22 December 2009

Flash Fiction - Malam Yang Tidak Sempurna

Sejak mengenalmu, aku menjadi begitu membenci malam purnama. Malam di mana bumi terletak segaris di antara matahari dan bulan. Saat bulatnya rembulan terlihat sempurna, kamu malah terlihat begitu tidak sempurna. Padahal, kamulah lelaki yang memberikan cinta yang paling sempurna untukku.

“Maaf, aku harus meninggalkanmu!” katamu di setengah malam purnama.

Tangisku luruh. Ini semua terlalu menyakitkan.

“Aku tidak ingin kamu mati!” sudah berulang kali kamu mengatakannya.

Tanpa aba-aba kamu berlari begitu kencang, diterangi sinar rembulan yang mulai penuh. Rambut-rambut halus mulai memenuhi tubuhmu. Taringmu kian meruncing. Lagi-lagi kamu meninggalkanku sendirian. Berharap pagi dapat cepat mengembalikanmu menjadi manusia sempurna.

Maaf, aku menggadaikannya!

Dagang mari berdagang, kita buka pasar dadakan. Menjajakan berbagai barang dagangan, menentukan harga bandrolan. Ada satu yang teramat ingin kugadaikan. Dagangan yang tak ternilai harganya, tak pernah terbeli di masa depan. Aku berdagang bukan berharap kembali modal, atau untuk mencari laba yang besar.

Jelas bukan!!

Tak juga ada niatan hanya berdalih tawar menawar. Bila kau ingin membelinya, akan kuturunkan harga semurah-murahnya, tiada peduli seandainya aku menjadi pihak yang dirugikan. Jika kau tak sanggup membayar mahal, keping recehan pun akan kubarter dengan dagangan. Bahkan tak segan kuberikan cuma-cuma bila kau sangat menginginkannya.

Ini semua agar membuatku sadar. Dagangan ini tak seharusnya terus ku simpan. Terlalu lama sudah kupendam. Bukan karena tak ada nilainya lagi. Namun, terlalu lelah untuk terus berada bersamanya. Sudah sepantasnya aku tinggalkan. Memang seharusnya aku gadaikan.

Aku berteriak-teriak menawarkan dagangan, "ada yang ingin membeli KENANGAN???".

01 December 2009

My Life According to COPELAND

RULE:
Using only song names from ONE ARTIST, cleverly answer these questions. Try not to repeat a song title. It's a lot harder than you think! Re-post as "my life according to (band name)"
Your Artist/Band:
Copeland 

Are you a male or female:
She's Always a Woman

Describe yourself:
I'm a Sucker for a Kind Word

How do you feel:
I Just Want to Dream

Describe where you currently live:
California

If you could go anywhere, where would you go?
Black Hole Sun

Your favorite form of transportation?
I'm Safer in an Airplane

Your best friend?
The Grey Man

You and your best friends:
Love Affair

What's the weather like:
Coffee

Favorite time of day:
Good Morning Fire Eater

If your life was a TV show, what would it be called:
That Awful Memory of Yours

What is life to you:
Eat, Sleep, Repeat

Your relationship:
Part-Time Lovers

What is the best advice you have to give:
Choose the One Who Loves You More

Thought for the Day:
To Be Happy Now

How you would like to die?
Take My Breath Away

Your soul's present condition:
Brightest

Your Motto:
No One Really Wins

04 July 2009

Backpack to Ujung Genteng

Berawal dari sebuah keinginan untuk liburan bareng temen-temen SMA yang dari taun kemaren direncanain tapi belum pernah terlaksana karena satu dan lain hal, akhirnya taun ini kesampean juga kita liburan bareng, meski yang ikut hanya 6 orang: saya, ira, ridho, neno, vicco, arya. Karena jumlah orang yang ikut cuma sedikit, kami memutuskan untuk BACKPACKERAN ke Ujung Genteng, Sukabumi, Jawa Barat.

Kami berangkat tanggal 1 Juli 2009, dan memutuskan untuk kumpul di terminal Leuwipanjang pukul 04.30 WIB. Hebatnya kami semua datang tepat waktu ke terminal Leuwipanjang dengan menggendong ransel besar di masing-masing punggung kami, meskipun pasukan dari Pasteur terlambat beberapa menit. Setelah diserang oleh calo-calo terminal, kami memutuskan untuk pergi naik BUS EKOMONI Bandung-Sukabumi yang bertarif 15 ribu rupiah saja. Beberapa menit kemudian bus langsung menggilas jalanan meninggalkan Bandung.

Sekitar pukul 08.20 kami tiba di Sukabumi, kemudian langsung melanjutkan perjalanan dengan angkutan kota 03 berwarna kuning menuju terminal Lembur Situ. Karena angkot belum juga penuh penumpang, kami harus menunggu selama kurang lebih dua puluh menit, hingga akhirnya angkot melaju dengan cukup kencang. Kami merasa tertipu telah membayar 5.000 rupiah, padahal jarak antara terminal Sukabumi dengan terminal Lembur Situ cukup dekat, padahal kalau di Bandung, paling juga bayar 2.500. Setibanya di terminal Lembur Situ, kami kembali diserbu kernet dan calo-calo terminal. Terdapat dua alternatif untuk menuju terminal Surade, yaitu dengan menggunakan Bus bertarif 20 ribu, atau menggunakan Elf bertarif 22 ribu. Sebenarnya bukan masalah tarif, tetapi lebih ke mana yang cepat berangkat dan mana yang lebih cepat sampai tujuan. Akhirnya, kami pun memilih menggunakan Elf yang janjinya akan lebih dulu berangkat daripada Bus.

Karena baru kami berenam yang menumpangi Elf, kami masih harus menunggu penumpang yang lain untuk memadatinya. Saya akhirnya menunggu di luar mobil, dan seorang bapak –entah supir, entah kernet, entah calo— mengajak saya ngobrol. Dia bilang jalanan menuju Surade cukup jelek, “yaa maklum lah, Neng namina oge jalanan desa, moal sae sapertos di kota. Jalanna oge bulak-belok”. Bapak itu juga berpesan untuk duduk di depan, biar ngga terlalu pusing atau mabok jalanan. Tidak hanya itu, beliau juga memberi wejangan agar setibanya di Ujung Genteng jangan pada pisah dari temen-temen, jangan macem-macem, “Upami berenang di pantai sarengan, tong papisah. Tong marotah teuing. Kade weh silih talingakeun”. Dan terakhir, dia menanyakan sebuah pertanyaan yang tidak aneh untuk saya “Sakolana dimana, Neng?”. Apakah saya masih terlihat seperti anak sekolahan, hingga selalu ditanyai seperti itu. Meskipun kampus saya dulunya memang SEKOLAH TINGGI, tapi kan sekarang udah INSTITUT, hahaa ;D

Setelah menunggu selama dua puluh menit, tepat pukul 09.30 kami berangkat menuju terminal Surade yang diperkirakan memakan waktu 3 jam. Benar saja, jalanan yang kami lalui berkelok-kelok dan banyak lubang besar di kanan-tengah-kiri jalan. Beneran bikin mabok darat deh!! Untungnya kami semua minum obat anti mabok (perjalanan) sebelum berangkat. Siapapun yang awalnya menyangsikan untuk tidak akan bisa tidur dengan keadaan jalanan yang luar biasa ekstrim, pada akhirnya pasti akan masuk ke alam mimpi masing-masing meskipun kepala dan badan terhempas ke segala arah (hahaa, lebay ah!!). Meskipun begitu, pemandangan di kanan kiri jalan sungguh sangat luar biasa, bagus banget!

Sampai di bunderan sebelum terminal Surade, kami turun dan langsung menyerbu angkot merah. Saat mobil melaju, kami langsung disuguhi lagu Cari Jodoh-nya WALI dengan volume yang cukup kencang. Kayaknya lagunya Wali jadi soundtrack perjalanan kami menuju Ujung Genteng, karena ngga cuma diputer sekali. Dasar metal –melayu total, hehe. Mungkin karena sudah terbiasa mengangkut backpackers, sang Supir langsung mengantar kami ke penginapan yang kita tuju. Bahkan dia menawarkan untuk mengantar berkeliling besok dan meninggalkan sebuah nomor handphone untuk dihubungi. Sekitar pukul 13.20 kami tiba di Pondok Hexa, setelah sebelumnya mengecek harga penginapan-penginapan lain. Pondok Hexa menawarkan harga yang terjangkau dan juga lokasi yang berhadapan langsung dengan pantai tenang yang dapat dipakai berenang, memang pilihan yang tepat. Kami memilih tipe kamar LOBSTER non AC yang bertarif 115 ribu per malam, dan mengambil dua kamar yang bersebelahan, satu buat para perempuan, satu buat para lelaki.

Setelah masuk ke kamar masing-masing, saya dan dua sahabat langsung menghempaskan tubuh ke atas tempat tidur. Kamarnya lumayan enak sih, dua tempat tidur ukuran kecil, satu kipas angin yang berputar cukup lambat, sebuah meja, meja rias, dan tentunya WC. Lumayan puas lah untuk harga yang mereka tawarkan. Setelah istirahat, solat, ngemil, kami berniat mencari makan karena kami hanya membawa roti-rotian dan makanan ringan ala kadarnya. Kami keluar dari penginapan dan menuju ke arah kanan dan kiri jalan, dan ternyata ngga ada restaurant atau warung nasi di sekitar penginapan, akhirnya kami kembali ke Pondok Hexa dan makan di restaurant tersebut. Kami semua hanya memesan nasi goreng dan es teh manis, tetapi lamanya minta ampun. Nunggu es teh manis aja sampe dua puluh menitan lebih, masa es nya dibekuin dadakan apa? Nasi gorengnya apalagi, belasan menit setelah es teh manis datang, barulah dapat dinikmati.

Sebenarnya perut kami masih belum kenyang oleh nasi goreng, seperti hanya sebatas pengganjal –apalagi buat para lelakinya, mungkin cuma sebatas numpang lewat, sangat tidak mengenyangkan. Setelahnya, kami langsung berlarian ke pantai yang berhadapan langsung dengan penginapan. 4 DSLR di tangan kami mulai digunakan untuk membekukan pemandangan pantai yang benar-benar indah. Saya akui, pantai di Ujung Genteng masih sangat bersih, belum tercemar, dan masih sangat sepi pengunjung. Pantainya pun berarus tenang, tidak ada ombak yang sampai ke tepi pantai, di tengah pantai berderet karang-karang besar yang menghentikan ombak. Tanpa pikir panjang, kami pun mulai berbasah-basahan di pinggir pantai sambil menikmati sunset yang terasa begitu singkat. How wonderful ;D

Selain bermain-main di pantai Ujung Genteng, kami juga sempat ke Curug Tilu - Cikaso, Goa di daerah Surade, dan Amanda Ratu (tanah lot-nya Ujung Genteng).

.. dan ini foto-foto yang berhasil terabadikan:


pantai Ujung Genteng


siluet berenam


sunset