30 January 2010

Binatang Bebal dalam Biasan Pelangi

oleh Melia Ajani
dipost juga di kemudian.com

Dulu, dia teramat mengagumi torehan warna pelangi. Sama seperti dia mencintaimu.
Pelangi menggoresi langit dengan keindahan warnanya, dan saat pelangi datang selalu mampu membuat semesta takjub. Namun sekarang, dia malah teramat membenci pelangi.

Saat hujan turun, dia selalu berharap pelangi dapat muncul lagi. Tapi ternyata tidak! Pelangi tak lebih dari segala yang tidak nyata. Hadirnya hanyalah kesemuan yang tidak selamanya indah. Seperti juga kamu.

"Saya akan segera menikahimu!" berulang kali kamu berjanji kepada dia.
"Kapan? Lima bulan yang lalu kamu juga bilang begitu, dan sekarang mana buktinya?" ada rasa marah yang menyembul bersama sepuing kekecewaan dalam setiap katanya.
"..dan ingat, saya tidak ingin menjadi wanita kedua dalam hidupmu!" dia menambahkan.
"Tenang, Sayang. Tak lama lagi saya akan segera menceraikannya." ucapmu saat kehamilan dia mulai bertambah besar.

Ternyata benar, kamu menepati janjimu kepadanya. Saat dia telah melahirkan anak dari hasil perbuatan bejatmu dengannya, kamu segera menikahi dia. Padahal, dia tidak lebih dari wanita kotor yang telah digerayangi berbagai pria sepertimu --pria nista berhidung belang. Namun, entah mengapa kamu begitu mencintai dia, melebihi cintamu kepada istri sahmu yang kamu sumpahi akan terus kamu dampingi di sisa hidupmu. Nyatanya, sekarang kamu lebih memilih hidup bersama dia.

Begitu kontradiksi, kini malah saya yang teramat membenci pelangi. Sama bencinya dengan dia yang dulu juga sempat membencimu. Bodohnya saya yang dulu mengibaratkanmu bagai pelangi yang akan memberikan segala warna indahmu. Ternyata, spektrum warna warni indah yang kamu sajikan hanyalah kesemuan yang akhirnya tiada. Biasan kesempurnaanmu pun tidak lebih dari janji serapah palsu yang kamu ucapkan demi harta yang telah saya kumpulkan dengan membanting tenaga yang saya punya. Lantas sekarang, dengan segala kebejatan insting binatang yang kamu miliki, kamu renggut harta itu dan kamu habiskan bersamanya. Tanpa rasa manusiawi, demi wanita simpanan hinamu, kamu tega menceraikan saya dan menelantarkan kedua buah hati kita. Kamu tak lebih dari binatang bebal!!

Sayang, Aku (hanya) Ingin Membunuhmu!

oleh : Melia Ajani
dipost juga di kemudian.com

Gumpalan darah itu tumpah melumer menjerat jejaring kematian yang tak kunjung tertahankan. Sayup-sayup berdentang sebuah suara yang mendesir begitu lembut di telingaku yang tak lagi dapat mendengar. Aku tuli, karena nyatanya aku tak pernah bisa mendengar segala suara yang keluar dari mulut-mulut manusia yang menganjingkan kamu, juga dari mulut manusia-manusia yang kamu anjingkan. Ya, aku memang sudah tuli. Kamu membuatku menjadi seperti ini.

Kini, mungkin memang saatnya aku harus pergi. Tinggalkan sebuah dunia yang penuh dengan tipu daya muslihat. Tempat yang hanya memiliki satu garis linear yang selalu berakhir di sebuah titik hitam besar yang meniadakan sebuah masa lalu. Kamu menyebutnya ini sebuah fragmen kehidupan. Persetan dengan semua yang kamu ucapkan! Aku muak menjilati semua kekata sampahmu yang telah membuat aku terabaikan oleh kehidupan yang semu ini. Aku bukan budak belianmu. Aku bukan pion catur yang bisa kamu gerakkan seenak hatimu demi satu tujuan –kemenangan yang hanya sementara. Hey, ingatlah.. tak ada yang kekal di dunia ini!

Luka ini terus menganga. Cairan kental berwarna merah tua ini terus menetes dari bagian atas lengan kananku. Aku tidak lagi bisa merasakan rasa sakit. Satu tikaman pisau darimu membuatku mati rasa. Entah memang karena aku yang telah mati, atau segala rasa untukmu sudah seharusnya berakhir di sini. Namun, aku berharap masih dapat hidup dan memiliki kesempatan untuk segera membunuhmu.

* * *

Kamu tersenyum menyeringai tiap kali melihatku. Sungguh aku benar-benar ingin merobek bibirmu yang menghitam akibat terus menghisap jutaan puntung rokok yang telah menjadi candu dalam hidupmu. Terlebih aku ingin menggunting lidahmu yang terus bersilat meneriakkan gonggongan serapah kata-kata kotor dari mulutmu yang juga telah berbelatung. Aku muak dengan segala tentangmu. Satu yang ingin segera kulakukan: membunuhmu dengan cara yang paling keji.

“Sekarang apa yang kamu mau, hah! Kamu ingin membunuhku?” kamu tertawa begitu terbahak lantas kemudian meludahi wajahku.

“Bunuh aku jika kamu sanggup, Sayang”

Aku menatap kamu tajam. Jika saja tangan kananku tak terluka, aku akan menonjokmu hingga kamu babak belur. Hancur.

Kamu masih tertawa. Tertawa. Tertawa. Terus tertawa.
Tawamu kian menggema di ruang ini, terlebih di gendang telingaku.

“Kamu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Sayang!” tawamu kini semakin keras. Membuat dirimu gila karena tawamu. Biadab!

Aku memaki tanpa henti. Aku mengucap jutaan serapah sebisaku. Semua hanya untukmu.
Namun— diam. Hanya diam yang kudapati. Ternyata aku hanya bisa bungkam.
Beberapa detik kemudian aku ikut tertawa bersamamu. Tertawa. Membuat tawa yang membuatku gila sendiri.

* * *

Aku harus bangkit dari keterdiamanku. Seenaknya saja kamu mengambil alih kekayaanku. Sedangkan aku terkurung sepi di dalam ruang pengap, gelap, serta lembab. Dasar binatang! Namun, aku tak mau tinggal diam. Sebuah rencana kematian telah aku persiapkan khusus untuk suami biadab macam kamu. Aku akan menguliti kulit legammu yang dipenuhi tato –hanya satu tato yang aku suka: tato yang tertuliskan namaku. Setelah kamu tak lagi memiliki kulit yang melindungi tubuhmu, aku akan mencabik-cabik daging dan tulangmu. Akan aku muntahkan semua isi organ tubuhmu. Anjing-anjing penjaga rumah kita sudah pasti akan menyukai isi tubuhmu. Aku tak perlu bersusah payah mengubur bangkaimu. Mereka akan menjilati dan mencabik dagingmu hingga habis. Puluhan piranha kesayanganmu pun akan kubagi rata. Hanya dalam sekejap bangkaimu akan ludes ditelan mereka. Binasa!

Seseorang membuka pintu ruang ini dengan perlahan. Pasti kamu, pikirku dalam hati. Inilah saatnya membalas dendamku, sayang. Aku akan membunuhmu sekarang juga.

Aku menghamburkan diri ke arah pintu. Menghantam segala yang ada di hadapanku dengan tubuh ringkuhku. Kedua tanganku ikut bergerak tak terkendali. Aku mengamuk sejadiku. Memukul. Meninju. Mendorong. Menendang. Tertawa. Menangis. Berteriak. Aku akan membunuhmu, bajingan!

Sebuah suara secara tiba-tiba terdengar di telingaku.

“Suster, tolong segera berikan suntikan penenang untuk pasien ini.”

Kedua tanganku seketika dicengkram oleh lengan-lengan kekar. Aku meronta. Berteriak-teriak. Tertawa. Tertawa. Tertawa hingga membuatku gila.

“Dok, pasien terus mengamuk.”

“Tambahkan dosisnya dua kali lipat, Suster!”

10 January 2010

biaya ke Ujung Genteng 3 hari 2 malam

*rincian perjalanan dari Bandung ke Ujung Genteng, Sukabumi ini dipost atas permintaan seorang teman. kisah perjalanannya bisa dibaca di: backpack to ujung genteng :)

# transport pulang-pergi
Bus Ekonomi Bandung (leuwi panjang) - Sukabumi Rp 15.000*2 = Rp 30.000
Angkutan kota 03 warna kuning, Sukabumi - Lembur Situ Rp 5.000*2 = Rp 10.000
ELF Lembur Situ – Surade Rp 22.000*2 = Rp 44.000
Angkutan kota Surade – Ujung Genteng Rp 10.000/orang (minta anter sampai penginapan)
Sewa Angkutan Umum selama di Ujung Genteng + uang parkir + jemput buat pulang Ujung Genteng - Surade Rp 370.000/6 = Rp 61.700

subtotal : Rp 155.700

# penginapan
Pondok Hexa (081380585444)
Tipe kamar Lobster non AC Rp 115.000*2malam/3orang = Rp 76.700

subtotal : Rp 232.400

** kalo banyakan lebih enak di Pondok Adi (1 rumah, Rp 360.000/malam)
Desa Kelapa Condong, Gunung Batu, Ujung Genteng, Sukabumi.
Telpon: 0251-316902 atau HP: 0818-101159

# tiket masuk objek wisata
Pantai Ujung Genteng: gratis, karena masuk pake angkot :)
Goa di daerah Surade (lupa namanya): sewa kuncen + sewa lampu Rp 80.000/6orang = Rp 13.300
Curug Tilu, Cikaso: sewa perahu + tiket masuk Rp 80.000/6 = Rp 13.300
Vila Amanda Ratu, Ujung Genteng: gratis juga :)

total (tanpa makan) : Rp 259.000

**jangan lewatin ke Pangumbahan, tempat penangkaran penyu.
sewa ojeg PP + tiket masuk sekitar Rp 50.000 (mahal banget!)

# makan
Pondok Hexa ada restoran, harga standart (buat kantong backpacker sih mahal), pelayanan super lamaaa.
sekitaran penginepan banyak warung2 kecil, cuma jual mie instan, jarang ada tempat makan.
disarankan bawa mie instan + minuman panas seduh, buat masaknya bisa pinjem panci + piring di Penginepan :)
daerah deket Pondok Adi ada warung tempat Bakar Ikan Baronang : Rp 80.000 ( dapet2 ekor ikan ukuran lumayan besar, nyampe 2 kg kayaknya, belum include nasi yaa)


selamat berlibur :)