22 December 2009

Flash Fiction - Malam Yang Tidak Sempurna

Sejak mengenalmu, aku menjadi begitu membenci malam purnama. Malam di mana bumi terletak segaris di antara matahari dan bulan. Saat bulatnya rembulan terlihat sempurna, kamu malah terlihat begitu tidak sempurna. Padahal, kamulah lelaki yang memberikan cinta yang paling sempurna untukku.

“Maaf, aku harus meninggalkanmu!” katamu di setengah malam purnama.

Tangisku luruh. Ini semua terlalu menyakitkan.

“Aku tidak ingin kamu mati!” sudah berulang kali kamu mengatakannya.

Tanpa aba-aba kamu berlari begitu kencang, diterangi sinar rembulan yang mulai penuh. Rambut-rambut halus mulai memenuhi tubuhmu. Taringmu kian meruncing. Lagi-lagi kamu meninggalkanku sendirian. Berharap pagi dapat cepat mengembalikanmu menjadi manusia sempurna.

1 comment:

tinggalkan jejak kata anda :)