15 November 2011

Apa yang dicari di dunia?

Apa sih yang dicari di dunia?
iseng, dulu banget saya pernah memasang tweet seperti ini. dan jawaban apa yang saya dapatkan?

"Mati !"
"Harta tahta lelaki dan surga hahahahaha"
"Pahala menuju surga.... :D"
"Bekal menuju akhirat,, aminn"
"Kenikmatan!! kenikmatan dunia akhirat :P"

Ujung-ujungnya semua mengamini kalau yang dicari di dunia ini adalah bekal untuk di akhirat kelak. Dunia ini hanyalah persinggahan sementara yang tidak berlangsung lama untuk persiapan sampai ke akhirat.

Kadang sering kali orang --khususnya saya, terpaku pada tujuan-tujuan duniawi yang sesungguhnya sangat fana: kesenangan, akademik, karier, asmara, kekayaan, jabatan, serta (banyak) urusan-urusan lain yang sepele, namun entah kenapa harus dipermasalahkan (dan diselesaikan bukan dengan cara yang semestinya). Sebenernya yang hilang dari semua ini adalah esensinya, tujuan awalnya, dan niat awalnya. Orang-orang berlomba pingin punya harta yang melimpah. Yang salah itu ketika uangnya didapat dengan cara yang tidak halal, ditimbun di dalam saku sendiri, bukan malah membelanjakan harta itu di jalan-Nya.
Padahal kalau udah mati, apa yang mau dibawa?

Ada banyak perumpamaan akan dunia: 
"Kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan."
"Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."
"Wahai Daud, perumpamaan dunia yaitu laksana bangkai di mana anjing-anjing berkumpul mengelilinginya, menyeretnya kian kemari. Apakah engkau senang menjadi seekor anjing, lalu ikut bersama mereka menyeret bangkai itu kian kemari?" (Hadist Qudsi) 

Selagi masih dikasih kesempatan untuk hidup, dan sebelum 'pencarian' di dunia ini berakhir. Sekarang saatnya untuk kembali meluruskan niat, meluruskan tujuan. Semoga semua yang kita lakukan bisa menjadi bekal di akhirat kelak, menjadi ladang amal bukan malah menjadi tambang dosa. Aamiin.
  
# catatan ini ditulis untuk pengingat diri
semoga bisa mengingatkan yang lainnya juga :) 

19 October 2011

Warisan Ambisi (yang tak tergapai)

"Dari mulai kakek, papa, mama, semuanya seniman. Kalo bukan kamu, siapa yang bakal nerusin darah seni keluarga kita?"
"Dulu Mama pengen jadi dokter tapi ngga ada biaya, abis lulus nanti kamu kuliah kedokteran aja ya!"
"Kamu pilih jurusan manajemen bisnis aja, biar nanti kamu bisa terusin perusahaan papa!"
"Udah cari kerja aja, jadi PNS tuh kayak papa. Mau bisnis modalnya dari mana?"
"Liat tuh anaknya tante Nina, ditugasin kerja ke Jepang. Kamu kayak dia juga dong!" 


Lima kalimat di atas menggambarkan sedikit contoh tuntutan dan keinginan terpendam orang tua kepada anaknya, alih-alih mereka menyebutnya saran --yang pada akhirnya menjadi perintah halus yang harus dipenuhi, sebagai bakti kita kepada mereka. Pernah merasakan? Saya pernah, dan sekarang merasa sedang mengalaminya.

Oke, saya sangat yakin mereka mengajukan beberapa 'keinginan' itu juga demi masa depan si anak. Tapi apakah semua 'keinginan' orang tua itu sejalan dengan keinginan si anak? Apakah 'keinginan' itu tidak akan memberatkan dan membebani si anak? Yakinkah 'keinginan' itu yang terbaik untuk si anak, bukan sekedar ambisi orang tua yang diwariskan kepada sang anak?

Hanya ada dua pilihan: memenuhi 'keinginannya' sebagai bakti anak kepada orang tua, atau membuat mereka kecewa karena menolak 'keinginannya'.

Mungkin keinginan ini adalah mimpi-mimpi yang belum bisa atau memang tidak bisa mereka wujudkan pada saat dahulu, atau mungkin kumpulan ambisi terpendam yang memang harus dicapai olehnya (atau keturunannya). Tapi semua ini keinginannya. Bukan keinginan saya. Ada kalanya saya HARUS mengikuti keinginannya, dan mengesampingkan keinginan saya atau bahkan mengubur keinginan saya dalam-dalam.

Sangat mungkin semua ini akan menjadi siklus yang tak berujung. Mungkin pada saatnya nanti mimpi-mimpi, ambisi, dan keinginan saya yang tak terwujud akan saya wariskan kepada keturunan saya? Menuntutnya untuk memiliki mimpi-mimpi saya yang terpatahkan pada saat ini? Ya, dan inilah siklus tanpa akhir! Lingkaran yang tak pernah terputus. Ah, tapi saya mau membebaskan mimpi saya, tak ingin mewariskannya, cukup sampai di saya semua warisan mimpi dan ambisi itu.

Ada yang punya warisan kebebasan?

18 October 2011

Photo : Di Udara

diambil di dalam pesawat dalam perjalanan Bandung - Bali :



diambil di dalam pesawat dalam perjalanan Lombok - Bali :
 

17 September 2011

Kampung Naga

Kampung naga ini ada di wilayah Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Bukan karena di kampung ini ada 'naga'nya, tapi karena letaknya dina gawir, jadilah disebut kampung naga :)
.. dan berikut penampakan dari Kampung Naga yang masih sangat memegang tradisi dan adat istiadat leluhur: 

17 August 2011

MERDEKA!!


Jika masih saja ada yang bertanya 'Merdeka kah kita?', coba ingat kembali pembukaan UUD 1945:
"Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorong oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya."
Kita sudah merdeka,
Allah Yang Maha Kuasa yang memberikannya, rakyat Indonesia yang menginginkan dan memperjuangkannya.
.. dan sekarang tugas kita tinggal berjuang untuk mempertahankan dan menjaga 'pemberian' itu.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-66
Semoga bangsa ini terus maju,
semoga bangsa ini semakin dewasa,
semoga bangsa ini diberikan kesabaran dan kesadaran,
semoga bangsa ini dapat terus menghargai jasa pahlawannya,
serta selalu ada dalam rahmat dan lindungan-Nya.
Aamiin.

MERDEKA!!

25 July 2011

Graduation day :)

akhirnya hari itu datang juga.

23 juli 2011.

ternyata begini rasanya wisuda, jadi sarjana teknik.

antara biasa aja, bahagia, nyesek, sedih, terharu, lega, semuanya campur aduk jadi satu.

.. dan semuanya berjalan dengan sangat luar biasa!

cuma satu yang kurang dari semua ini, Bapak ngga dateng ke wisudaan karena masih sakit :'(

Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah. makasih buat Mamah, Bapak atas segala dukungan dan kasih sayangnya yang selalu tercurah buat saya, i love you :* juga ade, dan nenek ..

senang-senang bahagia, yang selama 4 tahun selalu ada untuk bersenang senang bahagia selalu. makasih mariana buat cokelat bunganya. makasih nana, triayu, dan frans buat bunganya. buat inez, rany, lena, angga, upay, yang udah nyempetin datang dan nyusul, dan terimakasih juga buat bunganya :)

aaaa, pokoknya terimakasih buat semuanya. Alhamdulillah :)





20 July 2011

Ngga mau keluar dari zona nyaman! (belum mau)

Aneh. Kemaren-kemaren saya pengen banget cepet lulus.
Pas udah tinggal menghitung hari menuju wisuda, malah ngga mau semua ini cepat berakhir. Masih pengen kayak gini, jadi mahasiswa. Masih mau ada di sini. Belum mau ke mana-mana. Masih nyaman dengan keadaan kayak gini. Berada di zona nyaman dan aman.

Alur hidup kebanyakan orang kan kalo setelah lulus kuliah pasti kerja yaa. Tapi, sampai saat ini belum ada bayangan mau kerja di mana. Belum nyoba ngirim lamaran kemana-mana. Kalo udah masuk dunia kerja, artinya harus adaptasi lagi sama lingkungan baru, ketemu orang baru, berada di tempat yang berbeda, dengan suasana yang berbeda, dan tekanan yang berbeda. Ngga mauuu! Ngga mauuu! Yeah, untuk saat ini belum mau aja sih.

Sidang kemaren itu berasa antiklimaks nya. Dulu, mikir pengen cepet-cepet lulus karena emang udah ngga kuat dan jenuh bergelut jadi mahasiswa Teknik Informatika. Tapi setelah TA beres, ngga kebayang wisuda gimana, setelah lulus mau ngapain, ga ada planning setelah itu. Karena target awal cuma pengen beresin TA dan lulus. Titik.

Empat tahun di kampus putih biru ini terasa begitu cepat. Awalnya ogah-ogahan dan ga ada semangat karena ngga betah sama suasana kampusnya. Awalnya ngeluh terus karena ternyata jurusan Teknik Informatika tidak seindah yang saya bayangkan, dengan tugas yang terus membabi buta. Tapi yaah, akhirnya terbiasa juga, dan lama-lama terasa nyaman dan menyenangkan. Bersyukur banget bisa nemu orang-orang yang tidak berkedok di sini, orang-orang yang selalu bisa menguatkan dan saling support, orang-orang yang bisa bikin ketawa ngakak, orang-orang tempat berbagi dan membuat cerita. Rasanya ngga mau pisah sama anak-anak Senang-Senang Bahagia, ngga mau pisah sama temen-temen di Masyarakat Jurnalistik, anak-anak Bandung yang (cukup) jadi minoritas di kampus ini, Cathbell family, dan semua temen-temen maen saya. Ahh pokoknya masih mau maen-maen dan bareng sama temen-temen kampus. Semua tekanan dan kejenuhan di kampus ini sangat terbayar dengan ribuan kenangan dan kebersamaan bareng mereka.

Bagaimana pun, waktu terus berputar searah. Maju, tak pernah mundur. Mau ngga mau, siap ngga siap, akhirnya saya harus keluar dari zona nyaman ini.


Bye bye kampus putih-biru dan segala kenangan manis di dalamnya :')
Saya pasti akan sangat merindukan suasana dan seluruh isi kampus ini.

03 July 2011

Finally :)

Hai halo, rasanya udah lama banget ngga nulis di blog ini. KANGEN! :3

Pengen nulis, tapi selalu dihantui sama dua huruf yang paling menakutkan [lebay ya?]. Efek karena galau jadi mahasiswa tingkat akhir. Kebelet pengen cepet keluar dari kampus gara-gara udah terlalu stress sama jurusan saya. Tapi faktanya apa? Saya terlalu MALES buat ngerjain TA, selalu ditunda-tunda, ngerasa ngga punya deadline, ngerasa ngga dikejar apa-apa. Santai. Target mau lulus 3,5 tahun pun pupus sudah.

Sempet sampe dosen pembimbing 1 nanya, “Kemana aja kamu selama ini?” gara-gara selama nyaris 4 bulan sama sekali ngga ngadep ke beliau buat bimbingan. Dan di lain waktu, dosen pembimbing 2 juga nanya, “Kamu mahasiswa bimbingan saya ya?” itu ketika saya ngajuin perpanjangan SK, dan sekalipun emang belum pernah bimbingan langsung sama beliau, baru nanya-nanya lewat email. Haha, gilaa kan? Mahasiswa macam apa?

Sampai akhirnya baru sadar kalo hampir 1 tahun sudah terlewatkan tanpa ada banyak progress dari TA saya. Kerjaannya cuma maen maen maen, kelayapan, nonton tv kabel, internetan, twitteran, maen game, dan banyak pekerjaan yang sia-sia lainnya. NYESEL? BANGET!! Sejujurnya dari dulu suka malu sendiri ngeliat orang lain rajin bimbingan, rajin konsultasi sama senior, atau antar-temen. Nah saya? Pura-pura masa bodo! Padahal terus kebayang-bayang. Satu hal yang selalu dipikirin ketika mau bimbingan: belum ada progress. Dan ini satu kesalahan fatal, ketika terus ditunda, progress itu ngga akan pernah ada. Masalah terbesar saya yang lain: ngga terlalu bisa coding, dan ngga tau harus minta bantuan ke siapa. Ngga enak kalo harus nyusahin orang. Dan mungkin emang udah didikan dari waktu kecil juga kali yaa, ‘Kerjain aja dulu semuanya semampu kamu, sebisa kamu. Jangan terlalu bergantung sama orang lain’.

Ahh gila, ngerjain TA tuh banyak banget galaunya. Dari mulai gonta-ganti bahasa pemrograman, gonta-ganti data pengujian, stuck buat ngevaluasi sistem. Di saat mandeg, diem lagi, santai lagi. Ketar-ketir pas mau perpanjangan SK, takut ngga di-acc. Kebut-kebutan benerin sistem, pengujian, dan nyelesein buku di H min sekian. Ketar-ketir pas H-1 batas pendaftaran sidang bulan Juni, gara-gara bimbingan masih kurang satu kali dari syarat minimum. Ahh, bener-bener ngga tau apa yg bakal terjadi kalo seandainya ngga bisa ngejar daftar sidang tgl 7 Juni, kemungkinannya harus ngulang TA 1 dan ganti judul dari awal lagi. Banyak pikiran-pikiran jelek dan rasa takut, tapi akhirnya cuma bisa pasrah dan berdoa.

Tapi pertolongan Allah memang begitu dekat. Di saat ada kemauan dan ada usaha, meskipun rasanya pengen banget buat berhenti, nyerah, tapi justru Allah ngelancarin semuanya. Di saat hari terakhir pendaftaran sidang, dari pagi udah mulai ngebener-benerin buku TA lagi sambil tetep galau. Tiba-tiba dosen pembimbing sms jam 8 an, ‘ayoo ke ruanganku, bimbingan sekarang!’. Tanpa mandi [ups!], tanpa sarapan, langsung berangkat ke kampus. Sambil tetep dag dig dug. “Ini kamu gimana, bimbingannya masih kurang.” Saya cuma bisa senyum, pasrah. “Yaudah prasidang nanti jam 2 siang aja yaa! Siapin slide, ntar sekalian prasidang bareng pembimbing 2 kalo beliau ada.” Alhamdulillah. Satu titik terang, dari situ kebut lagi nyelesein buku, bikin slide, ngapalin bahan. Jam setengah 2 ngebut ke kampus karena baru sadar belum bayar sidang, sementara bank di kampus tutup jam 2. Saat prasidang, rasanya semua dilancarin. Pembimbing1 cuma meriksa buku sambil nanya-nanya dari hasil pengujian dan beberapa konsep. Akhirnya dinilai LAYAK buat maju sidang. Ke pembimbing 2, tanpa babibu, beliau meriksa buku dan nanya tentang hasil evaluasi dan langsung tanda tangan persetujuan buat maju sidang. LEGA, Alhamdulillah.

Dan tgl 21 Juni 2011, jam 11 di ruangan F 305B, sidang telah terlaksana. Akhirnya lulus juga. Bener-bener kayak mimpi. Alhamdulillah :) Tak akan pernah cukup rasanya rasa terimakasih ini kepada-Nya. Dia begitu pemurah, penolong, dan Maha baik. Selalu lah percaya, di saat ada usaha dan kemauan, akan selalu ada jalan dan kemudahan yang Allah berikan. Alhamdulillah. .. yeah, dan saya resmi jadi pengangguran sekarang :D

23 March 2011

MOKO - Warung Daweung


Cafe MOKO a.k.a Warung Daweung (Dago Leweung)
@ Kecamatan Cimenyan, Bandung
with rizkifaisal, chenshendy, ichen, ghina