22 December 2009

Masihkah kamu mengingatnya?

Sembilan belas dua belas. Masihkah kamu mengingat angka itu?

Hitam putih berbenturan dengan langit yang mulai memerah. Lampu jalan yang bersinar temaram memayungi langkah kita. Goresan jejak langkah yang tidak lagi ada artinya. Kamu berdiri dibelakangku. Mengikutiku. Tapi bukan untuk berjalan beriringan. Kita melangkah sendiri-sendiri di sudut jalan yang sama. Dengan langkah yang tersendat.
Hitam putih itu kini telah luntur. Tersamarkan dengan warna aspal jalanan. Namun, merah itu masih tetap menyala terang. Membias dengan langit di jalan itu yang selalu biru.

Aku masih mengingat begitu jelas, saat kamu mempercepat langkahmu. Tidak lagi berjalan di belakangku. Melampauiku. Hanya punggungmu yang akhirnya kulihat. Punggung kekar berbalut warna putih. Sejak saat itu, aku diam. Menghentikan langkahku. Kamu hanya berbalik sesaat, menggenggam puing yang hancur dengan sendirinya. Sorot matamu yang tak terlupakan, terus menggaung dalam ruang ini.

Satu yang kusesali, mengapa tak sedikit pun kata yang tertoreh di persimpangan itu? Padahal semua kisah berawal dan berakhir di tempat yang sama. Suara itu bukan keluar dari mulutmu. Aku tak mau mempercayainya!

Sembilan belas kebekuan, Dua belas kesetiaan. Semua itu hanya tinggal kenangan! Maaf.

No comments:

Post a Comment

tinggalkan jejak kata anda :)