28 November 2014

Curhatan Random

Jadi, ini adalah hari kedua tantangan #100hariMenulis bareng ibu-ibu kece (Mariana, Dita, dan Yaya). Daripada dituduh sok-sastra, izinkan saya buat sedikit curhat di sini.
Curhat ngga selalu harus tentang problematika hidup atau cinta kan?

Semalem chat di group sama cewek-cewek kece, trus jadi kepikiran~
D: Gimana ya caranya ga stress?
A: Ngga ada yang bisa jawab, yang tau cara nanganinnya ya diri sendiri.
M: biar ngga stress? Don't think too much!
D: Kalo kata A, aku butuh seseorang yang bisa bikin happy
Kadang suka gagal paham dengan statement semacam di atas tentang 'sesuatu yang bisa bikin happy'. Kesannya dengan kondisi sekarang yang --katakanlah ngga ada seseorang itu, kamu ngga bahagia, lalu stress. Padahal kebahagiaan itu bukan tentang menunggu harus punya ini itu kan? Tapi kebahagiaan itu bisa diciptakan sendiri dari hal-hal kecil & sederhana.

Ngomong-ngomong soal kebahagiaan, ngeliatin si Meng --kucing jalan yang tiap hari maen ke rumah aja saya sih udah bahagia banget, jadi hiburan tersendiri maen sama dia. Nyium aroma buku baru, mandangin hujan yang lagi sering turun berderai, dapet senyuman Mama Papa tiap hari, becandaan sama adik, berkontemplasi dengan diri sendiri, dengerin lagu-nya Angsa & Serigala, ganti sprei kamar baru, bisa semangat ngeblog lagi, ketemu temen-temen lama, morning chat sama orang stress (baca: Zusni), ngobrol absurd & random sama temen-temen terdekat, night talk sama orang random, bikin tantangan #100HariMenulis, ngurusin bisnisan, ngerencanain liburan, bisa bangun sebelum alarm nyala..
Semua itu hanya sebagian hal kecil yang bener-bener bisa bikin saya bahagia :D

Jangan menunggu bahagia agar bisa tersenyum. Tersenyumlah, maka kamu akan bahagia.
Jangan menunggu kaya, baru mau sedekah. Sedekah lah, maka kamu akan kaya.
Jangan menunggu yang sempura, karena kamu akan melewatkan yang terbaik. Pilihlah yang baik, dan sempurnakan lah.
*yang ini sih teori otak kanan banget :D

Tentang menunggu & kebahagiaan, langsung keingetan sama 2 quote ini:



Life is too short to wait!
Selamat hari Jum'at dan selamat berbahagia :)

27 November 2014

Terompet Alam Semesta

Di separuh malam yang tersisa banyak, manusia berhamburan keluar persis seperti laron. Sebagian besar dari mereka berteriak bagai kesurupan, separuhnya lagi sebut nama Tuhan-nya masing-masing. Bumi seolah sudah bosan dihuni para makhluk berkepala dua, gunung-gunung berlarian seolah marah karena sering dipangkas, dan langit kian sesak karena terus saja diracuni.

.. rupanya saat itu ada yang jenuh menunggu ditiup.

21 November 2014

Know yourself: INTROVERT

Sering ngerasa males ketika harus berada di keramaian dalam hingar-bingar?
Ngga jago berbasa-basi sama orang lain?
Lebih seneng jadi pengamat lalu menganalisis sendirian?
Apa yang dipikirin di kepala lebih banyak dibanding yang diomongin?
Ngga sedikit orang yang nyangka kamu pemalu, pendiem, tertutup, atau misterius?
Paling ngga suka nyeritain masalah-masalah kamu sama orang lain, dan lebih memilih menjadi pendengar yang baik?

Kalo kebanyakan jawabannya iya, bisa jadi kamu introvert.

Teori Jung tentang Introvert dan Ekstrovert

Menurut Jung, ada dua sikap saling ekslusif --extraversion dan introversi. Pengklasifikasian ini didasarkan dari cara seseorang mendapatkan sumber "energi"-nya. Ekstrovert dapetin "energi" dari dunia luar, dari orang-orang di sekeliling mereka. Sedangkan introvert dapetin "energi" dari dalam diri mereka sendiri. Kalo diibaratkan baterai handphone, ekstrovert itu re-charge "energi" jadi full di tengah keramaian, beda dengan orang introvert yang malah jadi low-bat saat berinteraksi sama orang banyak. Introvert me-recharge "energi" justru pas lagi sendirian, nah orang ekstrovert malah habis energinya kalo diem sendirian ngga ketemu siapa-siapa.
Tetapi menurut Jung tidak ada satupun dari kita benar-benar ekstrovert atau introvert, tapi kita pasti terhubung ke satu atau sikap lain. Itu sebabnya yang ekstrovert seringkali tetep butuh 'me-time', dan introvert juga butuh bersosialisasi dan berada disekitar orang-orang.

Untuk yang mau test lebih lanjut mengenai ekstrovert-introvert bisa ikutin test dari  Myers-Briggs Type Indicator Test (MBTI) yang memakai Teori Jung sebagai pengetahuan, bisa ikutan test-nya di sini: Jung Typology Test™

Sebelum ikut test, saya udah yakin banget saya itu introvert, dan terbukti ketika udah ikutan testnya.


Menjadi seorang Introvert itu...

Saya pernah ada di titik ngga sepenuhnya paham dengan diri saya waktu masa-masa sekolah. Sering banget dibilang pendiem karena jarang ngomong ketika lagi ada di antara banyak orang. Tapi kalo udah nemu orang yang klik, saya bisa banget ngobrol ngalor ngidul sampai berjam-jam tanpa jeda.
Saya sering banget ngerasa terganggu ketika, saya ada di dalam keramaian, orang-orang sibuk ngomong, saya cuma diem aja.
'Mel kenapa sih? Ngomong dong, diem mulu!'
'Hey, masih idup?'
Saat itu, kepala saya terlalu berisik berpikir sendiri daripada sekedar nanggepin obrolan ringan orang-orang di sekitar, sampe akhirnya lebih memilih diam. Ngga jarang, saya berpikir akan reaksi atau cara pandang lawan bicara saya tentang obrolan yang muncul. Ya, sampai sejauh itu~

Jadi, di buku Type Talk-nya Otto Kroeger & Janet Thuesen, mereka ngejelasin "Kaum introvert kalah jumlah dengan ekstrovert, tiga banding satu. Sebagai hasilnya, mereka harus mengembangkan kemampuan bertahan hidup yang lebih, karena ada tekanan dalam jumlah yang tidak biasa bagi mereka agar mereka bisa bertingkah laku seperti orang kebanyakan pada umumnya. Kaum introvert ditekan setiap harinya, dari saat mereka menjadi seorang introvert, untuk merespon dan menyesuaikan diri dengan dunia luar."

Nah, karena kalah jumlah, maka yang mayoritas biasanya jadi terlihat lebih ideal & lebih 'diterima'. Karena terseret-seret di dunia para ekstrovert, introvert sering kali dapet cap-cap yang cenderung negatif oleh para ekstrovert, ya dibilang pendiem, pemalu, kurang pergaulan, misterius, atau bahkan dibilang anti-sosial. Para introvert juga ngga harus berubah jadi ekstrovert biar 'diterima' sama dunia. Introvert sama sekali bukan penyakit yang harus 'disembuhkan'.

Orang introvert kurang gaul?

Diajakin nonton ke bioskop sering kali nolak? Suka susah diajakin hang-out sama temen-temen? Lebih milih ke taman daripada ke mall? Lebih milih baca buku di kamar daripada karokean ramean? Lebih milih ke tempat-tempat sepi yang jarang orang kunjungi ketimbang ke tempat ramai yang udah banyak orang tau?
Orang introvert bukan berarti kurang gaul, sombong, menutup diri, atau sok anti-mainstream. Tetapi biasanya sih mereka ngerasa lebih nyaman berada di 'lingkaran dalam' atau tempat-tempat yang lebih sepi; lebih memilih sendiri atau bersama keluarga & teman-teman terdekatnya, daripada di tengah keramaian sama orang-orang asing yang ngga bener-bener dikenal. Yes, bagi para introvert solitude is bliss!

Introvert punya dunianya sendiri?

Suka aneh sama dunia-nya para introvert? Dunia tanpa pintu dan jendela yang ngga semua orang ngerti. Dunia di kepalanya sendiri. Mungkin karena kecenderungan sering berpikir dan mempertanyakan apa pun yang berseliweran di kepala --tetapi itu semuanya tetap berada di kepala si introvert saja; sehingga ngga semua orang bisa ngerti dunia-nya introvert, karena jarang yang akhirnya bisa bener-bener keluar dari mulut untuk diceritakan tentang dunianya. Ada yang bilang, kemampuan orang introvert lebih keluar lewat tulisan dibanding dari ucapan langsung. Dan di sini, saya berusaha buat membagi dunia saya :)

Introvert itu orang yang absurd?

Introvert seringkali dibilang absurd, karena emang semua hal dipikirin, dari hal yang sepele sampai yang abstrak. Saya inget pernah diskusi panjang sama temen cuma ngobrolin sebuah tanda seru (!). Imajinasinya cenderung lebih banyak karena sering mikirin hal-hal random yang tiba-tiba melintas di kepalanya.

Orang introvert suka disangkain ngga punya temen karena sering sendirian?

Introvert ngga punya temen itu sih mitos, banyak juga dari mereka yang punya pertemanan yang luas. Hanya saja, ngga selalu berhubungan intens, yang kemana-mana harus sama temennya. Orang introvert pasti ngga akan masalah kalo harus pergi sendirian kemana-mana, belanja sendiri, makan sendiri, nonton film ke bioskop sendirian, atau bahkan travelling sendirian. Bukan masalah sama sekali bagi mereka, karena dengan kesendiriannya itu mereka lebih punya 'energi'. Tapi yang dipersepsiin orang adalah aneh dan anti-sosial. Ya masih mending kan berani kemana-mana sendiri, daripada harus tergantung sama orang dan ngga berani sendirian keluar, itu lebih kasihan sih..

Orang introvert itu pendengar yang baik?

Yaa, mungkin karena akan kalah ngomong sama orang ekstrovert dan ngga begitu jago 'ngobrol', yang menyebabkan orang introvert dicap sebagai pendengar yang baik. Dan introvert ngga suka small-talk atau basa-basi, orang introvert akan lebih semangat kalo ngobrolin topik yang emang dia suka, ide-ide, emosi, dan pengalaman yang dia punya. Kalo obrolannya sama sekali ngga menarik, mereka pasti males nanggepinnya karena bener-bener buang energi! Kadang suka dibilang sok-dalem karena males ngobrolin basa-basi, apalagi gosip, its such a crap! Nahlo, gimana cara bedain introvert bener-bener ngedengerin para ekstrovert ngomong karena beneran care & menyimak atau karena males ngobrol? :))))
Tapi ngga sedikit lho introvert yang bisa jadi temen ngobrol asik, karena cara pandangnya yang berbeda, ngga melulu pakai kaca-mata kuda. Asal bisa bikin mereka nyaman dan ngga nyela ketika mereka ngomong, introvert juga bisa jadi lawan bicara yang enak.
Rumus orang introvert: Think-Think-Think-Talk-Think


Introvert sering membentengi diri?

Seringkali memang terkesan para introvert punya tembok tinggi yang mengurung dunianya, sulit terbuka dengan orang. Orang introvert akan sulit untuk menceritakan masalah-masalahnya dia, kepada siapa pun. Bukan karena agar orang cepat menjauh, tapi justru itu memudahkan para introvert menemukan siapa yang benar-benar 'peduli' yang mau manjatin tembok untuk tahu lebih tentang kita. Dan ketika orang introvert bisa ceritain masalah pribadinya, itu tandanya kamu orang hebat yang bisa dipercaya.

Jadi, adakah di antara kalian yang introvert juga?


NB: Saya lagi baca buku The Introvert Advantage karangan Marti Olsen Laney, Psy.D, tapi belum selesai. Buku ini juga yang menstimulasi saya buat nulis postingan tentang introvert ini berdasarkan pengalaman sendiri, dan kalo udah selesai baca bukunya saya janji akan tulis reviewnya!

19 November 2014

per-te-man-an

Catatan penulisan: Setelah hibernasi panjang dari dunia per-blog-an, akhirnya tulisan ini saya persembahkan buat para teman dan tetangga blog yang masih setia blogwalking ke sini. I really miss you all, guys!


Biasanya pertemanan dimulai karena ada kesamaan atau kebutuhan, iya ngga sih?


Bermula karena sekolah di tempat yang sama, akhirnya jadi temen satu sekolah. Orang-orang yang berinteraksi di kelas, jadi temen sekelas. Trus ada juga temen maen, temen curhat, temen belanja, temen nongkrong, temen nge-gigs, temen ngobrol, temen nonton, temen ngegosip, temen chatting, temen blog, temen satu komunitas, temen hidup, temen makan temen..
ups yang terakhir abaikan! :))

Dari yang sekedar temen, secara hukum alam akhirnya terseleksi jadi temen deket, lantas jadi sahabat. Kalo dari temen jadi demen mah lain lagi ceritanya yaa, hehe.

Trus ketika kesamaan dan kebutuhan itu udah hilang, pertemanan juga jadi ilang?


Beranjak SMA, pisah sama temen-temen SMP yang entah pada kemana. Beranjak kuliah, temen-temen SMA udah jarang ketemu dan ngga tau ceritanya lagi gimana. Sahabat seperjuangan yang sama-sama single, ketika udah punya pacar atau bahkan married udah ngga nyambung lagi karena ngerasa udah beda dunia.

Ya, sadar atau engga, perubahan dalam hidup memakan satu persatu teman terdekat kita. Beda lingkungan, kepisah jarak, udah ngga satu sekolah lagi, udah ngga tetanggaan lagi, udah beda kepentingan, udah beda dunia.

Meski kesamaan itu udah ilang, pertemanan harusnya ngga jadi ilang kalo tetep dijaga. Tapi kalo udah ngga ada yang berusaha buat ngejaga pertemanan ya udah ujung-ujungnya mereka hilang gitu aja, kayak ditiup angin. Fyuh!

Menjaga pertemanan itu salah satu seninya hidup..


Kadang pengen ngehubungin temen-temen lama (yang udah beda dunia) satu per satu, hanya untuk nanyain kabar atau gimana kehidupannya sekarang, tapi takut dibilang kepo, disangka mau mijem duit, atau malah dikirain mau nawarin jadi agent MLM. Yaa, siapa yang tau kan? (Karena emang pernah ada kejadian kayak gini)

Setaun, dua taun ngga pernah saling kontak, tiba-tiba kontak lagi pas lagi butuh itu berasa banget kayak ada maunya, mau manfaatin. Kalo udah jarang banget contact jatohnya emang bisa jadi awkward sih yaa, --kecuali sama sahabat yang bener-bener udah terkoneksi sehidup-sejiwa mah malah jadi kangen-kangenan.

Akhirnya, percuma nyimpen banyak nomor kontak di handphone, atau punya followers & temen di media sosial ratusan atau bahkan sampai ribuan, tapi ngga pernah saling contact & jaga pertemanan itu. Lagi-lagi, kuantitas ngga lebih penting dari pada kualitas.

From stranger to friend to best friend and back to stranger again. What a circle of life!


Kalo udah kayak gini jatohnya jadi miris sih, ketika inget dulu kita pernah ketawa bareng, ngelakuin hal-hal konyol, atau cerita dalem dari hati ke hati. Tapi sekarang cuma bisa jadi penyimak di timeline, sesekali komen/ngobrol di socmed tapi ngga 'berkualitas'.

I really miss a lot of old friend, but we have such different lives now. Ah, time flies, everything change.. but memories don't. Yeah, thats life! Ngga ada hal yang bisa kita miliki selamanya.

"Semua teman yang engkau sayang dan tinggalkan
Sengaja atau tidak, dirimu
Pernah lalui, cerita yang haru
Yang semua alami

Semua sahabat yang pernah menghangatkan hidup
Satu persatu, menghilang
Seiring waktu yang makin lama
Kian menua

Tapi kita coba kenangi semua,
Walau telah tiada
Bagai etalase jendela~

*lalu nyanyi lagunya Sore sambil liat-liat foto masa lalu

04 November 2013

Dipertemukan

"Bukankah semua orang dalam hidup kita pada mulanya adalah orang asing yang tidak kita kenali?"


: Lyra

Hari itu aku benar-benar tak tentu arah. Maka kemana pun kaki ingin melangkah, badan ini akan terus mengikutinya. Seperti daun kering yang tertiup angin, tak jelas akan menuju ke mana, dan entah akan menjatuhkan diri di tanah atau permukaan air yang mana. Beberapa pakaian dan perlengkapan rias ala kadarnya sudah memenuhi tas ranselku. Sebuah pelarian tak terencana. Usaha untuk melarikan diri sejenak dari segala kepenatan yang ada.

Sore itu, aku lebih dulu pergi mengangkat kaki dari kantor. Sakit. Ya, sakitnya ada di dalam sini, di hati. Lalu entah ada magnet dari mana yang menarikku dengan sangat kuat, tiba-tiba aku sudah berada di Stasiun Gambir, membeli sebuah tiket menuju Yogyakarta. Padahal aku tak tahu akan ke mana di sana, yang jelas aku butuh pergi dari kota ini. Aku butuh menghilang sejenak dari rutinitas yang menjemukkan.

Aku duduk di nomor kursi yang telah diberikan, 2A. Gerbong yang kutumpangi mulai penuh sesak, orang-orang hilir mudik, mencari tempat duduknya. Ada yang mengantar, lalu pulang. Dengan atau tanpa pelukan perpisahan yang berarti.
"Permisi, ini bener gerbong 2 kan?"
Seorang lelaki dengan sepasang headset datang membuyarkan lamunanku.
Aku lalu hanya mengangguk lantas tersenyum tipis. Dia lalu menyimpan tas ransel besarnya di kabin kemudian duduk dengan tenang disampingku.
Kaos putih dan jaket jeans, perpaduan yang cocok untuk dirinya. Celana jeans belel dengan sedikit robekan di lututnya dan sepatu vans menggambarkan kebebasan dalam dirinya. Pandanganku dari tadi tak beralih darinya. Lelaki itu lalu sadar jika dia diperhatikan, seketika melihat ke arahku, dan menyodorkan tangannya kepadaku.
“Hai.. Dika.”
Bola matanya yang cokelat memandangku dengan tatapan teduh, terlihat ada banyak ketenangan di sana. Lalu bibirnya tersungging tipis, manis. Kecolongan begini, aku sedikit salah tingkah, lalu mencoba kembali tenang.
“Lyra.” jawabku singkat. Sedikit kaget dan malu karena kecolongan sedang memperhatikannya.
Lalu kami berjabatan tangan. Tangannya menggenggam dengan cukup lembut. Benar-benar sosok lelaki yang ideal. Penuh kharisma. Badannya tegap. Aku yakin, banyak wanita yang tergila-gila kepadanya. Kuperhatikan jemari tangannya, memastikan belum ada benda paling memuakkan yang melingkar di jari manisnya. Dan ya, memang tidak ada. Belum ada. Atau mungkin harusnya ada, tapi tidak dia kenakan. Dan aku hanya mampu berspekulasi.

“Mau ke mana?” dia mulai membuka percakapan.
“Hmm, Jogja kayaknya.” aku menjawab dengan sedikit keraguan.
“Lho kok kayaknya?” dia lalu tersenyum sambil kebingungan.
“Ya, emang masih belum tau pasti mau ke mana sih. Kamu sendiri mau ke mana?”
“Jogja. Ngga pake kayaknya!” jawabnya pasti.
Aku lalu tertawa, “Haha.. dalam rangka apa?”
“Kangen aja sama Jogja, trus kebetulan dapet gawean buat nulis artikel tentang tempat travelling di sana.”
“Penulis?”
“Freelancer majalah, kadang jadi fotografer, kadang jadi penulis, kadang jadi kuli juga.”
“Oh.” Jawabku singkat sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Eh, trus pergi ga tau mau kemana ini dalam rangka apa?” dia penasaran.
“Ngga tau, lagi jenuh sama Jakarta, tiba-tiba kepikiran pergi keluar kota sejenak, dan yaa di sinilah aku sekarang. Taraa!”
“Seriusan?” nadanya masih tak percaya.
“Ya!”

Lalu kita berbincang panjang. Namanya Dika Rahardja Saputra, seorang Virgo usia dua puluh lima. Pribadi yang menyenangkan, supel, dan kharismatik. Katanya sih punya hobi tidur, paling ngga bisa makan durian. Anak pertama dari empat bersaudara, dua adiknya laki-laki, dan satu perempuan yang katanya selintas mirip denganku.



: Dika

Pertemuan ini, tak ada yang pernah mengatur sebelumnya. Masing-masing dari kita tak ada yang pernah membayangkan ini. Semua terjadi begitu saja. Seorang perempuan di samping tempatku duduk saat ini, sedikit banyak menyita perhatian. Wajahnya mengingatkanku pada adikku yang kedua yang sudah sangat lama tak kutemui. Tapi bukan karena itu. Rasanya lebih dari itu. Gayanya dan pembawaannya membuat mata ini tak mau beralih dari sosoknya. Faktor X yang masih belum bisa didefinisikan dengan pasti.
Baru tiga jam kita berkenalan, aku sudah merasa mengenalnya ratusan hari. Pembawaannya yang tenang, hangat, membuat perjalanan saya ke Jogja kali ini tidak terasa membosankan. Lucu ketika kutanya kepada wanita itu mau kemana, dia malah kebingungan. Entah ide gila darimana, akhirnya aku tawarkan untuk ikut bersamaku.

“Yaa sebenernya kita kan sama-sama ngga punya partner nih di Jogja, jalan bareng mau ngga?”
“Hmm..”
“Eh ini bukan paksaan kok, sekedar tawaran ke orang yang lagi ngga tau arah.”
“Iiiih, Dikaaaa!!”
Pada akhirnya lalu dia mengangguk, tanda menyetujuinya. Baiklah, kesempatan untuk mengenalnya terbuka lebar. Tak ada pikiran apa-apa, saya hanya tertarik untuk bersama dia lebih lama, itu saja.


: Lyra

Agak gila memang, ikut bersama seorang lelaki yang baru dikenal, di kota orang. Segala hal bisa saja terjadi. Siapa yang tahu kalo Dika penjahat kelamin, buronan polisi yang kabur, atau malah psikopat. Tapi jauh dalam diri ini bicara kalau dia orang baik-baik. Semoga saja.

Enam belas jam berlalu, dengan separuhnya dipakai untuk mengobrol bersama Dika. Dari mulai obrolan basa-basi, iklan salah satu provider seluler, perang yang terjadi di Irak, kerusuhan di Mesir, kemacetan yang selalu terjadi di Jakarta, tentang mimpinya menjadi fotografer international, tentang mimpinya memiliki bisnis travel ternama, tentang ide gila pelarianku, tentang pekerjaanku yang membosankan, tentang mantannya yang masih cari perhatian di media sosial. Ya, begitu banyak yang sudah diceritakan dalam waktu singkat.

Pagi-pagi akhirnya kami tiba di Stasiun Yogyakarta, berjalan mencari sarapan di sekitaran Malioboro. Semenjak di stasiun dia mulai mengeluarkan kameranya, lalu menjepret sudut-sudut Yogyakarta.

“Aku udah punya list yang harus dikunjungi selama di sini, ga apa-apa nih ngikutin run-down yang udah dibuat?”
“Ngga apa-apa, anggap aja simulasi aku ikutan tour di Dika Travel.”
“Haha. Baik, selamat datang di kota Yogyakarta. Saat ini anda sedang berada di Jalan Malioboro, sebelah kanan adalah benteng ..”
“Ih cocok deh, Dik!”.
Dia lalu tertawa renyah.

Sarapan bubur Yogya. Mencari penginapan di sekitaran Malioboro. Dia lalu menyewa mobil untuk dipakainya berkeliling kota. Pantai-pantai indah di Gunung kidul. Candi Ratu Boko dan matahari terbenam yang menakjubkan.



“Untung juga ketemu orang yang ngga punya tujuan ya, Lyr. Perjalanan jadi ngga garing sendirian.”
“Heh, maksudnya apaan? Eh tapi emang kalo liputan gini, biasanya kamu jalan sendiri, Dik?”
“Hahaa. Engga, harusnya sih berdua sama temen, Ardi. Cuma tiba-tiba dia sakit, dan ngga ada yang bisa gantiin. So, here i’m alone.”
“Yaa, berarti kita emang ditakdirkan buat dipertemukan, Dik.”
Dika terlihat berpikir, matanya menerawang dalam.
“Iya ya Lyr..” dia akhirnya berucap setelah jeda berpuluh-puluh detik.
“Semua yang terjadi dalam hidup kita, berentet juga ke kehidupan orang lain. Coba kalo Ardi ngga sakit atau bukan aku yang diassign buat liputan ini, atau bukan kota Jogja yang terlintas di pikiran kamu waktu beli tiket di Stasiun sore itu. Mungkin kita sama-sama ngga akan ada di sini, ngga pernah ketemu, dan ngga pernah ada momen ini, ngga pernah ada yang namanya Lyra yang aku temui.”
Saya terdiam, dan hanya memandang Dika lama.
Dia pun melakukan hal yang sama.


: Dika

Lyra,
Aku ngga tau satu atau beberapa tahun kemudian kamu menjadi apa dalam hidupku. Mungkin jadi pacar, seorang istri, rekan kerja, sahabat, pacarnya sahabat, atau malah kembali menjadi orang asing.
Aku bahkan tak tahu besok kita masih akan bertemu atau tidak.
Tapi aku mencintai pertemuan ini, mencintai momen yang terjadi saat ini.
Seperti katamu Lyra, setidaknya kita pernah ditakdirkan untuk dipertemukan.