27 May 2010

cerpen : mencari kematian

Konon, kematian adalah sesuatu yang masih tabu untuk diperbincangkan. Terlalu sulit untuk diceritakan dengan kata-kata. Selama kamu masih bernafas, dia akan mengintai jiwa-jiwa yang masih bernyawa. Tak ada yang pernah tahu kapan dia datang menjemput mereka, kalian, atau pun salah satu dari kita, dan entah dengan cara apa.

Kini hidupku sudah benar-benar hancur. Rusak. Tak berarti. Jika sudah begini, apa bedanya dengan memilih untuk mati? Menjadi bangkai. Busuk. Sama-sama tak ada artinya lagi.
Aku sudah tidak lagi dapat mengendalikan pikiranku. Satu hal yang terus berkecamuk dalam sel otakku: keinginan untuk segera mengakhiri hidup. Mati. Tiada. Bagiku, tak ada beda antara mati kemarin, hari ini, atau esok. Semua orang pasti akan mati. Hanya waktu dan jalan kematian saja yang membedakannya.
Aku ingin mati sekarang juga. Mengakhiri kekejaman dunia yang tak henti-hentinya merampas kebahagiaanku. Berbagai pilihan cara untuk mati berderet panjang dalam anganku. Aku hanya tinggal memilih, ingin mati dengan tragis atau mati yang tenang. Akan berlangsung cepat atau sebentar. Sakit atau tanpa rasa. Berbagai opsi menumpuk di kepalaku yang sepertinya sudah tidak waras lagi. Akhirnya aku memilih untuk mati dengan cepat. Tak peduli itu terasa sakit atau berakhir tragis, yang terpenting aku cepat meninggalkan dunia yang telah busuk.

* * *

Kini, aku tidur di atas rel kereta api. Dingin. Sudah ketiga kalinya aku mencoba bunuh diri. Pertama aku menceburkan diri dari atas jembatan. Aku pikir opsi pertama akan berhasil mengingat aku tak bisa berenang. Namun, ternyata aku masih saja menginjakkan kaki di bumi ini. Kedua, aku menghantamkan tubuhku ke tengah jalan tol yang padat kendaraan. Namun, kematian tak juga menjemputku. Semoga kali ini aku benar-benar tergilas kereta api.
Sudah lima jam berlalu. Tak ada kereta api yang melintas. Bodoh. Hanya membuang-buang waktu. Aku sudah frustasi. Mungkin aku akan meracik racun saja. Hanya dengan membeli lotion anti nyamuk, kapur barus, obat nyamuk cair, spirtus; lantas kemudian tinggal di campur. Tamatlah sudah riwayatku. Kematian yang sempurna!

* * *

Aku berjalan lunglai menyusuri jalanan kota yang masih sepi pada dini hari seperti ini. Belum ada toko atau warung yang buka sedini ini. Lampu jalan membias di udara. Sinar temaramnya membuat aku ingin segera mati.
Aku benar-benar tak tentu arah. Sebenarnya aku tidak begitu yakin ingin mati. Namun, aku juga sudah enggan mengecap pahitnya kehidupan yang semakin keras. Aku terjerat di antara dua buah kesemuan. Hidup atau mati.
Setelah beberapa jam aku berjalan, akhirnya aku kembali ke sebuah jembatan di atas sungai yang dulu menjadi tempat pertama aku mencoba bunuh diri. Aku terhenti sejenak. Banyak sekali orang yang berkerubun di sekitar situ. Tiap kali aku bertanya, tak ada satu pun yang menjawab, bahkan mereka tidak mempedulikan aku. Namun, orang-orang di sini ramai membicarkan tentang sebuah mayat yang tersangkut dekat sungai. Diduga korban tersebut bunuh diri. Tak ada identitas yang ditemukannya. Bau busuk tercium jelas dari sekitar mayat tersebut. Dan kamu harus tau apa yang aku lihat.
“Itu tubuhku. Itu wajahku. Itu mayatku!”
Aku behasil mati, tetapi mengapa aku masih saja berkeliaran di dunia ini?

23 comments:

  1. gak baik neng anak gadis berkeliaran dijalan, mari ikut ke rumahku?" ucapku waktu itu pas ketemu kamu. :D

    ReplyDelete
  2. karena kamu memaksa jiwamu untuk meninggalkan jasadmu tanpa melalui malaikat izrail, sekarang sang malaikat sedang mencarimu,, dimanapun sekarang kamu berada, tinggalkan pesan n beritahu di mana tempat dia bisa menjemputmu,, begitu pesan dari izrail yang dititipkan ke aq,,

    ReplyDelete
  3. Tanpa disadari, Kematian selalu membayangi jiwa yang masih hidup Setiap detik....

    ReplyDelete
  4. kematian emang bisa membirkan inspirasi yg inspiratif :)

    ReplyDelete
  5. kematian...kehilangan..aku tidak suka :(

    ReplyDelete
  6. busyet..jangan ampe lah aku mati bunuh diri..

    ReplyDelete
  7. wiiww,...horror. ..tapi keren juga nih . .aku ga jadi lah bunuh dirinya, takut gentayanga kaya gitu . .hahaha

    ReplyDelete
  8. Kasian, dia malah terjebak di antara hidup dan mati...
    Raganya sudah membusuk tapi jiwanya masih berkelana tak tentu arah...

    ReplyDelete
  9. kematian, kematian, kematian... itu dekat. jangan dicari, dia pasti akan datang.

    ReplyDelete
  10. klo belum waktunya mati, gak bakalan mati jenk.. jadi gk usah cari mati yaa.. daripada gentayangan gak jelas, hehehh

    anyway nice cerpen, salam kenal :)

    ReplyDelete
  11. yg sdg ku rasakan skg nih... :(

    ReplyDelete
  12. widiih, mau bunuh diri tergilas kereta api. btw,Waaaahh.. layout nya ganti lagi :D

    ReplyDelete
  13. wah wah,,,

    mati,,,,
    sepertinya aku masih mau menikmati hidup,,,
    kok mau mati sech,,
    ada2 aja tu cerpennya

    ReplyDelete
  14. Ada award nih kak...
    (As inspirative blog)

    http://aul-home.blogspot.com/2010/05/100-posts-100-followers.html

    ReplyDelete
  15. boleh juga tuh, mati diseruduk banteng.. :)

    ReplyDelete
  16. kematian selalu mengingatkan betapa berharganya hidup ini :)

    ReplyDelete
  17. ahay baguss tulisannya,,
    aku sukaaa,
    padat dan bermakna :)
    good job!

    ReplyDelete
  18. aq belum siap mati....!!!
    aq masih pengen makan dlu ini,lapeeer....!!!

    ReplyDelete
  19. Keren cerpenx..salam kenal y sob.

    ReplyDelete
  20. bagi kamu2 yang suka dengan design grafis, silahkan kunjungi http://abdoelcharies.blogspot.com/ ada berbagai software desing grafis, office, antivirus, dan juga windows 7, semoga bermanfaat...

    ReplyDelete
  21. kematian hanya akan datang pada orang yang tidak pernah memikirkan akan kapan waktu kematiannya datang..

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)