12 May 2013

# 3

"Orang baik itu pasti dapetnya sama orang baik lagi. Kamu itu terlalu baik!"

"Jadi kamu pengennya sama orang yang ngga baik? Atau emang kamunya yang ngga baik? Tuhan ngasih yang baik buat kamu, kenapa malah ditolak?"

"Aku mau membenahi diri dulu, supaya pantas buat kamu!"

09 April 2013

Jarak

Kemarin kita bertemu. Di sebuah kamis yang manis, dengan sedikit kesibukan yang mengganggu. Kamu menyapa dengan pandanganmu yang entah bagaimana, aku langsung menyukainya. Tatapan teduh yang pernah kulihat sebelumnya, dari pemilik mata yang berbeda.

Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?

Hari ini kita duduk bersebrangan, dipisah jarak sejauh tiga meter. Namun kamu masih mau membagi tatapan matamu yang selalu ingin aku pandangi. Seandainya bisa, aku ingin merekamnya terus tanpa jeda.

Apakah aku masih boleh melihatmu?

Besok aku tahu kita tak akan bertemu. Dua hari tak lagi bisa mencuri-curi matamu. Karena pandanganmu sedang cuti untuk dipamerkan. Sedang aku tak sabar menunggu senin yang akan datang beterbangan.

Berhari-hari setelahnya, aku mencari kedua bola matamu. Tak kutemukan di tempat biasanya –tiga meter tepat di depanku. Ternyata mata itu sudah berada di tempat yang lain, sedang memandangi dua bola mata yang ternyata dia juga gilai.

Dua puluh centimeter. Di depan mataku.

21 March 2013

Antara Wanita, Sepatu, dan Pasangan

Dua orang wanita muda usia menjelang dua-puluh-lima-an berjalan-jalan di sebuah pertokoan, memasuki satu per satu toko sepatu yang ada di pusat perbelanjaan. Menghampiri rak sepatu yang satu, lalu tak lama kemudian hinggap di rak sepatu lainnya. Sekedar melihat, menyentuh, atau sesekali mencoba langsung di kakinya. Kemudian mengamit diri di depan cermin. Memastikan bahwa sepatu yang mereka pilih akan terlihat indah di kakinya. Konon, sebuah sepatu dapat menambah kepercayaan diri seorang perempuan. Itulah mengapa wanita sangat mencintai sepatu.

Sepatu-sepatu itu masih terpajang rapi seperti biasanya. Berjejer menunggu kaki-kaki wanita yang mencoba dan akhirnya membawa dia pulang –terbebas dari jerat pertokoan dan berbagai obral. Bukan wanita yang memilih sepatu, tetapi pada akhirnya sepatulah yang memilih kaki-kaki yang tepat pada ukurannya. Pas, tidak terlalu besar tapi tidak juga terlalu kecil. Karena ukuran yang kurang pas tidak akan bisa membuat nyaman kaki-kaki pemiliknya.

“Mbak, yang warna merah ini ada nomor 38-nya ngga?”, setelah hampir tiga puluh menit mengelilingi deretan rak sepatu dari berbagai merk, akhirnya Rhea berhasil menentukan satu pilihannya.

Seorang pelayan lalu meraih sebelah stilleto yang baru saja dicoba wanita yang berpakaian rapi ala wanita kantoran full make up itu dengan cekatan.

“Sebentar ya Mbak, saya cek dulu.” Lalu si pelayan pergi berjalan menuju tumpukan kardus-kardus sepatu di balik gudang.

Rhea masih saja memperhatikan satu per satu sepatu yang dipajang di rak. Namun, dia hanya melihat sekilas, seolah tak ada sepatu lain yang lebih menarik yang bisa menyita perhatiannya. Sepertinya Rhea sudah terlanjur jatuh cinta dengan sepatu stilleto merah bertumit sepuluh senti itu.

Tidak lebih dari tiga menit, si pelayan kembali, mendekati Rhea, tanpa dus sepatu di tangannya.
“Maaf Mbak, nomor 38 nya kosong, adanya tinggal nomor 37 sama 40.”
“Yaah, ngga ada yang 38 ya, Mbak?” Rhea nampak bersikeras.
Pelayan hanya tersenyum sambil menggeleng, “Sudah habis, Mbak.”
Rhea akhirnya hanya tersenyum kecut. Sambil menarik napas panjang, kedua bahunya lalu turun beberapa senti. “Oke deh, thanks Mbak!”

Wanita harus terbiasa kecewa ketika memilih sepatu yang dia inginkan tidak ada ukuran. Begitulah hidup. Tidak semua yang diinginkan bisa didaptakan dengan mudah. Klise. Di saat seorang wanita merasa sudah menemukan sepatu yang cocok, dan ternyata tidak ada ukuran sepatu yang pas di kaki, mau diapakan? Meskipun sudah sebegitu jatuh cintanya kepada model, warna, dan segala hal tentang sepatu itu –ya, kecuali ukuran.

Pada akhirnya, memang sepatulah yang memilih pemakainya. Untuk kali ini stiletto merah itu tidak memilih Rhea. Pandangan wanita itu lalu menyapu sekitarnya, mencari sahabatnya, Lyra. Sadari tadi Lyra hanya duduk di antara rak sepatu, mengamati sepatu-sepatu di dekat tempat dia duduk, tepat di depan sebuah kaca besar. Rhea berjalan gontai menghampiri Lyra.

“Lo ngga nyari-nyari sepatu?” Rhea bertanya lemas.
Lyra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum, lalu balik bertanya, “Dapet sepatunya?”
“Sepatu yang gue mau ngga ada ukuran! Cabut yuk!”
Lyra mengangguk pasti lalu berdiri dan berjalan menuju pintu keluar bersama Rhea. Kedua wanita ini akhirnya keluar toko dengan tangan kosong. Ada sebuah kekecewaan entah apa bergumul di hati Rhea. Sejak tadi muka Rhea terus ditekuk, ada rasa tak rela berkecamuk di hatinya ketika meninggalkan sebuah toko, sudah merasa menemukan satu yang cocok, tapi akhirnya keluar dengan tidak membawa apa-apa.

“Heh Rhe, keabisan ukuran sepatu aja lo kecewanya sampe segitunya. Persis kayak orang yang nyari jodoh trus ngga dapet-dapet tau ngga!” Lyra, menggoda Rhea yang terus-terusan manyun.
“Sial lo!”
“Milih pasangan hidup juga sama kayak beli sepatu kali ya!”
Rhea menyerutkan keningnya sesaat.
“Ya kayak lo gini nih, milih satu sepatu aja lo butuh waktu yang cukup lama, kadang harus keluar masuk beberapa toko, sama kan kayak milih pasangan hidup, butuh waktu panjang dan bisa aja tersembunyi di tempat mana yang kita sendiri ngga tau. Terus meskipun di toko ini banyak banget sepatu yang menarik perhatian, ngga semuanya mau lo beli. Lo harus sesuain modelnya sama yang lo butuhin, lo harus mastiin bahannya bagus, warnanya cocok, dan yang paling pasti ukurannya pas ngga sama kaki lo. Ngga asal pilih karena merk, atau karena tergiur diskonan yang gila-gilaan. Iya, kan?” Lyra berbicara panjang lebar. Rhea hanya tersenyum sambil mengangguk-ngangguk.
“Sama lah kayak milih pasangan hidup, ketika kita udah ngerasa cocok banget sama dia, sama kepribadiannya, sama sifatnya, sama segalanya, tapi ternyata ada satu hal dasar yang ngga ‘PAS’ dan ngga bisa dipaksain, ya mau gimana lagi?” Lyra memberi penegasan di kata pas.
“Heh Lyra, lo kesambet apa sih?”
Lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Sambil terus berjalan mengelilingi pusat perbelanjaan yang sedang ramai-ramainya di hari weekend.

“Eh udahan yuk, kaki gue sakit.” Lyra meringis.
“Kaki lo sakit kenapa?”
“Lecet lagi nih.”
“Lah, udah tau bikin sakit kenapa masih aja dipake?” Rhea berbicara tegas.
Rhea ingat betul, ini bukan kali pertama Lyra mengeluh lecet akibat sepatu yang sama.

“Lo ngga inget Rhe, gue beli sepatu ini sampe rebutan sama ibu-ibu rese? Lo kan tau harganya dari berapa jadi berapa karena diskon, gue juga suka banget sama model sepatu ini!” jawab Lyra dengan suara parau, disisakan tarikan napas panjang di akhir.
“Trus gara-gara itu semua lo mau terus-terusan kesiksa pake sepatu itu, Ra? Perasaan masih anget tahi ayam banget deh lo ceramah tentang milih sepatu yang PAS!” kali ini bagian Rhea membesarkan suara di kata pas.
“Yaa, mau gimana lagi, ini salah satu sepatu favorit gue dan udah terlanjur dibeli, masa ngga dipake, Rhe!” Lyra hanya tersenyum menyeringai. Nada suaranya melemah.
“Ya ngga masalah sih kalo emang lo rela kaki terus-terusan lecet!”, Rhea hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan sahabatnya.
Lyra hanya terdiam.
“Cuma ya gue ngga habis pikir aja. Kenapa ya, banyak orang masih aja mau bertahan sama sesuatu yang udah jelas-jelas bikin mereka sakit.”
Rhea lalu terdiam beberapa saat, memberi sedikit jeda dalam kalimatnya.
“...gue bukan cuma ngomongin sepatu ya, tapi juga pasangan!” lanjut Rhea lagi meluruskan dan memberi penekanan di kata ‘pasangan’, lalu tersenyum cukup lebar.
“Kutu, nyindir gue ya!”

Wanita harus terbiasa memakai high heels, wanita harus terbiasa menahan rasa sakit diam-diam; menyembunyikan luka yang dia rasa. Wanita harus kuat terus berdiri di bawah tumpuan sakit yang dia tahan, demi sebuah kepuasan diri..

yang entah apa.


#

14 February 2013

Before Sunrise & Before Sunset

Jika ditanya, film drama romantis apa yang paling disukai? Saya pasti jawab: Before Sunrise dan Before Sunset. Kenapa tiba-tiba ngereview dua film romantis ini? Bukan, bukan karena hari ini katanya hari kasih sayang. Bukan! Tapi karena ternyata sudah ada lanjutan dari sequel film ini, berjudul Before Midnight.

Mungkin bagi sebagian orang, atau bahkan banyak orang, film dengan dua tokoh utama Jesse (Ethan hawke) dan Celine (Julie Delpy) yang penuh dengan dialog panjang tak henti-hentinya, sudah jelas akan sangat membosankan. Tapi berbeda dengan dua film ini. Ditangan sutradara Richard Linklater, film ini disulap menjadi film yang manis, romantis, menyentuh, realistis, dan sangat berbekas, meninggalkan kesan tersendiri.


Before Sunrise (1995)
Bermula dengan pertemuan mereka di kereta, Celine seorang wanita Prancis sedang dalam perjalanan pulang ke Prancis, sedangkan Jesse seorang lelaki Amerika akan menuju ke Vienna untuk melanjutkan penerbangannya pulang. Mereka lalu mengobrol dan menemukan kecocokan satu sama lain sejak awal.

Saat kereta itu berhenti di Vienna, Jesse mengajaknya turun untuk menghabiskan waktunya bersama hingga pagi, sebelum Jesse terbang ke Amerika. Celine lalu menyanggupinya. Mereka berjalan-jalan menyusuri kota Vienna sepanjang hari, sepanjang malam, hingga menjelang pagi. Satu hari yang akan diingat untuk selamanya.

Satu malam yang manis dengan seorang asing yang baru saja dikenal, entah sebuah bencana atau sebuah keberuntungan. Apakah memang bencana karena setelah pagi mereka harus mau berpisah, saling mengucapkan selamat tinggal, dan entah kapan akan bertemu lagi (atau mungkin tidak sama sekali)? Atau memang beruntung karena bisa saling bertemu, saling mengenal, merasa cocok, dan mendapatkan momen-momen indah yang begitu berkesan?

Hingga akhirnya pagi itu tiba, mereka berpisah tanpa meninggalkan alamat, no telp, atau kontak lainnya. Namun mereka membuat kesepakatan untuk bertemu lagi di Vienna 6 bulan kemudian.


Before Sunset (2004)
Setelah perpisahan Jesse dan Celine di Vienna, mereka akhirnya bertemu lagi. Bukan 6 bulan semenjak perpisahan mereka, dan juga bukan di Vienna seperti yang mereka janjikan. Melainkan di Paris, 9 tahun kemudian. Ya, s e m b i l a n tahun kemudian. Jesse sedang melakukan promosi novelnya di sebuah toko buku, dan Paris adalah kota ke-10 sekaligus kota terakhir dari rangkaian tournya. Jesse sudah menjadi seorang penulis novel, dan yaa tentu saja kisah tentang pertemuan dia dengan Celine yang menjadi cerita di novel larisnya itu.

Jesse dan Celine menghabiskan sedikit waktunya sebelum penerbangan Jesse untuk pulang ke kotanya, dengan berjalan-jalan, mengobrol panjang, serta mampir ke cafe di kota Paris. Dari obrolan itu, mereka akhirnya tahu bahwa Celine tidak datang ke Vienna setelah 6 bulan mereka bertemu dulu karena neneknya meninggal, sedangkan Jesse menunggunya dengan penuh harap. Padahal mereka sama-sama menunggu waktu tersebut. Mereka sama-sama saling jatuh cinta, dan terlihat ada penyesalan akan masa lalu. Tetapi sayang, semua keadaan mereka sudah jauh berbeda dengan 9 tahun yang lalu. Jesse sudah menjadi seorang suami, dan bahkan sudah memiliki anak. Yeah, memory is a wonderful thing if we don't have to deal with the past.


Kedua film ini sungguh terasa real, jauh dari kesan drama atau kisah negeri dongeng. Saya sangat suka acting dari Ethan Hawke dan Julie Delpy. Di film ini mereka sangat natural, chemistry mereka berdua pun sangat kuat. Sederhana, manis, kaya makna, dan romantis. Ahh, saya mau kasih nilai 9/10 untuk kedua film di atas! Ngga sabar jadinya nungguin 'Before Midnight' keluar.

13 February 2013

Love Me if You Dare

Film yang berjudul asli Jeux d'enfants ini sudah cukup lama, diproduksi tahun 2003. Film berbahasa asli Perancis ini meninggalkan kesan tersendiri, dengan taste yang berbeda. Ini bukan film cinta yang mengharu biru, bukan kisah cinta yang inspiratif, bukan cerita cinta yang penuh drama dan kemelankolisan. Ini hanyalah cerita cinta yang tak biasa.


Semua berawal ketika Sophie (Marion Cotilard) terus diejek oleh teman-temannya saat dijemput bus sekolah. Julien (Guillaume Canet) kemudian memberikan miniatur carousel milik ibunya agar Sophie terhibur. Sophie lalu menerima mainan tersebut dan mulai memaikan permainan 'tantangan gila'nya. Julien pun menjawab tantangannya dengan melepaskan rem sehingga bus melaju dengan bebas tanpa pengendara. Sejak saat itu Julien dan Sophie berteman baik dan semakin sering memainkan permainan gila mereka.


Permainan mereka dengan miniatur carousel untuk saling menantang melakukan hal-hal yang konyol, tidak wajar, kurang ajar, memalukan, dan benar-benar membahayakan terus dilakukan hingga mereka dewasa. Ayah Julien pun dibuatnya jengkel dan marah. Seperti cerita kebanyakan lainnya, berteman lama, lalu kemudiaan saling jatuh cinta. Ya, apa lagi? Namun, cinta yang mereka rasakan, malah mereka buat menjadi sebuah permainan, bahkan pernikahan pun mereka anggap sebagai sebuah permainan.

Cerita di film ini sungguh kaya warna. Penuh dengan romansa cinta yang manis, penuh dengan fantasi, namun terkadang terkesan gelap, absurd, dan gila. Film ini cocok ditotonton untuk mereka yang bosan sama drama percintaan yang mellow, 8/10 lah :)