Binatang Bebal dalam Biasan Pelangi

oleh Melia Ajani
dipost juga di kemudian.com

Dulu, dia teramat mengagumi torehan warna pelangi. Sama seperti dia mencintaimu.
Pelangi menggoresi langit dengan keindahan warnanya, dan saat pelangi datang selalu mampu membuat semesta takjub. Namun sekarang, dia malah teramat membenci pelangi.

Saat hujan turun, dia selalu berharap pelangi dapat muncul lagi. Tapi ternyata tidak! Pelangi tak lebih dari segala yang tidak nyata. Hadirnya hanyalah kesemuan yang tidak selamanya indah. Seperti juga kamu.

"Saya akan segera menikahimu!" berulang kali kamu berjanji kepada dia.
"Kapan? Lima bulan yang lalu kamu juga bilang begitu, dan sekarang mana buktinya?" ada rasa marah yang menyembul bersama sepuing kekecewaan dalam setiap katanya.
"..dan ingat, saya tidak ingin menjadi wanita kedua dalam hidupmu!" dia menambahkan.
"Tenang, Sayang. Tak lama lagi saya akan segera menceraikannya." ucapmu saat kehamilan dia mulai bertambah besar.

Ternyata benar, kamu menepati janjimu kepadanya. Saat dia telah melahirkan anak dari hasil perbuatan bejatmu dengannya, kamu segera menikahi dia. Padahal, dia tidak lebih dari wanita kotor yang telah digerayangi berbagai pria sepertimu --pria nista berhidung belang. Namun, entah mengapa kamu begitu mencintai dia, melebihi cintamu kepada istri sahmu yang kamu sumpahi akan terus kamu dampingi di sisa hidupmu. Nyatanya, sekarang kamu lebih memilih hidup bersama dia.

Begitu kontradiksi, kini malah saya yang teramat membenci pelangi. Sama bencinya dengan dia yang dulu juga sempat membencimu. Bodohnya saya yang dulu mengibaratkanmu bagai pelangi yang akan memberikan segala warna indahmu. Ternyata, spektrum warna warni indah yang kamu sajikan hanyalah kesemuan yang akhirnya tiada. Biasan kesempurnaanmu pun tidak lebih dari janji serapah palsu yang kamu ucapkan demi harta yang telah saya kumpulkan dengan membanting tenaga yang saya punya. Lantas sekarang, dengan segala kebejatan insting binatang yang kamu miliki, kamu renggut harta itu dan kamu habiskan bersamanya. Tanpa rasa manusiawi, demi wanita simpanan hinamu, kamu tega menceraikan saya dan menelantarkan kedua buah hati kita. Kamu tak lebih dari binatang bebal!!

Comments

  1. wah mel kasihan tokoh 'aku'nya.....

    ga ada lanjutannya mel?

    pemilihan katanya bagus mel....hehe

    ReplyDelete

Post a Comment

tinggalkan jejak kata anda :)

Popular posts from this blog

Apa yang kamu cari dalam hidup ini?

Curug Sawer, Cililin

biaya ke Ujung Genteng 3 hari 2 malam