aku tak akan bertanya lagi. Semoga pencarian ini segera menemukan titik temunya, dan dia yang sudah digariskan dapat menemukanku dengan mudah.
#aseeeeeekkkkk#


Happy Ending,
sang putri menemukan kekasih terhebatnya, selamat Melia, (#hahaha)
#skakmat

Ganti topik.



Mana yang lebih menyenangkan, didengar atau mendengar?
Didengar ketika berbicara, dan mendengar ketika kamu berkata.
Jika di suatu waktu kamu hanya punya kesempatan 1x apakah di dengar ataukah mendengar?
Aku lebih senang mendengarkan. Bagaimana denganmu?
Ya aku tau, terbukti dari 2 kata yang mengikutinya.
Aku suka mendengar, tapi sangat menghargai ketika bisa didengar, sangat menyenangkan.


--


Mana yang lebih menyenangkan, dicinta atau mencinta?
Jika memang harus memilih salah satu, aku memilih untuk mencinta.
Mengapa?
Entahlah, mencintai itu sederhana.
Apakah itu artinya dicinta itu sulit?
Jelas tidak, tapi bukankah itu menyangkut perasaan orang yang mencintaimu?
Lantas mengapa?
Sederhana saja, aku memilih untuk belajar mencintai, hingga akhirnya bisa layak untuk dicintai. Bagaimana?
Iya itu kata mario teguh.
Tapi belajar dicintai juga bukan hal yang mudah, kita harus membuat orang lain layak untuk kita cintai, pertaruhan besar.
Ah, lupakan apa kata lelaki super itu.
Memangnya apa yang dipertaruhkan, rasa, hati?
Bukan. EGO.
Kamu hanya perlu meleburkannya. Mengawinkan egonya dengan egomu, bukan malah kamu perkelahikan..
Aku takut, ketika perkawinan ego akan melahirkan ego lain pada akhirnya.
Ya, ego yang bisa meredamkan ego masing-masing dari kalian berdua. Bukankah seharusnya begitu?
Entahlah, toh dalam hidup, kata seharusnya itu tidaklah nyata pada tempatnya, semua serba benar ketika sudah dilakukan.



------------ GANTI!


Kamu lebih senang berada di keramaian atau dalam kesendirian --atau setidaknya berduaan?
Aku suka berduaan di keramaian.
*kasian nasib orang yg single di keramaian itu, hahaa*
Tenang aku pastikan tidak ada kamu dengan kesendirianmu disitu
#keplaaaakk#


Lebih suka mana, meninggalkan atau ditinggalkan?
Aku tak mau memilih keduanya.
Ini bukan pilihan...
Ini masalah persentase perasaan.
51% ditinggalkan, 49% meninggalkan. Aku sadar, pada akhirnya nanti keduanya akan mendatangi kita. Mau tidak mau.
Baik.
Lebih suka mana, menemui atau ditemui?
Ditemukan :D
Beda coooy.
Objeknya apa dulu nih?
Berasa OOP kudu ada objek.
Ah sudahlah ganti.



Lebih suka mana, marah atau diam tapi marah? #eaaa
Pengennya bisa marah, tapi akhirnya cuma bisa diam. Marah itu melebur bersama hembusan nafas panjang. Bagaimana caranya bisa marah dengan spontan?
Entahlah, itu bukan suatu keahlian buatku.


Setuju tidak, ketika hidup berkata "cinta tak harus memiliki"? #klise
Terlalu klise. Tak ada yang benar-benar kita miliki seutuhnya, cinta itu hanya dititipkan untuk dijaga dan dimiliki sementara.
Cepat atau lambat pemiliknya pasti akan mengambilnya. Ah, entahlah.


Sejak kapan suka menulis?
Sejak aku dikenalkan kepada sajak-sajak. Aku langsung jatuh cinta. Bagaimana denganmu?
Sejak aku suka bicara tapi tak ada telinga yang mendengar.
Ya, menulis itu adalah mulut kedua sekaligus telinga ketiga :)


Kenapa melartholic?
Itu hanya topeng untuk menyembunyikan ke-melantholic-an saya. Cukup ganti n dengan r. dan taraaa, seolah saya penggila seni :P

wek.

Bicara bikin laper ya.
Udah ah.

Ngetik ya, ngetik!!!

Ngetik itu, dua kali bicara. Nguras tenaga.

Iya, mikirnya dua kali lebih banyak dari bicara, tapi lebih abadi. Post yaah ya, buat kenang-kenangan kita kalo udah pada tua nanti :')

Hahahaha.
Iya dasar ibu2 lagi ultah. pikirannya kemana-mana.


No comments:

Post a Comment

tinggalkan jejak kata anda :)