27 December 2012

Berhenti dan berubahlah karena keinginan,
bukan karena keadaan.

25 December 2012

sekedar tanya [1]

Sama-sama cocok karena punya banyak kesamaan,
atau punya banyak perbedaan biar bisa saling melengkapi?

19 December 2012

Sebuah doa (menjelang) akhir Desember

Dalam kesusahan seberat apa pun,
saya hanya meminta untuk disanggupkan.
Cukup.

11 December 2012

Tentang sebuah nama

: Ugoran Prasad

Pertama kali dipertemukan oleh sebuah lagu berjudul Mars Penyembah Berhala milik band bernama Melancholic Bitch. Nama band yang unik, musik yang cukup mudah diingat, serta judul dan lirik yang seketika menarik perhatian.

"Siapa yang membutuhkan imajinasi,
jika kita sudah punya televisi.

Semesta telah pepat dalam 14 inci."

Tak lama kemudian, saya membeli buku Cinta Diatas Perahu Cadik, yang merupakan sebuah kumpulan cerpen Kompas pilihan tahun 2007. Di dalam buku itu terdapat namanya: Ugoran Prasad - Sepatu Tuhan. Saat itu saya mengabaikan namanya, hanya sekilas membaca lalu melupakannya.

Lalu entah bagaimana, saya mulai mencari dan mendengarkan semua lagunya Melancholic Bitch. Tiga Album lengkap, yaitu Live at Ndalem Joyokusuman (2003), Anamnesis (2005), serta Balada Joni dan Susi (2009).


Seketika itu juga saya langsung jatuh cinta.
Jatuh cinta pada semua pilihan dan permainan kata di semua lirik lagunya, jatuh cinta pada konsep album terakhirnya (Balada Joni dan Susi) yang ketika mendengarkan tiap lagunya seolah sedang didongengkan sebuah kisah yang terus bersambung dari Prolog hingga Epilog.

Hingga akhirnya saya dibuat penasaran akan sosok pencipta karya yang mengagumkan itu. Dan yang muncul kemudian adalah sebuah nama ini --Ugoran Prasad. Seorang penulis naskah drama, penulis cerpen, penulis novel, penulis lirik lagu, yang juga adalah seorang vokalis. Ahh, saya jatuh cinta kepada semua karyamu, Tuan! Sekarang hampir setiap hari (selama beberapa bulan ini) dengerin lagunya Melancholic Bitch terus. Sepertinya saya sudah benar-benar teracuni.

Tingga bukunya yang belum nemu dan agak susah dicari, Di Etalase (novel, 2004) dan Di Bordes (dimana kamu, Lula?) (novel, 2006). Andaikan dua buku itu bisa turun dari langit. Ha. Teruslah bermimpi, Nona!

Pameran (masa kini)

Sedih, pamer.
Bahagia, pamer.
Ternyata sekarang bukan cuma seni ya yang ada pamerannya,
pameran kebahagiaan dan kesedihan juga sekarang sudah mulai mewabah.
Berhati-hatilah!

Alkisah di suatu negeri antah berantah, ada seorang manusia yang merasa dirinya adalah orang yang paling bahagia dan beruntung dalam hidup ini. Si manusia ini mengumumkan kepada seluruh dunia, bahwa dia sudah berhasil meraih piala kebahagiaan tertinggi. Lalu dia hanya tertawa-tawa dan menyombongkan diri. Memandang sebelah mata orang-orang yang hanya mendapat piala perunggu-bahagia, apalagi yang hanya mendapat gelar pemenang-hiburan kebahagiaan.

Hingga suatu ketika, piala kebahagiaan tersebut digilir dan jatuh kepada seseorang yang lain. Manusia tersebut lalu merasa jatuh, seolah menjadi makhluk yang memiliki masalah dan cobaan yang sangat besar. Dia kemudian mengumumkan kembali kepada dunia, segala kepedihan yang dia derita adalah kesedihan yang paling sedih, kesedihan yang paling muram diantara yang termuram. Tanpa pernah mempedulikan orang lain yang juga memiliki kebahagiaan dan kesedihan --yang bahkan melampaui apa yang pernah dia rasakan.

Apakah perlu semua itu didramatisasi?

Oh ya, namanya juga pameran. Hanya sebuah pertunjukan.
Mana ada yang senang dengan cerita-cerita datar yang monoton.
Mana ada yang mau bersusah-susah menjadi sederhana, ketika kelimpahan ada di depan mata.

Ah, saya mau jadi penonton saja, terlalu lelah jika harus menjajakan pertunjukan. Ada kah yang sedang mengadakan pameran? :D



Halo Desember,
maaf terlambat menyapa hadirmu!

27 November 2012

Label.

Menilai orang. Melabeli seseorang. Sebuah kebiasaan yang –entah baik entah buruk, seringkali dilakukan secara tak sadar. Menilai si A baik, sedangkan si B jahat. Melabeli si C menyenangkan, sedangkan si D menyebalkan.

Sebelum menilai orang, sudahkah menilai diri sendiri?

Mungkin gara-gara pelabelan ini pula, akhirnya banyak yang seringkali menjaga image. Terlalu mempedulikan apa kata orang, hingga tak bisa menjadi dirinya sendiri, karena terlalu takut akan penilaian orang lain.

Terkadang penilaian orang lain terhadap diri kita adalah hal yang benar-benar terlihat nyata dan menjadi sebuah kebenaran mutlak pada saat itu. Saat itu saja. Kadang kita pun baru menyadari ketika orang lain mempunyai persepsi bahwa kita seperti ini, seperti itu, memiliki sifat X, Y, atau Z.

Sedangkan diri sendiri seringkali menolak sebuah kebenaran. Karena pada dasarnya yang dibutuhkan tidak lebih dari sebuah pembenaran atas bentuk personal yang telah dijaga dan yang telah dibangun selama ini. Kita mengamini serta mencari pembenaran, lalu pada akhirnya meyakinkan orang lain untuk turut mengamini apa yang ada dalam persepsi kita.

Seseorang tidak bisa dinilai hanya dari musik yang ia dengar, film yang ia lihat, atau dari buku yang ia baca. Tapi semuanya adalah akumulasi dari segala peristiwa yang telah terjadi sebelumnya, dari pilihan serta keputusan yang ia buat, serta segala apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Jadi, jangan terlalu mudah melabeli seseorang, menjudge orang; sebelum benar-benar tahu dan mengenal orang tersebut. Lagian bisa aja sikap yang mereka tampilkan adalah palsu! Siapa yang tau kan? Pura-pura baik, pura-pura jahat, pura-pura nakal, pura-pura asik, pura-pura gaul. Bla bla bla!


~ sudut ruangan kamar, BSD
dua tujuh november dua ribu dua belas : hampir tengah malam

23 November 2012

Klise

kli·se /klisĂ©/ n 1 gambar negatif pd film potret; 2 Graf keping atau pelat berisi gambar yg agak menonjol
untuk dicetakkan dng cetak tinggi: penyerahan barang cetakan bergambar itu disertai juga dng -- nya;
3 ki gagasan (ungkapan) yg terlalu sering dipakai; 4 ki tiruan; hasil meniru;

Segala cerita dengan akhir bahagia itu bagi sebagian orang terdengar klise. Seperti dalam sebuah kalimat yang tak sengaja saya baca pada sebuah kartu, "Tidak ada pesta yang tak pernah usai."

Begitu juga hidup. Jika tidak ditinggalkan, ya akhirnya kita yang harus meninggalkan. Hanya dua itu saja pilihan akhirnya. Meski mereka tak memiliki jam, mereka tau kapan harus datang dan akhirnya menjemput, memberi sebuah rasa kehilangan.

Ketika mendapat pertanyaan pilihan:
'cerita bahagia dengan akhir yang menyedihkan' atau 'cerita sedih dengan akhir yang membahagiakan', jelas saya pilih yang pertama. Segala cerita dengan akhir bahagia itu terlalu klise.

20 November 2012

Berteman

Dulu papa pernah bilang,
"Temenan itu ngga perlu lah sampai deket-deket banget, ntar berat pas ditinggalin atau ninggalinnya, sekalinya disakitin juga pasti sakit banget. Yaah biasa aja, biar kamu juga bisa tetep bebas."
Klop.

Lagian emang ngejaga juga sih, biar orang ngga seenaknya dan jadi keterlaluan karena (ngerasa) udah deket!
Batas dan tembok itu harus tetap ada, tuan dan nona!

18 November 2012

Flash Fiction : Ketersekejapan

Alina

Sejak pertemuan pertama denganmu,
saya tahu pasti ada sebuah resiko yang harus saya tanggung
: perpisahan.


“Eh, kenalin ini temen gue!”

“Alina”
“Zardy”
Dia menggenggam tangan saya. Erat. Lalu tersenyum begitu hangat.
Tatapan matanya menyelusup begitu intim seolah menelanjangi saya.
Kamu tahu, tepat di hitungan ke tiga saya jatuh cinta kepadamu.
Wajah dan namamu seketika itu juga terekam kuat di memori kepala saya.


Zardy

“Alina”
"Zardy"
Matanya bagus. Tangannya halus. Senyumnya manis. Yaah, bodynya juga lumayan lah.
Tapi, ah gue terlalu malas berbasa basi sama orang baru!

"Eh sorry gue buru-buru nih, duluan ya!"

Satu tambahan hal lagi yang akan saya ingat. Punggungmu.

Alina

"Ok!"

"Bye"
"Bye"
Tepat di detik ke lima belas, saya tahu bagaimana rindu dan patah hati terbuat
: dari sebuah punggung dan langkah kaki yang berjalan semakin menjauh.

15 November 2012

Apa yang kamu cari dalam hidup ini?


Masih, pertanyaan-pertanyaan semacam ini selalu saja berdentang di kepala saya:
"Sebenarnya apa sih yang dicari dalam hidup?"
Malam kemarin saya mengobrol banyak dengan seorang sahabat lama, membicarakan hidup, membicarakan waktu, membicarakan kehidupan. Bermula dari pertanyaan, "Kamu gimana sekarang sama kerjaannya?", lalu mengalir deras berbagai cerita dan pertanyaan-pertanyaan absurd yang memang sebenernya tak harus dipertanyakan. Hingga akhirnya, pertanyaan itu mencuat lagi.

Dari dulu saya selalu merenungkannya dengan berbagai pikiran di kepala saya, mencari jawabannya, tapi tak pernah merasa puas. Banyak orang akan menjawab, yang mereka cari adalah kebahagiaan, ketenangan hidup, serta Ridha Allah SWT.

Lalu apa definisi dari kebahagiaan?
Punya harta yang melimpah, punya mobil dan rumah mewah, menikah segera dan dianugerahi keturunan, punya pekerjaan hebat di perusahaan besar dengan gaji dua digit? Apa kah semua itu yang banyak orang cari ketika usianya masih produktif?
Pernah suatu saat, ketika saya pulang dari kantor di pagi buta, mendapati diri melamun sendirian di kost, lalu bertanya: "Ngapain saya di sini? Harus ya mencari penghidupan sampai pindah ke kota orang, sendirian jauh dari orang tua? Pulang di pagi buta?"
Hmm, rasanya ada yang salah. Rasanya ngga perlu sampai begini.

Kedua orang tua saya masing-masing bekerja sudah hampir tiga puluh tahunan, lalu pernah saya tanya kepada mereka, "Mah, Pah, ngga bosen apa jadi pegawai sampai selama itu?"
Lalu mereka hanya tersenyum dan menjawab dengan enteng,
"Ya dinikmatin aja, kerja itu harus ikhlas biar ngga berat. Lagian ini demi teteh juga, kalo ngga gitu, mana bisa nyekolahin kalian jadi sarjana kayak sekarang, kalo bisa malah lebih." DEG!

Kebahagiaan itu relatif, tiap orang punya standar kebahagiaannya sendiri. Untuk mereka mungkin definisi kebahagiaan adalah, punya anak yang bisa membanggakan dan bikin tenang mereka. "Punya anak-anak kayak kalian aja udah kebahagiaan terbesar buat mama.", "Tau teteh sehat di sana aja, mamah udah tenang dan bersyukur."
Betapa bahagia itu sederhana.
Kuncinya cuma mensyukuri yang dimiliki, mensyukuri kehidupan yang diberikan saat ini. Kalo ngga kayak gitu ya ngga akan pernah puas, pasti terus mencari-cari sesuatu yang ngga ada, sesuatu yang belum dimiliki.

Kadang saya ingin menjadi layang-layang, terbang bebas dan tenang di udara.

Hal yang banyak dicari kedua adalah ketenangan hidup. Ketenangan macam apa?
Akhir-akhir ini banyak banget orang mengumbar kegalauannya, kegamangannya akan hidupnya. Yang belum selesai kuliah, galau gara-gara TA-nya; yang baru lulus kuliah, galau takut ngga dapetin kerjaan yang bagus; orang yang udah kerja, galau pengen nyari perusahaan lain yang menjanjikan gaji yang lebih besar; yang masih single, galau pengen buru-buru nikah; yang udah nikah, galau takut ngga bisa punya anak; yang udah punya anak, galau gimana ngebesarin dan nyekolahin anak di tengah kondisi biaya hidup yang semakin tinggi; yang punya banyak harta, takut hartanya tiba-tiba hilang atau dirampok orang jahat; yang ngga punya uang, takut ngga bisa makan dan ngga bisa beli apa-apa.

Terus aja galau, terus aja takut, terus aja cemas. Selalu dihantui oleh rasa ketakutan, terus kapan bisa tenangnya? Kapan bisa bahagia dan menikmati hidupnya?
Tiba-tiba sakit jantung, lalu mati gimana?
“Ingatlah, hanya dengan dzikir mengingat Allah lah hati akan tenteram.” (QS Ar Ra’d: 28).

Ketenangan itu memang hanya datang dari Allah. Mau nyari pelarian kemana pun kamu ngga akan pernah ngerasa benar-benar tenang. Dulu, saya sering banget lari dari masalah dengan kabur ke tempat-tempat sepi, mengasingkan diri, tapi yang didapat cuma ketenangan sesaat, setelah itu kecemasan-demi-kecemasan muncul lagi. Mengumbar kegamangan dan kegundahan sama orang lain juga ngga akan membuahkan apa-apa, seringnya malah jadi tambah galau. Jadi mending cerita sama Tuhan aja, minta ketenangan, minta dicariin jalan yang terbaik :)


Hal yang dicari ketiga adalah Ridha Allah SWT. Pasti.
Ridha itu artinya senang. Segala hal yang kita lakuin selama ini apakah disenangi sama Allah atau engga? Nah, kalo udah gini ujung-ujungnya harus kembali ke syariat agama. Segala yang diperintahkan-Nya, silakan dijalankan dengan sebaik-baiknya, tetapi hal-hal yang salah dan dilarang-Nya, sudah pasti harus dijauhi.

.. ah, daripada tulisan ini semakin panjang dan saya semakin sotoy, mari berusaha menjadi orang baik dulu biar Allah seneng, lalu akhirnya dikasih kebahagiaan dan ketenangan hidup.
Selamat tahun baru! Semoga selalu dalam keadaan baik dan terus menjadi pribadi yang semakin baik :)

Menjadi Bahagia


Bahagia itu tercipta dari remahan hal-hal sederhana:
keluarga, teman terdekat,
lantunan lagu favorit,
langit biru dengan matahari yang tidak terlalu terik,
rintik gerimis hujan, bau tanah basah,
secangkir cokelat panas,
jalanan yang agak lengang,
sprei baru yang masih wangi laundry,
menginjak rumput hijau di pagi hari,
senyuman dan tawa,
udara bersih yang masih bisa dihirup,
bau kertas buku baru,
percakapan panjang, keheningan malam,
mengingat Tuhan,
kehidupan saat ini.

Konsep Pernikahan dan Budaya

     Beberapa minggu yang lalu tiba-tiba dapet tawaran motret prosesi pernikahan sahabatnya temen di Bandung. Tanpa basa basi dan mikir panjang saya langsung mengiyakan. Alasan pertama, karena udah lama ngga motret, yah itung-itung sekalian hunting foto. Alasan kedua adalah karena katanya konsep pernikahannya ini tergolong unik, yaah agak langka aja dilakuin di Indonesia, lumayan kan buat referensi konsep nikah ntar. Haha :)

     Konsep pernikahan mereka itu round table. Tamu undangan dibatasi hanya sekitar lima puluh undangan, yang terdiri dari keluarga terdekat mempelai wanita dan pria. Dekorasi gedungnya juga minimalis, lebih nonjolin di dekorasi bucket bunga-nya. Di areal pelaminan cuma ada empat kursi sofa. Lalu di tengah gedung berjejer beberapa round-table yang masing-masing terdiri dari (kurang lebih) delapan kursi per meja.

     Pukul sebelas akad nikah dimulai. Sebelumnya sudah dibuka dengan beberapa sambutan dan doa bersama. Setelah selesai akad nikah, prosesi sungkem kepada kedua orang tua. Selesai itu pengantin dan masing-masing kedua orang tuanya berdiri di pelaminan untuk bersalaman dengan tamu undangan. Tamu undangan lalu makan dan kembali menduduki kursinya masing-masing. Rasanya tertib banget, ngga rusuh ngantri di tempat stand makanan. Selesai salaman, pengantin keliling-keliling ngobrol sama tamu undangan. Rasanya asik banget ngeliatnya, ngga perlu capek gonta-ganti konstum pernikahan, dan mereka ngga berasa jadi pajangan doang yang harus terus berdiri, nunjukin muka bahagia dengan terus senyum lebar, dan salaman sampe kaki pegel. Kalo yang ini pengantinnya malah jalan-jalan, ngobrol-ngobrol sama tamu undangannya, makan di tengah keluarganya bareng-bareng. Intinya, mereka ngga dipajang lama di pelaminan. Sekitar jam setengah dua acara beres. Semua tamu undangan dan pengantin bubar bareng-bareng.

     Coba bandingin sama tradisi nikah pada umumnya: akad nikah, ganti baju, prosesi adat yang terkadang begitu panjang, dipajang di pelaminan, ganti baju lagi, dipajang lagi di pelaminan, tamu undangan bubar baru bisa makan. Tapi yang namanya tradisi susah sih buat diubah. Ngasih undangan cuma lima puluh, dijamin banyak yang protes karena ngga diundang, trus akhirnya malah jadi gunjingan sana sini.

     Yaah, namanya juga Indonesia, persatuan dan rasa persaudaraannya terlalu kuat. Tetangga yang ngga pernah ketemu muka dan rekan-nya orang tua yang bahkan ngga tau namanya aja harus ada dalam list tamu undangan. Menikah yang sebenarnya mudah, dibuat menjadi super-duper kompleks karena perayaannya, gimana resepsinya. Esensi dari pernikahan itu sendiri malah hilang. Ah, budaya!

13 November 2012

Photo : Soundrenaline

Rekti, The SIGIT
Kembang api penutup acara.

Soundrenaline, Rhytem of Revival
BSD City, 3 November 2012

30 October 2012

Rasa

Nikmatin aja setiap rasa yang kita punya selagi ada,
mau itu rasa suka, jatuh cinta, kecewa, patah hati,
toh ntar juga semuanya pasti berakhir!

18 October 2012

09 October 2012

Bosen main-main di sosial media.
Mulai besok coba puasa ah, mundur dari beberapa akun.

Melia Ajani hanyalah akun facebook yang tak pernah lagi update.
meliajani adalah timeline twitter yang sebentar lagi beku, foursquare yang tak ada lagi new check-in, instagram yang tak lagi terurus.

Posting di sini udah lebih dari cukup. Saya ngga akan pernah ninggalin blog ini! Tapi mulai besok mau selingkuh nulis di jurnal harian lagi! :D
Kembali menggerakan tangan, agar terbiasa lagi menari bersama pena di atas kertas.

Selamat malam!

Bersepeda!

Hari minggu kemarin, entah kerasukan niat darimana saya bersepeda dari rumah ke daerah Dago. Berangkat sendirian dari rumah jam setengah tujuh, tanpa tujuan pasti, tanpa partner yang pasti. Awalnya cuma mau ke Car Free Day - Buah Batu, janjian sama beberapa temen kampus. Tapi pas udah nyampe sana, temen-temen susah dihubungin dan kebanyakan masih dikosan atau di rumahnya. Lama-lama bosen sendirian nunggu, trus akhirnya memutuskan untuk lanjut ke Car Free Day - Dago, dan berpikir untuk ketemu Dita dan Harwi di depan BIP aja, karena yang satu baru bangun, yang satunya baru mau mandi dan siap-siap.


Beberapa playlist lagu di handphone ikut menemani perjalanan. Ada perasaan bebas, tenang, lepas, dan cuma kita yang bisa nikmatin semua itu. PUAS!! Pikiran ngalor-ngidul kemana-mana, kena hembusan angin, kena terpaan panas matahari, kena bau dan asap knalpot kendaraan. Semuanya adalah kenikmatan yang tak bisa dibandingkan apa-apa. Perbincangan bersama alter-ego di dalam kepala. Ngga perlu ngikutin ritmenya orang lain, pengen gowes cepet monggo, pengen lambat banget silakan. Dan lain-lain, dan lain-lain. Ah :')


Oh ya, ada satu lagu yang saya terus putar berulang-ulang saat perjalanan bersepeda pulang ke rumah, yaitu The Starting Line - Are You Alone. Meskipun lagunya rada kenceng, tapi kok berasa liriknya nyeeess gitu.
We're all just everyday people
And there's a part of you connected with everyone else
And there's me and there's you
Oh no

This plot can get so confusing
Oh, if you only knew
If I could I'll take you with me but I'm here and you're there
Oh no

Are you alone? Oh no
Are you alone?

Minggu ini sepedahan lagi deh, mumpung masih di Bandung :D

05 October 2012

Random : Antara Klakson dan Mulut

Di sebuah perjalanan, saya bonceng temen saya naik motor.
Dia : "Mel, aku baru sadar. Beberapa kali dibonceng, kamu ngga pernah nglaksonin orang lain ya!"
Saya cuma senyum. Saya malas ngalksonin orang. Berisik.
Soalnya saya juga suka kesel kalo diklaksonin orang gara-gara hal yang ngga jelas dan hanya atas dasar ketidaksabaran aja. Lampu baru ijo satu detik aja udah main klakson!

Makanya, kadang suka lucu kalo ngeliat orang naik motor terus jempolnya selalu standby di pencetan klakson :))
Saya lebih memilih standby buat megang rem aja.

Ya, sama lah kayak mulut, lebih baik dalam posisi siap-siap ngerem aja, daripada terus ngoceh dan nyerang dengan kata-kata ngga karuan.

27 September 2012

M vs. Z : Kembali

[Z]
Rumah ini rasanya sepi, sudah berbulan-bulan kamu tak datang. Rindu terkadang, tapi cukup senang jua. Kudengar kabar dari kerabat, kamu baru saja pulang dari tamasya. Tak anyal, tamasya mu sudah berbeda, bukan lagi ke kota tua atau Yogyakarta, melainkan sudah beda Negara. Luar biasa dirimu sekarang. Cukup senang bukan aku mendengarnya? Semenjak kamu menikah rasanya hidupmu begitu mudah, ah iri rasa hati ini. Begitu tenang kamu jalani kehidupanmu. Sayang tak ada aku disitu.
“Assalamulaikum”, aku hapal betul suara itu, pasti kamu.
“Aku kehilangan semuanya, aku begitu bodoh…” terisak suaramu bercerita.
Aku terdiam mendengarkan. Tawa membawamu pergi, dan tangis mengembalikanmu padaku.

#

[M]
Kamu mematung saat aku datang kembali ke rumah ini. Tak tahu diri rasanya jika aku kembali saat diri ini kesusahan, sementara ketika bahagia aku berkelana sesukaku. Meninggalkan kamu.
“Sudahlah, aku masih tetap menjadi rumahmu!” kamu berkata, dengan air muka pilu dan kaget setengah mati.
Namun tetap, semua yang kamu ucapkan rasanya selalu tulus dari hatimu.
“Aku rindu dahulu! Saat kita bertamasya ke kota tua, mengelilingi Yogyakarta dengan motor bebek tua yang senang sekali mogok!” aku bersuara pelan.
Lalu kamu terdiam. Beberapa detik seperti kehilangan pijakan. Matamu seolah menerawang entah kemana.
Kamu memang selama ini yang kusebut rumah. Kemana pun aku pergi, akhirnya aku akan selalu kembali ke rumah. Kamu.

19 September 2012

Random!

Berkali-kali, kalau diajak main atau ketemuan sama temen:

"Ayo maen, ketemuan."
"Yuk!"
"Kemana?"
"Terserah, asal bukan mall, please!"

Sudah jenuh pergi ke mall. Udah males pergi ke pusat keramaian. Menghabiskan rupiah. Saya mencintai ketenangan, saya lebih memilih sepi.

Saya lebih suka pergi ke taman, berlama-lama di toko buku, ke menara masjid agung, berdiam dan mengobrol di cafe yang tidak terlalu ramai, ke warung-warung di ketinggian, berkeliling kota dengan kendaraan umum, momotoran keliling Bandung, hunting foto, menghirup udara segar saat car free day, berjalan kaki menyusuri jalanan, pergi ke gunung, atau kabur ke pantai sesekali. Sudah.

Jangan tanyain saya film yang paling update di bioskop. Jangan tanya saya tempat wisata kuliner dari A-Z. Jangan tanya saya mall A isinya ada apa aja. Jangan tanya branded suatu produk dan dimana aja store nya. Jangan tanya lagu baru yang lagi in. Kenapa? Hmm, Google lebih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Hahaaaa

13 September 2012

Convo : Socmed

...

M: Meh! canggih bener buat ngepoin orang. apa untungnya sih, tapi?
Y: Lah, orang-orang update di socmed itu buat dikepoin kan, "dunia harus tahu"-thing buat sesuatu yang gak penting-penting amat. berarti orang-orang tuh pengen dikepoin, maka bersyukurlah ada kepoers
M: hahaaa, dan banyak orang juga yg kepancing "pengen tau". dunia itu lebih damai sebelum socmed menyerang
Y: iyah pisan
M: sebelum smartphone merajai
Y: iyah lagi
M: ahhhh.. dulu kalo bosen, nyamper tetangga. maen, ngobrol, anyang-anyangan..
Y: ^ kampung pisan. wkakaka, urang ge kitu dulu. haha
M: anjroooot, kampung oge tapi menyenangkan cuuuy
Y: yang paling dibenci dari itu semua. smartphone feat socmed adalah pas ngumpul-ngumpul ada 8 orang dalam 1 meja, 6 diantaranya nunduk ke smartphone sambil ngakak-ngakak. udah we gak usah ngumpul
M: hahaaa, eta pisan!
Y: conference we di YM. sarua keneh
M: semua emosi diganti sama emoticon
Y: yoi, urang ngetik :)), padahal gak ngakak. ketipu maneh! haha
M: urang hahahahahahaha, padahal wajah datar. ketipu maneh!
Y: (tapi sekarang mah lagi ketawa) soalna ieu lucu pisan. haha! jujur.

10 September 2012

[100 kata] : Sekerat Roti dan Kopi Panas

Sehebat-hebatnya kamu menipu diri, hati tetap tak bisa dibohongi.


Jam sembilan pagi. Jadwalmu datang ke cafe sekaligus taman baca ini. Memilah-milah buku yang ingin kamu cicipi. Lalu kamu duduk di bangku dekat jendela kaca, membuka laptop lalu memasang headset di kedua telingamu yang terkadang tertutup rambut ikalmu yang mulai berantakan.

Aku mengamatimu dari seberang bangku yang langsung menghadapmu, dengan beberapa buku. Seperti biasa. Beberapa lama setelah itu, seorang wanita datang memasuki cafe dan langsung duduk di sebelahmu. Mengelayut manja di lengan tanganmu.

Sekerat roti dan kopi panas yang kupesan –dan juga selalu kamu pesan kini dingin dihadapanku. Menyaksikan kemesraan kalian.

Photograph : "Pulang ke Sebuah Tempat yang Kusebut Rumah"








Lokasi :
Bandung Car Free Day - Buah Batu
Menara Masjid Agung Bandung
Alun-alun Kota Bandung

08 September 2012

4 cerita : Berbagi duduk bersama asing

Angkutan umum adalah tempat yang paling banyak menyimpan cerita. Berbagai macam orang. Asing. Berbagi tempat dan duduk saling bersisian dan atau berhadapan.

1
: Jarak

"Halo."
"Ya, kenapa?"
"Iya, nomornya ngga aktif."
"Tadi ke kantor polisi, nemenin sodara ada masalah."
"Kan kamu tau tempat saya di mana biasanya, kenapa ngga inisiatif ke sana aja sih!"
"Trus kamu sekarang di mana?"
"Ya kalo udah di Jakarta, kenapa nelpon saya?"
"Kamu kan tau, saya di Bandung. Sekarang kamu di Jakarta. Udah ngga ada artinya lagi, ngapain masih nanyain trus nelpon?"

Telepon genggam ditutup. Pembicaraan usai. Antara sopir angkot dan (mungkin) seorang wanita.

Memang, bertemu muka masih menjadi obat paling mujarab untuk segala hal yang ditimbulkan akibat jarak.

2
: Bersyukurlah!

Sepi penumpang.
Tiga anak kecil usia 9-12 tahunan dengan membawa keranjang menaiki angkot yang sama dengan saya, lagi.
Pertama saya duduk di sebelah sopir. Kali ini kami duduk berhadapan.

Dek, jualan apa?
"Cireng, Teh. Mau beli, Teh?"
Berapa?
"Sebungkusnya 4000."
Masih pada sekolah ngga ini?
"Iya, masih. Yang berdua ini SD, saya SMP." yang paling besar menunjuk dua yang lain.
Pada pulang kemana emang, kok malem gini? --jam masih menunjuk angka 20.49
"Ke Ciparay, Teh. Iya jualannya sampai jam 2 malem."
Lho, jadi ini masih mau lanjut jualan?
"Iya di buah batu, kalo sore sampai jam segini di BIP biasanya."
Orang tua dimana emangnya, jualan juga?
"Di rumah aja, ngurusin adik yang paling kecil."

Deg. Rasanya perih. Sesak.
Kurang ajarnya saya jika masih lupa bersyukur.

3
: Orang Asing

Seorang wanita menaiki angkot. Di belakangnya seorang lelaki mengekori. Mereka duduk berhadapan.

"Mbak, jam berapa ya?" seorang lelaki yang duduk tak jauh di samping saya bertanya kepada seorang wanita yang duduk di depannya.
"Jam 9." wanita menjawab datar.
Diam beberapa menit.
"Mbak, namanya siapa?"
Wanita hanya diam, menatap risih, dan pura-pura mengacuhkannya.
"Mbak, mbak.." lelaki masih pantang menyerah.
Wanita semakin memalingkan muka. Lelaki memandangi si wanita dengan tatapan berharap. Ada kekecewaan di sana.

Ah, bukankah semua orang dalam hidup kita pada mulanya adalah orang asing yang tidak kita kenali?

4
: Pemula

Angkot penuh sesak.
Di samping saya seorang lelaki. Duduk dengan tas ransel di pahanya. Di depannya seorang wanita, dengan tas yang disimpan dipangkuannya.
Lelaki itu menyimpan tangan kanannya di bawah tas. Duduknya terus maju, mendekati wanita didepannya.
Tangan lelaki mulai beraksi. Dia mencoba membuka resleting tas si wanita. Saya terus mengamati. Sambil memberi kode kepada si wanita.
Resleting tas mulai bergeser beberapa cm. Wanita sadar. Lalu memeluk erat tasnya merapat ke dadanya. Si lelaki melihat saya. Saya pandangi balik.
"Kiri!"
Si lelaki turun dari angkot.

Jika skill merasa belum cukup, banyak-banyaklah mencoba!

.. dan masih banyak cerita lainnya. Kapan-kapan iseng keliling naik angkot ah ;D

06 September 2012

#FF2in1 : Mantan Kekasih

"Resha, maafin aku. Aku adalah lelaki paling bodoh saat itu. Udah ngecewain kamu, udah menyia-nyiakan kamu. Maaf. Boleh aku memperbaikinya?"

Aku hanya diam mematung dihadapannya. Rasanya lebih menarik menatap lantai merah yang sedang kita pijaki dibanding melihat wajahmu lagi. Sungguh. Kamu, dengan begitu mudahnya kembali ke hadapanku setelah beberapa purnama tak menampakkan hadirmu.

Lima tahun yang lalu kita bertemu. Aku merasa menemukan sebuah tujuan. Sebuah rumah. Dan itu kamu. Tapi apa yang aku dapati? Pengkhianatan dan rasa sakit.

"Resha, please jangan diemin aku kayak gini!"

"Dira, semua udah selesai. Ngga ada lagi yang harus diperbaiki. Ibarat gelas yang udah pecah, kita adalah pecahan-pecahan kacanya. Ngga mungkin lagi bisa disatuin dengan sempurna. Aku ngga mau pecahan itu saling melukai kita berdua, terutama aku. Aku ngga mau sakit lagi Dir!"

"Aku janji pecahan itu tak akan menyakiti kamu, kita mulai lagi dari awal. Please Res, kasih aku kesempatan lagi!" dia memohon-mohon mengharap iba. Tangannya menggenggam tanganku, tetapi segera kutepis.

"Dira, aku udah ngasih kamu kesempatan waktu itu. Tapi kamu ngga mempergunakannya dengan baik. Maaf! Bukannya kamu udah punya wanita yang lebih baik dari aku? Kenapa kembali lagi datengin aku. Hidup aku udah tenang sekarang, jangan kamu ganggu lagi."

Cairan dingin tiba-tiba menetes membasahi pipiku. Aku membalikkan badan darimu secepat kilat. Lalu aku melangkah pergi meninggalkanmu, sendirian. Meninggalkan sebuah rumah yang sempat aku tempati. Dulu.

#FF2in1 : Hai, Selamat Tinggal!


"Hai."
Semua kata-katamu rasanya masih mendengung dengan jelas di pikiranku. Serupa gaung yang terus mengulang-ulang suaramu.

Perjalanan Bandung - Jakarta kali ini rasanya begitu panjang, sekaligus singkat. Empat jam berlalu bersama kamu. Kita saling bertukar kata-kata, malah sempat bertukar mimpi. Kamu tahu rasanya? Jantungku serasa sudah tidak berada di posisinya lagi. Mendadak banyak kupu-kupu menari di dalam perut. Menggelitik. Entah perasaan apa. Yang jelas, saat itu aku begitu menikmatinya.
Sepanjang perjalanan, hujan terus mengguyur jalanan. Ciptakan nyanyian yang menenangkan.

"Kamu tahu, segala sesuatunya tak pernah ada yang terjadi tanpa alasan!" ucapnya saat dia hampir tiba di tujuannya.
"Ya, tentu saja.."
"Termasuk perkenalan kita ini!"

"Kebon Jeruk. Kebon Jeruk!" sang Kernet mulai berteriak-teriak mengingatkan penumpang.

"Saya duluan ya. Selamat tinggal!" dia lalu berdiri dan tersenyum hangat.

Gerimis masih turun berderai malu-malu di pelupuk senja kota Jakarta. Di antara desakan penumpang bus yang hendak turun menapaki aspal jalan. Aku duduk mematung, ketika kamu mengucapkan selamat tinggal. Rasanya pertemuan ini terlalu singkat. Kita bahkan belum bertukar nama.

Dari balik jendela aku terus mengamatimu. Sesosok wanita datang menyambutmu hangat. Ya, ini memang saat yang paling tepat untuk berpisah. Perhentianku bukan di sini. Bukan bersama kamu.

Suara yang Hilang

Langkahku terhenti di sebuah tempat yang begitu sunyi, di sebuah kota metropolitan yang statis. Seperti mati, tanpa aktivitas yang berarti. Desiran angin terdengar begitu nyaring di sini. Beberapa orang berlalu-lalang tanpa suara. Jejak langkah mereka tak sedikit pun meninggalkan bunyi.

Mereka, orang-orang di kota ini tak ada yang bisa bicara. Mereka semua telah kehilangan kata. Bibir mereka benar-benar tertutup rapat. Semua mulut dijahit dengan kawat tipis yang sudah berkarat dan mulai menghitam.

Di sepanjang jalan yang kulewati berderet puluhan bangunan aneh. Bangunan itu seperti sebuah rumah. Hanya saja tidak memiliki pintu dan jendela, melainkan sebuah jeruji besi –yang lebih mirip seperti penjara. Banyak orang yang menghuni tempat itu. Rata-rata merupakan satu keluarga utuh; seorang ayah, ibu, dan beberapa anak. Mereka terpenjara ruang dan kata.

Keadaan sekarang sangatlah kontradiktif dengan saat terakhir aku ke kota ini. Dua tahun yang lalu, kota ini begitu dinamis. Orang-orang sangat berapi-api dan gencar untuk melakukan perubahan.
Saat itu juga, disinyalir diantara mereka ada serigala yang berwujud manusia. Serigala-serigala itu memangsa harta, kekayaan, jabatan, kehormatan, serta kekuasaan mereka. Aku masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang aku lihat saat itu. Semua dari mereka sama-sama memerangi serigala-serigala itu: berperang, melakukan perlawanan, menuntut kembali hak milik mereka. Namun, serigala-serigala itu semakin buas dan ganas. Tak hanya harta atau kekuasaan, mereka juga tak segan untuk melahap nyawa.

***
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” sebuah bisikan suara yang begitu pelan tiba-tiba saja menyadarkan lamunanku.
Seorang lelaki ringkuh paruh baya berdiri di hadapanku. Mulutnya robek dan mengerikan. Aku yakin dia membuka jahitan kawat di mulutnya secara paksa.
“Aku hanya singgah di kota ini.”
“Stttt.. jangan bersuara keras!” lelaki itu lagi-lagi berbisik, nyaris tanpa suara.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” kali ini aku ikut berbisik.
Tanpa kata, dia lantas menarik lenganku dan membawa aku ke dekat pohon besar yang ada di seberang jalan.
“Di kota ini tidak diperbolehkan ada seorang pun yang berbicara. Kebanyakan dari orang-orang di sini telah lupa bagaimana caranya berbicara. Semua orang diancam untuk tidak membuka jahitan mulutnya. Namun, aku sudah tak tahan. Aku ingin membunuh serigala-serigala itu. Mungkin kamu bisa membantuku.”
“Apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”
“Tolong carikan bantuan di kotamu.”
“Aku tidak mungkin bisa mengandalkan orang-orang di kotaku. Sudah sejak lama mereka semua menutup mata, telinga, dan hatinya dari berbagai hal. Mereka dapat melihat dengan normal, tetapi pura-pura buta. Mereka mendengar dengan normal, tetapi pura-pura tuli. Mereka seolah tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Tak ada yang peduli satu sama lain. Semuanya menjadi makhluk individualis. Menjadi parasit dalam koloninya sendiri.”
Lelaki tua itu lantas terdiam.
“Secara tidak sadar, kita mungkin sudah tiba di neraka dunia!” dia lantas bersuara lantang.

DORRR!
Sebuah tembakan bersarang tepat di kepala lelaki tua itu. Darah segar mengalir dari kepalanya. Tak lama kemudian, sesosok serigala berseragam rapi datang menampakan wujudnya. Aku benar-benar melihat serigala itu. Mereka memang nyata adanya. Tidak hanya satu, dua, atau tiga. Ada sekitar sepuluh serigala mengelilingiku.
Kedua tangan dan kakiku dicengkram dengan kuat oleh beberapa dari mereka. Aku berontak. Namun, tak cukup untuk melepaskan diri dari mereka. Salah satu dari mereka lantas menjahit mulutku dengan kawat panas yang masih terbakar api.
“Jangan pernah lagi berani bicara jika kamu tak ingin terbunuh dengan kilat.”

***

01 September 2012

semacam #kode

Maaf, lagi-lagi saya gagal membaca pertanda.
Saya emang ngga pernah bisa mengeja kode.
Radar kepekaan saya terhadap hal-hal seperti itu
memang dibawah standar minimum.
Makanya kalo ada apa-apa ngomong gamblang.
Saya bukan cenayang, Sayang :)

31 August 2012

Eh, basah...

Di sebuah kelas, saat olimpiade biologi jaman SD:
"Lho ini di mejanya ada air tumpah ya, kertas jawabannya basah gini."

Di saat halal bihalal SMP, nyalamin semua guru yang berjejer rapi di lapangan:
"Kenapa, kok tangannya basah sama dingin, kamu lagi sakit ya?"

Di GSG sekolah, setiap kali latihan pencak silat:
Pemanasan. Telanjang kaki. Beberapa cap telapak kaki bermunculan di lantai semen. Debu-debu mulai menempel di kaki. Kurang dari semenit. Hingga bemenit-menit berikutnya.

Di banyak pagi, saat SMA:
"Gila, tangan kamu udah kayak mayat, dingin banget!"
"Lemah jantung ya?"
"Ih, abis cuci tangan ya!"
Lalu dia mengelap tangannya.

Di kantor kecamatan, saat bikin E-KTP:
"Empat jari tangan kanan."
"Coba lagi.."
"Tahan.."
"Aduh, merah semua! Coba lagi, agak diteken."

Belum yang tangan kiri, belum jempol kanan, belum jempol kiri. Alhasil saat bikin E-KTP saya yang paling lama. Karena error terus pas pembacaan sidik jari.

"Coba tempelin lagi jari tengah tangan kirinya!"
Lap alat sensor sidik jari. Lap tangan. Tempelin jari. Gagal. Lap alat sensor sidik jari. Lap tangan. Tempelin jari. Gagal. Begitu seterusnya sampai berhasil.

"Enak ya Teh, ngga usah olahraga udah keringetan terus!"

Di sebuah ruang periksa dokter ahli penyakit dalam:
"Coba di test lab dulu aja ya, ke bagian nuklir. Takutnya ada tiroid. Jantungnya sih normal."

Test lab. Ambil sample darah. Hasil lab keluar.

"Kalau diliat dari hasil labnya, ini ngga ada tiroid, ngga ada masalah apa-apa. Emang kelenjar keringetnya aja gede. Kalo masih penasaan coba ke dokter spesialis kulit. Saya juga ngga bisa ngasih obat apa-apa."

Di sebuah ruang periksa dokter spesialis kulit:
"Iya, ini hyperhidrosis. Dikasih bedak tabur aja ya.."

Dikasih resep: bedak tabur. Dipake beberapa kali aja, karena malah jadi lengket karena belum apa-apa udah keringetan :))

Di setiap tempat, di beberapa waktu tak beraturan:
Tiba-tiba basah. Di kedua telapak tangan. Di kedua telapak kaki. Kadang pas lagi bengong tiba-tiba basah. Lagi mau tidur. Lagi tenang nonton tv. Lagi kedinginan. Lagi kepanasan. Di ruangan ber-AC. Lagi naik motor. Lagi sidang TA. Lagi ngobrol sama orang. Lagi ketawa-tawa. Bener-bener random. Ngga tau pemicunya apa. Ngga tau kapan datang dan perginya. Tiba-tiba basah, trus mendadak kering lagi. Beneran random.

Ada yang mengalami hal yang sama?

30 August 2012

mencari ..

Dulu berusaha keras mencari-cari kesibukan,
sekarang malah mencari kelenggangan waktu.
Ya, kita memang hobi mencari-cari apa yang tidak kita dimiliki.

23 August 2012

Cita-cita

Seseorang pernah berkata, "Jika apa yang kita dapat sekarang adalah cita-cita banyak orang, kenapa harus lari?"

Namun, jika itu bukan cita-cita kita, dan tidak lagi ada alasan untuk tetap tinggal, mengapa harus dipertahankan?

.. tapi ya, saat ini saya hanya bisa jalan di tempat (sementara).

07 August 2012

SSB - a day to remember

Buka bersama : Mencari neneng : Main uno : Curhat semaleman suntuk sampai pingsan
Senyum dan tawa lepas : Teriak bebas : Menggalau bersama
Cokelat panas : Nasi Goreng : Sahur bareng
Senang - Senang Bahagia : Yaudah sih yaa..
Dita - Lies - Ridho - Gerry - Mayco - Andre - Adit - Hisman - Masrura

Terimakasih atas seharian penuh yang begitu berharga :)






Moko, Warung Daweung, Cimenyan, Bandung
28 - 29 Juli 2012

Convo di pagi hari : Jarak

Q : "Mel, ketika kamu udah bener-bener capek, dan emang cuma pengen istirahat, apa yang kamu lakuin?
Ketika kamu ngerasa mati suri tapi kamu ngga tau harus berbuat apa, apa yang kamu lakuin?"

M : Saat itu aku sadar betul, ketika aku ngerasa kayak gitu aku pasti lagi berjarak dengan Tuhan, maka aku akan mempersempit jaraknya, dengan berlari mendekat.

19 July 2012

Kata mereka : tentang saya.

Seorang yang aku tau begitu tenang. Yang lebih memilih diam dan menjadi penikmat. Selalu setia mendengar hingga sang lawan bicara pada akhirnya lega. Selalu menyaring lontaran dari bibirmu, mungkin sejak di kerongkongan. Aku selalu ingat senyummu, yang menenangkan, dan wajahmu teduh. Sangat teduh ketika aku memandangmu.

Boleh tidak aku bilang kalau kamu itu selalu cari aman? Entah ini hal positif atau negatif, namun terkadang sikap cari aman-mu ini membantu kamu untuk tidak “bermasalah”. Dan aku tau, kamu punya duniamu sendiri tanpa pintu atau jendela bahkan celah bagi orang lain untuk sekedar mengintip. Hanya kamu sendiri disana, seorang diri.

Satu-satunya orang yang mengerti makna berhenti, koma, jeda, spasi, atau apalah itu , ketika sudah jenuh, lelah. Bagiku ketika kita memaknai hal itu bersama, aku menaruh harap padamu, kita bisa melakukan pelarian bersama, menyendiri berdua. Kutunggu kamu di puncak guha.

Ia-Mel.

Melia "




Ah, kamu berhasil membaca saya!
Semoga bisa ke Puncak Guha secepatnya :)

17 July 2012

Sebuah Pelarian : Caringin Tilu dan beberapa tempat lain

"Mau kemana nih jadinya? Cartil?"

"Ayo, terserah!"

Saya dan teman sejak SMA saya, Dinar, akhirnya memutuskan untuk pergi ke Caringin Tilu --yang lebih dikenal dengan Cartil, di daerah padasuka atas. Tak ada yang pernah ke sana. Tak tahu di mana letak persisnya. Tak tahu bagaimana medan untuk menuju kesana. Yang saya tahu hanya: dari Saung Angklung Mang Udjo terus ke atas lagi, sudah. Setelah beberapa lama perjalanan, kami menemukan sebuah pencerahan: plang tanda panah bertuliskan "Caringin Tilu" di jalan Padasuka. Oke, itu artinya kami berada di jalan yang benar.

Lalu saya dengan pedenya terus memacu gas motor kesayangan ke arah atas padasuka. Beberapa menit setelah Saung Mang Udjo, jalanan semakin menanjak, terus naik dan mulai menyempit, hanya cukup untuk satu mobil. Belasan menit setelah itu, kami sudah memasuki Desa Cimenyan. Dan ya, seperti yang saya duga, Cartil ini memang masih sedaerah sama Moko, warung Daweung. Medannya hampir sama, yang berbeda adalah jalan menuju cartil ini adalah jalan aspal yang cukup bagus, jadi saya tak khawatir dengan medan yang ada, sedangkan jalan menuju Moko jeleknya luar biasa, banyak lubang dimana-mana, dan sebagiannya lagi adalah jalan tanpa aspal, hanya batu-batu dan kerikil. Lalu di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah tanjakan curam, si motor tak sanggup untuk mendaki walaupun sudah saya gas sampai maksimal. Dengan terpaksa teman saya pun harus mau berjalan kaki beberapa meter. Namun, tak lama kemudian, kami menemukan deretan saung-saung sederhana di sepanjang jalan, dengan view menghadap dataran kota Bandung. Ya, kami akhirnya tiba di Cartil. Yay! Saungnya hampir sama seperti saung-saung Jagung Bakar di daerah Cikole Lembang atau di daerah Punclut, namun jenis makanan yang dijual lebih sedikit. Namun, lupakanlah tentang saung, lihat semua pemandangan ini:

view Bandung dari Caringin Tilu
perjalanan dari dan menuju Cartil dari arah dago Resort
'p e l a r i a n'

Sebagaimana sebuah reuni, saya dan Dinar bercerita panjang lebar, tentang pekerjaan, tentang kehidupan kami, tentang ini, tentang itu, tentang rencana setelah ini, dan tentang betapa baiknya Tuhan.
Kegilaan saya dan Dinar x)
Bagi saya, semua ini adalah sebuah pelarian, sebuah spasi, sebuah jeda. Tadinya pelarian semacam ini saya jadikan sebagai kegiatan 'hunting foto', 'hunting tempat baru', atau sekedar refreshing; tapi setelahnya saya baru menyadari bahwa semuanya lebih daripada sekedar itu semua. Semua ini merupakan sebuah pelarian, sebuah perhentian sejenak, sebuah ruang tunggu, sebuah kebebasan, sebuah pencarian, sebuah penemuan, apa pun lah. Hmm, seolah-olah saya bisa menikmati waktu tanpa batas, tanpa beban, dan tak perlu lagi memikirkan apa yang telah atau akan terjadi pada saya setelah ini. Tak memikirkan apa-apa, hanya menikmati dan mensyukuri apa yang ada sekarang dan apa yang ada di depan mata. Abstrak, tapi seperti itulah yang saya sebut jeda. Saya bisa menjadi dan merasakan diri saya sepenuhnya, benar-benar tak mau ambil peduli akan pikiran-pikiran orang lain.

Dari Caringin tilu, lalu kami makan ke Pizza Hut, lalu ke Masjid Istiqomah, mampir ke Toko Buku, dan lalu berakhir dengan hunting foto di jembatan Jl. Merdeka (BIP); mengabadikan Bandung di waktu malam.
Bandung di waktu malam.
Ya begitulah, semuanya tanpa perencanaan, itulah saya. Memang cocok jika akhirnya teman saya, Dinar, berkata hari minggu kemarin adalah 'jalan-jalan setelan random' ala saya. Sampai saat ini saya selalu berpedoman, "Jika ingin pergi, pergilah! Ikuti saja kemana kaki melangkah" :D

13 July 2012

Juli

: Dira Adrian

Hei, ingatkah kamu? Ini sudah bulan ketujuh, akhir Juli yang selalu kita –atau mungkin hanya aku— nantikan. Juga bulan di mana kamu mengulang hari kelahiranmu. Kamu bilang Sabtu siang pada minggu kedua di stasiun Bandung. Dan sekarang aku di sini untuk memenuhinya, penuhi janji yang kita buat setahun lalu.

Hujan masih saja merintik di bulan Juli, dan malah kian menjadi, bukannya bergegas meretas kemarau. Selepas tiba di stasiun, aku berlari menuju sebuah bangku kosong di tempat tunggu. Yang kucari hanya sosokmu. Sebuah wajah yang sudah sangat tidak asing, yang terekam kuat di dalam memori otakku. Kamu. Ya, hanya kamu. Entah mengapa, jantungku rasanya berdebar beberapa kali lebih kencang menanti kamu.

Lima belas menit berlalu, kamu tak datang. Tiga puluh menit menjalar, kamu masih tak juga menunjukkan rambut ikalmu. Satu jam. Dua jam. Tiga jam.. Berjam-jam berlalu tanpa ada sosokmu. Pesan singkat, semua panggilan tak ada yang kamu gubris. Aku sudah tak tahan lagi. Rasanya semua rasa berhamburan sudah. Awalnya aku sangat senang, kamu harusnya tahu bagaimana aku begitu menantikan hari ini datang dan akhirnya bertemu kamu lagi. Tapi kekecewaan mulai menyeruak dari dalam diri. Kesal. Sedih. Marah. Namun, tetap masih berharap. Berharap kamu menampakkan diri di hadapanku..

*

: Arisha Aryani

Saya masih mengingat dengan jelas, hari ini harusnya saya pergi. Pergi ke kotamu, bertemu kamu di sana. Sejak terakhir kali kita bertemu, saya begitu menantikan hari ini datang dengan terburu-buru. Rasanya dulu saya ingin mempercepat hari, dan langsung lari ke tanggal ini.

Saat terakhir kali kita bertatapan muka dan membuat janji untuk saling menemui di tanggal ini, saya tahu bagaimana rindu itu terbuat; saya hanya butuh campuran antara selangkah jarak dan sedetik mengalihkan pandangan dari kamu --di saat itulah saya merasakan arti merindu.

Tiket kereta menuju Bandung sudah saya siapkan dari jauh-jauh hari. Namun, sekarang tiket itu sudah tak berguna lagi. Kereta api yang seharusnya saya tumpangi sejak delapan jam yang lalu, kini sudah melaju tanpa bayangan. Dan kini saya hanya melamun di atas atap genteng rumah. Membakar beberapa puntung rokok, sambil tak henti-hentinya memikirkan kamu di sana. Beberapa pesan singkat berdatangan dari kamu. Dua kali panggilan tidak saya angkat. Saya hanya tak mau semua ini menjadi semakin sulit.

"Dira, Juli udah nungguin daritadi tuh di bawah. Buruan, katanya mau cari souvenir buat nikahan!", sebuah suara samar-samar terdengar ditelinga saya. Ah, maafkan saya Arisha..

12 July 2012

ke.be.ba.san

"Kebebasan itu lucu.
Katanya bebas berteman dengan siapa saja,

asal orang tua suka."

"Kebebasan itu teori.
Katanya jadi laki-laki itu jangan pernah takut gagal,
tapi juga jangan bodoh untuk ambil resiko.
Jadi mendingan kerja dulu, cari pengalaman."

"Kebebasan itu fantasi.
Katanya urusan jodoh sepenuhnya ada di tangan,
asalkan dari keluarga terpandang, cantik, .."

"Kebebasan itu ilusi.
Katanya urusan jodoh sepenuh ada ditanganku,
asalkan sesuku, kalau bisa kaya.."

"Kebebasan itu aneh.
Katanya aku bebas berekspresi,
tapi selama rok masih di bawah lutut."

"Kebebasan itu palsu.
Katanya hidup ini singkat, mumpung masih muda nikmati sepuasnya,
asal jangan lewat dari jam 10 malam."

-- TVC penyedia layanan selular. 3.

11 July 2012

Dear Friends,

Can you describe me, mel? The positive things that i've been had??


: untuk kamu yang ingin disamarkan namanya.


Jika harus dideskripsikan dengan lima kata, saya memilih kata-kata ini:
ceria, enerjik, peduli, spontan, dan moody

Keceriaan, itu yang selalu menjalar di dalam dirimu.
Semangat luar biasa, rasanya ingin saya curi dari kamu.
Pencerita sekaligus pendengar yang baik,
kamu begitu tahu bagaimana cara menggunakan mulut dan telingamu.
Spontan, frontal, vokal, entahlah kata apa yang tepat untuk mewakili itu,
terkadang ceplas-ceplos, tapi ya memang begitu adanya.
Namun, dalam ketenangan yang kamu punya, ada distorsi yang menggema.
Dalam kekuatanmu yang luar biasa, ada kegoyahan yang berkecamuk di dalam sana.
Tapi lupakanlah, kamu lebih dari sekedar semua yang saya jabarkan!

Saya teringat ketika kita sedang bosan-bosannya bercumbu dengan TA -terlebih saya,
kita berkelana berkeliling Bandung, dan saat itu saya bolos kuliah.
Hingga hujan turun pun, langkah kita tak terhenti.
Mencari objek kesenangan, mencari pelarian, hanya ingin mendapatkan kebebasan. Sejenak.
Di situ kamu banyak bercerita. Di situ kamu banyak memberi semangat.
Di situ kamu banyak berbagi pengalaman dan pemikiran.
Di saat semua orang sibuk memikirkan dirinya masing-masing,
kamu masih memberi spasi untuk 'menyelamatkan' orang lain.

Oya, kamu itu semacam alarm pengingat akan TA saya dulu lho!
dan saya sangat berterimakasih akan itu :)

Keep your chin up, dear friends..
Kamu lebih dari sekedar apa yang kamu pikirkan dan bayangkan!

Mimpi mempengaruhi mood di pagi hari?

Saya masih penasaran, apakah benar mimpi bisa mempengaruhi mood kita di pagi hari? Bagaimana mungkin mimpi bisa mengatur suasana hati kita seenaknya! Tapi ternyata, memang begitu adanya~

Malam tadi saya ingat betul memimpikan sesuatu, yang sebenarnya kejadian biasa saja. Sebuah pertemuan dengan beberapa teman lama ketika SMP, ya semuanya orang-orang yang ada saat saya masih berseragam putih biru. Ada beberapa percakapan, tapi saya tak mengingatnya dengan jelas. Saya mengenali beberapa wajah dan masih bisa menebak-nebak siapa mereka. Walaupun seringkali di mimpi, tubuh-tubuh itu seolah tak berwujud, tak berwajah, benar-benar abstrak. Ada dua orang perempuan dan tiga orang lelaki. Awalnya saya berbincang dengan perempuan satu, sambil mengamati lelaki satu. Lalu kemudian lelaki dua dan tiga menghampiri kami. Semuanya masih terasa wajar dan biasa saja. Hingga ketika saya menyapa perempuan dua, dia seolah buang muka dan mengabaikan saya. Entah kenapa di situ saya kesal. Rasanya ingin marah, tapi tertahan. Mungkin karena perempuan itu adalah teman yang cukup dekat dengan saya saat dulu, dan sekarang saya seolah dilupakan di sana.

Lalu kemudian alarm berdentang membangunkan saya dari mimpi. Mood seketika hancur berantakan. Apa mungkin karena mimpi itu? Atau karena memang sebelum tidur mood saya sudah tidak karuan? Lalu terbawa hingga tertidur dan mempengaruhi mimpi. Hingga akhirnya bangun masih membawa mood sisa semalam? Entahlah. Tapi rasanya saya sering mengalami ini, tiba-tiba tidak mood di pagi hari akibat mimpi semalam.

Ya sudah lah, anggap saja mimpi itu sebagai angin lalu. Mereka terkadang menemani malam kita tanpa diminta, lalu seringkali pergi begitu saja; dengan atau tanpa bekas ingatan. Hmm, sepertinya hal itu juga cocok sebagai perumpamaan sesuatu (atau seseorang). #eh

09 July 2012

Indonesia, saya semakin jatuh cinta padamu!

Saya semakin tergila-gila pada Indonesia; pada pantainya, pada alamnya, pada gunungnya, pada penduduknya, pada kulinernya, semuanya.
Sudah seminggu saya di Palu, Sulawesi Tengah. Walaupun tidak ada bioskop, saya puas dengan tontonan yang disuguhkan oleh kota ini. Palu dikelilingi oleh gunung-gunung yang luar biasa indah, membentang mengelilingi kota. Pantai yang tenang, air laut yang jernih, terumbu karang dan ikan-ikan yang cantik. 
Ada beberapa yang unik di sini: Pisang goreng (manis) disuguhkan dengan sambal; Tempat makan kaki lima ---penyetan, ayam goreng, dan sebagainya, hampir semuanya bernama 'Mas Joko'; Angkutan kota di sini mereka bilang taxi, sedangkan taxi mereka bilang argo. Makanya, orang sini kaya kaya, tiap hari pake taxi untuk nganter kemana-mana :)
Untuk masalah kuliner, di Sulawesi Tengah terkenal sekali dengan kaledo (Kaki Lembu Donggala), dan ternyata sangat nikmat disajikan dengan singkong. Masih banyak cerita lainnya, tapi nanti saja saya lanjutkan.. berikut sedikit jejak yang terekam oleh kamera:

Pantai Taman Ria, Palu
Pengantar Setia, Daihatsu MRM Community
Indahnya Pantai Tanjung Karang, Donggala - Palu


PS: saya melakukan kesalahan terbesar yang sangat fatal:
meninggalkan charger kamera di BSD. dan akhirnya kamera
itu tidak terpakai karena mati. errrgh!

05 July 2012

Palu



Lagi, sebuah rutinitas jalan-jalan ke kota orang. Saat ini pulau Sulawesi. Palu, Sulawesi Tengah. Untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di sini.

Kuliner yang beraneka ragam, hotel yang nyaman, user yang tidak terlalu ribet, pemandangan alam yang mempesona. Ya, sempurna begini adanya :)

29 June 2012

Rasa rindu, kesepian, dan sebuah pelarian.

Hari ini rasanya random sekali.

1.
Tiba-tiba kangen sesuatu, tapi ngga tau apa yang dikangenin. Rasanya ada yang hilang. Ya, hilang, yang artinya dulu di suatu waktu yang pernah lalu ada yang pernah dimiliki atau terisi, dan sekarang lenyap sudah. Perasaan atau hal apa itu, masih belum saya ketahui dengan pasti. Yang jelas kangen aja! Ga tau sama apa, sama siapa, atau sama hal apa. Absurd.

2.
Mendadak ingin lari, mencari sebuah tempat pelarian. Dan dua tempat yang tiba-tiba terpikir:
Puncak Guha. Ingin sekali menikmati deburan ombak dari puncak bukit hijau yang dikelilingi barisan gunung dan perbukitan. Ya Allah, beri saya kesempatan lagi untuk ke sana. Rasanya pengen diem di sana seorang diri, hanya diam. Merasakan hembusan angin yang menerpa wajah. Merasakan nyanyian debur ombak yang menghantam karang. Menikmati kedamaian. Jauh dari kebisingan dan gangguan kepentingan dan pekerjaan. Tidur di atas rerumputan hijau sambil memandangi birunya awan. Ah, saya benar-benar ingin ke tempat itu lagi.

Puncak menara masjid agung. Beberapa kali saya ke sana, selalu ada rasa tentram dari atas sana, entah apa. Melihat barisan kendaraan bermotor yang terlihat kecil di garis abu aspal jalanan. Melihat bangunan-bangunan yang saling tumpang-tindih. Melihat bandung dari atas, ada sebuah perspektif yang berbeda. Begitu segala yang besar terlihat kecil dari atas puncak menara. Orang-orang di taman hilir mudik, seperti barisan semut. Syahdu.

3.
Saya jadi ingat, ketika diberikan pertanyaan: "Jika kamu berada dalam suatu gedung, dan tiba-tiba terjadi kebakaran, sedangkan di sekitarmu ada 3 hal ini, mana yang akan kamu pilih? 1. Ruangan Kotak Besi; 2. Kuda; 3. Pintu."
Dan saya memilih Kuda. Saya membayangkan akan menungganginya dan menerobos gulungan api, hingga menemukan jalan keluar dari gedung ini. Saya membayangkan sebuah adegan, dimana saya dan kuda saya menabrakkan diri ke sebuah jendela kaca besar untuk melarikan diri dari kobaran sang Api. Klasik.
Dan itu adalah cerminan ketika kita dihadapkan pada sebuah masalah, 3 hal itu merepresentasikan cara apa yang kita pilih untuk menghadapinya. Ruangan kotak besi, yang berarti dia akan bersembunyi dari masalah. Pintu yang artinya akan menghadapi masalah tersebut, meskipun belum tentu dapat diselesaikan. Dan kuda yang merepresentasikan lebih memilih untuk lari dari masalah.
Saya memang tidak betah berada dalam sebuah masalah. Saya pasti akan mencari pintu tercepat untuk keluar dari masalah itu, termasuk lari; tetapi bukan melarikan diri. Orang-orang plegmatis macam saya jelas berusaha sebisa mungkin tak bertemu dengan masalah, tak mau berhadapan dengan konflik. Ha! Benar-benar memilih aman, mencari ketenangan dan kedamaian hidup.

4.
Sebuah kerandoman yang lain: saya membuka music player di HP saya, kemudian memutar acak lagu yang ada di playlist. Secara mengejutkan, terputar lagu milik Bunga Citra Lestari, judulnya Kecewa:

"Sekali ini kumohon padamu. Ada yang ingin kusampaikan, sempatkanlah.
Hampa, kesal, dan amarah. Seluruhnya ada di benakku.
Andai seketika, hati yang tak terbalas oleh cintamu.
Kuingin marah, melampiaskan. Tapi ku hanyalah sendiri di sini.
Ingin kutunjukkan pada siapa saja yang ada.
Bahwa hatiku kecewa~"

Saya sendiri tak pernah sadar ada lagu itu di hp saya; dan saya baru ingat saat membeli hp dulu, abang-abang penjualnya ngopiin lagu-lagu di memory hp saya. Kesensitifan saya muncul lagi, saya kadang seringkali terbawa suasana sebuah lagu. Mengulangi bait-bait dari lagu, dan membayangkan sedang berada dalam situasi seperti itu.
Tak terbalas cinta. Sendiri. Kecewa. Dan, buru-buru ku stop lagu ini, sebelum syair-syairnya terus mendengung ditelinga, hingga akhirnya merasuki hati saya.

Di saat yang bersamaan, tab saya tiba-tiba hang dan terus memunculkan foto yang saya ambil dari puncak menara masjid agung.


Entahlah, perasaan saya tak menentu. Rasanya saya memang butuh pelarian. Saya kesepian. Saya kesepian. Saya kesepian. Saya rindu pulang.

26 June 2012

:)

Senyum dan syukuri: dua kunci bahagia.
Sederhana yaa? Tapi kita terlalu sering memungkirinya.

25 June 2012

Sepatu dan rasa kecewa.

Sepatu-sepatu itu terpajang rapi, berjejer menunggu kaki-kaki yang akan mencoba dan akhirnya membawa dia pulang; membebaskannya dari jerat pertokoan dan obral besar-besaran.
Bukan kita yang memilih sepatu, tetapi pada akhirnya sepatu lah yang memilih kaki-kaki yang tepat pada ukurannya. Pas. Nyaman.
Wanita harus terbiasa kecewa ketika memilih sepatu yang dia inginkan ternyata terlalu besar, atau kesempitan.
Di saat kita merasa sudah menemukan sepatu yang cocok, dan ternyata tidak ada ukuran yang pas di kaki, mau diapakan?
Meskipun kita sudah begitu jatuh cintanya kepada model, warna, dan segala hal tentang sepatu itu --kecuali ukuran, apa boleh buat?
Ada rasa tak rela ketika meninggalkan sebuah toko, sudah merasa menemukan satu yang cocok, tapi keluar dengan tidak membawa apa-apa.
Ada kalanya apa yang kita inginkan tak bisa kita dapatkan, klise. Namun, yaa begitulah hidup. Saya pun meninggalkan toko tanpa sepatu yang saya inginkan.

#

Konon, sepatu bisa meningkatkan kepercayaan diri seseorang --terutama wanita.
Itulah sebabnya, setidak-enak dan setidak-nyaman nya sepatu itu dipakai, wanita tetap akan menginjakkan kakinya demi keindahan, rasa percaya diri, kecantikan --alih alih mereka menyebutnya trend.
Wanita harus terbiasa memakai heels, wanita harus terbiasa kecewa diam-diam; Menyembunyikan luka yang dia rasa.
Wanita harus kuat terus berdiri di bawah tumpuan sakit yang dia tahan.
Wanita harus ..


Ah, saya bingung harus melanjutkan apa~

Ya, memang ini yang terbaik!

Seorang teman bertanya, "Menurut kamu, apa definisi dari 'yang terbaik'?"
Saya berpikir lama, mencari-cari jawaban yang tepat. Tapi tak menemukannya, "Emmm, ngga tau.."
"Yang terbaik itu, yang telah berlalu.", jawabnya.
Deg. Saya hanya diam. Jawaban singkat itu menghujam langsung, tepat di hati.

24 June 2012

Love ..

"Why should we make things called love to be complicated by so many criterias?
Can we make it easier that both of us simply need each other?" -- @revolutia

21 June 2012

mereka jelas-jelas tersesat..



Konyol ngeliat beberapa query pencarian orang-orang --yang nyaris sama dan tiba-tiba nyasar ke blog ini. Hahaa :))

20 June 2012

sebuah mimpi sebelum Subuh

Entah ada apa dibalik cerita sendok dan garpu. Rasanya terlalu absurd. Ada segurat wajah, abstrak.
"Lihat, dia ternyata sendok, dan kamu garpu.."
"Lalu kenapa?"

Sudah pasti ini akibat sebuah cerita pada malamnya, yang kemudian terbawa ke alam bawah sadar. Tapi mengapa harus Sendok dan Garpu? Masih tak habis pikir :))

Hello!

19 June 2012

"Jangan cuma mau tau dan peduli sama perasaan orang lain, kamu juga harus tau dan mikirin perasaan sendiri." -- seorang lelaki di transBSD.

18 June 2012

Percakapan panjang bersama Zusni Adisya


Pelaku : Saya dan Zusni Adisya
Tempat : AMDI Lt. 4 Sunter, Jakarta Utara
Waktu : Sepanjang training SOP, 11 Juni 2012

--

Jodoh itu disimpan Tuhan di tangan kita
Bagaimana bisa? 
Karena kita yang menentukan
Bisa kita menentukan ingin siapa?
Tuhan memberikan pilihan, kita menentukan jawaban
*yayaa, aku ga bisa nerusiin, ini tema tersulit. bikin aku susah nulis! errrgh*
#ahahahahaha#


Got you!

Ok, you first


Pertemuan kita ini bukan sebuah kebetulan, bukan ketidaksengajaan yang direncanakan.
Ini adalah awal dari sebuah rencana yang belum matang, perkenalan.
Aku tak tahu apakah kita benar-benar pernah berkenalan, karena menanyakan siapa namaku pun kamu tak pernah.
Aku tak perlu bertanya siapa namamu, karena kamu adalah aku.
Tidak mungkin, kamu adalah kamu, aku adalah aku. Kamu harus tahu, sejak awal kita bercerita, aku merasakan sesuatu yang berbeda. Nyaman.
Aku bahkan lupa kapan itu sejak awal, aku tak pernah peduli akan waktu ketika bersamamu.
Ada sesuatu dalam dirimu, yang entah apa. Rasanya aku mengenal kamu sejak lama, sebelum habis semenit bersamamu.
Mungkin kita pernah bertemu ketika Tuhan mulai merencanakan siapa jodohmu, dan sejak itu aku mulai banyak bercerita tentang jodohku. (#timesonglaguanangashanti)
Aku tak mengerti. Benar-benar abstrak untukku. Siapa kamu sebenarnya?
Cobalah tanya dirimu siapa aku, disitulah definisiku.
Kamu tak pernah bisa aku definisikan, hanya terasa di sini, dan begitu nyata. *nunjuk hati*
#lama-lama jadi komik#
Coba rasakan lebih dalam, mungkin ada orang selain aku disitu.
Terlalu sesak di sini, hingga aku tak menyadari masih ada siapa di sini, atau memang tak pernah ada siapapun.
Aku menemukan jejak, tak mungkin tak pernah ada, jejak ini nyata terinjak.
Jejak-jejak itu memang terus melangkah, berjalan, berlarian, hingga tak bisa terkejar. Dan akhirnya di sini, aku sendiri lagi.
#aseeek melia is back#
Tak sadar kah kamu, kemanapun dia berlari, dia tetap disitu, dihatimu.
Ha, berlari di tempat maksudmu? Di sini menginjak-injak, menghentak hati. Tidak kah dia lelah?
Akuilah, dia tidak pernah lelah bersamamu.
Terimalah, dia senang berada disitu.
Ketika saatnya nanti, aku yang akan pergi meninggalkannya sendirian bersamamu.

-the end-


new sesion

Apa yang kamu cari selama ini?
Aku tak mencari apapun, aku ingin ditemukan.
Dan kamu sudah ditemukan? Apa lagi yang ingin kamu lakukan?
Tak ada, tidakkah kamu merasa lelah diikuti pertanyaan?
Lelah. Aku tak menemukan tanda titik, oleh sebab itu pertanyaan itu terus mengikutiku.
Berbaliklah dan beri ia jawaban, dia akan berhenti perlahan.
Dia tak butuh jawaban, hanya butuh kepastian. Sementara kepastian itu hidup berdampingan dengan ketidakpastian.
Begitulah hidup dituliskan, begitupun kamu, yang digariskan berdampingan dengannya.
*GOT YOU MELIAAA! haha*
Baiklah, aku tak akan bertanya lagi. Semoga pencarian ini segera menemukan titik temunya, dan dia yang sudah digariskan dapat menemukanku dengan mudah.
#aseeeeeekkkkk#


Happy Ending,
sang putri menemukan kekasih terhebatnya, selamat Melia, (#hahaha)
#skakmat

Ganti topik.



Mana yang lebih menyenangkan, didengar atau mendengar?
Didengar ketika berbicara, dan mendengar ketika kamu berkata.
Jika di suatu waktu kamu hanya punya kesempatan 1x apakah di dengar ataukah mendengar?
Aku lebih senang mendengarkan. Bagaimana denganmu?
Ya aku tau, terbukti dari 2 kata yang mengikutinya.
Aku suka mendengar, tapi sangat menghargai ketika bisa didengar, sangat menyenangkan.


--


Mana yang lebih menyenangkan, dicinta atau mencinta?
Jika memang harus memilih salah satu, aku memilih untuk mencinta.
Mengapa?
Entahlah, mencintai itu sederhana.
Apakah itu artinya dicinta itu sulit?
Jelas tidak, tapi bukankah itu menyangkut perasaan orang yang mencintaimu?
Lantas mengapa?
Sederhana saja, aku memilih untuk belajar mencintai, hingga akhirnya bisa layak untuk dicintai. Bagaimana?
Iya itu kata mario teguh.
Tapi belajar dicintai juga bukan hal yang mudah, kita harus membuat orang lain layak untuk kita cintai, pertaruhan besar.
Ah, lupakan apa kata lelaki super itu.
Memangnya apa yang dipertaruhkan, rasa, hati?
Bukan. EGO.
Kamu hanya perlu meleburkannya. Mengawinkan egonya dengan egomu, bukan malah kamu perkelahikan..
Aku takut, ketika perkawinan ego akan melahirkan ego lain pada akhirnya.
Ya, ego yang bisa meredamkan ego masing-masing dari kalian berdua. Bukankah seharusnya begitu?
Entahlah, toh dalam hidup, kata seharusnya itu tidaklah nyata pada tempatnya, semua serba benar ketika sudah dilakukan.



------------ GANTI!


Kamu lebih senang berada di keramaian atau dalam kesendirian --atau setidaknya berduaan?
Aku suka berduaan di keramaian.
*kasian nasib orang yg single di keramaian itu, hahaa*
Tenang aku pastikan tidak ada kamu dengan kesendirianmu disitu
#keplaaaakk#


Lebih suka mana, meninggalkan atau ditinggalkan?
Aku tak mau memilih keduanya.
Ini bukan pilihan...
Ini masalah persentase perasaan.
51% ditinggalkan, 49% meninggalkan. Aku sadar, pada akhirnya nanti keduanya akan mendatangi kita. Mau tidak mau.
Baik.
Lebih suka mana, menemui atau ditemui?
Ditemukan :D
Beda coooy.
Objeknya apa dulu nih?
Berasa OOP kudu ada objek.
Ah sudahlah ganti.



Lebih suka mana, marah atau diam tapi marah? #eaaa
Pengennya bisa marah, tapi akhirnya cuma bisa diam. Marah itu melebur bersama hembusan nafas panjang. Bagaimana caranya bisa marah dengan spontan?
Entahlah, itu bukan suatu keahlian buatku.


Setuju tidak, ketika hidup berkata "cinta tak harus memiliki"? #klise
Terlalu klise. Tak ada yang benar-benar kita miliki seutuhnya, cinta itu hanya dititipkan untuk dijaga dan dimiliki sementara.
Cepat atau lambat pemiliknya pasti akan mengambilnya. Ah, entahlah.


Sejak kapan suka menulis?
Sejak aku dikenalkan kepada sajak-sajak. Aku langsung jatuh cinta. Bagaimana denganmu?
Sejak aku suka bicara tapi tak ada telinga yang mendengar.
Ya, menulis itu adalah mulut kedua sekaligus telinga ketiga :)


Kenapa melartholic?
Itu hanya topeng untuk menyembunyikan ke-melantholic-an saya. Cukup ganti n dengan r. dan taraaa, seolah saya penggila seni :P

wek.

Bicara bikin laper ya.
Udah ah.

Ngetik ya, ngetik!!!

Ngetik itu, dua kali bicara. Nguras tenaga.

Iya, mikirnya dua kali lebih banyak dari bicara, tapi lebih abadi. Post yaah ya, buat kenang-kenangan kita kalo udah pada tua nanti :')

Hahahaha.
Iya dasar ibu2 lagi ultah. pikirannya kemana-mana.