Sayang, Aku (hanya) Ingin Membunuhmu!

oleh : Melia Ajani
dipost juga di kemudian.com

Gumpalan darah itu tumpah melumer menjerat jejaring kematian yang tak kunjung tertahankan. Sayup-sayup berdentang sebuah suara yang mendesir begitu lembut di telingaku yang tak lagi dapat mendengar. Aku tuli, karena nyatanya aku tak pernah bisa mendengar segala suara yang keluar dari mulut-mulut manusia yang menganjingkan kamu, juga dari mulut manusia-manusia yang kamu anjingkan. Ya, aku memang sudah tuli. Kamu membuatku menjadi seperti ini.

Kini, mungkin memang saatnya aku harus pergi. Tinggalkan sebuah dunia yang penuh dengan tipu daya muslihat. Tempat yang hanya memiliki satu garis linear yang selalu berakhir di sebuah titik hitam besar yang meniadakan sebuah masa lalu. Kamu menyebutnya ini sebuah fragmen kehidupan. Persetan dengan semua yang kamu ucapkan! Aku muak menjilati semua kekata sampahmu yang telah membuat aku terabaikan oleh kehidupan yang semu ini. Aku bukan budak belianmu. Aku bukan pion catur yang bisa kamu gerakkan seenak hatimu demi satu tujuan –kemenangan yang hanya sementara. Hey, ingatlah.. tak ada yang kekal di dunia ini!

Luka ini terus menganga. Cairan kental berwarna merah tua ini terus menetes dari bagian atas lengan kananku. Aku tidak lagi bisa merasakan rasa sakit. Satu tikaman pisau darimu membuatku mati rasa. Entah memang karena aku yang telah mati, atau segala rasa untukmu sudah seharusnya berakhir di sini. Namun, aku berharap masih dapat hidup dan memiliki kesempatan untuk segera membunuhmu.

* * *

Kamu tersenyum menyeringai tiap kali melihatku. Sungguh aku benar-benar ingin merobek bibirmu yang menghitam akibat terus menghisap jutaan puntung rokok yang telah menjadi candu dalam hidupmu. Terlebih aku ingin menggunting lidahmu yang terus bersilat meneriakkan gonggongan serapah kata-kata kotor dari mulutmu yang juga telah berbelatung. Aku muak dengan segala tentangmu. Satu yang ingin segera kulakukan: membunuhmu dengan cara yang paling keji.

“Sekarang apa yang kamu mau, hah! Kamu ingin membunuhku?” kamu tertawa begitu terbahak lantas kemudian meludahi wajahku.

“Bunuh aku jika kamu sanggup, Sayang”

Aku menatap kamu tajam. Jika saja tangan kananku tak terluka, aku akan menonjokmu hingga kamu babak belur. Hancur.

Kamu masih tertawa. Tertawa. Tertawa. Terus tertawa.
Tawamu kian menggema di ruang ini, terlebih di gendang telingaku.

“Kamu sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Sayang!” tawamu kini semakin keras. Membuat dirimu gila karena tawamu. Biadab!

Aku memaki tanpa henti. Aku mengucap jutaan serapah sebisaku. Semua hanya untukmu.
Namun— diam. Hanya diam yang kudapati. Ternyata aku hanya bisa bungkam.
Beberapa detik kemudian aku ikut tertawa bersamamu. Tertawa. Membuat tawa yang membuatku gila sendiri.

* * *

Aku harus bangkit dari keterdiamanku. Seenaknya saja kamu mengambil alih kekayaanku. Sedangkan aku terkurung sepi di dalam ruang pengap, gelap, serta lembab. Dasar binatang! Namun, aku tak mau tinggal diam. Sebuah rencana kematian telah aku persiapkan khusus untuk suami biadab macam kamu. Aku akan menguliti kulit legammu yang dipenuhi tato –hanya satu tato yang aku suka: tato yang tertuliskan namaku. Setelah kamu tak lagi memiliki kulit yang melindungi tubuhmu, aku akan mencabik-cabik daging dan tulangmu. Akan aku muntahkan semua isi organ tubuhmu. Anjing-anjing penjaga rumah kita sudah pasti akan menyukai isi tubuhmu. Aku tak perlu bersusah payah mengubur bangkaimu. Mereka akan menjilati dan mencabik dagingmu hingga habis. Puluhan piranha kesayanganmu pun akan kubagi rata. Hanya dalam sekejap bangkaimu akan ludes ditelan mereka. Binasa!

Seseorang membuka pintu ruang ini dengan perlahan. Pasti kamu, pikirku dalam hati. Inilah saatnya membalas dendamku, sayang. Aku akan membunuhmu sekarang juga.

Aku menghamburkan diri ke arah pintu. Menghantam segala yang ada di hadapanku dengan tubuh ringkuhku. Kedua tanganku ikut bergerak tak terkendali. Aku mengamuk sejadiku. Memukul. Meninju. Mendorong. Menendang. Tertawa. Menangis. Berteriak. Aku akan membunuhmu, bajingan!

Sebuah suara secara tiba-tiba terdengar di telingaku.

“Suster, tolong segera berikan suntikan penenang untuk pasien ini.”

Kedua tanganku seketika dicengkram oleh lengan-lengan kekar. Aku meronta. Berteriak-teriak. Tertawa. Tertawa. Tertawa hingga membuatku gila.

“Dok, pasien terus mengamuk.”

“Tambahkan dosisnya dua kali lipat, Suster!”

Comments

  1. search-bisnisonlineApril 9, 2010 at 3:45 PM

    This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete

Post a Comment

tinggalkan jejak kata anda :)

Popular posts from this blog

Apa yang kamu cari dalam hidup ini?

Curug Sawer, Cililin

biaya ke Ujung Genteng 3 hari 2 malam