cerpen : di suatu pagi

Pagi ini tak seperti pagi biasanya. Entah ada angin apa, aku memilih berangkat lebih pagi dari rumah menuju kantor. Pukul enam tepat aku sudah berdiri manis di halteu bus feeder, menanti kedatangan satu-satunya transportasi publik yang bisa mengantarkanku bekerja. Padahal di hari-hari biasanya, pada jam yang sama aku masih berias diri di depan cermin, mengulas make up, dan menata rambut. Lima menit kemudian bus tersebut datang, aku yang sudah membeli tiket langsung naik dan masuk ke dalam bus. Beginilah enaknya pergi lebih awal. Bus yang kutumpangi cukup kosong, sehingga aku bisa memilih kursi di manapun. Hingga akhirnya aku memilih duduk di baris ketiga sisi kanan, persis sebelah jendela, agar aku bisa bersandar dan menerawang jalanan dari balik kaca jendela bus.

Tak lama berselang, seorang lelaki masuk dari pintu depan bus, berjalan pelan sambil menyapu kursi-kursi kosong dengan mata indahnya. Lalu secara tiba-tiba dan tak terduga dia duduk di sampingku. Lelaki itu tersenyum. Tampan. Aku yang masih tak sadar harus berbuat apa hanya tersenyum kaku membalasnya. Mungkin inilah hikmah berangkat lebih pagi: calon jodohku tak akan bisa lagi dipatuk ayam, karena aku bangun lebih cepat darinya. Ha!

Beberapa menit setelahnya, bus feeder ini jalan mengikuti rutenya seperti biasanya. Yang berbeda adalah, aku duduk di samping lelaki yang menurutku menarik. Yang menbuatku terpesona tepat pertama kali aku melihatnya. Dan apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku ingin sekali berkenalan dengannya, sekedar tau namanya pun aku akan sudah teramat puas. Tapi bagaimana bisa?

Ah bodohnya aku, haruskah aku yang pertama membuka percakapan dengan orang yang tidak aku kenal di tempat umum seperti ini. Plak. Sadarlah, dia hanya seorang penumpang yang kebetulan satu bus denganmu, dan kebetulan dia memilih posisi duduk disebelahmu. Tidak, jelas semua itu bukan kebetulan. Dari sekian banyak bus yang ada, dia memilih pergi jam enam dan menaiki bus ini. Dari sekian banyak kursi kosong yang tersedia, dia memilih untuk duduk disampingku. Bukankah itu adalah pilihannya? Bukankah itu adalah takdirnya untuk duduk dan menaiki bus ini disampingku? Dan mungkinkah ini artinya sebuah kesempatan untuk aku dan dia bisa saling bertemu, saling mengenal, atau bahkan lebih. Bukankah semua kejadian tak ada yang tanpa sebab dan tak bermakna?

"Hei, berangkat kerja ya? Ngantor dimana?" Oh, jelas tidak mungkin aku menanyakan hal itu.
"Tumben ya Jakarta belum terlalu macet!" Pernyataan bodoh. Ini masih pukul enam pagi.
"Mas, punya obeng ngga?", "Ayah kamu polisi ya?" Oh tidak, taktik ini hanya akan menjatuhkan harga diriku.
"Hei, kamu kok ganteng sih?" Plak. Ah, aku kehabisan kata.

Pagi ini benar-benar tak seperti pagi biasanya. Aku benar-benar gelisah duduk di kursi bus ini. Semuanya terasa serba salah. Ini semua karena seorang lelaki yang duduk tepat di samping kiriku. Ya, seorang lelaki asing. Seorang asing yang baru beberapa menit duduk di sampingnya saja sudah membuat hatiku bergemuruh keras. Entah rasa apa yang bergejolak di dalam sini. Kekaguman. Ketertarikan. Ah, entahlah!

Lalu aku menyadari, empat puluh menit berlalu. Lelaki itu kini asik mendengarkan headset di telinganya, sambil asik mengetik dengan smartphonenya. Sampai aku hampir tiba di depan gedung kantor pun, aku tak berani bersuara sepatah kata pun kepadanya. Briliant!

Bus feeder yang kutumpangi pun akhirnya menepi di sebuah halteu yang berada tepat di depan kantorku.
"Permisi.." hanya satu kata itu yang akhirnya aku bisa katakan kepadannya. Tidak kurang, tidak lebih. Bodoh.
Aku melihatnya sekilas, dia balas memandangiku. Sekejap. Lalu aku pun turun dari bus dengan langkah gontai. Ya, mungkin Tuhan memang tidak merencanakan apapun tentang ini. Atau Tuhan memang telah merencanakan ini, membuat kesempatan ini, tapi baik aku maupun dia tidak ada yang memilih untuk mengambilnya.

Bus itu semakin lama semakin menjauh dari pandanganku, berlari tangguh menggilas aspal jalanan kota Jakarta.

Pagi ini memang tak seperti pagi biasanya.
Pagi ini aku merasakan jatuh cinta dan patah hati dalam satu waktu yang sama.

Comments

  1. aku bisa bayangkan gimana konyolnya itu mbak -___- tapi bagus sih ceritanya X,X

    ReplyDelete
  2. huaaaaaa, udah lama ngga baca teenlit :p
    bagus ceritanya, bisa terpapar jelas mel :D
    jadi siapa orang itu mellll, handsome yah :)

    ReplyDelete
  3. aku juga mel, pernah! Tapi settingnya di KRL. Aaaa, makin nyesel kenapa gengsi ngajak ngobrol T.T

    ReplyDelete
  4. ijin jadi mata-mata ya mbak mel...qqq

    ReplyDelete
  5. bawa permen mel,
    trus pura-pura buka satu permen,
    habis itu tawarin,
    "permen mas?" #nyodorinpermenkisstulisanhello"

    ReplyDelete

Post a Comment

tinggalkan jejak kata anda :)

Popular posts from this blog

Apa yang kamu cari dalam hidup ini?

Curug Sawer, Cililin

biaya ke Ujung Genteng 3 hari 2 malam