26 March 2010

CERPEN : Pelangi yang Menggantikan Hujan

catatan penulisan: cerpen ini saya buat untuk sahabat saya, yang sekarang akhirnya bahagia bersama pelangi-nya :)


Pelangi yang Menggantikan Hujan

Dulu, dia teramat mencintai hujan. Mencintai tiap tetesan yang jatuh membasahi bumi. Hantarkan aroma tanah yang mengepul karena timpaan rintiknya. Suara gemerciknya selalu mampu membuat hati dia teduh. Setiap kali hujan berurai, dia selalu merasakan sebuah kebahagiaan. Pun terkadang dia turut berbaur di tengah deras hujan yang turun. Dia tidak pernah merasa jera, meski hujan pernah membuat dia sakit karena dia tidak juga menurut untuk berteduh. Dia malah terus larut berbasah-basahan di bawah naungan titik hujan yang mengguyur tubuh dia dengan segala keegoisannya.


Dia mencintai hujan sama seperti dia mencintai seorang lelaki yang datang bersamaan dengan hujan. Lelaki yang juga mencintai hujan. Ya, sang Lelaki hujan. Meski lelaki itu pernah membuat dia teriris perih, tetap saja dia mencintai lelaki itu. Mungkin hingga saat ini, saat lelaki itu telah memiliki gadis yang lain, dan saat dia pun telah memiliki lelaki yang lain.

Saya tidak pernah bisa melupakan lelaki hujan, dia pernah berkata saat awan tertutup kelabu yang bergumul mendung.
Lupakan dia. Kamu terlalu baik untuknya, berulang kali sahabat-sahabat dia meyakinkan gadis yang mencintai hujan itu untuk segera melupakan lelaki hujannya.
Terlalu sulit. Dia tak mungkin dapat saya lupakan, dia terus saja bersikeras.
Mereka pada akhirnya menyerah karena ketangguhan dia yang mempertahankan rasa cintanya terhadap lelaki yang juga sangat mencintai hujan.

* * *

Saat hujan berhenti merintik, pelangi datang menggoresi langit dia. Sebuah lengkung sempurna dengan berbagai warna-warni yang memiliki arti tersendiri dari setiap elemen pembentuknya; merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu. Cahaya indah itu terbias melalui sisa-sisa titik air hujan di udara. Torehan semu itu menggoresi langit dengan keindahannya. Begitu mengagumkan. Sangat sempurna. Membuat siapa pun yang melihatnya akan berdecak kagum dibuatnya, dan seharusnya itu pun berlaku untuk dia.

Namun, warna warni yang tergores di langitnya malah membuat dia teriris. Seolah pelangi berusaha untuk menghapus kecintaan dia terhadap hujan. Karena nyatanya, dia masih teramat mencintai hujan. Matanya tidak pernah ingin menatap kemolekan pelangi yang terbentuk di langitnya. Meski ia tengadahkan wajahnya ke langit, ia tidak bergeming melihat indahnya pelangi. Karena yang ingin dia lihat hanyalah bulir-bulir hujan yang membuat tetesan-tetesan sempurna di bumi. Dan pada akhirnya, membuat genangan air di permukaan jalan. Sehingga saat hujan berhenti, semua orang akan tahu dan menyadari bahwa beberapa saat sebelumnya hujan sempat turun.

Mengapa harus hujan?
Karena saya mencintai hujan, dia selalu menjawab pertanyaan itu singkat.
Apa alasan kamu mencintai hujan?
Apakah selalu harus ada alasan untuk mencintai? Hujan pembawa rezeki. Hujan selalu jatuh memburai kesejukan. Hanya itu!!, selalu dan selalu hal itu yang dia utarakan.

Beruntunglah dia. Saat pelangi menorehkan warnanya, ada lelaki yang juga datang bersamaan dengan pelangi. Lelaki itu pasti sangatlah mencintai dia –sama besarnya dengan dia mencintai hujan. Dia sadar, lelaki yang datang saat hujan berhenti merintik memang jauh lebih baik daripada lelaki hujan. Namun, dia pun tahu kecintaannya terhadap hujan tidak dapat dengan mudah dia hapus. Hujan selalu menyisakan kilauan rintiknya di tempat ia turun. Genangan air yang tersisa di jalanan, bulir-bulir air yang membuat ranting serta rerumputan basah, dan hujan juga yang akhirnya mempersilahkan pelangi bersprektum sempurna. Begitu banyak sisa rintik yang ditinggalkan hujan, begitu pun dengan kenangan yang ditinggalkan lelaki hujan. Mungkin, itulah sebabnya dia tidak juga bisa melupakan sang Hujan.

Saat rintik hujan membuatnya basah, dia seharusnya tidak perlu khawatir. Pelangi akan selalu siap memberikan warnanya untuk dia. Saat hujan hanya mampu menyisakan awan kelabu, langitnya pasti akan kembali cerah dengan adanya goresan pelangi. Banyak warna yang akan dia miliki, namun entah mengapa dia masih selalu berharap hujan turun lagi. Meski pada musim kemarau sekalipun. Tak pernahkah dia lihat ketulusan sang Pelangi yang rela membagi berbagai warnanya untuk mengembalikan perasaan dia yang sempat terpuing akibat derasnya sang Hujan? Mengapa dia terus tundukkan kepalanya ke bawah? Terus melihat sisa-sisa rintik hujan yang telah membasahi bumi, dan juga hati dia. Harusnya dia tengadahkan kepalanya ke atas. Lihatlah, disana langitnya sudah tidak lagi tergoresi kelabu, telah ada goresan pelangi yang sanggup memberikan berjuta warna untuk dia.

15 comments:

  1. hujan adalah suatu anugrah...

    ReplyDelete
  2. ceritanya bagus... jago ya kamu... hehehehehe... sip deh

    ReplyDelete
  3. mendung beraroma kesedihan dan kawatir
    hujan beraroma kesendirian dan sepi
    sementara
    pelangi selalu menghapus aroam mendung dan hujan seketika.

    i love pelangi!!!

    ReplyDelete
  4. aku sukaaaaaa banget
    soalnya ada hujan2nya
    aku suka liatin hujan sambil niup gelembung2 sabun,,,,
    cukup melancholic ya saya??
    heheh

    ReplyDelete
  5. Cerpen yang kereen kak.. like this :))

    ReplyDelete
  6. @all : makasih semuanya dah mampir :D
    seneng deh kalo pada suka. hheee

    ReplyDelete
  7. aduuh bagus bgt ceritanyaaa.....
    seneng bgt aku baca nya,^^

    ReplyDelete
  8. air hujan yg sering aku dan 'lelaki hujan'ku Lihat
    seperti tetes air mata yg terkadang tak dapat kami tahan
    dan mengaLir pada arusnya
    menguap,dan LaLu turun tepat di atas wajah kami kaLa hujan turun.....
    aku berharap dari berjuta tetes hujan ini ada tetes air mata 'lelaki hujan'
    karena itu aku ingin tetap ada bersama hujan,,biar ku rasa ia begitu dekat,sangat dekat,dan terus dekat
    hingga tak ada seorangpun yg akan tahu
    bahwa teLah kutitipkan air mataku pada hujan
    untuk segera ia sampaikan kaLa 'lelaki hujan'ku menatap tetesny..........

    (sory nambah2in, hehee... abis tulisan kamu inspiring bgt sih...)

    ReplyDelete
  9. salam kenal jg yah melia...
    ^_^

    ReplyDelete
  10. nidya: makasih yaa. wah boleeh nih kapan2 kolab buat cerpen. hihii ;D

    ReplyDelete
  11. i love rain...
    so much..

    nice story..

    kalo ada cerita² age yang yak gini cih au dunx ke blog ku..
    ya..
    thx..


    dah maen ke blog ku..

    ReplyDelete
  12. saya juga pernah mencintai hujan :)

    ReplyDelete
  13. @ AkaneD'SiLa: okee, sama-sama ;)

    @ kak irfan: pernah? berarti sekarang ngga lagi?
    hhaa ;D

    ReplyDelete
  14. Saya suka pelangi, waktu kecil sering menunggu munculnya pelangi!

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)