19 October 2011

Warisan Ambisi (yang tak tergapai)

"Dari mulai kakek, papa, mama, semuanya seniman. Kalo bukan kamu, siapa yang bakal nerusin darah seni keluarga kita?"
"Dulu Mama pengen jadi dokter tapi ngga ada biaya, abis lulus nanti kamu kuliah kedokteran aja ya!"
"Kamu pilih jurusan manajemen bisnis aja, biar nanti kamu bisa terusin perusahaan papa!"
"Udah cari kerja aja, jadi PNS tuh kayak papa. Mau bisnis modalnya dari mana?"
"Liat tuh anaknya tante Nina, ditugasin kerja ke Jepang. Kamu kayak dia juga dong!" 


Lima kalimat di atas menggambarkan sedikit contoh tuntutan dan keinginan terpendam orang tua kepada anaknya, alih-alih mereka menyebutnya saran --yang pada akhirnya menjadi perintah halus yang harus dipenuhi, sebagai bakti kita kepada mereka. Pernah merasakan? Saya pernah, dan sekarang merasa sedang mengalaminya.

Oke, saya sangat yakin mereka mengajukan beberapa 'keinginan' itu juga demi masa depan si anak. Tapi apakah semua 'keinginan' orang tua itu sejalan dengan keinginan si anak? Apakah 'keinginan' itu tidak akan memberatkan dan membebani si anak? Yakinkah 'keinginan' itu yang terbaik untuk si anak, bukan sekedar ambisi orang tua yang diwariskan kepada sang anak?

Hanya ada dua pilihan: memenuhi 'keinginannya' sebagai bakti anak kepada orang tua, atau membuat mereka kecewa karena menolak 'keinginannya'.

Mungkin keinginan ini adalah mimpi-mimpi yang belum bisa atau memang tidak bisa mereka wujudkan pada saat dahulu, atau mungkin kumpulan ambisi terpendam yang memang harus dicapai olehnya (atau keturunannya). Tapi semua ini keinginannya. Bukan keinginan saya. Ada kalanya saya HARUS mengikuti keinginannya, dan mengesampingkan keinginan saya atau bahkan mengubur keinginan saya dalam-dalam.

Sangat mungkin semua ini akan menjadi siklus yang tak berujung. Mungkin pada saatnya nanti mimpi-mimpi, ambisi, dan keinginan saya yang tak terwujud akan saya wariskan kepada keturunan saya? Menuntutnya untuk memiliki mimpi-mimpi saya yang terpatahkan pada saat ini? Ya, dan inilah siklus tanpa akhir! Lingkaran yang tak pernah terputus. Ah, tapi saya mau membebaskan mimpi saya, tak ingin mewariskannya, cukup sampai di saya semua warisan mimpi dan ambisi itu.

Ada yang punya warisan kebebasan?

7 comments:

  1. Assalamu'alaikum, blogwalking, baca2 nyari inspirasi dan salam kenal ^_^
    Saya follow Blognya, follow balik ya ke AndyOnline.Net
    jangan lupa buat yang suka corat-coret di Blog, yuk gabung di BLOOFERS (Blog Of Friendship)

    ReplyDelete
  2. Wah mel, emang kamu disuru ngapain mel ? :D
    kamu ngga minat sama yg diinginkan orang tua?
    hmm,emang berat klo kaya gitu. Tapi komunikasi saling tuker pikiran, bisa jadi solusi :D #SOKTUAH

    ReplyDelete
  3. gw mel, dari jaman kuliah, sampe kerja pun smua keinginan orang tua, dan smoga benar dan yg terbaik yah mel hehe. kamu boleh memilih kok :)

    ReplyDelete
  4. kayak orang madura ya.. ada warisan dan ambisi yang nggak pernah putus akan dendam.. namanya carok.. serem mba.

    ReplyDelete
  5. i'm one of them mel.. menurut aku sih, ikuti saja, bahagiakan orang tua. masalah passion itu urusan kita. kasih tunjuk juga ke mereka, mereka bisa bangga juga dari passion kita (yg mungkin bukan kemauan mereka)..
    PS: lama tidak berkunjung ke blognya neng melia.. hehe..

    ReplyDelete
  6. jadilah dirimu sendiri..
    tetep ikutin kata orang tua...
    tapi kreatifitas tetep di kebangkan

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)