14 March 2010

aku dan malam panjang

Malam adalah waktu yang tepat untuk nikmati kegelisahan.

Dia tak pernah bising, justru fasih lantunkan kesunyian. Sesekali lafalkan sepi yang menggerogoti masa. Selalu hadir di antara pekat. Berikan hitam di atas gemerlap sudut dunia, dan aku akan terus menjaga malam agar tetap gelap.

Sekarang, tak akan ku biarkan malam berjalan cepat. Biar tak perlu tergesa-gesa menyudahi hari. Agar tak terburu-buru menanggalkan angka. Supaya tak usah bersusah payah menelurkan kenangan. Biarkan kita sama-sama merasakan diam yang paling sunyi. Tanpa harus ada mulut yang menganga. Tanpa ada ucapan mematikan. Tanpa riuh ramai suara. Hanya kita: aku dan malam panjang.

*

Dia begitu tahu, malam ini sebenarnya aku ingin berteriak. Aku ingin memaki. Aku ingin marah. Sungguh aku ingin sekali marah. Aku benar-benar ingin memaki. Teramat ingin bisa berteriak sejadi-jadinya. Tetapi itu semua hanya sekedar ingin. Keinginan yang akhirnya tak bisa aku lakukan. Karena dia selalu melenyapkan keinginan itu bersama hening. Hening yang paling senyap: diam.

Dia lalu terdiam, menatapku dengan pandangan kosong. Selalu saja begitu. Setiap malam. Aku benci tatapannya. Sungguh membuatku tak jadi ingin berteriak. Tak jadi ingin memaki. Tak jadi ingin marah. Hanya ingin diam bersamanya. Bersama heningnya, bersama sunyinya... dan tangisnya yang tak pernah bersuara.

*

Malam ini dia kembali bersembunyi bersama gelap. Mengendap dalam lelap. Mengajak ku mengejar bintang di antara hamparan pekat yang tak ada ujung. Gelap. Hitam.
Dia lantas memberiku bintang jatuh. Bersinar terang di kegelapannya.
"Aku tak mau bintang."
"Lantas apa yang kamu inginkan?" dia bertanya.
"Aku ingin pelangi."
Dia terdiam. Kembali menatapku dengan sorotan matanya yang begitu beku, membatu. Tatapan yang selalu mampu mengunci mulutku.
"Pelangi tak pernah ada di saat malam!" dia berbisik lirih di antara lolongan binatang malam.
Kini aku yang terdiam membatu. Mendekap malam bersamanya. Bersembunyi dibalik gelapnya.. dan tangis itu kian pecah membingarkan malam.

*

Sekarang, tak akan ku biarkan malam berjalan cepat. Biar tak perlu tergesa-gesa menyudahi hari. Karena siang pun tak sanggup lagi memberikanku pelangi. Biarkan hitam warnai langitku. Biarkan bintang yang terangi langitku. Biarkan kita terus bersama.

Hanya kita: aku dan malam panjang.


***diposting juga di notes FB saya :D

9 comments:

  1. ga bisa komentar apa2, cuma bisa mnikmati tulisan yg indah dari tiap katanya...

    ReplyDelete
  2. aku suka malam panjaang :D

    ReplyDelete
  3. pelangi tak kan pernah ada dalam kegelapan malam,,,karena malam mutlak miliknya keheningan.

    ReplyDelete
  4. bolehkan aku ikut menikmati malam di sini???

    ReplyDelete
  5. pelangi memang tak akan muncul di malam hari....

    tapi disaat sepi di keheningan malam, kita bisa menggambarkan "pelangi"...

    Tak cukup cuman gambar? berharaplah pada siang dan hujan...

    ReplyDelete
  6. Guys,

    Support The Earth Hour, by turning off all the electricity for an hour on Saturday, March 27'th 2010, 8.30 pm.

    Dukung The Earth Hour, dengan mematikan semua lampu dan listrik selama 1 jam, pada hari Sabtu, 27 Maret 2010 mulai dari jam 20.30 malam.

    This is the least we can do....


    Love the Earth...

    Ninneta

    ReplyDelete
  7. kadang kala malam terasa pendek tapi kadang terasa lama banget..

    ReplyDelete
  8. Aku menikmati malam panjang.. Tapi sayang tanpa 'dia' yg hilang entah kemana?? Where are u now?

    ReplyDelete

tinggalkan jejak kata anda :)