15 May 2012

Membaca Pertanda

"Kamu tahu mengapa tak seorang pun sanggup mengikutimu?"

Tidak.

"Kau terlalu cepat berlari, sementara orang baru mulai mengambil ancang-ancang."

Salah siapa tak ikut berlari?

"Ketika orang itu mengikutimu berlari, sudah pasti kamu bersembunyi membangun benteng."

Jika aku bersembunyi, mengapa tak mencoba menemukannya?

"Bagaimana bisa ketemu, kamu sendiri bersembunyi di sebuah benteng yang sangat kokoh dan sulit dicari, hingga kamu sendiri pun sulit menemukan jalan keluar dari benteng itu."

Lantas apa?

"Kamu hanya takut. Itu saja!"

Aku bukan takut. Aku hanya tak ingin semuanya menjadi salah. Aku hanya..

"Takut untuk menjadi salah? Iya kan?"

Entahlah. Aku takut. Aku tak mau salah membaca pertanda.

"Jika kau tak bisa membaca, tanyakan langsung kepada sang Penulis pertanda. Suruh dia mengejanya pelan-pelan."

Aku bukan tidak pandai membaca pertanda. Aku hanya tak bisa membahasakan pertanda itu menjadi sebuah arti yang sebenarnya.

"Kalau begitu kamu butuh menyewa penerjemah-bahasa-pertanda."

Mengapa?

"Agar semua tanda yang aku buat bisa kamu pahami dengan jelas."

Ha! Sejak kapan kamu membuat tanda untukku?

"Bodoh. Berhentilah berlari, aku hampir lelah mengikutimu."

Jika lelah, beristirahatlah. Aku tak memaksamu ikut berlari.

"Kamu tak lelah terus berlari?"

Aku tidak tahu harus berhenti dimana, jadi aku terus berlari.

"Beristirahatlah di sini sejenak, bersamaku."

Eh, untuk apa?

"Bodoh, aku ingin bersamamu!"

4 comments:

  1. suka! sangat suka! :) mel, tinggal sejenak mel.. untuk menulis :)

    ReplyDelete
  2. bagus. bukan bagus aja. bagus banget. #kemudiansalto

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)