27 December 2012

Berhenti dan berubahlah karena keinginan,
bukan karena keadaan.

19 December 2012

Sebuah doa (menjelang) akhir Desember

Dalam kesusahan seberat apa pun,
saya hanya meminta untuk disanggupkan.
Cukup.

11 December 2012

Pameran (masa kini)

Sedih, pamer.
Bahagia, pamer.
Ternyata sekarang bukan cuma seni ya yang ada pamerannya,
pameran kebahagiaan dan kesedihan juga sekarang sudah mulai mewabah.
Berhati-hatilah!

Alkisah di suatu negeri antah berantah, ada seorang manusia yang merasa dirinya adalah orang yang paling bahagia dan beruntung dalam hidup ini. Si manusia ini mengumumkan kepada seluruh dunia, bahwa dia sudah berhasil meraih piala kebahagiaan tertinggi. Lalu dia hanya tertawa-tawa dan menyombongkan diri. Memandang sebelah mata orang-orang yang hanya mendapat piala perunggu-bahagia, apalagi yang hanya mendapat gelar pemenang-hiburan kebahagiaan.

Hingga suatu ketika, piala kebahagiaan tersebut digilir dan jatuh kepada seseorang yang lain. Manusia tersebut lalu merasa jatuh, seolah menjadi makhluk yang memiliki masalah dan cobaan yang sangat besar. Dia kemudian mengumumkan kembali kepada dunia, segala kepedihan yang dia derita adalah kesedihan yang paling sedih, kesedihan yang paling muram diantara yang termuram. Tanpa pernah mempedulikan orang lain yang juga memiliki kebahagiaan dan kesedihan --yang bahkan melampaui apa yang pernah dia rasakan.

Apakah perlu semua itu didramatisasi?

Oh ya, namanya juga pameran. Hanya sebuah pertunjukan.
Mana ada yang senang dengan cerita-cerita datar yang monoton.
Mana ada yang mau bersusah-susah menjadi sederhana, ketika kelimpahan ada di depan mata.

Ah, saya mau jadi penonton saja, terlalu lelah jika harus menjajakan pertunjukan. Ada kah yang sedang mengadakan pameran? :D



Halo Desember,
maaf terlambat menyapa hadirmu!

15 November 2012

Apa yang kamu cari dalam hidup ini?


Masih, pertanyaan-pertanyaan semacam ini selalu saja berdentang di kepala saya:
"Sebenarnya apa sih yang dicari dalam hidup?"
Malam kemarin saya mengobrol banyak dengan seorang sahabat lama, membicarakan hidup, membicarakan waktu, membicarakan kehidupan. Bermula dari pertanyaan, "Kamu gimana sekarang sama kerjaannya?", lalu mengalir deras berbagai cerita dan pertanyaan-pertanyaan absurd yang memang sebenernya tak harus dipertanyakan. Hingga akhirnya, pertanyaan itu mencuat lagi.

Dari dulu saya selalu merenungkannya dengan berbagai pikiran di kepala saya, mencari jawabannya, tapi tak pernah merasa puas. Banyak orang akan menjawab, yang mereka cari adalah kebahagiaan, ketenangan hidup, serta Ridha Allah SWT.

Lalu apa definisi dari kebahagiaan?
Punya harta yang melimpah, punya mobil dan rumah mewah, menikah segera dan dianugerahi keturunan, punya pekerjaan hebat di perusahaan besar dengan gaji dua digit? Apa kah semua itu yang banyak orang cari ketika usianya masih produktif?
Pernah suatu saat, ketika saya pulang dari kantor di pagi buta, mendapati diri melamun sendirian di kost, lalu bertanya: "Ngapain saya di sini? Harus ya mencari penghidupan sampai pindah ke kota orang, sendirian jauh dari orang tua? Pulang di pagi buta?"
Hmm, rasanya ada yang salah. Rasanya ngga perlu sampai begini.

Kedua orang tua saya masing-masing bekerja sudah hampir tiga puluh tahunan, lalu pernah saya tanya kepada mereka, "Mah, Pah, ngga bosen apa jadi pegawai sampai selama itu?"
Lalu mereka hanya tersenyum dan menjawab dengan enteng,
"Ya dinikmatin aja, kerja itu harus ikhlas biar ngga berat. Lagian ini demi teteh juga, kalo ngga gitu, mana bisa nyekolahin kalian jadi sarjana kayak sekarang, kalo bisa malah lebih." DEG!

Kebahagiaan itu relatif, tiap orang punya standar kebahagiaannya sendiri. Untuk mereka mungkin definisi kebahagiaan adalah, punya anak yang bisa membanggakan dan bikin tenang mereka. "Punya anak-anak kayak kalian aja udah kebahagiaan terbesar buat mama.", "Tau teteh sehat di sana aja, mamah udah tenang dan bersyukur."
Betapa bahagia itu sederhana.
Kuncinya cuma mensyukuri yang dimiliki, mensyukuri kehidupan yang diberikan saat ini. Kalo ngga kayak gitu ya ngga akan pernah puas, pasti terus mencari-cari sesuatu yang ngga ada, sesuatu yang belum dimiliki.

Kadang saya ingin menjadi layang-layang, terbang bebas dan tenang di udara.

Hal yang banyak dicari kedua adalah ketenangan hidup. Ketenangan macam apa?
Akhir-akhir ini banyak banget orang mengumbar kegalauannya, kegamangannya akan hidupnya. Yang belum selesai kuliah, galau gara-gara TA-nya; yang baru lulus kuliah, galau takut ngga dapetin kerjaan yang bagus; orang yang udah kerja, galau pengen nyari perusahaan lain yang menjanjikan gaji yang lebih besar; yang masih single, galau pengen buru-buru nikah; yang udah nikah, galau takut ngga bisa punya anak; yang udah punya anak, galau gimana ngebesarin dan nyekolahin anak di tengah kondisi biaya hidup yang semakin tinggi; yang punya banyak harta, takut hartanya tiba-tiba hilang atau dirampok orang jahat; yang ngga punya uang, takut ngga bisa makan dan ngga bisa beli apa-apa.

Terus aja galau, terus aja takut, terus aja cemas. Selalu dihantui oleh rasa ketakutan, terus kapan bisa tenangnya? Kapan bisa bahagia dan menikmati hidupnya?
Tiba-tiba sakit jantung, lalu mati gimana?
“Ingatlah, hanya dengan dzikir mengingat Allah lah hati akan tenteram.” (QS Ar Ra’d: 28).

Ketenangan itu memang hanya datang dari Allah. Mau nyari pelarian kemana pun kamu ngga akan pernah ngerasa benar-benar tenang. Dulu, saya sering banget lari dari masalah dengan kabur ke tempat-tempat sepi, mengasingkan diri, tapi yang didapat cuma ketenangan sesaat, setelah itu kecemasan-demi-kecemasan muncul lagi. Mengumbar kegamangan dan kegundahan sama orang lain juga ngga akan membuahkan apa-apa, seringnya malah jadi tambah galau. Jadi mending cerita sama Tuhan aja, minta ketenangan, minta dicariin jalan yang terbaik :)


Hal yang dicari ketiga adalah Ridha Allah SWT. Pasti.
Ridha itu artinya senang. Segala hal yang kita lakuin selama ini apakah disenangi sama Allah atau engga? Nah, kalo udah gini ujung-ujungnya harus kembali ke syariat agama. Segala yang diperintahkan-Nya, silakan dijalankan dengan sebaik-baiknya, tetapi hal-hal yang salah dan dilarang-Nya, sudah pasti harus dijauhi.

.. ah, daripada tulisan ini semakin panjang dan saya semakin sotoy, mari berusaha menjadi orang baik dulu biar Allah seneng, lalu akhirnya dikasih kebahagiaan dan ketenangan hidup.
Selamat tahun baru! Semoga selalu dalam keadaan baik dan terus menjadi pribadi yang semakin baik :)

Konsep Pernikahan dan Budaya

     Beberapa minggu yang lalu tiba-tiba dapet tawaran motret prosesi pernikahan sahabatnya temen di Bandung. Tanpa basa basi dan mikir panjang saya langsung mengiyakan. Alasan pertama, karena udah lama ngga motret, yah itung-itung sekalian hunting foto. Alasan kedua adalah karena katanya konsep pernikahannya ini tergolong unik, yaah agak langka aja dilakuin di Indonesia, lumayan kan buat referensi konsep nikah ntar. Haha :)

     Konsep pernikahan mereka itu round table. Tamu undangan dibatasi hanya sekitar lima puluh undangan, yang terdiri dari keluarga terdekat mempelai wanita dan pria. Dekorasi gedungnya juga minimalis, lebih nonjolin di dekorasi bucket bunga-nya. Di areal pelaminan cuma ada empat kursi sofa. Lalu di tengah gedung berjejer beberapa round-table yang masing-masing terdiri dari (kurang lebih) delapan kursi per meja.

     Pukul sebelas akad nikah dimulai. Sebelumnya sudah dibuka dengan beberapa sambutan dan doa bersama. Setelah selesai akad nikah, prosesi sungkem kepada kedua orang tua. Selesai itu pengantin dan masing-masing kedua orang tuanya berdiri di pelaminan untuk bersalaman dengan tamu undangan. Tamu undangan lalu makan dan kembali menduduki kursinya masing-masing. Rasanya tertib banget, ngga rusuh ngantri di tempat stand makanan. Selesai salaman, pengantin keliling-keliling ngobrol sama tamu undangan. Rasanya asik banget ngeliatnya, ngga perlu capek gonta-ganti konstum pernikahan, dan mereka ngga berasa jadi pajangan doang yang harus terus berdiri, nunjukin muka bahagia dengan terus senyum lebar, dan salaman sampe kaki pegel. Kalo yang ini pengantinnya malah jalan-jalan, ngobrol-ngobrol sama tamu undangannya, makan di tengah keluarganya bareng-bareng. Intinya, mereka ngga dipajang lama di pelaminan. Sekitar jam setengah dua acara beres. Semua tamu undangan dan pengantin bubar bareng-bareng.

     Coba bandingin sama tradisi nikah pada umumnya: akad nikah, ganti baju, prosesi adat yang terkadang begitu panjang, dipajang di pelaminan, ganti baju lagi, dipajang lagi di pelaminan, tamu undangan bubar baru bisa makan. Tapi yang namanya tradisi susah sih buat diubah. Ngasih undangan cuma lima puluh, dijamin banyak yang protes karena ngga diundang, trus akhirnya malah jadi gunjingan sana sini.

     Yaah, namanya juga Indonesia, persatuan dan rasa persaudaraannya terlalu kuat. Tetangga yang ngga pernah ketemu muka dan rekan-nya orang tua yang bahkan ngga tau namanya aja harus ada dalam list tamu undangan. Menikah yang sebenarnya mudah, dibuat menjadi super-duper kompleks karena perayaannya, gimana resepsinya. Esensi dari pernikahan itu sendiri malah hilang. Ah, budaya!

18 October 2012

09 October 2012

Bosen main-main di sosial media.
Mulai besok coba puasa ah, mundur dari beberapa akun.

Melia Ajani hanyalah akun facebook yang tak pernah lagi update.
meliajani adalah timeline twitter yang sebentar lagi beku, foursquare yang tak ada lagi new check-in, instagram yang tak lagi terurus.

Posting di sini udah lebih dari cukup. Saya ngga akan pernah ninggalin blog ini! Tapi mulai besok mau selingkuh nulis di jurnal harian lagi! :D
Kembali menggerakan tangan, agar terbiasa lagi menari bersama pena di atas kertas.

Selamat malam!

Bersepeda!

Hari minggu kemarin, entah kerasukan niat darimana saya bersepeda dari rumah ke daerah Dago. Berangkat sendirian dari rumah jam setengah tujuh, tanpa tujuan pasti, tanpa partner yang pasti. Awalnya cuma mau ke Car Free Day - Buah Batu, janjian sama beberapa temen kampus. Tapi pas udah nyampe sana, temen-temen susah dihubungin dan kebanyakan masih dikosan atau di rumahnya. Lama-lama bosen sendirian nunggu, trus akhirnya memutuskan untuk lanjut ke Car Free Day - Dago, dan berpikir untuk ketemu Dita dan Harwi di depan BIP aja, karena yang satu baru bangun, yang satunya baru mau mandi dan siap-siap.


Beberapa playlist lagu di handphone ikut menemani perjalanan. Ada perasaan bebas, tenang, lepas, dan cuma kita yang bisa nikmatin semua itu. PUAS!! Pikiran ngalor-ngidul kemana-mana, kena hembusan angin, kena terpaan panas matahari, kena bau dan asap knalpot kendaraan. Semuanya adalah kenikmatan yang tak bisa dibandingkan apa-apa. Perbincangan bersama alter-ego di dalam kepala. Ngga perlu ngikutin ritmenya orang lain, pengen gowes cepet monggo, pengen lambat banget silakan. Dan lain-lain, dan lain-lain. Ah :')


Oh ya, ada satu lagu yang saya terus putar berulang-ulang saat perjalanan bersepeda pulang ke rumah, yaitu The Starting Line - Are You Alone. Meskipun lagunya rada kenceng, tapi kok berasa liriknya nyeeess gitu.
We're all just everyday people
And there's a part of you connected with everyone else
And there's me and there's you
Oh no

This plot can get so confusing
Oh, if you only knew
If I could I'll take you with me but I'm here and you're there
Oh no

Are you alone? Oh no
Are you alone?

Minggu ini sepedahan lagi deh, mumpung masih di Bandung :D

05 October 2012

Random : Antara Klakson dan Mulut

Di sebuah perjalanan, saya bonceng temen saya naik motor.
Dia : "Mel, aku baru sadar. Beberapa kali dibonceng, kamu ngga pernah nglaksonin orang lain ya!"
Saya cuma senyum. Saya malas ngalksonin orang. Berisik.
Soalnya saya juga suka kesel kalo diklaksonin orang gara-gara hal yang ngga jelas dan hanya atas dasar ketidaksabaran aja. Lampu baru ijo satu detik aja udah main klakson!

Makanya, kadang suka lucu kalo ngeliat orang naik motor terus jempolnya selalu standby di pencetan klakson :))
Saya lebih memilih standby buat megang rem aja.

Ya, sama lah kayak mulut, lebih baik dalam posisi siap-siap ngerem aja, daripada terus ngoceh dan nyerang dengan kata-kata ngga karuan.

19 September 2012

Random!

Berkali-kali, kalau diajak main atau ketemuan sama temen:

"Ayo maen, ketemuan."
"Yuk!"
"Kemana?"
"Terserah, asal bukan mall, please!"

Sudah jenuh pergi ke mall. Udah males pergi ke pusat keramaian. Menghabiskan rupiah. Saya mencintai ketenangan, saya lebih memilih sepi.

Saya lebih suka pergi ke taman, berlama-lama di toko buku, ke menara masjid agung, berdiam dan mengobrol di cafe yang tidak terlalu ramai, ke warung-warung di ketinggian, berkeliling kota dengan kendaraan umum, momotoran keliling Bandung, hunting foto, menghirup udara segar saat car free day, berjalan kaki menyusuri jalanan, pergi ke gunung, atau kabur ke pantai sesekali. Sudah.

Jangan tanyain saya film yang paling update di bioskop. Jangan tanya saya tempat wisata kuliner dari A-Z. Jangan tanya saya mall A isinya ada apa aja. Jangan tanya branded suatu produk dan dimana aja store nya. Jangan tanya lagu baru yang lagi in. Kenapa? Hmm, Google lebih bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Hahaaaa

13 September 2012

Convo : Socmed

...

M: Meh! canggih bener buat ngepoin orang. apa untungnya sih, tapi?
Y: Lah, orang-orang update di socmed itu buat dikepoin kan, "dunia harus tahu"-thing buat sesuatu yang gak penting-penting amat. berarti orang-orang tuh pengen dikepoin, maka bersyukurlah ada kepoers
M: hahaaa, dan banyak orang juga yg kepancing "pengen tau". dunia itu lebih damai sebelum socmed menyerang
Y: iyah pisan
M: sebelum smartphone merajai
Y: iyah lagi
M: ahhhh.. dulu kalo bosen, nyamper tetangga. maen, ngobrol, anyang-anyangan..
Y: ^ kampung pisan. wkakaka, urang ge kitu dulu. haha
M: hahaaa, kampung jugatapi menyenangkan cuy
Y: yang paling dibenci dari itu semua. smartphone feat socmed adalah pas ngumpul-ngumpul ada 8 orang dalam 1 meja, 6 diantaranya nunduk ke smartphone sambil ngakak-ngakak. udah we gak usah ngumpul
M: hahaaa, eta pisan!
Y: conference we di YM. sarua keneh
M: semua emosi diganti sama emoticon
Y: yoi, urang ngetik :)), padahal gak ngakak. ketipu maneh! haha
M: urang hahahahahahaha, padahal wajah datar. ketipu maneh!
Y: (tapi sekarang mah lagi ketawa) soalna ieu lucu pisan. haha! jujur.

10 September 2012

[100 kata] : Sekerat Roti dan Kopi Panas

Sehebat-hebatnya kamu menipu diri, hati tetap tak bisa dibohongi.


Jam sembilan pagi. Jadwalmu datang ke cafe sekaligus taman baca ini. Memilah-milah buku yang ingin kamu cicipi. Lalu kamu duduk di bangku dekat jendela kaca, membuka laptop lalu memasang headset di kedua telingamu yang terkadang tertutup rambut ikalmu yang mulai berantakan.

Aku mengamatimu dari seberang bangku yang langsung menghadapmu, dengan beberapa buku. Seperti biasa. Beberapa lama setelah itu, seorang wanita datang memasuki cafe dan langsung duduk di sebelahmu. Mengelayut manja di lengan tanganmu.

Sekerat roti dan kopi panas yang kupesan –dan juga selalu kamu pesan kini dingin dihadapanku. Menyaksikan kemesraan kalian.

Photograph : "Pulang ke Sebuah Tempat yang Kusebut Rumah"








Lokasi :
Bandung Car Free Day - Buah Batu
Menara Masjid Agung Bandung
Alun-alun Kota Bandung

08 September 2012

4 cerita : Berbagi duduk bersama asing

Angkutan umum adalah tempat yang paling banyak menyimpan cerita. Berbagai macam orang. Asing. Berbagi tempat dan duduk saling bersisian dan atau berhadapan.

1
: Jarak

"Halo."
"Ya, kenapa?"
"Iya, nomornya ngga aktif."
"Tadi ke kantor polisi, nemenin sodara ada masalah."
"Kan kamu tau tempat saya di mana biasanya, kenapa ngga inisiatif ke sana aja sih!"
"Trus kamu sekarang di mana?"
"Ya kalo udah di Jakarta, kenapa nelpon saya?"
"Kamu kan tau, saya di Bandung. Sekarang kamu di Jakarta. Udah ngga ada artinya lagi, ngapain masih nanyain trus nelpon?"

Telepon genggam ditutup. Pembicaraan usai. Antara sopir angkot dan (mungkin) seorang wanita.

Memang, bertemu muka masih menjadi obat paling mujarab untuk segala hal yang ditimbulkan akibat jarak.

2
: Bersyukurlah!

Sepi penumpang.
Tiga anak kecil usia 9-12 tahunan dengan membawa keranjang menaiki angkot yang sama dengan saya, lagi.
Pertama saya duduk di sebelah sopir. Kali ini kami duduk berhadapan.

Dek, jualan apa?
"Cireng, Teh. Mau beli, Teh?"
Berapa?
"Sebungkusnya 4000."
Masih pada sekolah ngga ini?
"Iya, masih. Yang berdua ini SD, saya SMP." yang paling besar menunjuk dua yang lain.
Pada pulang kemana emang, kok malem gini? --jam masih menunjuk angka 20.49
"Ke Ciparay, Teh. Iya jualannya sampai jam 2 malem."
Lho, jadi ini masih mau lanjut jualan?
"Iya di buah batu, kalo sore sampai jam segini di BIP biasanya."
Orang tua dimana emangnya, jualan juga?
"Di rumah aja, ngurusin adik yang paling kecil."

Deg. Rasanya perih. Sesak.
Kurang ajarnya saya jika masih lupa bersyukur.

3
: Orang Asing

Seorang wanita menaiki angkot. Di belakangnya seorang lelaki mengekori. Mereka duduk berhadapan.

"Mbak, jam berapa ya?" seorang lelaki yang duduk tak jauh di samping saya bertanya kepada seorang wanita yang duduk di depannya.
"Jam 9." wanita menjawab datar.
Diam beberapa menit.
"Mbak, namanya siapa?"
Wanita hanya diam, menatap risih, dan pura-pura mengacuhkannya.
"Mbak, mbak.." lelaki masih pantang menyerah.
Wanita semakin memalingkan muka. Lelaki memandangi si wanita dengan tatapan berharap. Ada kekecewaan di sana.

Ah, bukankah semua orang dalam hidup kita pada mulanya adalah orang asing yang tidak kita kenali?

4
: Pemula

Angkot penuh sesak.
Di samping saya seorang lelaki. Duduk dengan tas ransel di pahanya. Di depannya seorang wanita, dengan tas yang disimpan dipangkuannya.
Lelaki itu menyimpan tangan kanannya di bawah tas. Duduknya terus maju, mendekati wanita didepannya.
Tangan lelaki mulai beraksi. Dia mencoba membuka resleting tas si wanita. Saya terus mengamati. Sambil memberi kode kepada si wanita.
Resleting tas mulai bergeser beberapa cm. Wanita sadar. Lalu memeluk erat tasnya merapat ke dadanya. Si lelaki melihat saya. Saya pandangi balik.
"Kiri!"
Si lelaki turun dari angkot.

Jika skill merasa belum cukup, banyak-banyaklah mencoba!

.. dan masih banyak cerita lainnya. Kapan-kapan iseng keliling naik angkot ah ;D

06 September 2012

Suara yang Hilang

Langkahku terhenti di sebuah tempat yang begitu sunyi, di sebuah kota metropolitan yang statis. Seperti mati, tanpa aktivitas yang berarti. Desiran angin terdengar begitu nyaring di sini. Beberapa orang berlalu-lalang tanpa suara. Jejak langkah mereka tak sedikit pun meninggalkan bunyi.

Mereka, orang-orang di kota ini tak ada yang bisa bicara. Mereka semua telah kehilangan kata. Bibir mereka benar-benar tertutup rapat. Semua mulut dijahit dengan kawat tipis yang sudah berkarat dan mulai menghitam.

Di sepanjang jalan yang kulewati berderet puluhan bangunan aneh. Bangunan itu seperti sebuah rumah. Hanya saja tidak memiliki pintu dan jendela, melainkan sebuah jeruji besi –yang lebih mirip seperti penjara. Banyak orang yang menghuni tempat itu. Rata-rata merupakan satu keluarga utuh; seorang ayah, ibu, dan beberapa anak. Mereka terpenjara ruang dan kata.

Keadaan sekarang sangatlah kontradiktif dengan saat terakhir aku ke kota ini. Dua tahun yang lalu, kota ini begitu dinamis. Orang-orang sangat berapi-api dan gencar untuk melakukan perubahan.
Saat itu juga, disinyalir diantara mereka ada serigala yang berwujud manusia. Serigala-serigala itu memangsa harta, kekayaan, jabatan, kehormatan, serta kekuasaan mereka. Aku masih mengingat dengan jelas setiap kejadian yang aku lihat saat itu. Semua dari mereka sama-sama memerangi serigala-serigala itu: berperang, melakukan perlawanan, menuntut kembali hak milik mereka. Namun, serigala-serigala itu semakin buas dan ganas. Tak hanya harta atau kekuasaan, mereka juga tak segan untuk melahap nyawa.

***
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?” sebuah bisikan suara yang begitu pelan tiba-tiba saja menyadarkan lamunanku.
Seorang lelaki ringkuh paruh baya berdiri di hadapanku. Mulutnya robek dan mengerikan. Aku yakin dia membuka jahitan kawat di mulutnya secara paksa.
“Aku hanya singgah di kota ini.”
“Stttt.. jangan bersuara keras!” lelaki itu lagi-lagi berbisik, nyaris tanpa suara.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” kali ini aku ikut berbisik.
Tanpa kata, dia lantas menarik lenganku dan membawa aku ke dekat pohon besar yang ada di seberang jalan.
“Di kota ini tidak diperbolehkan ada seorang pun yang berbicara. Kebanyakan dari orang-orang di sini telah lupa bagaimana caranya berbicara. Semua orang diancam untuk tidak membuka jahitan mulutnya. Namun, aku sudah tak tahan. Aku ingin membunuh serigala-serigala itu. Mungkin kamu bisa membantuku.”
“Apa yang harus kulakukan untuk membantumu?”
“Tolong carikan bantuan di kotamu.”
“Aku tidak mungkin bisa mengandalkan orang-orang di kotaku. Sudah sejak lama mereka semua menutup mata, telinga, dan hatinya dari berbagai hal. Mereka dapat melihat dengan normal, tetapi pura-pura buta. Mereka mendengar dengan normal, tetapi pura-pura tuli. Mereka seolah tidak mau ambil pusing dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Tak ada yang peduli satu sama lain. Semuanya menjadi makhluk individualis. Menjadi parasit dalam koloninya sendiri.”
Lelaki tua itu lantas terdiam.
“Secara tidak sadar, kita mungkin sudah tiba di neraka dunia!” dia lantas bersuara lantang.

DORRR!
Sebuah tembakan bersarang tepat di kepala lelaki tua itu. Darah segar mengalir dari kepalanya. Tak lama kemudian, sesosok serigala berseragam rapi datang menampakan wujudnya. Aku benar-benar melihat serigala itu. Mereka memang nyata adanya. Tidak hanya satu, dua, atau tiga. Ada sekitar sepuluh serigala mengelilingiku.
Kedua tangan dan kakiku dicengkram dengan kuat oleh beberapa dari mereka. Aku berontak. Namun, tak cukup untuk melepaskan diri dari mereka. Salah satu dari mereka lantas menjahit mulutku dengan kawat panas yang masih terbakar api.
“Jangan pernah lagi berani bicara jika kamu tak ingin terbunuh dengan kilat.”

***

31 August 2012

Eh, basah...

Di sebuah kelas, saat olimpiade biologi jaman SD:
"Lho ini di mejanya ada air tumpah ya, kertas jawabannya basah gini."

Di saat halal bihalal SMP, nyalamin semua guru yang berjejer rapi di lapangan:
"Kenapa, kok tangannya basah sama dingin, kamu lagi sakit ya?"

Di GSG sekolah, setiap kali latihan pencak silat:
Pemanasan. Telanjang kaki. Beberapa cap telapak kaki bermunculan di lantai semen. Debu-debu mulai menempel di kaki. Kurang dari semenit. Hingga bemenit-menit berikutnya.

Di banyak pagi, saat SMA:
"Gila, tangan kamu udah kayak mayat, dingin banget!"
"Lemah jantung ya?"
"Ih, abis cuci tangan ya!"
Lalu dia mengelap tangannya.

Di kantor kecamatan, saat bikin E-KTP:
"Empat jari tangan kanan."
"Coba lagi.."
"Tahan.."
"Aduh, merah semua! Coba lagi, agak diteken."

Belum yang tangan kiri, belum jempol kanan, belum jempol kiri. Alhasil saat bikin E-KTP saya yang paling lama. Karena error terus pas pembacaan sidik jari.

"Coba tempelin lagi jari tengah tangan kirinya!"
Lap alat sensor sidik jari. Lap tangan. Tempelin jari. Gagal. Lap alat sensor sidik jari. Lap tangan. Tempelin jari. Gagal. Begitu seterusnya sampai berhasil.

"Enak ya Teh, ngga usah olahraga udah keringetan terus!"

Di sebuah ruang periksa dokter ahli penyakit dalam:
"Coba di test lab dulu aja ya, ke bagian nuklir. Takutnya ada tiroid. Jantungnya sih normal."

Test lab. Ambil sample darah. Hasil lab keluar.

"Kalau diliat dari hasil labnya, ini ngga ada tiroid, ngga ada masalah apa-apa. Emang kelenjar keringetnya aja gede. Kalo masih penasaan coba ke dokter spesialis kulit. Saya juga ngga bisa ngasih obat apa-apa."

Di sebuah ruang periksa dokter spesialis kulit:
"Iya, ini hyperhidrosis. Dikasih bedak tabur aja ya.."

Dikasih resep: bedak tabur. Dipake beberapa kali aja, karena malah jadi lengket karena belum apa-apa udah keringetan :))

Di setiap tempat, di beberapa waktu tak beraturan:
Tiba-tiba basah. Di kedua telapak tangan. Di kedua telapak kaki. Kadang pas lagi bengong tiba-tiba basah. Lagi mau tidur. Lagi tenang nonton tv. Lagi kedinginan. Lagi kepanasan. Di ruangan ber-AC. Lagi naik motor. Lagi sidang TA. Lagi ngobrol sama orang. Lagi ketawa-tawa. Bener-bener random. Ngga tau pemicunya apa. Ngga tau kapan datang dan perginya. Tiba-tiba basah, trus mendadak kering lagi. Beneran random.

Ada yang mengalami hal yang sama?

07 August 2012

Convo di pagi hari : Jarak

Q : "Mel, ketika kamu udah bener-bener capek, dan emang cuma pengen istirahat, apa yang kamu lakuin?
Ketika kamu ngerasa mati suri tapi kamu ngga tau harus berbuat apa, apa yang kamu lakuin?"

M : Saat itu aku sadar betul, ketika aku ngerasa kayak gitu aku pasti lagi berjarak dengan Tuhan, maka aku akan mempersempit jaraknya, dengan berlari mendekat.

19 July 2012

Kata dia : tentang saya.

Seorang yang aku tau begitu tenang. Yang lebih memilih diam dan menjadi penikmat. Selalu setia mendengar hingga sang lawan bicara pada akhirnya lega. Selalu menyaring lontaran dari bibirmu, mungkin sejak di kerongkongan. Aku selalu ingat senyummu, yang menenangkan, dan wajahmu teduh. Sangat teduh ketika aku memandangmu.

Boleh tidak aku bilang kalau kamu itu selalu cari aman? Entah ini hal positif atau negatif, namun terkadang sikap cari aman-mu ini membantu kamu untuk tidak “bermasalah”. Dan aku tau, kamu punya duniamu sendiri tanpa pintu atau jendela bahkan celah bagi orang lain untuk sekedar mengintip. Hanya kamu sendiri disana, seorang diri.

Satu-satunya orang yang mengerti makna berhenti, koma, jeda, spasi, atau apalah itu , ketika sudah jenuh, lelah. Bagiku ketika kita memaknai hal itu bersama, aku menaruh harap padamu, kita bisa melakukan pelarian bersama, menyendiri berdua. Kutunggu kamu di puncak guha.

Ia-Mel.

Melia "




Ah, kamu berhasil membaca saya, Mariana!
Semoga bisa ke Puncak Guha secepatnya :)

17 July 2012

Sebuah Pelarian : Caringin Tilu dan beberapa tempat lain

"Mau kemana nih jadinya? Cartil?"

"Ayo, terserah!"

Saya dan teman sejak SMA saya, Dinar, akhirnya memutuskan untuk pergi ke Caringin Tilu --yang lebih dikenal dengan Cartil, di daerah padasuka atas. Tak ada yang pernah ke sana. Tak tahu di mana letak persisnya. Tak tahu bagaimana medan untuk menuju kesana. Yang saya tahu hanya: dari Saung Angklung Mang Udjo terus ke atas lagi, sudah. Setelah beberapa lama perjalanan, kami menemukan sebuah pencerahan: plang tanda panah bertuliskan "Caringin Tilu" di jalan Padasuka. Oke, itu artinya kami berada di jalan yang benar.

Lalu saya dengan pedenya terus memacu gas motor kesayangan ke arah atas padasuka. Beberapa menit setelah Saung Mang Udjo, jalanan semakin menanjak, terus naik dan mulai menyempit, hanya cukup untuk satu mobil. Belasan menit setelah itu, kami sudah memasuki Desa Cimenyan. Dan ya, seperti yang saya duga, Cartil ini memang masih sedaerah sama Moko, warung Daweung. Medannya hampir sama, yang berbeda adalah jalan menuju cartil ini adalah jalan aspal yang cukup bagus, jadi saya tak khawatir dengan medan yang ada, sedangkan jalan menuju Moko jeleknya luar biasa, banyak lubang dimana-mana, dan sebagiannya lagi adalah jalan tanpa aspal, hanya batu-batu dan kerikil. Lalu di tengah perjalanan, kami menemukan sebuah tanjakan curam, si motor tak sanggup untuk mendaki walaupun sudah saya gas sampai maksimal. Dengan terpaksa teman saya pun harus mau berjalan kaki beberapa meter. Namun, tak lama kemudian, kami menemukan deretan saung-saung sederhana di sepanjang jalan, dengan view menghadap dataran kota Bandung. Ya, kami akhirnya tiba di Cartil. Yay! Saungnya hampir sama seperti saung-saung Jagung Bakar di daerah Cikole Lembang atau di daerah Punclut, namun jenis makanan yang dijual lebih sedikit. Namun, lupakanlah tentang saung, lihat semua pemandangan ini:

view Bandung dari Caringin Tilu
perjalanan dari dan menuju Cartil dari arah dago Resort
'p e l a r i a n'

Sebagaimana sebuah reuni, saya dan Dinar bercerita panjang lebar, tentang pekerjaan, tentang kehidupan kami, tentang ini, tentang itu, tentang rencana setelah ini, dan tentang betapa baiknya Tuhan.
Kegilaan saya dan Dinar x)
Bagi saya, semua ini adalah sebuah pelarian, sebuah spasi, sebuah jeda. Tadinya pelarian semacam ini saya jadikan sebagai kegiatan 'hunting foto', 'hunting tempat baru', atau sekedar refreshing; tapi setelahnya saya baru menyadari bahwa semuanya lebih daripada sekedar itu semua. Semua ini merupakan sebuah pelarian, sebuah perhentian sejenak, sebuah ruang tunggu, sebuah kebebasan, sebuah pencarian, sebuah penemuan, apa pun lah. Hmm, seolah-olah saya bisa menikmati waktu tanpa batas, tanpa beban, dan tak perlu lagi memikirkan apa yang telah atau akan terjadi pada saya setelah ini. Tak memikirkan apa-apa, hanya menikmati dan mensyukuri apa yang ada sekarang dan apa yang ada di depan mata. Abstrak, tapi seperti itulah yang saya sebut jeda. Saya bisa menjadi dan merasakan diri saya sepenuhnya, benar-benar tak mau ambil peduli akan pikiran-pikiran orang lain.

Dari Caringin tilu, lalu kami makan ke Pizza Hut, lalu ke Masjid Istiqomah, mampir ke Toko Buku, dan lalu berakhir dengan hunting foto di jembatan Jl. Merdeka (BIP); mengabadikan Bandung di waktu malam.
Bandung di waktu malam.
Ya begitulah, semuanya tanpa perencanaan, itulah saya. Memang cocok jika akhirnya teman saya, Dinar, berkata hari minggu kemarin adalah 'jalan-jalan setelan random' ala saya. Sampai saat ini saya selalu berpedoman, "Jika ingin pergi, pergilah! Ikuti saja kemana kaki melangkah" :D

13 July 2012

Fiksi - Juli

: Dira Adrian

Hei, ingatkah kamu? Ini sudah bulan ketujuh, akhir Juli yang selalu kita –atau mungkin hanya aku— nantikan. Juga bulan di mana kamu mengulang hari kelahiranmu. Kamu bilang Sabtu siang pada minggu kedua di stasiun Bandung. Dan sekarang aku di sini untuk memenuhinya, penuhi janji yang kita buat setahun lalu.

Hujan masih saja merintik di bulan Juli, dan malah kian menjadi, bukannya bergegas meretas kemarau. Selepas tiba di stasiun, aku berlari menuju sebuah bangku kosong di tempat tunggu. Yang kucari hanya sosokmu. Sebuah wajah yang sudah sangat tidak asing, yang terekam kuat di dalam memori otakku. Kamu. Ya, hanya kamu. Entah mengapa, jantungku rasanya berdebar beberapa kali lebih kencang menanti kamu.

Lima belas menit berlalu, kamu tak datang. Tiga puluh menit menjalar, kamu masih tak juga menunjukkan rambut ikalmu. Satu jam. Dua jam. Tiga jam.. Berjam-jam berlalu tanpa ada sosokmu. Pesan singkat, semua panggilan tak ada yang kamu gubris. Aku sudah tak tahan lagi. Rasanya semua rasa berhamburan sudah. Awalnya aku sangat senang, kamu harusnya tahu bagaimana aku begitu menantikan hari ini datang dan akhirnya bertemu kamu lagi. Tapi kekecewaan mulai menyeruak dari dalam diri. Kesal. Sedih. Marah. Namun, tetap masih berharap. Berharap kamu menampakkan diri di hadapanku..

*

: Arisha Aryani

Saya masih mengingat dengan jelas, hari ini harusnya saya pergi. Pergi ke kotamu, bertemu kamu di sana. Sejak terakhir kali kita bertemu, saya begitu menantikan hari ini datang dengan terburu-buru. Rasanya dulu saya ingin mempercepat hari, dan langsung lari ke tanggal ini.

Saat terakhir kali kita bertatapan muka dan membuat janji untuk saling menemui di tanggal ini, saya tahu bagaimana rindu itu terbuat; saya hanya butuh campuran antara selangkah jarak dan sedetik mengalihkan pandangan dari kamu --di saat itulah saya merasakan arti merindu.

Tiket kereta menuju Bandung sudah saya siapkan dari jauh-jauh hari. Namun, sekarang tiket itu sudah tak berguna lagi. Kereta api yang seharusnya saya tumpangi sejak delapan jam yang lalu, kini sudah melaju tanpa bayangan. Dan kini saya hanya melamun di atas atap genteng rumah. Membakar beberapa puntung rokok, sambil tak henti-hentinya memikirkan kamu di sana. Beberapa pesan singkat berdatangan dari kamu. Dua kali panggilan tidak saya angkat. Saya hanya tak mau semua ini menjadi semakin sulit.

"Dira, Juli udah nungguin daritadi tuh di bawah. Buruan, katanya mau cari souvenir buat nikahan!", sebuah suara samar-samar terdengar ditelinga saya. Ah, maafkan saya Arisha..

09 July 2012

Indonesia, saya semakin jatuh cinta padamu!

Saya semakin tergila-gila pada Indonesia; pada pantainya, pada alamnya, pada gunungnya, pada penduduknya, pada kulinernya, semuanya.
Sudah seminggu saya di Palu, Sulawesi Tengah. Walaupun tidak ada bioskop, saya puas dengan tontonan yang disuguhkan oleh kota ini. Palu dikelilingi oleh gunung-gunung yang luar biasa indah, membentang mengelilingi kota. Pantai yang tenang, air laut yang jernih, terumbu karang dan ikan-ikan yang cantik. 
Ada beberapa yang unik di sini: Pisang goreng (manis) disuguhkan dengan sambal; Tempat makan kaki lima ---penyetan, ayam goreng, dan sebagainya, hampir semuanya bernama 'Mas Joko'; Angkutan kota di sini mereka bilang taxi, sedangkan taxi mereka bilang argo. Makanya, orang sini kaya kaya, tiap hari pake taxi untuk nganter kemana-mana :)
Untuk masalah kuliner, di Sulawesi Tengah terkenal sekali dengan kaledo (Kaki Lembu Donggala), dan ternyata sangat nikmat disajikan dengan singkong. Masih banyak cerita lainnya, tapi nanti saja saya lanjutkan.. berikut sedikit jejak yang terekam oleh kamera:

Pantai Taman Ria, Palu
Pengantar Setia, Daihatsu MRM Community
Indahnya Pantai Tanjung Karang, Donggala - Palu


PS: saya melakukan kesalahan terbesar yang sangat fatal:
meninggalkan charger kamera di BSD. dan akhirnya kamera
itu tidak terpakai karena mati. errrgh!

26 June 2012

:)

Senyum dan syukuri: dua kunci bahagia.
Sederhana yaa? Tapi kita terlalu sering memungkirinya.

13 June 2012

cerpen : di suatu pagi

Pagi ini tak seperti pagi biasanya. Entah ada angin apa, aku memilih berangkat lebih pagi dari rumah menuju kantor. Pukul enam tepat aku sudah berdiri manis di halteu bus feeder, menanti kedatangan satu-satunya transportasi publik yang bisa mengantarkanku bekerja. Padahal di hari-hari biasanya, pada jam yang sama aku masih berias diri di depan cermin, mengulas make up, dan menata rambut. Lima menit kemudian bus tersebut datang, aku yang sudah membeli tiket langsung naik dan masuk ke dalam bus. Beginilah enaknya pergi lebih awal. Bus yang kutumpangi cukup kosong, sehingga aku bisa memilih kursi di manapun. Hingga akhirnya aku memilih duduk di baris ketiga sisi kanan, persis sebelah jendela, agar aku bisa bersandar dan menerawang jalanan dari balik kaca jendela bus.

Tak lama berselang, seorang lelaki masuk dari pintu depan bus, berjalan pelan sambil menyapu kursi-kursi kosong dengan mata indahnya. Lalu secara tiba-tiba dan tak terduga dia duduk di sampingku. Lelaki itu tersenyum. Tampan. Aku yang masih tak sadar harus berbuat apa hanya tersenyum kaku membalasnya. Mungkin inilah hikmah berangkat lebih pagi: calon jodohku tak akan bisa lagi dipatuk ayam, karena aku bangun lebih cepat darinya. Ha!

Beberapa menit setelahnya, bus feeder ini jalan mengikuti rutenya seperti biasanya. Yang berbeda adalah, aku duduk di samping lelaki yang menurutku menarik. Yang menbuatku terpesona tepat pertama kali aku melihatnya. Dan apa yang harus aku lakukan setelah ini? Aku ingin sekali berkenalan dengannya, sekedar tau namanya pun aku akan sudah teramat puas. Tapi bagaimana bisa?

Ah bodohnya aku, haruskah aku yang pertama membuka percakapan dengan orang yang tidak aku kenal di tempat umum seperti ini. Plak. Sadarlah, dia hanya seorang penumpang yang kebetulan satu bus denganmu, dan kebetulan dia memilih posisi duduk disebelahmu. Tidak, jelas semua itu bukan kebetulan. Dari sekian banyak bus yang ada, dia memilih pergi jam enam dan menaiki bus ini. Dari sekian banyak kursi kosong yang tersedia, dia memilih untuk duduk disampingku. Bukankah itu adalah pilihannya? Bukankah itu adalah takdirnya untuk duduk dan menaiki bus ini disampingku? Dan mungkinkah ini artinya sebuah kesempatan untuk aku dan dia bisa saling bertemu, saling mengenal, atau bahkan lebih. Bukankah semua kejadian tak ada yang tanpa sebab dan tak bermakna?

"Hei, berangkat kerja ya? Ngantor dimana?" Oh, jelas tidak mungkin aku menanyakan hal itu.
"Tumben ya Jakarta belum terlalu macet!" Pernyataan bodoh. Ini masih pukul enam pagi.
"Mas, punya obeng ngga?", "Ayah kamu polisi ya?" Oh tidak, taktik ini hanya akan menjatuhkan harga diriku.
"Hei, kamu kok ganteng sih?" Plak. Ah, aku kehabisan kata.

Pagi ini benar-benar tak seperti pagi biasanya. Aku benar-benar gelisah duduk di kursi bus ini. Semuanya terasa serba salah. Ini semua karena seorang lelaki yang duduk tepat di samping kiriku. Ya, seorang lelaki asing. Seorang asing yang baru beberapa menit duduk di sampingnya saja sudah membuat hatiku bergemuruh keras. Entah rasa apa yang bergejolak di dalam sini. Kekaguman. Ketertarikan. Ah, entahlah!

Lalu aku menyadari, empat puluh menit berlalu. Lelaki itu kini asik mendengarkan headset di telinganya, sambil asik mengetik dengan smartphonenya. Sampai aku hampir tiba di depan gedung kantor pun, aku tak berani bersuara sepatah kata pun kepadanya. Briliant!

Bus feeder yang kutumpangi pun akhirnya menepi di sebuah halteu yang berada tepat di depan kantorku.
"Permisi.." hanya satu kata itu yang akhirnya aku bisa katakan kepadannya. Tidak kurang, tidak lebih. Bodoh.
Aku melihatnya sekilas, dia balas memandangiku. Sekejap. Lalu aku pun turun dari bus dengan langkah gontai. Ya, mungkin Tuhan memang tidak merencanakan apapun tentang ini. Atau Tuhan memang telah merencanakan ini, membuat kesempatan ini, tapi baik aku maupun dia tidak ada yang memilih untuk mengambilnya.

Bus itu semakin lama semakin menjauh dari pandanganku, berlari tangguh menggilas aspal jalanan kota Jakarta.

Pagi ini memang tak seperti pagi biasanya.
Pagi ini aku merasakan jatuh cinta dan patah hati dalam satu waktu yang sama.

11 June 2012

Sebelas Juni

Dua puluh tiga tahun yang lalu ibu saya berjuang keras mempertaruhkan nyawanya untuk kelahiran saya agar bisa mencium kehidupan dunia. Terima kasih Ma, tanpamu aku tak akan pernah ada di sini :')
Bertambah satu angka lagi di umur saya. Bukan bilangan yang kecil. Melainkan angka yang sangat besar.
23 x 365 x 24 x 60 x 60. Itulah jumlah detik yang telah Allah berikan untuk saya. Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Semoga saya bisa semakin dekat denganmu, Ya Rabb :)

06 June 2012

Convo : minta siapa?

bla bla bla

R : Banyak ya yang udah nikah?
M : Gatau juga sih, tapi umur segini mah emng udah mulai waktunya sih ya..
R : Iya, trus kamu kapan? Udah pas lah umur segini.
M : Haaaaa! sama siapa, do?
R : Ya kamu maunya sama siapa? Tinggal minta sama Allah.
M : ... #deg

Sepertinya saya harus mendefinisikan ulang dan memperdetail permintaan..

07 May 2012

Pantai Goa, Sumbawa Besar

Dalam seminggu, sudah empat kali saya ke Pantai Goa. Berburu kuliner ikan :)
Beraneka ragam jenis ikan ada di sini, dari mulai kakap merah, baronang, dan lain-lain, juga tak lupa ada cumi-cumi. Harganya pun tergolong murah, cumi besar dihargai dua puluh sampai dua puluh lima ribu rupiah. Ikan dihargai mulai dari dua puluh lima ribu rupiah, tergantung jenis dan ukurannya. Serta jangan lupa untuk mencoba 'sepat', makanan khas Sumbawa. Rasanya asam-asam segar dan agak 'sepet' sedikit. Tapi sepat ini cocok banget buat dimakan bareng ikan, bau amis dari ikannya jadi ngga berasa dan menambah nafsu makan :D

Ini penampakan pantainya di siang hari, saat itu air pantainya sedang surut, dan banyak kapal nelayan di pantai ini. Yay, selamat makan siang dan menikmati hari :)

Pantai Batu Gong, Sumbawa Besar

Baru seminggu di Sumbawa, sudah dua kali saya mendatangi Pantai Batu Gong. Pantai ini terletak di Desa Labuhan Sumbawa, sekitar setengah jam dari pusat kota Sumbawa Besar. Pantainya cukup indah, banyak anak penduduk lokal yang berenang dan juga wisatawan lokal yang berkunjung ke pantai ini saat weekend. Saat menjelang sore hari, banyak penduduk lokal yang memancing di pantai ini.
Pantai Batu Gong ini terbilang bersih, tapi sayang kurang dikelola dengan baik, di sekitaran pasir juga banyak sampah-sampah kecil yang berserakan sehingga mengurangi keindahan pantai Batu Gong ini. Jangan lupa makan es kelapa muda di sini, segaaaaar :)
Beberapa penampakan pantai Batu Gong :



Team Sumbawa & Kepala Bengkel



Selamat menjalani senin yang ceriaa :)

29 April 2012

Saya di Sumbawa Besar?


Hari Jum'at kemarin untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Sumbawa --lagi lagi untuk keperluan dinas. Rasanya sulit dikatakan. Pergi seorang diri dari Jakarta, tiba di Lombok dan langsung dijemput oleh kepala bengkel Daihatsu. Lalu langsung melanjutkan perjalanan ke Sumbawa Besar. Dua jam perjalanan dari Bandar udara International Lombok ke Pelabuhan Kayangan, kemudian dari pelabuhan menaiki ferry yang juga waktu tempuhnya memakan dua jam berlayar, diteruskan perjalanan darat ke Sumbawa Besar. Dan yaa, saya masih di sini sekarang, masih terheran-heran bagaimana bisa saya berada di sini. Dan saya masih harus melewati lima belas hari di sini, semoga banyak cerita menyenangkan :D

Hari ini saya diajak ke pantai Batu Gong, ke pantai Goa, makan 'sepat' yang merupakan makanan khas Sumbawa Besar. Ya, sejauh ini semuanya menyenangkan dan berjalan lancar. Saya samakin jatuh cinta dengan Indonesia, dengan pantainya, dengan alamnya, dengan semua isinya. Merasa sangat bersyukur bisa hidup dan tinggal di negeri ini. Selamat berakhir pekan :)

Bangka: sebuah pelarian

[20 - 22 April 2012] Bangka, sebuah pulau yang menyenangkan.
Tiga hari sangat cukup untuk melupakan rutinitas kerja sejenak. Kembali berkumpul dan berlibur bersama keluarga. Langit biru. Pantai yang indah. Kegembiraan. Senyuman. Kuliner yang tiada henti-hentianya. Ah, ini adalah pelarian terindah, sungguh :D


Bandara Depati Amir, Bangka

Pantai Tanjung Pesona

Kepiting spesial Mr. Asui


Parai Beach Resort