04 July 2009

Backpack to Ujung Genteng

Berawal dari sebuah keinginan untuk liburan bareng temen-temen SMA yang dari taun kemaren direncanain tapi belum pernah terlaksana karena satu dan lain hal, akhirnya taun ini kesampean juga kita liburan bareng, meski yang ikut hanya 6 orang: saya, ira, ridho, neno, vicco, arya. Karena jumlah orang yang ikut cuma sedikit, kami memutuskan untuk BACKPACKERAN ke Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat.

Kami berangkat tanggal 1 Juli 2009, dan memutuskan untuk kumpul di terminal Leuwipanjang pukul 04.30 WIB. Hebatnya kami semua datang tepat waktu ke terminal Leuwipanjang dengan menggendong ransel besar di masing-masing punggung kami, meskipun pasukan dari Pasteur terlambat beberapa menit. Setelah diserang oleh calo-calo terminal, kami memutuskan untuk pergi naik BUS EKOMONI Bandung-Sukabumi yang bertarif 15 ribu rupiah saja. Beberapa menit kemudian bus langsung menggilas jalanan meninggalkan Bandung.

Sekitar pukul 08.20 kami tiba di Sukabumi, kemudian langsung melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota 03 berwarna kuning menuju terminal Lembur Situ. Karena angkot belum juga penuh penumpang, kami harus menunggu selama kurang lebih dua puluh menit, hingga akhirnya angkot melaju dengan cukup kencang. Kami merasa tertipu telah membayar 5.000 rupiah, padahal jarak antara terminal Sukabumi dengan terminal Lembur Situ cukup dekat, padahal kalau di Bandung, paling juga bayar 2.500. Setibanya di terminal Lembur Situ, kami kembali diserbu kernet dan calo-calo terminal. Terdapat dua alternatif untuk menuju terminal Surade, yaitu dengan menggunakan Bus bertarif 20 ribu, atau menggunakan Elf bertarif 22 ribu. Sebenarnya bukan masalah tarif, tetapi lebih ke mana yang cepat berangkat dan mana yang lebih cepat sampai tujuan. Akhirnya, kami pun memilih menggunakan Elf yang janjinya akan lebih dulu berangkat daripada Bus.

Karena baru kami berenam yang menumpangi Elf, kami masih harus menunggu penumpang yang lain untuk memadatinya. Saya akhirnya menunggu di luar mobil, dan seorang bapak –entah supir, entah kernet, entah calo— mengajak saya ngobrol. Dia bilang jalanan menuju Surade cukup jelek, “yaa maklum lah, Neng namina oge jalanan desa, moal sae sapertos di kota. Jalanna oge bulak-belok”. Bapak itu juga berpesan untuk duduk di depan, biar ngga terlalu pusing atau mabok jalanan. Tidak hanya itu, beliau juga memberi wejangan agar setibanya di Ujung Genteng jangan pada pisah dari temen-temen, jangan macem-macem, “Upami berenang di pantai sarengan, tong papisah. Tong marotah teuing. Kade weh silih talingakeun”. Dan terakhir, dia menanyakan sebuah pertanyaan yang tidak aneh untuk saya “Sakolana dimana, Neng?”. Apakah saya masih terlihat seperti anak sekolahan, hingga selalu ditanyai seperti itu. Meskipun kampus saya dulunya memang SEKOLAH TINGGI, tapi kan sekarang udah INSTITUT, hahaa ;D

Setelah menunggu selama dua puluh menit, tepat pukul 09.30 kami berangkat menuju terminal Surade yang diperkirakan memakan waktu 3 jam. Benar saja, jalanan yang kami lalui berkelok-kelok dan banyak lubang besar di kanan-tengah-kiri jalan. Beneran bikin mabok darat deh!! Untungnya kami semua minum obat anti mabok (perjalanan) sebelum berangkat. Siapapun yang awalnya menyangsikan untuk tidak akan bisa tidur dengan keadaan jalanan yang luar biasa ekstrim, pada akhirnya pasti akan masuk ke alam mimpi masing-masing meskipun kepala dan badan terhempas ke segala arah (hahaa, lebay ah!!). Meskipun begitu, pemandangan di kanan kiri jalan sungguh sangat luar biasa, bagus banget!

Sampai di bunderan sebelum terminal Surade, kami turun dan langsung menyerbu angkot merah. Saat mobil melaju, kami langsung disuguhi lagu Cari Jodoh-nya WALI dengan volume yang cukup kencang. Kayaknya lagunya Wali jadi soundtrack perjalanan kami menuju Ujung Genteng, karena ngga cuma diputer sekali. Dasar metal –melayu total, hehe. Mungkin karena sudah terbiasa mengangkut backpackers, sang Supir langsung mengantar kami ke penginapan yang kita tuju. Bahkan dia menawarkan untuk mengantar berkeliling besok dan meninggalkan sebuah nomor handphone untuk dihubungi. Sekitar pukul 13.20 kami tiba di Pondok Hexa, setelah sebelumnya mengecek harga penginapan-penginapan lain. Pondok Hexa menawarkan harga yang terjangkau dan juga lokasi yang berhadapan langsung dengan pantai tenang yang dapat dipakai berenang, memang pilihan yang tepat. Kami memilih tipe kamar LOBSTER non AC yang bertarif 115 ribu per malam, dan mengambil dua kamar yang bersebelahan, satu buat para perempuan, satu buat para lelaki.

Setelah masuk ke kamar masing-masing, saya dan dua sahabat langsung menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. Kamarnya lumayan enak sih, dua tempat tidur ukuran kecil, satu kipas angin yang berputar cukup lambat, sebuah meja, meja rias, dan tentunya WC. Lumayan puas lah untuk harga yang mereka tawarkan. Setelah istirahat, solat, ngemil, kami berniat mencari makan karena kami hanya membawa roti-rotian dan makanan ringan ala kadarnya. Kami keluar dari penginapan dan menuju ke arah kanan dan kiri jalan, dan ternyata ngga ada restaurant atau warung nasi di sekitar penginapan, akhirnya kami kembali ke Pondok Hexa dan makan di restaurant tersebut. Kami semua hanya memesan nasi goreng dan es teh manis, tetapi lamanya minta ampun. Nunggu es teh manis aja sampe dua puluh menitan lebih, masa es nya dibekuin dadakan apa? Nasi gorengnya apalagi, belasan menit setelah es teh manis datang, barulah dapat dinikmati.

Sebenarnya perut kami masih belum kenyang oleh nasi goreng, seperti hanya sebatas pengganjal –apalagi buat para lelakinya, mungkin cuma sebatas numpang lewat, sangat tidak mengenyangkan. Setelahnya, kami langsung berlarian ke pantai yang berhadapan langsung dengan penginapan. 4 DSLR di tangan kami mulai digunakan untuk membekukan pemandangan pantai yang benar-benar indah. Saya akui, pantai di Ujung Genteng masih sangat bersih, belum tercemar, dan masih sangat sepi pengunjung. Pantainya pun berarus tenang, tidak ada ombak yang sampai ke tepi pantai, di tengah pantai berderet karang-karang besar yang menghentikan ombak. Tanpa pikir panjang, kami pun mulai berbasah-basahan di pinggir pantai sambil menikmati sunset yang terasa begitu singkat. How wonderful ;D

Selain bermain-main di pantai Ujung Genteng, kami juga sempat ke Curug Tilu - Cikaso, Goa di daerah Surade, dan Amanda Ratu (tanah lot-nya Ujung Genteng).

.. dan ini foto-foto yang berhasil terabadikan:


pantai Ujung Genteng


siluet berenam


sunset